Galaksi Kinanthi By Tasaro GK

Penerbit : Salamadani

Tebal : 432 Halaman

Suatu saat mencintai adalah memutar hari tanpa seseorang yang engkau cintai. Sebab, dengan atau tanpa seseorang yang kamu kasihi, hidup harus tetap dijalani.

Saya baca kalimat ini ketika macet panjang lampu merah menuju perjalanan rumah. Rasanya seperti disengat lebah dan tidak bisa menahan diri untuk tidak meneteskan air mata. Salah satu yang membuat buku ini istimewa adalah walau memang dalam beberapa titik jalan cerita tidak saya sukai, namun Tasaro GK berhasil menulis banyak kalimat-kalimat  sangat indah.

Berkisah tentang seorang Gadis bernama Kinanthi yang tinggal di sebuah desa di Gunung Kidul. Kinanthi adalah anak dari seorang wanita yang telah berkali-kali menikah namun suaminya selalu meninggal, karena itu warga desa menganggap Ibu Kinanthi membawa sial. Kinanthi juga memiliki beberapa orang kakak perempuan dan laki-laki yang telah merantau ke kota lain dan digosipkan menjadi berandalan. Bapak Kinanthi terkenal suka berjudi dan mempraktekan hal-hal yang berbau klenik. Plus keluarga mereka termasuk golongan sangat miskin di Desa tersebut. Atas semua hal diatas Kinanthi kecil yang berumur 10-11 tahun dijauhi oleh teman-temannya.

Satu-satunya orang yang menjaga Kinanthi adalah Ajuj, teman laki-lakinya yang berumur 12-13 tahun. Ajuj adalah anak seorang pemuka agama/rois di desa mereka. Orang tua Ajuj melarangnya untuk berteman dengan Kinanthi karena Kinanthi adalah anak dari keluarga yang berantakan dan tidak jelas. Namun Ajuj tidak memperdulikan perkataan orang tuanya karena Ajuj merasa nyaman berteman dengan Kinanthi.

Suatu saat Kinanthi mendapatkan kabar buruk bahwa dirinya akan dibawa oleh kerabat bapaknya yang bernama Pak Edi untuk disekolahkan di kota. Sebagai imbalannya orang tua Kinanthi diberikan 50 kg beras. Kinanthi sangat terkejut. Saat Pak Edi datang untuk menjemput Kinanthi berusaha berlari untuk meminta pertolongan pada Ajuj, namun bapaknya memaksa untuk masuk ke mobil Pak Edi. Ajuj berusaha mengejar, mereka saling meneriakkan nama sekerasnya, namun tetap terpisahkan.

Kinanthi lalu dibawa ke Bandung. Namun melalui serangkaian tragedi Kinanthi mengetahui bahwa dirinya dibawa ke Bandung hanya untuk dibesarkan sebentar sehingga cukup pantas untuk dipalsukan menjadi berusia 17 tahun dan dikirim ke arab untuk menjadi TKW.

Kinanthi menjadi bagian dari kisah klasik para TKW Indonesia, dipukuli, nyaris diperkosa. Kabur ke KBRI, mempunyai majikan baru, kabur lagi. Kinanthi harus melewati banyak penderitaan hingga dibawa kabur ke Mesir, lalu berhasil lagi melarikan diri ke KBRI. Ketika ia menyangka telah menemuka majikan yang baik Kinanthi merasa harapannya mulai tumbuh, ia dibawa oleh keluarga itu ke Amerika hanya untuk menemukan bahwa siklusnya berulang. Dipukuli dan dijadikan objek kreatifitas penyiksaan majikannya.

Ketika akhirnya berhasil melarikan diri ke sebuah masjid. Kinanthi menemukan malaikatnya, seorang wanita Indonesia bernama Miranda yang menampung Kinanthi dan membantunya menjalani proses peradilan. Kinanthi akhirnya dinyatakan secara hukum resmi menjadi warga Amerika.

Belasan tahun kemudian Kinanthi telah menjadi seorang penulis hebat, Kinanthi Hope sang Queen Of New York. Namun masih ada kegelisahan di hatinya. Ajuj. Sebuah nama yang pernah menunjukkan kepadanya dimana letak Galaksi Cinta. Ketika Kinanthi akhirnya memutuskan untuk menulis sebuah novel berdasarkan kisah pribadinya. Kinanthi merasa nama Ajuj makin menghantuinya dan apa yang terjadi diantara mereka perlu diselesaikan.

Human Trafficking memang adalah suatu kepahitan yang masih harus diselesaikan di Indonesia. Kisah anak-anak perempuan yang dijual oleh orang tuanya sendiri untuk harga yang tidak seberapa juga merupakan kisah nyata dari beribu perempuan di Indonesia. Cobalah googling mengenai isu ini dan anda akan menemukan kenyataan pahit itu tersebar dimana-mana. TKW yang menjadi korban penyiksaan majikannya di negara lain juga merupakan kenyataan yang harus segera dicari solusinya. Bahkan baru kemarin saya membaca berita bahwa seorang TKW asal Indonesia karena penyiksaan di negeri orang. PR besar untuk kita, untuk Indonesia. Saya pribadi sangat setuju Tasaro mengangkat isu ini.

Namun transformasi Kinanthi menjadi seorang Queen of New York mungkin agak berlebihan dan mengurangi nilai nyata dari keseluruhan cerita. Seandainya Kinanthi setelah menjadi warga Amerika menjadi average independen woman yang juga seorang pengarang mungkin akan mengurangi kadar “kesinetronan” yang sedikit mengganggu ini.

Namun secara keseluruhan buku ini adalah buku yang cukup bagus dengan taburan kalimat-kalimat menyentuh. Walau kesan terakhir yang saya dapat adalah sama dengan yang saya yakini, bahwa mencintai itu melelahkan. Untuk pembaca yang percaya cinta (i don’t) maka saya merekomendasikan buku ini untuk dibaca.