Mata Air Kumari By Yudhi Herwibowo

20130530-122227.jpg

Penerbit : Bukukatta
Tebal : 136 Halaman

Peringatan : Kalo anda gampang gentar jangan coba-coba membaca cerpen ini malam-malam sendirian, hehe. Nanti nasibnya seperti saya yang merinding sendiri di dalam gerbong kereta sepi malam hari begitu sampai ke cerita tentang Ana Bakka! Hiiiiiii.

Kayaknya baru kali ini deh saya memberi 5 bintang pada buku kumpulan cerpen. Terlebih lagi kumpulan cerpen Indonesia. Mungkin memang cerita-cerita pendek di buku ini selera saya banget. Yang jelas begitu nutup buku langsung tertegun saking dibuat merindingnya oleh beberapa cerita di buku ini.

Secara keseluruhan terdapat 14 kisah dalam kumpulan cerpen ini. Genre setiap cerpen adalah campuran misteri, horror, dan magic realisme. Beberapa subjek cerita sudah kita jumpai dalam beberapa buku Yudhi Herwibowo yang lain seperti cerita tentang Kitta Kadafaru dan cerita tentang para Tiku (gerombolan perampok).

Ada beberapa cerita yang ingin saya highlight dari koleksi ini. Beberapa cerita yang menurut saya paling istimewa dan nendang banget, hehe. Berikut top five stories dari keempatbelas koleksi yang ada:

5. Bayi Baboa
Kisah ini adalah tentang seorang dokter wanita bernama Linda Dethan yang berpraktek di sebuah kota kecil bernama Rimolaka, sekitar 50 km sebelah utara kota Ende, Nusa Tenggara Timur.

Suatu ketika selesai praktek di kliniknya, dalam perjalanan pulang Linda di hentikan oleh seorang wanita yang menduga anaknya digigit ular. Ia pun segera mengikuti wanita yang ternyata bernama Magdalena itu.

Bayinya ternyata tidak apa-apa. Magdalena rupanya panik karena melihat dengan mata kepala sendiri ada ular baboa di dalam tempat tidur bayinya. Setelah ia berteriak ular itu pun pergi ke arah jendela dan Magdalena pergi mencari dokter.

Selang beberapa hari berlalu, Magdalena tiba-tiba datang ke tempat praktek Linda. Ia terlihat galau karena ular baboa itu muncul lagi di samping bayinya. Magdalena galau justru karena ular itu tidak mengigit bayinya. Dia khawatir bahwa bayinya adalah jelmaan setang (setan)!

Rupanya terdapat kepercayaan bahwa bila bayi baru lahir didatangi ular baboa, ia akan menjadi anak yang jahat dan durhaka pada orang tua. Ini bukan kejadian pertama, dan kejadian-kejadian sebelumnya selalu berakhir dengan Sang Ibu dengan tega membuang bayinya sendiri.

Sebagai dokter bagaimana Linda akan bersikap? Adakah itu hanya cerita karangan masyarakat setempat saja?

4. Dua Mata Perak
Dua mata perak adalah cerita tentang seorang wanita tuna susila yang tinggal berdua bersama anak perempuannya yang berumur 6 tahun, Aritha.

Aritha terlahir terlahir dengan dua mata perak yang membuatnya tidak dapat melihat. Terlepas dari hal itu, Aritha tumbuh menjadi anak yang kuat.

Namun ntah kenapa perempuan itu merasa Aritha belakangan ini banyak melakukan perlawanan diam terhadap dirinya. Aritha yang tadinya tidak pernah keberatan pada kenyataan ia banyak membawa lelaki ke rumah akhir2 ini menghatuinya dengan kedua mata perak itu.

Perempuan itu merasa takut kepada pandangan mata anaknya. Di kedua mata perak itu ia seolah-olah melihat bayangan kematian.

3. Anak Nemang Kawi
Cerita ini berlatar belakang di papua. Dengan tokoh seorang anak lelaki berumur 12 tahun yang mencoba membuktikan kepada teman-temannya bahwa ia juga adalah seorang anak yang pemberani, walaupun dengan perbuatannya itu ia telah melanggar larangan Ibunya.

Apa bentuk tantangan yang harus ia lalui itu?

Ia hanya harus mendaki bukit bernama Anak Nemang Kawi. Pada ajakan pertama ia menolak teman2nya karena ingat pada peringatan sang Ibu : Anak Nemang Kawi adalah tempat yang berbahaya, banyak orang jahat disana. Anak Nemang Kawi menurut Ibunya adalah tempat orang-orang mati.

Penolakan atas tantangan teman-temannya membuat ia diejek-ejek sebagai anak penakut dan pengecut. Oleh karena itu ia sekarang akan membuktikan keberaniannya dengan mendaki bukit itu sendirian, walaupun hati kecilnya tetap memperingati bahwa tindakannya salah. Ia bukan seorang pengecut.

2. Keris Kyai Setan Kober
Pernahkah terpikir oleh anda bahwa sebuah keris bisa memiliki ambisi?

Ya, ia adalah sebuah keris yang diciptakan seorang empu sakti dengan kemampuan terakhirnya. Ia ditempa dengan mantra-mantra sakti, ditemani dengan bayang-bayang gelap dan suara-suara bisikan dan gelak tawa yang licik.

Terbentuk sempurna dengan wilah 13 lekukan, sang keris pun tercipta sempurna dengan dilingkupi oleh bayang-bayang gelap dan dingin.

Lama terlupakan, keris itu haus akan petualangan. Ambisi untuk membuktikan kehebatannya semakin memuncak karena ejekan-ejekan dari bayang-bayang gelap yang menyelimutinya. Ia marah, dan mencari tuan yang layak untuk memilikinya.

1. Ana Bakka
Rombongan dokter muda dari Dinas Kesehatan Provinsi mendapatkan tugas untuk mengunjungi Desa Mafat-to, tiga jam dari Kota Kupang.

Salah satu dari rombongan itu adalah seorang dokter perempuan bernama Winda. Mereka memilki misi untuk melaksanakan survey perihal busung lapar.

Di tengah pelaksanaan survey Winda terhenyak melihat seorang anak perempuan yang terduduk di tanah. Kaki anak itu dipasung dengan kayu besar dari pohon kelapa.

Tanpa memperdulikan peringatan dari warga bahwa anak perempuan itu gila, Winda nekat mendekatinya. Ana Bakka, anak perempuan itu terlihat tak berdaya dan mengenaskan.

Terlepas dari cerita absurd penduduk desa bahwa Ana telah membunuh Ibunya sendiri, bahwa fam Bakka adalah fam jahat dan semua leluhurnya merupakan orang tidak baik. Winda bertekad harus menyelamatkan anak perempuan malang itu, Ana Bakka.

PS : Postingan juga dibuat dalam rangka posting bareng Blogger Buku Indonesia edisi bulan Mei 2013 untuk kategori kumpulan cerita 🙂

Miracle Journey By Yudhi Herwibowo

20130517-064014.jpgPenerbit : Elex Media Komputindo
Tebal : 172 Halaman

Lalu apa yang bisa engkau ceritakan tentang jejak-jejak yang terlihat di jalan setapak, dan pelan-pelan hilang tersapu angin? Sebagai pengingat kita untuk tak lagi melihat ke belakang?

Saya pernah membuat review buku Perjalanan Menuju Cahaya dimana di dalam ceritanya terdapat legenda tentang Kitta Kadafaru dari desa Kofa. Desa Kofa yang indah dan memiliki empat mata air semenjak Kitta lahir. Kitta yang dapat menyembuhkan orang lain dengan cahaya yang ada di telapak tangannya.

Lalu suatu hari Kitta Kadafaru muda meninggalkan Kofa, dan mulai saat itu Kofa kembali menjadi desa yang gersang seperti desa-desa sekitarnya.

Kitta Kadafaru merasa perlu mencari jawaban tentang kegelisahan yang menggumpal di hatinya. Tentang beban yang ia rasakan karena fisiknya yang memiliki kekurangan, tentang hal2 yang bisa ia lakukan sehingga membuatnya dianggap sakti oleh penduduk desanya.

Kitta Kadafaru, pemuda dengan punuk di punggungnya. Kitta Kadafaru, pemuda dengan mimpi sederhana, menjadi normal seperti orang-orang lainnya.

Aku ingin menjadi burung-burung yang bisa terbang bebas menuju langit tak bertepi, dan bersembunyi di balik awan…

Di perjalanan Kitta bertemu dengan seorang bapak tua yang tertidur di bawah pohon rindang. Kitta dengan terpaksa membangunkan bapak tua itu karena perlu meminta air. Bekal air yang dibawa Kitta telah lama habis dan ia melihat bapak tua tersebut memiliki tabung bambu yang penuh air.

Dari perkenalan itu mereka memutuskan untuk berjalan bersama sampai arah mereka bersimpangan. Dalam perjalanan tersebut mereka banyak bertukar cerita. Tepatnya bapak tua tersebut banyak bercerita tentang legenda2 yang pernah ia temukan selama perjalanan.

Suatu ketika mereka bermalam di sebuah rumah kosong. Kitta melihat bahwa bapak tua tersebut kesulitan mencari posisi tidur dan tampak kesakitan. Empati membuat Kitta akhirnya memutuskan untuk melakukan sesuatu untuk bapak tua tersebut, ia mendekatkan tangannya ke arah kaki sang bapak tua. Dan cahaya pun muncul dari telapak tangan Kitta.

Pagi harinya bapak tua itu tekejut karena seluruh rasa sakit di tubuhnya menghilang sama sekali. Bapak tua tersebut juga sempat melihat cahaya yang keluar dari telapak tangan Kitta. Saat bapak tua itu menanyakan yang sebenarnya kepada Kitta, mengalirlah cerita muasal Kitta meninggalkan desa tercintanya Kofa.

Bapak tua tersebut kemudian menceritakan satu kisah lagi kepada Kitta sebelum mereka berpisah jalan. Kisah tentang Matu Lesso, seorang leleki yang dapat memanggil hujan.

Dikisahkan bahwa Matu Lesso dapat memanggil hujan dengan melemparkan pasir yang ada di tas selempangnya ke arah langit. Matu Lesso melakukan perjalanan panjang dari satu tempat ke tempat lainnya untuk membantu memanggil hujan. Suatu hari Matu Lesso merasa lelah dengan kelebihan yang ia miliki. Matu Lesso hanya ingin hidup normal, menetap dan berkeluarga layaknya orang biasa.

Matu Lesso memutuskan untuk mengabulkan hanya tiga permintaan lagi. Setelah itu ia akan berhenti melakukan perjalanan. Ia akan menetap dan hidup normal.

Menurut sang bapak tua pada akhirnya Matu Lesso melaksanakan keinginannya. Ia hanya mengabulkan tiga permintaan dan setelah itu menetap, hidup layaknya orang biasa.

Melalui kisah itu sang bapak tua mencoba menyampaikan kepada Kitta bahwa ia memiliki pilihan yang sama. Jika Kitta betul2 mendambakan untuk hidup normal, cobalah untuk melakukan hal yang sama seperti yang Matu Lesso lakukan. Semua itu adalah hak Kitta untuk dilakukan, keputusannya sendiri untuk diambil.

Kitta pun memutuskan untuk menerima saran bapak tua. Merekapun berpisah jalan dan saling mendoakan. Dari titik itu Kitta bertekad untuk membantu tiga orang lagi, kemudian mencari tempat untuk menetap dan hidup normal.

Pertanyaannya, sanggupkah ia mengambil pilihan tersebut?

Pertanyaan yang menurut saya menjadi tema seluruh isi cerita bergenre Magic Realism ini. If you had the resources to help those in needs, would you? And if you decide not to, can you live with that decision?

That is a deep question and this book makes me question myself too.

Belakangan ini saya mengambil keputusan yang membuat saya keluar dari zona nyaman saya. Keputusan yang menempatkan diri saya sendiri dalam risiko. Saya mengambil keputusan itu karena pada akhirnya saya menolak memalingkan muka dari kesewenangan yang terang2an dipamerkan di lingkungan saya.

Pada akhirnya memang satu orang tidak akan bisa memberontak kepada satu sistem. It requires much more than that. Tapi tidak sedikitpun saya menyesali langkah yang sudah saya ambil. Jika semua dapat diulang saya pun tetap akan mengambil langkah yang sama. Karena hanya dengan itu saya dapat berdamai dengan diri saya, dengan nurani saya. I take all consequences with no regrets. In my case, that’s my answer for the question.

Nah jadi curcol kan.. Hehe.. Anyway, I love this story about Kitta Kadafaru’s journey. Genre Magical Realism masih jarang dijamah oleh para pengarang Indonesia and I highly encourage Yudhi Herwibowo to continue doing so. He’s doing a good job in this Genre!

4 dari 5 bintang dari saya untuk buku Miracle Journey ini.

[Un]affair By Yudhi Herwibowo

Penerbit : Bukukatta

Tebal : 169 Halaman

“Kenapa sebuah lagu bisa diterima di semua tempat, di semua negara? Musik memang universal, tapi kisah dibalik lagu itulah yang membuatnya semakin diterima. Itu artinya sebuah kejadian seperti dalam lagu itu ternyata terjadi pula di tempat-tempat lain. Jadi seseorang seharusnya tidak perlu terlalu sedih akan sesuatu, karena di tempat lain pun, ada orang yang bersedih karena hal yang sama.”

Aaaakkhh ternyata Yudhi Herwibowo kalo menulis romance baguuuss ^_^ hehe.. Udah ada feeling waktu baca Perjalanan Menuju Cahaya, kayaknya kalo nulis drama atau romance bakalan sedih ceritanya dan ternyata ngga jauh2 tuh.. Hehe.. Because sometimes sad ending does make a story felt more real.. Life ain’t a fairy tale right?

Buku ini berkisah tentang seorang pemuda bernama Bajja yang memilih untuk berkerja dan tinggal di sebuah kota kecil bernama Kota Sendu. Kota Sendu? Iya.. Sebuah kota kecil dimana hujan selalu datang, dihiasi oleh taman yang dilengkapi dengan bangku-bangku untuk menghabiskan waktu, sebuah toko buku tua di pojokan jalan dan cafe dimana seseorang bisa membunuh malam dengan nyamannya. Akhhh semakin dijelaskan semakin saya ingin terjun masuk ke dalam buku dan tinggal di kota sendu ini.

Kembali ke cerita Bajja.. Huuumm.. Saya punya teori gila kalo sebenarnya setiap manusia hidup di frekuensi jiwa (soul) yang berbeda-beda. Dan bisa menemukan seseorang yang berada di frekuensi jiwa yang sama untuk menjadi sahabat, pasangan hidup atau sekedar rekan kerja adalah anugrah yang luar biasa. Dan biasanya jika kita menemukan seseorang yang berada dalam frekuensi yang sama, semua hal akan bergulir begitu saja seperti memang sudah digariskan, bagaikan potongan puzzle yang akhirnya menjadi masuk akal dan membentuk sebuah gambar yang berarti. Tiba-tiba kita seperti telah mengenal orang tersebut begitu lama, bisa saling memahami tanpa banyak bicara.

Saya rasa itu yang terjadi ketika Bajja dan Arra saling menemukan. Sayangnya Arra sudah memiliki kekasih, walaupun dari apa yang diceritakan, sepertinya orang itu lebih banyak membawa kesedihan daripada kebahagiaan buat Arra.

Pertemuan Arra dan Bajja bisa dihitung oleh jari, namun memang tidak akan butuh lama untuk dua orang dalam frekuensi yang sama untuk saling mengenal, dan prosesnya memang sulit untuk dijelaskan. Terjadi begitu saja.

Di pertemuan terakhir Arra mengabarkan bahwa ia telah dilamar oleh kekasihnya, dan tidak pernah muncul lagi di kehidupan Bajja. Undangan pernikahan datang ke rumahnya tidak lama setelah itu. Kehampaan yang khas ketika seseorang baru saja mengalami perpisahan pun mengisi relung hati pemuda itu.

Sesungguhnya semasa kuliah Bajja memiliki seorang kekasih bernama Canta. Namun ketika lulus karena belum siap dengan rencana apapun mereka menempuh jalan masing-masing.

Siapa sangka kemudian Canta datang ke Kota Sendu. Profesi Canta sebagai dokter memungkinkan dirinya untuk pindah ke kota itu, kota dimana Bajja tinggal. Hari-hari Bajja pun kembali diisi oleh Canta. Namun hidup memang kadang persis seperti panggung sandiwara dimana kita adalah aktornya, namun kita tidak pernah tau skenario apa yang menunggu kita di adegan berikutnya. Sisanya baca sendiri ya! ^_^ hehe..

Hhhhhh.. Jadi pengen tinggal di Kota Sendu..

“Pertemuan itu sebenarnya mudah saja, kita yang membuatnya menjadi rumit.”

Perjalanan Menuju Cahaya By Yudhi Herwibowo

Penerbit : Sheila

Tebal : 200 Halaman

“Di sebuah perjalanan, kau akan menemukan apa saja, Duara. Sebuah kisah yang aneh, seorang sahabat yang baik, dan kalau sudah cukup besar nanti, sebuah cinta yang dalam..”

Baca buku Perjalanan Menuju Cahaya dan [Un]affair nya Yudhi Herwibowo sungguh membuat saya kesengsem sama genre drama & romance karya beliau. Walaupun sebenarnya Perjalanan Menuju Cahaya ini lebih ke arah Magic Realism, satu lagi genre favorit saya selain Dystopia.

Kalo yang belum terlalu familiar dengan genre Magic Realism, salah satu contoh visualisasinya (dalam film) yang paling fenomenal adalah Big Fish. Karena itulah buku2 bergenre magic realism sangat mudah tergelincir ke prasangka plagiarisme film Big Fish. Padalah memang begitulah magic realism, kayak berjalan di sekumpulan taman penuh dongeng. Dan film Big Fish memang sangat menginspirasi. Dan terdapat perbedaan maha besar antara “terinspirasi oleh” dan plagiat. Karena itu saya angkat topi buat pengarang yang dalam pengantarnya menguraikan bahwa salah satu inspirasi buku ini adalah film Big Fish.

Cerita dibuka dengan dipecatnya seorang pemuda dari kantor tempatnya bekerja, Duara namanya. Duara yang sedang merasa sangat kecewa karena peristiwa tersebut tak lama kemudian menerima telepon bahwa kakeknya, yang sering ia panggil Opa Mora telah meninggal dunia di kampung halamannya di Ende, Maumere.

Duara tidaj berfikir panjang untuk segera pulang kampung ke Ende, walaupun harus meninggalkan kekasihnya Shi, di Jakarta. Apa yang Duara ingat tentang Opa Mora?. Opa Mora adalah seorang pendongeng yang hebat dan Duara menyimpan kisah2 itu dalam hatinya.

Di Ende Duara bertemu dengan Ayahnya. Namun karena urusan pekerjaan Ayah Duara harus segera pulang. Momen baru saja kehilangan pekerjaan dimanfaatkan Duara untuk menghabiskan waktu sejenak.

Dari hasil pembicaraan dengan beberapa kerabat, Duara menyimpulkan jika mereka menganggap semua dongeng Opa Mora hanyalah kebohongan belaka. Duara menemukan pertentangan di hatinya. Apalagi setelah beberapa hari setelah kematian Opa Mora datang sebuah surat yang diantar oleh seorang utusan. Utusan tersebut menyebutkan bahwa surat itu dikirimkan oleh seorang Tiku terakhir.

Pada akhirnya Duara memutuskan untuk mencari orang yang mengirimkan surat tersebut, sambil melakukan napak tilas perjalanan penuh dongeng Opa Mora. Dan seseorang tidak akan pernah tau apa yang akan ia alami ketika ia memulai sebuah perjalanan. Akankah Duara menemukan jawaban? Persahabatan? Atau… cinta yang mendalam?

Akhh.. Walau endingnya bikin saya gigit jari namun saya tetap mengacungkan dua jempol untuk cerita ini. Magic Realism Indonesia pertama yang saya sangat nikmati kisah per kisahnya.

“Kau tahu, apa yang sebenarnya membuatmu menjadi orang yang begitu berarti, Duara? Jawabannya begitu sederhana : saat seseorang begitu mengharapkan dirimu. Itu saja.”

Untung Surapati By Yudhi Herwibowo

Penerbit : Metamind

Tebal : 648 Halaman

Menurut saya seharusnya diterbitkan lebih banyak buku dengan genre historical fiction Indonesia seperti Untung Surapati ini. Terbayang begitu banyak riset yang haru dilakukan sang penulis sebelum merampungkan buku ini.

Melenceng sedikit dari review buku, sewaktu masa-masa sekolah terus terang mata pelajaran sejarah bukan merupakan favorit saya. Mungkin karena penekanan titik berat sejarah yang salah, dimana yang wajib diingat kala itu adalah tanggal/tahun suatu peristiwa dan deretan nama tokoh yang tidak ada habisnya. Bukan pada kenapa dan bagaimana suatu rangkaian sejarah itu bisa terjadi. Jatuhnya pelajaran sejarah menjadi hafalan yang membosankan. Padahal terdapat segudang lesson learned sebelum suatu peristiwa penting terjadi.

Back to the book. Secara garis besar buku ini menggambarkan perjalanan hidup Untung Surapati dari masa kecilnya hingga beliau wafat. Buku dibagi menjadi tiga bagian berdasar pada tempat dimana Untung Surapati berkiprah. Ketiga bagian tersebut adalah Batavia, Kartasura dan Pasuruan.

Bagian pertama, Batavia, menceritakan tentang Untung kecil yang kala itu adalah seorang budak. Untung bersama Pande temannya dihadiahkan pada seorang pedagang Belanda sukses bernama Minjheer Moor. Minjheer Moor mempunyai seorang anak perempuan kecil bernama Suzanne. Untung, Pande dan Suzanne segera menjadi teman baik.

Minjheer Moor memperlakukan Untung dan Pande dengan sangat baik. Suatu hari Pande berkeras untuk kabur untuk memperbaiki nasibnya. Pande mengajak Untung untuk ikut serta namun Untung memilih untuk tinggal. Semenjak itu hanya ada Untung dan Suzanne.

Suatu hari Untung menyaksikan seorang pendekar berjalan di atas air. Pendekar tersebut bernama Ki Tembang Jara Driya. Atas seizin Minjheer Moor, Untung berguru pada Ki Tembang.

Tahun demi tahun berlalu Untung telah menjadi seorang pemuda yang tangguh. Tanpa disadari tumbuh “perasaan lebih” antara Untung dan Suzanne. Minjheer Moor murka ketika mengetahui hubungan tersebut. Untung segera dipenjarakan dan disiksa. Minjheer Moor bermaksud untuk menghukum mati Untung, namun di malam sebelum eksekusi tersebut dijalankan, Suzanne menyelamatkan Untung dengan menyelundupkan kunci dari seluruh ruangan penjara.

Untung kemudian memimpin semua narapidana yang ada di penjara untuk kabur. Mereka kemudian melarikan diri ke hutan. Untung lalu memutuskan untuk kembali ke tempat Minjheer Moor untuk membawa kabur Suzanne. Sepasang manusia itu lalu pergi ke tempat Ki Tembang Jara Driya untuk meminta dinikahkan.

Ki Tembang memenuhi permintaan tersebut, namun akhirnya beliau menasihati Untung bahwa membawa serta Suzanne bukan merupakan pilihan yang bijak. Ki Tembang menasihati Untung untuk tidak bertindak egois dan  melepaskan Suzanne. Untung menuruti nasihat Ki Tembang dan kembali ke hutan tempat pelarian.

Ternyata narapidana yang lain masih ada disana menunggu Untung. Mereka meminta Untung untuk memimpin. Semenjak saat itulah Untung menjadi pimpinan kaum pemberontak yang senantiasa melakukan perlawanan terhadap pihak Belanda. Bagian satu diakhiri dengan pertempuran pasukan Untung dengan pihak Belanda di tepi Sungai Cikalong dalam rangka membantu Pangeran Purbaya. Setelah pertempuran tersebut Untung memutuskan untuk membawa pasukannya ke daerah Kartasura.

Dalam perjalanan menuju Kartasura atas jasanya membantu Kesultanan Cirebon. Untung diberi gelar Surapati oleh Sultan Cirebon. Semenjak itulah Untung dikenal dengan nama Untung Surapati.

Perjalanan Untung Surapati terus berlanjut, pengikutnya pun semakin banyak. Pasukan Untung menjadi “pasukan bergerak” yang disegani dan diburu oleh pihak Belanda. Halaman demi halaman kita akan diberikan gambaran mengenai situasi politik di zaman tersebut. Selalu ada orang-orang yang berani melawan dan lebih banyak lagi orang bermuka dua yang hanya ingin mempertahankan kekuasaannya sendiri.

Peperangan, kematian dan penghianatan mewarnai perjalanan Untung Surapati. Untung yang tadinya hanya seorang budak, berhasil bertransformasi menjadi sosok yang ditakuti pihak Belanda. Dalam beberapa titik memang Untung sempat meragukan dirinya sendiri, Untung juga sempat berada dalam posisi dilematis untuk memilih apakah akan mendampingi keluarganya dan hidup tenang ataukah terus berjuang. Penggambaran yang sangat manusiawi dan menambah nilai plus pada karakter tokoh Untung. Siapa sih manusia yang tidak pernah meragukan dirinya sendiri?

Walaupun sebagaimana tertulis dalam sejarah bahwa pada akhirnya pemberontakan Untung Surapati berhasil dipadamkan pihak Belanda. Namun kisah ini berhasil memperbesar rasa hormat kita pada tokoh-tokoh stand out Indonesia di masa lalu yang tidak pernah berhenti melawan, tidak pernah tunduk.

Sepertinya kisah seperti ini bagus untuk difilmkan. Asal jatuhnya jangan seperti trilogi film Merah Putih yang absurd itu. Wkwkwkw.

Dan banyak yang dapat diresapi. Karena sampai detik ini kita masih dibayangi oleh penjajahan terselubung. Right now our biggest enemy is ourself. Seperti kita saksikan di kehidupan sehari-hari, pemberitaan tentang kondisi Indonesia saat ini seperti sebuah parodi yang memuakkan. Semuanya tidak masuk logika dan absurd. Tidak ada sama sekali tokoh yang bisa diteladani.

Fight dan struggle kita mungkin jauh berbeda dari tokoh-tokoh di masa lampau. Namun seharusnya nilai yang kita pegang tetap sama. Integritas dan kekuatan hati untuk tidak tunduk pada godaan uang dan kekuasaan.