The Brief Wondrous Life of Oscar Wao By Junot Diaz

Penerbit : Riverhead Books

Tebal : 335 Halaman

Meet Rafael Trujillo, orang yang digambarkan Junot Diaz bagaikan Sauron di buku Lord Of The Rings. Rafael Trujillo adalah tokoh nyata yang pernah menjabat sebagai presiden Dominican Republik. Masa kekuasaannya disebut-sebut sebagai periode paling berdarah dalam sejarah Dominican Republik, belum lagi rumor tentang betapa predatornya Rafael Trujillo terhadap perempuan.

Junot Diaz menggambarkan Trujillo sebagai penjahat utama yang menyebabkan tokoh-tokoh dalam buku ini mengalami kehidupan yang tragis melalui kutukan yang disebut masyarakat Dominican Republik dengan istilah Fuku.

It is believed that the arrival of Europeans on Hispaniola unleashed the fuku on the world, and we’ve been in the shit ever since.

It was believed even in educated circles, that anyone who plotted against Trujillo would incur a fuku most powerful, down to the seventh generation and beyond. If you even thought a bad thing about Trujillo, fua, a hurricane would sweep your family out to sea, fua, a boulder would fall out of a clear sky and squash you, fua, the shrimp you ate today was the cramp that killed you tomorrow.

Tokoh utama kita adalah Oscar De Leon. Oscar bersama ibu dan kakak perempuannya tinggal di New Jersey. Ibunya adalah imigran yang pergi dari Dominican Republik menuju Amerika ketika muda.

Kutukan bermula dari generasi kakek Oscar yang menolak untuk memberikan anak perempuannya, Jaquelyn kepada Trujillo. Trujillo adalah orang yang dengan tidak segan-segan menggunakan segala cara untuk mendapatkan apa yang inginkan, termasuk perempuan. Tidak ada seorang pun yang dapat selamat dari “The Eye” nya Trujillo.

Ketika Abelard berkelit, Trujillo segera menahan dan menyiksa Abelard dengan tuduhan tidak berdasar. Istrinya Soccoro kemudian bunuh diri dua bulan setelah melahirkan anak perempuannya yang ketiga, Hypatia Belicia Cabral atau Beli.

Kedua kakak perempuan Beli meninggal dengan cara yang tidak wajar. Beli yang sendirian di dunia kemudian diambil oleh kerabat jauhnya hanya untuk kemudian dijual sebagai budak. Adalah La Inca, seorang janda yang juga sepupu Ayahnya yang menyelamatkan Beli dari dunia gelap perbudakan.

Beli kemudian dibesarkan oleh La Inca. Beli konon kemudian tumbuh menjadi gadis remaja yang luar biasa cantik. Fuku alias sang kutukan kemudian menlancarkan aksinya, Beli bertemu orang yang salah sehingga untuk menyelamatkan dirinya, La Inca memaksa Beli untuk kabur ke Amerika.

Di America Beli bertemu seorang pria, menikah dan memiliki dua anak, Lola dan Oscar. Oscar adalah seorang nerd, obesitas, terobsesi pada serial-serial fantasy, maniak games, dan menulis berlembar-lembar kisah fantasy setiap harinya. Tidak ada anggota keluarga mereka yang bisa lepas dari jeratan fuku, termasuk Beli, Lola dan Oscar.

Oscar dalah objek bully dari teman-teman sebayanya. Kisah ini adalah tentang Oscar the Nerd yang berusaha membuat hidupnya worth living. Tentang apa yang akhirnya ditemukan Oscar sebagai tujuan hidupnya you have to read it yourself. Hehe.

Walaupun buku ini telah memenangkan banyak penghargaan, termasuk Pulitzer Price for Fiction pada tahun 2008, terus terang agak sulit buat saya untuk menyelesaikan buku ini. Pertama adalah masalah bahasa, Junot Diaz banyak menggunakan istilah-istilah bahasa spanyol yang notabene i’m not familar with. Bahkan terdapat beberapa paragraf yang blas ditulis dalam bahasa spanyol tanpa terjemahan inggrisnya. Jadi di awal-awal buku saya merasakan banyak kehilangan cerita.

Kedua adalah masalah footnote yang keterangannya bisa mencapai setengah halaman sendiri. Footnote tersebut dipergunakan Junot Diaz untuk menjelaskan sekilas tentang sejarah Dominican Republic dan juga Trujillo yang memang menjadi latar belakang ini. Namun penulisan seperti ini kadang membuat saya jadi lebih menikmati isi footnote nya daripada isi ceritanya ;p

Ketiga i’m not that familiar with Dominican Republic history jadi ya harus googgling2 sedikit untuk mengetahui apa yang si penulis sebenarnya bicarakan.

Lalu apakah saya bisa menikmati isi buku ini? Di seratus halaman terakhir, ya, karena kesimpulan dari cerita memang baru jelas di bagian akhir, dan mungkin karena akhirnya saya terbiasa dengan gaya penulisan Junot Diaz. Mungkin membaca terjemahan bahasa indonesianya akan lebih baik, kalo kelak ada yang akan menerjemahkan buku ini.