The Help By Kathryn Stocket

Penerbit : Berkley Books

Tebal : 453 Halaman

My oh my, akhirnya bertemu lagi dengan sebuah cerita yang membuat saya terseret masuk ke dalam dunianya. Ikut merasakan sedihnya, getirnya dan semangatnya tokoh2 dalam cerita ini yang semuanya adalah wanita-wanita yang masing-masing berjuang untuk survive dalam kehidupannya.

Pada tahun 1960 an di Jackson, Mississippi, kondisi memang tidak mendukung bagi warga kulit hitam karena paham rasialis yang masih dipegang erat oleh masyarakatnya. Bagi mereka colored people adalah semi subhuman yang tidak berhak untuk menikmati segala privileges yang bisa dinikmati warga kulit putih.

Aibileen adalah seorang wanita kulit hitam yang telah bertahun-tahun bekerja di keluarga kulit putih. Merawat anak-anak mereka, membersihkan rumah dan segala urusan rumah tangga lainnya. Aibileen sendiri kehilangan putranya yang masih berumur 24 tahun karena kecelakaan di tempat kerja. Aibileen adalah wanita yang cerdas, keibuan dan menerima keadaan. Namun semenjak kematian putranya sesuatu dalam dirinya berubah dan ia bukan orang yang sama lagi.

Five months after the funeral, I lifted myself out of bed. I put on my white uniform and put my little gold cross back around my neck and I went to wait on Miss Leefolt cause she just have her baby girl. But it weren’t too long before I seen something in me had change. A bitter seed was planted inside me. And I just didn’t feel so accepting anymore.

Minny juga seorang wanita kulit hitam yang bekerja di keluarga kulit putih. Majikan Minny bernama Hilly Holbrook yang (menurut saya) bagaikan Hitler versi perempuan. Minny tidak sekalem Aibileen, seringkali Minny tidak bisa tinggal diam atas perkataan para majikan kulit putih dan membalas perkataan mereka. Bagi orang luar Minny terlihat sebagai wanita kuat yang pemberontak, namun sebenarnya Minny harus menanggung bebannya sendiri karena bersuamikan seorang pria pemabuk dan pemukul. Minny bekerja pada Hilly bagaikan bom waktu yang tinggal menunggu waktu untuk meledak.

Hilly Holbrook memiliki dua sahabat dekat semenjak masa sekolah yaitu Elizabeth Leefolt dan Euginia “Skeeter” Phelan, satu-satunya perempuan di trio tersebut yang belum menikah dan tinggal bersama orang tuanya. Hilly boleh dikatakan adalah pemimpin dari para wanita kulit putih di daerah tersebut dan mendominasi di semua perkumpulan. Jika Hilly memerintahkan sesuatu, maka wanita-wanita yang lain akan mengikutinya. Suatu ketika mereka bertiga berkumpul di rumah Elizabeth untuk minum teh, Hilly mengusulkan kepada Elizabeth untuk membangun kamar mandi terpisah di luar rumah untuk Aibileen karena menurutnya menggunakan kamar mandi yang sama dengan orang kulit hitam membuat mereka beresiko tertular penyakit. Elizabeth manut akan titah Hilly tersebut dan memutuskan untuk membangun kamar mandi terpisah untuk Aibileen.

Kejadian tersebut membuat Skeeter merasa terusik karena Skeeter sendiri dibesarkan oleh seorang asisten rumah tangga kulit hitam bernama Constantine yang menghilang secara misterius ketika Skeeter kembali setelah menyelesaikan kuliahnya. Sketeer sangat menyayangi Constantine dan membenci cara teman-temannya memperlalukan para pelayan wanita mereka.

Secara kebetulan Skeeter yang sedang mencari pekerjaan di bidang jurnalistik mendapat kesempatan untuk menulis sebuah buku dari salah satu penerbit di New York. Tapi tulisannya harus “tidak biasa” alias unik sehingga cukup layak untuk dipublikasikan. Sebuah ide menggantung di kepala Skeeter. Sesuatu yang ingin dia tuliskan adalah bagaimana kehidupan para wanita kulit hitam yang bekerja di keluarga kulit putih. Dengan tulisan tersebut Skeeter berharap bisa sedikit membawa perubahan. Untuk dipublikasikan dia membutuhkan setidaknya 12 responden wanita kulit hitam.

Sketeer lalu meminta bantuan pada Aibileen dan Aibileen meminta bantuan pada Minny. Bertiga mereka menempuh risiko yang cukup berbahaya untuk menuliskan buku tersebut. Risiko bahwa persekutuan mereka akan terbongkar dan menerima kemarahan dari para wanita kulit putih yang mereka ceritakan dalam buku. Bertiga mereka dengan berani terjun ke dalam petualangan yang berbahaya karena mereka sama-sama menginginkan perubahan.

Buku ini jempol banget !! Keren !! Buat saya, semua emosi yang berusaha digambarkan dalam buku disampaikan dengan baik dan menghanyutkan. Di saat mereka merasa terpojok saya bisa ikut merasakan ketakutan mereka. Saat mereka memutuskan untuk melawan saya ingin ikut menceburkan diri untuk membantu mereka. Ceritanya juga sedikit personal buat saya karena saya juga tumbuh besar dengan didampingi para Helper.

Benar-benar melibatkan perasaan buku ini. Dan saya menutup buku dengan perasaan kagum dan sedikit lebih berani. Bahwa sebagaimanapun kerasnya hidup, para wanita ternyata punya endurance yang cukup besar untuk fight dan berjuang melaluinya. Bravo! Bravo! Bravo!

I watch Lou Anne slip away in the parking lot, thinking, There is so much you don’t know about a person. I wonder if I could’ve made her days a little bit easier, if I’d tried. If I’d treated her a little nicer. Wasn’t that the point of the book? For women to realize, We are just two people. Not that much separates us. Not nearly as much as I’d thought.