The Count Of Monte Cristo By Alexadre Dumas

Penerbit : Bentang Pustaka

Alih Bahasa : Nin Bakdi Soemanto

Tebal : 563 Halaman

Membaca buku ini membuat saya bertanya-tanya pada diri sendiri. Jika saya berada di posisi yang sama dengan Edmond Dantes akankah saya melakukan apa yang ia lakukan? Pembalasan dendam memang manis rasanya, but is it worth it? Sungguh buku yang meninggalkan kesan di hati saya.

Edmond Dantes muda adalah seorang awak kapal di perusahaan kapal milik Monsieur Morrel. Saat kapten kapalnya meninggal Monsieur Morrel ingin mengangkat Dantes sebagai kapten kapal. Edmond Dantes, saat itu berumur 19 tahun menyambut tawaran tersebut dengan suka hati karena ia ingin segera membangun masa depan bersama kekasihnya Mercedes. Pada saat itu Edmond Dantes adalah pemuda penuh energi positif yang punya masa depan dan kehidupan yang baik.

Sayang sekali dunia ini penuh dengan hati picik yang tidak bisa melihat kebahagiaan orang lain. Adalah Danglars, bendahara di kapal yang sama dengan Dantes dan Fernand, pria yang juga tertarik untuk menikahi Mercedes, kedua pria tersebut merasa iri hati dan tidak suka dengan kebahagiaan Edmond Dantes dan menyusun rencana untuk mensabotase masa depannya. Danglars karena perasaan iri atas kemungkinan Dantes menjadi kapten kapal dan Fernand karena dia menginginkan Mercedes untuk dirinya sendiri.

Mereka menyebarkan fitnah atas diri Edmond Dantes yang menyebabkan dirinya ditahan di hari pertunangannya. Kasus Dantes diatasi oleh seorang penuntut umum yang bernama Villefort. Karena konflik kepentingan yang menyangkut ayahnya, fitnah atas diri Dantes mengancam reputasi Villefort sendiri. Untuk menyingkirkan barang bukti dan saksi, maka Villefort mengirimkan Dantes ke sebuah penjara terpencil di suatu pulau.

Di penjara tersebut Dantes merasa amat putus asa, karena tidak kuat menerima kenyataan. Dantes hampir membunuh dirinya sendiri. Lalu Dantes bertemu dengan seorang narapidana tua bernama Faria. Dantes menjadi anak dan murid bagi Faria, Faria adalah seorang Pastor berpendidikan dan ia mengajarkan semuanya kepada Dantes. Mereka menyusun rencana untuk melarikan diri bersama, namun karena kesehatan Faria memburuk, Faria akhirnya memerintahkan  Dantes untuk menyelamatkan dirinya sendiri dan memberitahukan kepada Dantes rahasia terbesar yang ia miliki. Rahasia tentang harta karun di sebuah pulau bernama Monte Cristo. Dantes tidak sampai hati meninggalkan Faria dan bersumpah selama Faria masih hidup ia tidak akan pernah meninggalkannya. Ketika Faria akhirnya meninggal barulah Dantes melarikan diri dengan menggantikan tempat di dalam karung sebagai mayat Faria.

Dantes akhirnya berhasil bebas. Selama 14 tahun dirinya telah dihukum atas kejahatan yang tidak ia lakukan dan kehidupan telah direnggut dari dirinya secara tidak adil. Dan nama-nama itu selalu ada dalam pikirannya, Danglars, Fernand dan Villefort. Dantes lalu mencoba untuk mencari harta karun yang diceritakan Faria di pulau Monte Cristo dan menemukan bahwa segala sesuatunya sesuai dengan petunjuk Faria. Edmond Dantes menemukan harta karun yang tidak ternilai harganya.

Sementara itu setelah 14 tahun berlalu, ketiga musuh Edmond Dantes telah menjadi orang terkemuka di kalangan masyarakat Paris dan kaya raya. Bahkan Mercedes pun telah menikahi Fernand dan menjadi seorang nyonya terhormat di kalangan masyarakat Paris. Tidak ada seorang pun yang curiga dengan seorang Count of Monte Cristo tiba-tiba memperkenalkan dirinya di kalangan masyarakat Paris dengan hartanya yang tidak terbatas. Dan perjalanan Edmond Dantes untuk membalaskan dendamnya pun dimulai.

Buat saya so far ini adalah buku tentang pembalasan dendam yang terbaik. Such a sweet revenge. Walaupun sebenarnya tindakan Edmond Dantes itu salah, tapi saya tidak bisa menahan diri untuk tidak mendukungnya. There it goes the dark side of me ;p. Buku ini juga dibagi dalam bab-bab yang pendek-pendek sehingga ngga cape bacanya dan bikin ngga kerasa kalo udah 563 halaman dibaca!

Ada satu adegan dimana pada suatu titik Edmond Dantes bertanya pada nuraninya akan apa yang ia lakukan. Lagi-lagi pertanyaan itu, is revenge worth it? Begini dialognya :

Aku tidak mempertimbangkan masa lalu dengan betul, pikirnya. Aku tidak mungkin membuat kesalahan seperti itu. Mungkinkah tujuan akhirku selama ini tidak berarti? Mungkinkah selama sepuluh tahun ini aku telah mengikuti suatu jalan yang salah? Aku menolak untuk menerima ide semacam itu-itu akan membuatku kehilangan akal sehatku. Bahwasanya sekarang ini aku merasa ragu adalah karena aku tidak bisa melihat masa lalu dengan jelas. Masa lalu mengabur bersama waktu seperti benda-benda mengabur bersama jarak. Hal yang sama tengah terjadi kepadaku seperti terjadi kepada orang-orang dalam mimpi ketika mereka melihat dan merasakan suatu luka, tetapi tidak bisa mengingat kapan mendapatkan luka itu.”

So, is revenge really worth it people? And what you get when you’re done doing the revenge? Satisfaction? Happiness? No, you’ll end up asking whether you’re doing the right thing or not, and the answer in NO.