When God Was a Rabbit By Sarah Winman

Penerbit : Bentang Pustaka

Tebal : 363 Halaman

Alih Bahasa : Rini Nurul Badariah

Nothing can compare the feeling when you just finished reading a good book… I am completely mesmerized…

Kubagi kehidupan menjadi dua. Bukan benar-benar Sebelum dan Sesudah, lebih menyerupai pembatas buku, menyatukan tahun-tahun lembut lamunan kosong, tahun-tahun penghujung masa remaja atau usia dua puluhan yang masih kelihatan kurang dewasa. Tahun-tahun mengambang yang bagiku membuang waktu jika dikenang.”

Begitulah Elanour Maud, atau Elly menceritakan kisahnya. Satu bagian ketika ia kecil hingga menjelang masa remaja dan satu bagian lagi ketika ia telah menginjak usia dua puluh tujuh tahun. Karena di kedua periode itulah kisah hidupnya yang hilang saling bertautan kembali. Saling menemukan dan melanjutkan apa yang pernah menjadi bagian cerita masa kecilnya.

Pada bagian pertama Elly menceritakan tentang masa kecilnya. Saat Elly berumur dua tahun, kakek nenek dari pihak ibunya meninggal dalam kecelakaan lalu lintas. Kejadian tersebut membuat Ibunya shock dan untuk sementara waktu mengambil jarak dengan Elly dan hidup di alamnya sendiri. Saat itulah datang uluran tangan dari kakak laki-lakinya Joe. Elly dan Joe menjadi sangat dekat, tipe hubungan kakak adik yang bikin saya sirik, hehe. Hanya Joe yang benar-benar mengetahui relung-relung terdalam pemikiran Elly begitu pula sebaliknya, termasuk sesuatu yang “gelap” yang terjadi pada masa kecil Elly. Joe bersumpah untuk selalu menjaga Elly.

Elly ini termasuk quirky kid, pemikiran dan pembicaraannya jauh melebihi umurnya. Karena itulah Elly sulit menemukan teman. Suatu ketika Joe memberi Elly hadiah seekor kelinci, Elly menamai kelincinya God. Pada suatu hari Elly menceritakan tentang binatang peliharaannya itu di depan kelas, dan saat Elly mengungkapkan bahwa ia menamai kelinci peliharaannya God, kejadian tersebut menyebabkan gurunya marah besar. Hanya ada satu anak perempuan yang mendukung Elly, Jenny Penny.

Elly lalu bersahabat dekat dengan Jenny Penny. Jenny Penny yang seorang anak dari ibu tunggal yang agak berantakan segera merasa menemukan keluarga keduanya di rumah Elly. Banyak hal membuat Jenny Penny berharap bahwa dirinya benar-benar merupakan bagian dari keluarga Elly.

“Aku pernah punya kelinci,” Jenny Penny bercerita.”Sewaktu aku masih sangat kecil, waktu kami tinggal di karavan.”

“Apa yang terjadi padanya?” aku bertanya, sudah merasakan keanehan yang tak terelakkan.

“Mereka memakannya,” ia menjawab, lalu sebutir air mata mengalir menuruni pipi berlumpur ke sisi mulutnya.

Ketika ayah dan ibunya memutuskan untuk pindah rumah tanpak berdiskusi dengan Elly dan Joe, mereka berdua memutuskan untuk sepenuhnya mempercayai kedua orang tua mereka dan pergi. Pergi dengan perasaan terlepas dari kehidupan lama menuju sesuatu yang mereka sama sekali tidak tahu. Sebelum pergi mereka berdua memutuskan untuk mengubur kaleng di halaman rumah lama mereka, satu untuk sendiri-sendiri, Elly mengisi kalengnya dengan foto, Joe merahasiakan apa isi kalengnya.

Jenny Penny marah, kecewa, namun akhirnya menerima dan ikut melepas kepergian sahabatnya. Elly merasa tidak berdaya meninggalkan Jenny Penny.

“Kurasa kita tidak akan pernah bertemu lagi,” kata Jenny Penny, mendongak kepadaku, wajahnya merah dan sembap.

“Tentu saja kita akan bertemu,” sanggahku, merangkulnya dan menghirup bau keripik yang familier dari rambut sahabatku. “Kita terhubung,” tambahku. “Terhubung secara tak kasat mata.”

Dan aku benar. Kami bertemu lagi, tetapi hanya sekali waktu-pada masa kanak-kanak-sebelum kehidupan kami bersimpang bagai sungai yang bercabang dan mengalir ke dataran lain.

Banyak peristiwa yang terjadi dalam buku ini, ketragisan, kematian, tawa, tangis, ironi. Semuanya digambarkan melalui pandangan Elly yang tidak biasa. Ketika Elly dan Joe dewasa menemukan secara mengejutkan bahwa jalinan cerita masa lalu mereka menyambung kembali, akankah kehidupan berbaik hati dan memberikan mereka kedamaian?

Apa yang saya sukai dari buku ini hingga menganugrahi 5 bintang di goodreads. Keseluruhan ceritanya, dimana hal-hal buruk memang terjadi di dunia ini. Aura gelap dan sedikit absurd yang sama sekali tidak mengurangi pesan penting yang ingin disampaikan. Hubungan kekeluargaan dan persahabatan yang begitu erat sehingga semua hal buruk yang terjadi sepertinya biasa-biasa saja. Bagaimana mereka saling menguatkan diri masing-masing. Dan semua keunikan pada masing-masing tokoh yang tidak dipusingkan dan diterima secara wajar.

Tokoh Elly dan Joe yang selalu merasa tua dan hidup dalam balon sabun mereka sendiri, para outsiders yang merasa nyaman di dalam dunia mereka. Terutama dengan Elly, saya merasa memiliki banyak kesamaan dengan Elly yang selalu menyimpan segala sesuatunya sendiri.

Bahkan saya sangat menyukai tokoh-tokoh lainnya seperti bibi Nancy, Arthur dan Ginger, Alan, Charlie. Setiap tokoh rasanya memiliki karakter yang kuat, memiliki rasa masing-masing yang menambah warna dari keseluruhan cerita.

Dan yang terakhir adalah bahasanya yang indah. Kehampaan, kekosongan, kekhawatiran akan hidup digambarkan dengan gaya bahasa yang indah sehingga terasa less hurtful. Tidak cengeng tidak berlebih-lebihan. Indah. I love this book. Sarah Winman is definitely my new fav author.

Kenangan, sekecil atau sesederhana apapun, adalah halaman-halaman yang menjelaskan siapa kita.”