Circle of Fire By Michelle Zink (Book Three of Prophecy of the Sisters)

Penerbit  : Little Brown Books

Tebal : 359 Halaman

Masih keingetan pertama kali baca review buku Prophecy of the Sisters sebagai proyek baca bareng Blogger Buku Indonesia awal2 di tahun yang lalu. Akhirnya saya penasaran dan baca bukunya juga. Latar belakang ceritanya yang berbau Ghotic cukup menarik, namun di buku satu alurnya memang kelewat lambat dan ngga ada keseruan yang dilewati sampai dengan selesai menutup buku.

Terus saya nemu buku kedua dari seri ini Guardian of the Gate di sale di toko buku Periplus. Dan yang namanya buku berseri memang racun banget, hehe. Kalo udah baca satu, ntah rame atau ngga rame pengennya diselesein sampe tamat. Jadilah saya beli.  Cukup banyak twist di buku kedua yang membuat saya berpikir Ok mungkin memang salah potong chapter aja buat pembagian bukunya. Seru2 dan kejutan2 baru ada di buku kedua.

Lalu karena tidak kunjung menemukan seri ketiganya ini di toko buku akhirnya memesanlah saya lewat on line shop. Dan huummm, bentar2 meningan diceritain sekilas dari awal kali ya.

Alkisah dua anak perempuan kembar Lia dan Alice yang baru saja kehilangan ayahnya. Tak lama setelah ayahnya meninggal muncul tanda aneh di pergelangan tangan Lia dan juga Alice. Lalu Lia sang protagonis menemukan sobekan kertas yang berisi ramalan kuno tentang Iblis Samael. Bahwa dari waktu ke waktu sang Iblis akan mencoba untuk melakukan invasi ke dunia melalui seorang perempuan yang berperan sebagai gerbang (Gate). Peristiwa itu dari waktu ke waktu telah berhasil dicegah oleh para penjaga (Guardian) yang ternyata selalu jatuh pada saudara kembar sang gerbang.

Tidak butuh waktu untuk mengerti kalo ramalan itu nyata. Ibu dari Lia dan Alice yang meninggal ketika mereka kecil juga memiliki seorang saudara kembar bernama Abigail. Mereka juga adalah sepasang Guardian dan Gate.

Di buku satu Lia menyimpulkan bahwa dirinya adalah sang guadian yang berkewajiban mencegah Samael melaksanakan rencananya. Sedari kecil memang Alice lah yang (sepertinya) memiliki bibit2 jahat dan Lia curiga jika Alice sudah lebih dahulu sadar akan siapa mereka dan sudah berpihak pada Samael. Untuk mencegah rencana besar itu iya harus menemukan perempuan2 lain yang berperan sebagai kunci yang diperlukan untuk mengusir Samael.

Lalu di buku kedua terbuka fakta bahwa ternyata Lia lah yang berperan sebagai gerbang dan Alice lah yang harus mencegahnya. Lia adalah The Angel alias The Choosen one, gerbang paling kuat untuk menarik Samael masuk ke dunia. Ketika peran dan perasaan terbalik2 Lia memilih untuk meneruskan upaya pencegahan terhadap bangkitnya Samael. Kita meninggalkan buku kedua dengan fakta2 tersebut. Plus bumbu2 romance kalo ternyata kekasih Lia yang ia tinggalkan demi misinya kini menjadi tunangan Alice, tapi di perjalanannya Lia juga telah bertemu dengan Dimitri yang misterius dan menjadi kekasihnya.

Dan kesimpulan buku ketiga. Saya tetep kesel sama Lia. She is one of the weakest heroine I’ve ever read. Lia yang banyak mengeluh dan berharap semua orang harus mengerti dirinya. Lia yang tidak pernah mau benar-benar mengerti mengapa Alice berbuat apa yang ia perbuat. Bahkan mungkin motivasi saya terus membaca seri ini adalah karena penasaran dengan Alice dan bukan Lia.

Di buku ketiga ini misi Lia adalah menemukan tempat dimana Samael akan muncul, mengumpulkan para kunci, dan yang (menurutnya) tersulit adalah membujuk Alice untuk melaksanakan perannya sebagai Guardian. Di sisi lain Lia juga berusaha untuk menahan godaan dari Samael yang membujuknya semanis madu untuk berhenti melawan dan beralih pihak saja.

Dan saya sangat menyesalkan endingnya. Ntah misi mereka berhasil atau tidak, saya tetap merasa Alice diperlakukan dengan tidak adil oleh sang pengarang. Dan in my humble opinion cerita ini akan jauh lebih menarik dan dramatis dari sudut pandang Alice daripada membaca keluhan dan perilaku menye2 Lia.

Latar belakang Ghotic yang sebenarnya sangat menarik ini kurang diekplorasi maksimal sehingga ngga begitu seru efeknya. Begitu juga dengan bumbu romantis Lia dan Dimitri ala twilight series yang ganggu banget (buat saya) dan karakter Heroine (supposed to be) nya yang annoying, kekanak-kanakan dan (kadang) dangkal.

Sebagai penutupnya di akhir buku mau ngga mau saya merasa sedih. Bukan karena ceritanya yang rame banget. Tapi untuk salah satu tokohnya yang selalu salah dimengerti dari awal sampai akhir cerita. Another Severus Snape. Poor Alice.. She deserve her own story..

“Yet it doesn’t matter whether our dreams are simple or elaborate. Whether we wish to live quietly as wives or visibly as rulers of many. In the end, we all want the same thing: to live. To live in our own terms.”

Guardian Of The Gate By Michelle Zink

Penerbit : Little Brown Books

Tebal : 352 Halaman

Dibanding buku kedua ini, Prophecy Of The Sisters tampak seperti prolog yang terlalu panjang. Yes, I like the second sequel better. Di buku ini setidaknya beberapa hal mulai menjadi jelas dan konflik dan suspense nya lebih greget. Walau sepertinya cerita akan memuncak di buku ketiga.

Kilas balik sedikit, Lia dan Alice Milthrope adalah kedua saudara kembar yang diramalkan akan berperan dalam kembalinya atau musnahnya sang iblis Samael. Satu berperan sebagai Gate satu berperan sebagai Guardian. Gate adalah pintu masuk dari para Lost Soul dan Samael sedangkan Guardian adalah penjaga kedamaian yang sebisa mungkin harus menjaga saudari kembarnya sang Gate.

Jika proses kelahiran Lia dan Alice alami maka Alice lah yang akan menjadi Gate dan Lia menjadi Guardian. Namun karena proses kelahiran Lia dan Alice yang tidak normal (caesar dimana Lia dikeluarkan duluan), maka Alice lah yang menjadi Guardian dan Lia menjadi Gate. Alice tidak menerima perannya dan memilih memihak sang iblis. Ternyata Lia bukan hanya sekedar Gate, melainkan The Angel, the chosen one yang bisa menjadi gerbang untuk kebangkitan Samael. Konon kelahiran The Angel ini telah ditunggu selama berabad-abad oleh Samael dan para pengikutnya.

Terakhir kali di Prophecy Of The Sisters kita meninggalkan Lia Milthrope yang sedang menuju ke London bersama Sonia Sorensen, salah satu kunci dari empat yang diramalkan. Setelah tiba di London Lia melatih kekuatannya dengan bimbingan Sonia. Di sisi lain Lia pun merasa kekuatan Alice semakin kuat dan menjadi gentar karenanya. Lia tau dia harus segera pergi ke Altus, negeri para Sisters yang ada di dunia lain untuk dibimbing bibi Abigail dalam mencari halaman-halaman yang hilang dari Book Of Chaos. Dengan halaman yang hilang itu, Lia berharap dapat mengetahui cara mengakhiri ramalan tersebut.

Suatu waktu tanpa diduga-duga Edmund (pelayan setia keluarga Milthrope), Luisa (teman Lia sekaligus salah satu kunci) dan Bibi Virginia tiba di London. Lia sangat senang dengan kedatangan mereka bertiga. Bibi Virginia membawa berita bahwa dirinya tidak bisa lagi menjaga Alice karena Alice telah menolak perannya sebagai Guardian dan menjadi semakin kuat dan menakutkan. Alice bahkan mengabaikan aturan-aturan dunia lain yang dibuat oleh kaum Grigori (semacam aparat hukum di dunia lain).

Bibi Virginia juga memberitau bahwa Lia harus segera berangkat menuju Altus dengan dikawal oleh Edmund. Lia seharusnya melaksanakan perjalanan ini sendiri namun Sonia dan Luisa berkeras untuk ikut, akhirnya perjalanan menuju Altus dilaksanakan berempat Lia, Edmund Sonia dan Luisa.

Dalam perjalanan menuju Altus Lia mengetahui dari Edmund bahwa ternyata Ayahnya adalah seorang Grigori dan James, kekasih yang ia tinggalkan sekarang dekat dengan Alice. Semakin dekat dengan Altus yang berlokasi di dunia lain, perjalanan mereka pun menjadi semakin berbahaya. Suatu saat mereka harus melarikan diri karena dikejar oleh anjing neraka / hell hounds. Saat dalam keadaan terpojok mereka diselamatkan oleh seorang Pria bernama Dimitri. Lia pernah bertemu dengannya di suatu acara makan malam dan sangat heran mengapa bisa bertemu dengan Dimitri di tengah hutan menuju Altus. Ternyata Dimitri dan Edmund sudah saling mengenal, Dimitri adalah anggota Grigori yang bertugas untuk mengawasi perjalanan Lia.

Lia dan Dimitri merasa saling tertarik dan selanjutnya menjadi bumbu romance dalam isi cerita yang malas saya ceritakan ^_^ karena mengingatkan saya pada romance yang terbentuk pada serial twilight. Di perjalanan menuju Altus pula Lia mengetahui bahwa salah satu dari temannya telah dirasuki oleh para Jiwa Tersesat dan berhianat.

Setelah petualangan selesai, pada akhirnya Lia menyadari bahwa perkataan Alice benar. Pada akhirnya salah satu dari mereka akan mati dalam mengakhiri ramalan yang membuat dua saudara tersebut menjadi musuh. Dan untuk mengakhiri ramalan tersebut Lia membutuhkan Alice.

Begitulah. Menurut saya buku kedua ini jauh lebih seru daripada buku pertamanya. Petualangannya lebih menegangkan dan sepertinya akan semakin seru di buku ketiga. Di buku kedua ini Lia menjadi sosok yang terlalu naif menurut saya. Cerita ini berkembang menjadi ramuan fantasi antara Lord of the Ring, Harry Potter dan Twilight Series. Fine with me!

Buku kedua ini juga belum menceritakan banyak tentang Alice. Alice tetap menjadi saudari jahat yang semakin menakutkan. Ntah kenapa saya ingin lebih memahami Alice. Mudah-mudahan di buku ketiga, Circle of Fire diceritakan lebih banyak. Tapi ternyata buku ketiganya baru terbit Agustus 2011 jadi harus bersabar ^_^

Prophecy Of The Sister By Michelle Zink

Penerbit : Matahati

Tebal : 354 Halaman

Alih Bahasa : Ida Wajdi

Problem dengan genre fantasy adalah sudah banyak sekali novel dengan kategori 10 dari 10 bintang sehingga mau tidak mau standar untuk masuk ke dalam kategori bagus cukup tinggi. Itulah yang terjadi pada novel ini. Sebenarnya ceritanya OK, namun mungkin tidak sesuai ekspektasi.

Bercerita tentang remaja perempuan kembar, Lia dan Allice Milthrope yang baru saja kehilangan ayahnya. Ibu Lia dan Alice meninggal karena bunuh diri sewaktu mereka kecil dengan melompat dari suatu tebing. Lia dan Alice tinggal bersama adik ibu mereka Bibi Virgina dan seorang adik laki-laki yang lumpuh bernama Henry.

Setelah pemakaman ayahnya, muncul tanda aneh di pergelangan tangan Lia yang menyerupai gelang ular. Lalu pada suatu malam Lia menangkap basah saudara kembarnya sedang melakukan suatu ritual mistis di kamar mendiang ibu mereka.

Kekasih Lia, James yang ayahnya diberi tugas untuk mengorganisir perpustakaan keluarga Milthrope menemukan sebuah buku kuno dengan judul Book Of Chaos. Dalam buku tersebut terdapat ramalan mengenai hari kiamat yang melibatkan saudara kembar. Yang satu bertindak sebagai Gerbang para roh tersesat dan setan masuk ke dunia dan yang satu lagi berperan sebagai Garda untuk menjaga kedamaian dan menjaga agar para roh tersesat tidak masuk ke dunia.

Semakin lama Lia merasa perangai Alice semakin aneh, untungnya Lia menemukan sekutu dalam memecahkan misteri ramalan kuno tersebut. Sonia Sorennsen dan Luisa Alcot yang ternyata memiliki tanda yang mirip dengan tanda di pergelangan tangan Lia. Bertiga mereka mencoba mengurai ramalan kuno  tersebut dan mencari tahu apa peranan mereka di dalamnya.

Terus terang saya tidak familiar tentang mitos Samael sehingga sepanjang buku ini saya mengalami kesulitan memahami konsep ramalan tersebut. Kenapa Samael menjadi setan, bagaimana peran para saudari dan isi ramalan itu sendiri belum begitu dapat saya mengerti.

Saya merasa karakter dari tokoh-tokohnya digambarkan dengan kurang kuat. Lia kurang mengigit dan Alice terlalu jahat. Bahkan dalam beberapa titik saya merasa sang penulis tidak adil karena kurang menggali karakter Alice. Dia hanya digambarkan sebagai Alice si jahat.

Dalam buku ini juga intentsitas alurnya kurang memuaskan. Tidak ada puncaknya. Alur dari awal sampai akhir datar-datar saja dan banyak misteri yang belum terselesaikan. Mungkin di seri berikutnya akan lebih banyak konflik karena ternyata buku ini berseri.

Walaupun hanya masuk kedalam kategori Ok buat saya, karena kalo udah baca buku berseri saya ngga bisa berhenti dan kemarin di Periplus nemu serial keduanya Guardian of The Gate didiskon jadi 49 ribu jadilah saya beli dan masuk dalam antrian bacaan. Jadi.. Nantikanlah review buku yang kedua, mudah-mudahan lebih bagus dari buku pertamanya.