The Neverending Story By Michael Ende

Kok iya bisa saya baru baca buku ini sekarang. Itu juga karena kemaren2 liat sekilas film nya di HBO dan baru inget kalo sebenernya saya punya buku ini walau dalam format ebook. Mulailah saya baca dan nyesel abis baru baca sekarang. Huuuww.

Cerita dibuka dengan kisah seorang anak yang merasa dirinya tidak istimewa, Bastian Balthazar Bux. Bastian yang chubby sering menjadi objek gangguan teman2nya. Ibu nya telah meninggal dunia dan semenjak itu Ayahnya jadi menjaga jarak pada Bastian. Ayahnya tidak pernah sembuh dari rasa sakit kehilangan. Walaupun Bastian bisa memperoleh apa pun yang ia inginkan, ia tetap merasa tidak bahagia karena merasa telah kehilangan Ibu dan Ayahnya sekaligus.

“If you have never spent whole afternoons with burning ears and rumpled hair, forgetting the world around you over a book, forgetting cold and hunger–
If you have never read secretly under the bedclothes with a flashlight, because your father or mother or some other well-meaning person has switched off the lamp on the plausible ground that it was time to sleep because you had to get up so early–
If you have never wept bitter tears because a wonderful story has come to an end and you must take your leave of the characters with whom you have shared so many adventures, whom you have loved and admired, for whom you have hoped and feared, and without whose company life seems empty and meaningless–
If such things have not been part of your own experience, you probably won’t understand what Bastian did next.”

Suatu hari Bastian merasakan dorongan aneh yang membuatnya ingin masuk ke suatu toko buku. Setelah berada di dalam mata Bastian terpaku pada buku yang sedang dipegang sang pemilik toko. Mr. Coreander. Ketika Mr.Coreander beranjak sejenak untuk mengangkat telepon, Bastian tanpa pikir panjang menyambar buku itu dan berlari keluar.

Bastian membawa buku itu ke loteng sekolahnya dan langsung membacanya disana. Buku itu berjudul The Neverending Story. Ceritanya adalah tentang sebuah dunia yang bernama Fantastica. Tak terhitung berapa negeri yang ada dalam Fantastica. Cerita yang Bastian baca bermula dari dikirimnya perwakilan para negeri untuk menemui seseorang yang menjadi pusat seluruh Fantastica, The Childlike Empress.

“The Childlike Empress – as her title indicates – was looked upon as the ruler over all the inumerable provinces of the Fantastican Empire, but in reality she was far more than a ruler; she was something entirely different.

She didn’t rule, she had never used force or made use of her power. She never issued commands and she never judged anyone. She never interfered with anyone and never had to defend herself against any assailant; for no one would have thought of rebelling against her or of harming her in any way. In her eyes all her subjects were equal.

She was simply there in a special way. She was the center of all life in fantastica.”

Terdapat gejala aneh di seluruh pelosok Fantastica. Sedikit demi sedikit daerah tertelan ke dalam sesuatu yang mereka namakan Ketiadaan. Ketiadaan itu menyebar dan menyebabkan daerah yang dilewatinya menjadi hilang tak berbekas.

Ternyata di istananya The Childlike Empress telah berkumpul berbagai jenis mahluk Fantastica yang merupakan perwakilan dari masing2 negerinya. The Childlike Empress sedang sakit berat, tidak ada tabib yang dapat menyembuhkannya. Jika tidak disembuhkan maka seluruh Fantastica akan ikut hilang bersama dengan wafatnya The Childlike Empress.

Satu-satunya cara adalah mengirimkan seorang perwakilan seluruh Fantastica dalam sebuah misi. Yaitu mencari seorang manusia yang dapat memberikan nama baru untuk The Childlike Empress. Perwakilan tersebut akan dipersenjatai dengan jimat yang bernama Auryn. Jimat tersebut merupakan personifikasi dari The Childlike Empress sehingga siapapun yang menggunakannya akan dianggap sebagai sang Empress sendiri, tidak ada satu mahluk pun di Fantastica yang akan menghalangi.

Tugas itu jatuh ke tangan Atreyu, seorang bocah pemburu yang handal. Atreyu kemudian bertemu dengan satu mahluk dari species luckdragon bernama Falkor yang menjadi teman setianya.

Bastian membaca kisah tersebut dengan khidmat, untuk kemudian menemukan bahwa manusia yang dicari Atreyu adalah dirinya.

Aaaaahhh.. Cerita fantasy yang super keren. Daya khayalnya Michael Ende hebat banget, beliau bisa menciptakan beragam mahluk yang tidak pernah ada di cerita lain dan luar biasa uniknya. Dalam cerita fantasy ini juga tersirat berbagai pesan moral yang everlasting.

Tentang sifat serakah manusia, kehausan atas kekuasaan dan pengakuan. Tentang bagaimana kebutuhan untuk dicintai yang tidak terpenuhi bisa membuat seorang anak kesepian. Tentang free will. Tentang menggali ke dalam diri apa yang sebenarnya paling berarti. Dan yang membuat saya menangis di akhir cerita.. Tentang redemption.. Pengampunan.. Kesempatan kedua..

““I did everything wrong.” he said. “I missunderstood everything. Moon Child gave me so much, and all I did with it was harm, harm to myself and harm to Fantastica.”

Dame Eyola gave him a long look.

“No,” she said. “I don’t believe so. You went the way of wishes, and that is never straight. You went the long way around, but that was your way. And do you know why? Because you are one of those who can’t go back until they have found the fountain from wich springs the Water of Life. And that’s the most secret place in Fantastica. There’s no simple way of getting there.”

After a short silence she added: “But every way that leads there is the right one.”

Suddenly Bastian began to cry. He didn’t know why. He felt as if a knot in his heart had come open and dissolved in to tears.”

Ya, tentang kesempatan kedua yang memang kadang datang melalui jalan berliku yang menyakitkan. Berkali-kali terhempas dan berkali-kali merasa putus asa. Merasa semua jalan yang dipilih adalah salah dan terjebak di dalamnya, tidak tahu bagaimana cara memperbaiki semuanya. Tapi seperti yang Dame Eyola bilang,

“Every way that leads there is the right one”

Dan saya pun menangis termehek-mehek. Good for you dear Bastian. Hardship makes you unbreakable. Heartache makes you realize how important love is. And second chance makes you respect every moments that life gave to you.

Bravo deh buku ini!!

 “If you stop to think about it, you’ll have to admit that all the stories in the world consist essentially of twenty-six letters. The letters are always the same, only the arrangement varies. From letters words are formed, from words sentences, from sentences chapters, and from chapters stories.”

Momo By Michael Ende

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Tebal : 320 Halaman

Alih Bahasa : Hendarto Setiadi

Those who still think that listening isn’t an art should see if they can do it half as well.”

Tadi pagi kebangunan jam 2 dan tiba-tiba pengen baca ulang salah satu my best book of all time, Momo by Michael Ende. Udah lama banget punya buku ini dan sampai sekarang ceritanya masih berkesan. Kenapa saya pengen baca ulang buku ini? Mungkin karena memang akhir-akhir ini susah sekali mencari orang yang mau mendengar, betul-betul mendengar apa yang kita ceritakan. Everyone is to bussy with their own life they seldom notice that their friend/relatives need to be listened to.

Momo adalah seorang anak perempuan kecil misterius yang tiba-tiba saja muncul di amphiteater kota. Tidak butuh waktu lama bagi Momo untuk menjadi kesayangan seluruh penduduk kota. Mengapa bisa demikian? Karena Momo adalah seorang pendengar yang baik. Momo betul-betul mendengarkan dengan sabar dan penuh perhatian cerita setiap orang. Setelah bercerita pada Momo, setiap orang selalu merasa lebih baik dan seringkali menemukan sendiri solusi atas permasalahannya. Sekarang, setiap kali ada penduduk kota yang sedang merasa bermasalah, ungkapan “Ayo coba cari Momo!” menjadi sesuatu yang biasa di kota tesebut.

Sampai suatu ketika keadaan mulai berubah ketika para laki-laki berstelan abu-abu mulai berkeliaran di seluruh penjuru kota. Mereka menawarkan kepada para penduduk untuk menyimpan waktu di bank. As absurd as it may sound, banyak penduduk kota yang termakan oleh bujukan para tuan abu-abu. Setelah itu suasana kota yang hangat mulai berubah karena setiap orang jadi tidak memiliki waktu untuk orang lain dan sibuk dengan dirinya sendiri. Alih-alih mendengarkan cerita anak-anak mereka, para orang tua membelikan mereka mainan-mainan mahal agar bisa menghemat waktu mereka.

Momo memperhatikan perubahan tersebut dan merasa sedih karenanya. Orang-orang kota mulai bertindak seperti robot dan tidak lagi menikmati hidup. Ketika pengaruh para tuan abu-abu sudah mengenai sahabat-sahabat terdekat Momo, ia memutuskan untuk menghentikan upaya para tuan abu-abu dengan bantuan seekor kura-kura bernama Cassiopeia. Berdua mereka mencoba menemui seorang Profesor Waktu yang bernama Hora. Berhasilkah Momo? What do you think?

Uniknya, cerita ini ditulis Michael Ende pada tahun 1973. Dan di ujung tahun 2011 ini saya merasa dunia sudah dipenuhi para tuan abu-abu dengan konsep hemat waktu nya. Waktu terasa cepat banget berlalu dan seperti yang digambarkan dalam cerita, setiap orang sibuk dengan kehidupan dan kegiatan nya masing-masing. Kapan terakhir kali kita meluangkan waktu untuk betul-betul mendengarkan cerita seorang sahabat ?? (bukan lewat text messages, bbm atau chat media lainnya)

Seringkali saya melihat sekumpulan orang di tempat umum/restoran/cafe yang ceritanya sedang berkumpul tapi setiap orang sibuk dengan HP masing-masing. Agak geli sebenarnya. Apakah interaksi lewat social media bisa menggantikan tatap muka langsung? Sebegitu sibuknya kah kita?

Banyak hal yang tidak bisa tergambarkan lewat kata-kata. Words can lie tapi tatapan mata, gesture atau nada suara tidak. Hati tidak bisa hanya bicara lewat kata-kata, tapi juga dengan keberadaan. I don’t want to be one of those people corrupted by The Men In Grey. I want to able to cherish the beauty of the event and all the little things that pass in time and that include “being there” for people i care about. People i go a thousand miles for.

Life holds one great but quite commonplace mystery. Though shared by each of us and known to all, seldom rates a second thought. That mystery, which most of us take for granted and never think twice about, is time.

Calendars and clocks exist to measure time, but that signifies little because we all know that an hour can seem as eternity or pass in a flash, according to how we spend it.

Time is life itself, and life resides in the human heart.