Lord Of The Flies By William Golding

Reviewed on : January 7th 2010

Saya baru satu kali ini baca bukunya William Golding. Waktu pertama kali denger judulnya saya ngga ngeh arti judulnya. Setelah selesai baca bukunya pun masih bingung kenapa judulnya ini. Tanya punya tanya sama om google, ternyata originnya dari bahasa Hebrew “Beelzebub” yang bersinonim dengan “Satan”. Barulah saya bisa paham sepenuhnya isi buku ini.

Maaf sedikit melompat-lompat. Buku ini bercerita tentang sekelompok anak asal inggris yang pesawatnya mengalami kecelakaan saat mereka semua akan dievakuasi (Latarnya jaman perang dingin). Akhirnya mereka terdampar di sebuah pulau tidak berpenghuni. Satu bab pertama saya kira ini cerita petualangan kayak Robinson Crusoe. Setelah selesai baca, iya sih menceritakan petualangan anak-anak yang terdampar, tapi bentuk ceritanya lebih ke alegori (majas, retorika) semacam animal farm nya George Orwell (tapi kalo itu kan udah jelas dari awal bentuk ceritanya alegori).

Anak-anak yang terdampar itu akhirnya memutuskan untuk memilih ketua untuk mengatur kehidupan mereka. Ada dua calon kuat Ralph_seorang anak yang civilized dan Jack_anak yang mengasosiasikan dirinya sebagai “hunter”. Ralph terpilih, dan prioritas utamanya adalah agar mereka bahu-membahu membuat api dan menjaga api itu tetap menyala sehingga jika ada kapal yang lewat asapnya bisa terlihat dan mereka bisa terselamatkan.

Seiring dengan berjalannya waktu anak-anak tersebut terpengaruh oleh gaya hidup jack yang lebih mengutamakan berburu dan tidak memperdulikan aturan. Ditambah lagi dengan ketakutan mereka pada monster yang ada di pulau itu yang mereka juluki “The Beast”. Setelah beberapa peristiwa akhirnya mereka semua terseret ke gaya hidup layaknya orang tidak beradab dan meninggalkan Ralph sendirian bahkan menjadikannya sebagai buruan.

Akankah mereka terselamatkan? Bagaimana ceritanya anak-anak dari inggris (yang notabene beradab) itu bisa berubah menjadi manusia tidak beradab? Lebih asik baca sendiri kali ya. I don’t want to spoiled the fun.

Banyak sekali makna dan ironi dalam buku ini. Kalo suka bukunya George Orwell pasti suka juga buku ini. Ngga salah kalo dimasukin ke 100 Best Novel versi Times. Oiya Lord Of The Flies dalam buku ini mewakili sisi buruk dalam diri manusia, bagaimanapun beradapnya kalo aturan, sistem dan peradaban telah gagal manusia akan gampang sekali menyebrang ke sisi hitam. Ingat peristiwa kerusuhan mei 1998? Bagaimana sekelompok orang-orang yang mungkin sehari-hari berlaku biasa dan patuh pada aturan bisa berubah menjadi savages dan melakukan kejahatan masal atas alasan yang sama sekali tidak masuk akal.