A Death In The Family By James Agee

Tebal : 246 pages on ebook

Sama sekali tidak mengherankan kalo buku ini memenangi Pulitzer Prize pada tahun 1958 dan masuk ke dalam Times 100 best novel of all times. Menurut saya, buku ini adalah salah satu buku terbaik dalam menggambarkan emosi dari karakter-karakter yang ada di dalamnya. Jika dibuat filmnya, mungkin akan dibutuhkan aktor/aktris yang sangat jagoan untuk bisa menggambarkan emosi yang ada dalam keheningan. Tapi itulah juaranya written stories, dengan alfabet a sampai z adegan yang mungkin jika digambarkan adalah hanya adegan keheningan bisa dideskripsikan kedalam ratusan halaman.

Dan kenapa pula belum ada yang menterjemahkan ke dalam bahasa indonesia ya? Really somebody should translate this novel.

Cerita dalam novel ini sebenarnya sederhana. Yaitu tentang sebuah keluarga yang kehilangan kepala keluarganya dalam sebuah kecelakaan mobil. Namun dalamnya James Agee menggali dan menggambarkan perasaan dari karakter-karakternya yang membuat buku ini istimewa. Bahkan dalam beberapa bagian perasaan saya ikut sesak dan sedih, larut kedalam perasaan si karakter karena penggambarannya yang indah dan nyaris puitis.

Rufus Follet, seorang bocah berumur enam tahun tinggal di Knoxville, Tennese bersama ayah&ibunya beserta seorang adik perempuan. Pada suatu hari ayahnya (Jay Follet) mendapat telepon dari pamannya yang tinggal di kota lain bahwa kakeknya mengalami serangan jantung. Ayahnya bergegas pergi ke tempat kakeknya dan menemukan bahwa keadaan tidak separah yang ia kira dan sang paman (yang juga seorang pemabuk) hanya melebih-lebihkan. Dalam perjalanan pulang ke Knoxville ayahnya mengalami kecelakaan dan meninggal seketika.

Banyak dialog menggelitik dalam buku ini, diantaranyanya adalah percakapan berikut antara Rufus dan Ibunya (Mary) saat Rufus mempertanyakan konsep “berbuat salah” :

Rufus : “Why does God let us do bad things?”

Mary : “Because He wants us to make up our own minds.”

Rufus : “Even to do bad things, right under His nose?

Mary : “He doesn’t want us to do bad things, but to know good from bad and be good of our own free choice

Dan beberapa dialog menggelitik lainnya seperti ketika Rufus mempertanyakan kemana kucingnya pergi setelah mati. Adegan dimana Mary menunggu kabar tentang suaminya digambarkan dengan sangat baik sehingga saya ikut-ikutan gelisah dan khawatir akan reaksi Mary ketika mendengar kabar tentang kematian suaminya. Dan satu lagi dialog bagus ketika ayah Mary menasihatinya untuk menghadapi kematian sang suami :

You’ve got to bear it in mind that nobody that ever lived is specially privileged; the axe can fall at any moment, on any neck, without warning or any regard for justice. You’ve got to keep your mind off pitying your own rotten luck and setting up any kind of a howl about it. You’ve got to remember that things as bad as this and hell of a lot worse have happened to millions of people before and they came through it and that you will too. You’ll bear it because there isn’t any choice, except to go to pieces.”

Dialog yang sedikit keras namun nyata.

Ternyata tema yang sedikit suram untuk sebuah cerita dapat membuat pembacanya merasa sedikit lebih kuat ketika menutup buku jika digambarkan dengan bahasa yang indah. Buku ini adalah buku tentang kekuatan manusia dan juga kelemahannya. Tentang keberanian ketika hidup membawa kita ke roda yang paling rendah. Life must go on.

Definitely a “must read” book.