Bumped By Megan McCafferty

Tebal : 240 Halaman on ebook

Buku ini berkisah tentang dunia di masa depan dimana umat manusia terinfeksi virus yang menyebabkan mereka tidak dapat bereproduksi setelah melewati umur 18 tahun. Untuk mengatasi masalah penurunan populasi penduduk maka gadis-gadis remaja sangat dianjurkan untuk hamil. Baik secara amatir (dengan siapa saja yang mereka suka) atau secara pro melalui seorang Reproductive Representative yang akan memilih siapa donornya dan mereka mendapat imbalan uang atau beasiswa melanjutkan kuliah atas jasanya melahirkan seorang bayi. Alat kontrasepsi adalah barang yang terlarang untuk diedarkan.

Fyi setelah bayi2 tersebut dilahirkan mereka akan langsung diantarkan pada agen adopsi kepada orang tua yang memesan bayi tersebut. Jika seorang amatir melahirkan maka jika bayinya mendapat nilai bagus, bayi tersebut juga dapat dilelang kepada penawar tertinggi sehingga si Ibu bisa mendapat imbalan uang.

Dunia yang absurd memang. Pada beberapa bagian membuat kening saya berkerut. Namun endingnya sangat bikin penasaran karena ternyata buku ini beseri.

Alkisah tentang dua orang gadis remaja kembar yang dipisahkan sejak lahir. Melody dan Harmony. Melody diadopsi oleh pasangan scientist (atau pengajar ya? Agak lupa) yang sudah mempersiapkan Melody untuk menjadi seorang Pro sejak kecil. Melody diasah IQ maupun EQ nya dengan berbagai kegiatan untuk menjadi “donor gen” yang menjual. Walhasil di umur 16 tahun Melody sudah memiliki seorang Reproductive Representative bernama Lib yang sedang menyeleksi calon “donor gen” lain yang tepat untuk Melody sehingga dapat menghasilkan keturunan yang “sempurna” dan mendapat imbalan jasa 15% atas apa yang Melody dapat.

Harmony diadopsi oleh kaum Puritan yang tinggal di sebuah daerah yang bernama Goodside. Nasib Harmony tidak lebih baik karena di daerah tempat tinggalnya para Gadis ditunangkan dan menikah semenjak berumur 13 tahun sehingga dapat berkeluarga dan menghasilkan keturunan.

Suatu saat tanpa diduga Harmony muncul di depan pintu rumah Melody. Kedua saudara yang pada awalnya asing akan kehidupan satu sama lain ini mulai terikat dalam suatu kisah complicated yang membuat mereka sama-sama mempertanyakan apa yang selama ini mereka percayai.

Overall buku ini masuk dalam kategori “fun to read”. Walau digadang-gadang bergenre dystopian tapi saya lebih suka memasukkannya dalam science fiction saja, karena setelah membaca 1984 nya George Orwell atau The Handmaid’s Tale nya Margaret Atwood yang notabene dedengkot nya dystopian rasanya buku ini belum terlalu “kuat” untuk masuk ke dalam kategori tersebut.

Bahasa dalam buku ini mungkin sengaja dibuat girlie sekali sehingga kadang saya geli sendiri membacanya. Duet Melody Harmony juga seru karena walaupun mereka dibesarkan dalam dua lingkungan yang berbeda ternyata they share the same core thoughts about the world they live in. Merka berdua adalah dua gadis remaja yang memiliki pemikiran sedikit berbeda dengan teman-teman sebayanya. Ide tentang dunia mereka juga cukup segar walaupun saya tidak menyarankan untuk dibaca young adults karena cukup kontroversial.

Kehidupan Melody dan Harmony menggambarkan bahwa sebagaimanapun rigidnya dunia tempat kita tinggal, pada dasarnya kita masing-masing mempunyai pilihan untuk menjalankan kehidupan seperti apa. Dan kita harus berani menghadapi konsekuensi dari pilihan yang kita buat. Tidak ada keharusan bagi kita untuk mengikuti suatu arus tertentu hanya karena hal itulah yang dilakukan orang-orang lain.

I dream of a life where girls don’t hide behind veils. And they can dress as they want to and cut their hair or keep it long if that’s what they like. And they can study The Bible, really study it by asking questions and having them answered, and also read other unbiblical books too. Where red is the color of strawberries, cardinals, and morning glories, not shame, shunning, and sin.

A life where girls are free to fall in love..

Even if that love proves to be something else entirely.

-Harmony-