Pandemonium By Lauren Oliver

Penerbit : HarperCollins Publisher

Tebal : 375 Halaman

“Grief is like sinking, like being buried. I am in water the tawny color of kicked-up dirt. Every breath is full of choking. There is nothing to hold on to, no sides, no way to claw myself up. There is nothing to do but let go.

Let go. Feel the weight all around you, feel the squeezing of your lungs, the slow, low pressure. Let yourself go deeper. There is nothing but bottom. There is nothing but the taste of metal, and the echoes of old things, and days that look like darkness.”

Lauren Oliver emang jago merangkai kata2 ya. Kalimat di atas sangat mengingatkan saya pada sesuatu. Anyway.. Baru aja saya ngakak2 baca review buku ini di goodreads, banyak banget yang mengutuk2. Jangan salah, bukan karena ceritanya ngga asik, tapi karena endingnya yang mencengangkan jiwa. Yang mengutuk2 itu malah rata2 ngasih bintang lima.

Saya sendiri waktu baca halaman terakhir sampe ngga sengaja semi teriak “Apaaa!! Terus gimana ini!!!” hehe. Untung si buku ngga terus dilempar ke tembok (pasti banyak yang mau nangkep kan, hihihi). Lagi-lagi bukan berarti saya ngga suka buku ini loh, cuma aduh ya mba Lauren ini kok ya bikin penasaran banget. Mana masih ditulis lagi buku ketiganya, kan lama nunggunya, hihihi.

Di buku ini ngga ada lagi tuh manis2an macem di Delirium. Ngga ada lagi kalimat2 tentang cinta yang bikin meleleh leleh. Di Pandemonium Lena sudah bertransformasi menjadi sosok yang lain. Sosok yang sudah mencicipi bagaimana rasanya merasa kehilangan sampe2 tidak merasa sama sekali. Berada di kondisi antara hidup dan mati. Lena yang sekarang penuh kegetiran dan dendam pada kelompok manusia yang telah membunuhnya.

Lena berhasil melarikan diri ke daerah “Wilds” di luar pagar masyarakat eksklusif di dunianya yang dulu yang menganggap cinta adalah sebuah penyakit. Oleh karena itu setelah berumur 18 tahun setiap warga harus melewati prosedur medis untuk menyingkirkan bagian otak yang memungkinkan manusia untuk merasakan cinta dan sayang. Dunia zombie.

“This is the world we live in, a world of safety and happiness and order, a world without love.

A world where children crack their heads on stone fireplaces and nearly gnaw off their tongues and the parents are concerned. Not heartbroken, frantic, desperate. Concerned, as they are when you fail mathematics, as they are when they are late to pay their taxes.”

Namun yang namanya hati mana bisa diatur sih. Lena sudah mengalami Amor Deliria Nervosa dan untuk Lena there’s no going back.

Setelah beberapa hari terlunta-lunta di Wilds, Lena akhirnya diselamatkan oleh sekelompok orang yang mirip dengan dirinya. The Uncured alias Invalids, begitulah dunianya yang dulu menamai kelompok itu. Cerita lalu beralih silih berganti antara masa dimana Lena baru saja bergabung dengan The Invalids dan baru menyesuaikan diri dengan masa dimana Lena sedang menjalani misi penyamaran rahasia dan bergabung kembali bersama kelompok manusia anti cinta yang sudah ditinggalkannya.

Raven, sang pemimpin Invalids menugaskannya untuk bergabung dengan kelompok DFA (Deliria-Free America) dan memusatkan perhatian pada Julian Fineman, sang maskot dari DFA yang juga anak lelaki dari ketua organisasi tersebut, Thomas Fineman.

Di masa yang satu kita dibawa melihat betapa kerasnya kehidupan para Invalids dan sangat kontras dengan masyarakat yang hidup di sisi pagar lainnya. Kita juga dibawa melihat Lena yang berusaha keras mengusir bayang-bayang Alex, Lena yang penuh dengan kemarahan dan determinasi untuk bertahan hidup demi satu motivasi. Dendam.

“This is what hatred is. It will feed you and at the same time turn you to rot.”

Di masa yang lain kita dibawa melihat bagaimana karena suatu insiden, Lena yang diberi tugas untuk menguntit Julian berakhir menjadi tahanan para Scavengers (kelompok yang juga belum disembuhkan namun bersifat anarkis dan hanya mempunyai tujuan membuat kekacauan) berikut dengan Julian. Mereka berdua ditahan di sebuah ruang bawah tanah untuk tujuan yang Lena belum bisa mengerti.

Lena terpaksa harus tetap berpura2 karena berada di ruangan yang sama dengan Julian sang pembeci Deliria. Lalu apa yang terjadi. Sebuah pelajaran jangan pernah menilai seseorang hanya berdasarkan dari kelompok mana orang itu berasal. Manusia itu unik, you never know

Lena yang sekarang sudah menjadi Heroine yang bisa menyisihkan rasa takutnya dan bertarung untuk bertahan hidup. Namun pada akhirnya luka yang ia tutupi akhirnya terkuak juga. Dan apakah Lena akan memberikan sang penyakit mematikan Amor Deliria Nervosa satu lagi kesempatan? What do you think? Hehe.. Yang jelas endingnya bikin penasaran banget!

Ayo dong sekuelnya cepet selesai ditulis dan terbit! (inilah mengapa kadang saya bilang racun buku berseri itu susah dicari penawarnya, hehe)

People themselves are full of tunnels: winding, dark spaces and caverns; impossible to know all the places inside of them. Impossible even to imagine.”

Delirium By Lauren Oliver

Penerbit : Hodder

Tebal : 393 Halaman

“Amor deliria nervosa. The deadliest of all deadly things.”

Haha. Lucu deh. Kalo saya baca buku ini sekitar 4 bulan yang lalu mungkin saya akan dengan sukarela masuk ke dunianya Lena. Sang tokoh utama dalam buku ini. Di dunia Lena, Cinta adalah sebuah penyakit yang mereka namai Amor deliria nervosa. Haha.

Di usia yang ke 18 setiap warga negara diharuskan mengikuti suatu prosedur untuk menghilangkan bagian dari otak dan sistem saraf yang menyebabkan seorang manusia dapat merasakan cinta. Dengan kata lain mereka memutilasi bagian dari manusia yang bernama perasaan.

4 months ago I will consider this a briliant and woderful idea ;p logikanya nyambung banget dengan logika saya (di masa itu) yang menyamakan jatuh cinta dengan sakit jiwa (karena memang secara scientific hormon yang bekerja ketika kita jatuh cinta dan sakit jiwa itu sama).

Beginilah ciri-ciri dari penyakit Amor Deliria Nervosa :

PHASE ONE:

  • preoccupation; difficulty focusing
  • dry mouth
  • perspiration, sweaty palms
  • fits of dizziness and disorientation
  • reduced mental awareness; racing thoughts; impaired reasoning skills

PHASE TWO:

  • periods of euphoria; hysterical laughter and heightened energy
  • periods of despair; lethargy
  • changes in appetite; rapid weight loss or weight gain
  • fixation; loss of other interests
  • compromised reasoning skills; distortion of reality
  • disruption of sleep patterns; insomnia or constant fatigue
  • obsessive thoughts and actions
  • paranoia; insecurity

PHASE THREE (CRITICAL):

  • difficulty breathing
  • pain in the chest, throat or stomach
  • complete breakdown of rational faculties; erratic behavior; violent thoughts and fantasies; hallucinations and delusions

PHASE FOUR (FATAL):

  • emotional or physical paralysis (partial or total),
  • death

This is so amusing. Hehe. Orang-orang yang telah melewati prosedur digambarkan akan mengalami perubahan – perubahan seperti berikut :

“They seem peaceful now, mature and somehow remote, like they’re encased in a thin layer of ice.”

Kind’a remind me of my old self.

Magdalena Ella Halloway atau dipanggil Lena. Our heroine is. Pada awalnya karakter Lena digambarkan tidak terlalu istimewa dibandingkan teman dekatnya Hana yang tampak pemberani dan rebelious.  Diceritakan bahwa ayah Lena meninggal di suatu peperangan, meninggalkan ia, Ibunya dan kakak perempuannya Rachel.

Yang seharusnya terjadi dalam dunia Lena jika salah satu pasangan meninggal, yang lain meneruskan hidup dengan biasa-biasa saja karena toh perasaan mereka sudah dimatikan. Namun tidak demikian yang terjadi dengan Ibunda Lena. Tiga kali prosedur tidak juga menyembuhkan perasaan cinta dan kasih sayang dari dalam dirinya. Sampai akhirnya di malam ketika Ibundanya bunuh diri, pesan terakhirnya kepada Lena adalah,

 “I love you, remember that, they can not take it.”

Hubungan Ibu dan anak yang wajar adalah berjarak. Tidak wajar bagi seorang Ibu untuk menyanyikan lagu untuk anaknya dan bahkan seorang Ibu yang tertangkap basah tertawa-tawa dengan anaknya akan dilaporkan sebagai pemberontak dan bisa jadi ditahan

Mati karena cinta adalah suatu dosa besar dalam dunia itu. Karena peristiwa tersebut nama baik keluarga Lena sedikit ternoda, dan Lena berjuang keras untuk mengikuti segala aturan dan menelan bulat-bulat apa yang diperintahkan. Lena pada awalnya adalah orang yang seperti itu. Orang yang go with the flow. Mengikuti arus.

Sampai Lena akhirnya bertemu dengan apa yang namanya perasaan. Perasaan yang memang terkadang irasional dan tidak beralasan sama sekali. Lena bertemu dengan Cintanya. Lena bertemu dengan Alex.

Sedikit demi sedikit karakter Lena berkembang menjadi hidup. Lena sendiri sepertinya baru merasakan hidup. Perubahan itu tergambarkan dengan baik sehingga pada akhirnya kita akan mengagumi bagaimana kepribadian Lena berkembang.

“Everything looks beautiful. The book of Shhh says that deliria alters your perception, disables your ability to reason clearly, impairs you from making sound judgements. But it does not tell you this : that love will turn the whole world into something greater than itself.”

Will they survive against the odds?? Hmm saya jauh lebih menyukai buku ini daripada Before I Fall. Dari pada Matched yang juga bergenre Young Adult Dystopian pun saya lebih menyukai Delirium ini. Konfliknya lebih dalam dan terasa peralihan dari dunia remaja ke dunia dewasa yang penuh dengan konflik dan pilihan. Dan endingnya.. Ah endingnya.. Hidup memang tidak selalu indah ya..

Anyway, bravo to Lauren Oliver. I love the idea. I love the heroine. I love the bittersweet effect of the story.

“I run for I don’t know how long. Hours, maybe, or days. Alex told me to run. So I run. You have to understand. I am no one special. I am just a single girl. I am five feet two inches tall and I am in-between in every way. But I have a secret. You can build walls all the way to the sky and I will find a way to fly above them. You can try to pin me down with a hundred thousand arms, but I will find a way to resist. And there are many of us out there, more than you think. People who refuse to stop believing. People who refuse to come to earth. People who love in a world without walls, people who love into hate, into refusal, against hope,and without fear. I love you. Remember. They cannot take it.”

Before I Fall By Lauren Oliver

Penerbit :Hodder

Tebal : 339 Halaman

It amazes me how easy it is for things to change, how easy it is to start off down the same road you always take and wind up somewhere new. Just one false step, one pause, one detour, and you end up with new friends or a bad reputation or a boyfriend or a breakup. It’s never occurred to me before; I’ve never been able to see it. And it makes me feel, weirdly, like maybe all of these different possibilities exist at the same time, like each moment we live has a thousand other moments layered underneath it that look different.

Samantha Kingston harus mengulang2 hari kematiannya untuk pada akhirnya menemukan apa yang benar untuk dilakukan. Agak gemesin memang, but hey, everybody deserve a second chance right?

Samantha and the gang, Lindsay, Ally dan Elody adalah geng anak-anak paling populer di sekolah mereka yang notabene memberikan mereka hak untuk melakukan apa saja, membully siapa saja yang mereka tidak sukai dan melakukan hal-hal terlarang lainnya and they get to got away with it.

Hari itu adalah Cupid Day dimana setiap murid boleh saling mengirimkan bunga mawar via messenger yang memakai kostum cupid. Murid yang mendapatkan mawar terbanyak tentu saja menasbihkan posisinya sebagai murid paling populer.

Samantha bangun sedikit terlambat, ia dijemput ke sekolah oleh Lindsay untuk kemudian bergabung dengan Ally dan Elody. Mereka memulai hari seperti biasa, seakan-akan mereka akan hidup selamanya.

Di hari itu Sam menjalani hari yang standar, menyontek ketika kuis, flirting dengan guru matematika, mengabaikan teman masa kecilnya Kent yang mengirimkannya mawar, bertemu dengan gengnya ketika makan siang plus pacarnya Rob_cowo kecengan sejuta umat di sekolah, membully Juliet Sykes_cewe yang mereka juluki psycho di jam istirahat, bolos jam pelajaran untuk makan yoghurt bersama Lindsay. Standar.

Setelah jam sekolah selesai mereka pergi ke rumah Ally. Pada malam itu, Kent ternyata akan mengadakan pesta di rumahnya dan tentu saja mereka harus bersiap-siap. Setibanya di tempat Kent ternyata telah cukup banyak teman2 mereka yang datang, keempat gadis itu segera berpencar untuk mencari pasangan masing dan “sibuk sendiri”.

Ketika akhirnya mereka berempat berkumpul lagi, mereka dikejutkan dengan kedatangan Juliet Skykes. Tanpa tendeng aling-aling Juliet mendatangi Lindsay dan mengatakan sesuatu yang telah lama ingin ia katakan “You’re a bitch!!”. Tidak mau kehilangan muka, Lindsay membalasnya dengan berkata “I rather be a bitch than a psycho!” lalu Lindsay mengomando teman-temannya untuk berteriak Psycho berulang-ulang sambil mendorong tubuh Juliet kesana kemari, mereka juga bergantian menumpahkan minuman di tubuh Juliet dan ditutup dengan Sam yang mendorongnya sekuat tenaga ke sebuah lemari buku sebelum akhirnya Juliet keluar dari rumah tersebut. Sam merasa sedikit bersalah namun mengabaikannya.

Mereka pulang dari pesta bersama-sama. Lindsay yang menyetir. Di suatu tikungan tiba-tiba mereka melihat cahaya yang terang, mobil terbalik, dan di saat itu kenangan2 aneh menghampiri Sam di momen kematiannya.

Alarm berbunyi. Sam terbangun dengan penuh keringat. Ia terbangun di hari kemarin. Cupid day, hari dimana Sam menemui akhir. How come?

Needless to say that this book is all about making amends. Pada awalnya saya merasa sangat kesal dengan Sam, i don’t like her at all. Namun di hari-hari berikutnya Sam mendapatkan pencerahan dan menyadari bahwa things could be different. Setiap langkah adalah pilihan dan dapat berujung pada sesuatu yang sama sekali berbeda. Sam mencoba membuat perbedaan, dan saya jatuh kasihan setiap kali ia harus mengulang kematian. Lalu apakah Sam akan mendapatkan kesempatan kedua? Itukah mengapa ia bangun di hari kematiannya berulang2? Banyak twist yang membuat buku ini cukup menarik dan harus dibaca sendiri.

Namun bagaimanapun saya berharap tidak banyak anak remaja sekarang yang harus mati berulang-ulang hanyak untuk menyadari apa yang benar untuk dilakukan dan apa yang tidak. Hehehe.

I guess that’s what saying good-bye is always like–like jumping off an edge. The worst part is making the choice to do it. Once you’re in the air, there’s nothing you can do but let go.

I think of all the thousands of billions of steps and missteps and chances and coincidences that have brought me here. Brought you here, and it feels like the biggest miracle in the world.