The Martian By Andy Weir

“They say once you grow crops somewhere, you have officially ‘colonised’ it. So technically, I colonised Mars.
In your face, Neil Armstrong!”

Meet Mark Watney, our hero in this book.

Jikalau kamu tumbuh besar di tahun 90an kamu pasti inget dong pria serba bisa ini : macgyver

Man he can make anything out of nothing!

This Mark Watney is a more sophisticated, witty and modern version of MacGyver, plus kalo MacGyver mempraktekkan kecerdasannya di bumi dimana beliau bisa bebas menghirup oksigen, Mark Watney harus memutar otak secerdas mungkin di PLANET MARS aja dong.

Hahaha!

Mark Watney adalah salah satu astronot pesawat luar angkasa Ares 3 yang sedang menjalani misi dari National Aeronautics and Space Administration (NASA) di planet Mars. Mark Watney mempunyai keahlian sebagai Botanist dan Mechanical Engineer dalam misi ini.

Ketika badai debu disertai angin melanda Acidalia Planitia – tempat pesawat luar angkasa Ares 3 mendarat, semua kru Ares 3 bersegera menyelamatkan diri masuk ke pesawat luar angkasa Ares 3 dan segera pergi dari permukaan planet Mars.

Sialnya, Mark Watney menabrak antenna dan jatuh pingsan di tengah-tengah badai debu tersebut. Kru lainnya yang telah berkumpul di Ares 3 berasumsi dan berhipotesis jikalau Mark (hampir pasti) sudah mati, dan mereka pun meninggalkan planet Mars.

Terbangun dan terbengkalai di planet Mars, geeky nerdy Mark Watney tidak memberikan kesempatan kepada dirinya sendiri untuk berlebay-lebay meratap karena ditinggalkan sendirian di planet Mars, dia segera begerak menuju The Hab (sepertinya ini adalah tempat atau stasiun semi permanen tempat para astronot beristirahat selama mereka berkeliaran di planet Mars) dan melakukan inventory mengenai barang krusial apa saja yang ia miliki dan memikirkan bagaimana caranya ia bisa bertahan sampai misi mars berikutnya.

Tepatnya, bagaimana ia harus bertahan dengan jatah makanan luar angkasa untuk 6 orang selama 50 hari, 300 galon air dan 12 buah kentang selama 4 tahun sampai misi ke Mars berikutnya (Ares 4) datang.

Sementara itu berhari2 kemudian di bumi, orang2 di NASA baru menyadari blunder yang meraka lakukan bahwa Mark Watney masih hidup, tertinggal dan wira wiri sendiri di planet Mars melalui rekaman citra satelit. Berita tersebut bocor ke media dan Mark pun segera menjadi pusat perhatian di seluruh dunia (ya iyalah).

NASA segera mereka-reka berbagai scenario penyelamatan yang mungkin dilakukan untuk menjemput Mark Watney.

“He’s stuck out there. He thinks he’s totally alone and that we all gave up on him. What kind of effect does that have on a man’s psychology?” He turned back to Venkat. “I wonder what he’s thinking right now.”

LOG ENTRY: SOL 61 How come Aquaman can control whales? They’re mammals! Makes no sense.”

Sementara itu di planet Mars, Mark dengan rajin merekam segala aktivitas yang ia lakukan untuk membuat dirinya sendiri bertahan hidup.

Termasuk dengan cerdasnya berhasil menumbuhkan kentang didalam The Hab dengan menggunakan tanah mars yang diperkaya oleh bakteri2 dari sisa pencernaan manusia (tebak sendiri apa itu, hihihi ;p) dan memperbanyak cadangan air sesuai kebutuhannya.

Kedengerannya gampang ya? Tapi kalo dibaca bukunya kebayang deh otak macam apa yang dibutuhkan untuk merancang dan mengeksekusi rencana-rencana yang dijalankan oleh Mark Watney. Thank God he’s a genius!

Edun dan unbelievable bagaimana Mark Watney mempertahankan hidupnya (fisik dan mental) sendirian di Mars sana. Peluang ia untuk diselamatkan sangaaaaaaaaaaaat kecil dan kita sebagai pembaca dibuat ngga bisa berhenti menguntit hari2 Mark di planet Mars dan geleng2 kepala sendiri atau ketawa terkekeh2 sendiri membaca kelakuan Mark Watney.

Hehehe.

Will the odds be ever in his favor?

18401393Read it yourself yaaaa.. Buku ini saya rekomendasikan banget, 5 dari 5 bintang untuk The Martian.

PS : Saya udah siap2 kecewa dengan filmnya, yang jadi Mark Watney-nya Matt Damon yang notabene tidak sesuai dengan si geeky Mark Watney yang ada di kepala saya ;p hehehe. Baca bukunya aja yaa, dijamin lebih seru!

“Yes, of course duct tape works in a near-vacuum. Duct tape works anywhere. Duct tape is magic and should be worshiped.”

“Also, please watch your language. Everything you type is being broadcast live all over the world. [12:15] WATNEY: Look! A pair of boobs! -> (.Y.)”

“Each crewman had their own laptop. So I have six at my disposal. Rather, I had six. I now have five. I thought a laptop would be fine outside. It’s just electronics, right? It’ll keep warm enough to operate in the short term, and it doesn’t need air for anything. It died instantly. The screen went black before I was out of the airlock. Turns out the “L” in “LCD” stands for “Liquid.” I guess it either froze or boiled off. Maybe I’ll post a consumer review. “Brought product to surface of Mars. It stopped working. 0/10.”

I’ll Give You the Sun By Jandy Nelson

20820994“Or maybe a person is just made up of a lot of people,” I say. “Maybe we’re accumulating these new selves all the time.” Hauling them in as we make choices, good and bad, as we screw up, step up, lose our minds, find our minds, fall apart, fall in love, as we grieve, grow, retreat from the world, dive into the world, as we make things, as we break things.”

“Reality is crushing. The world is a wrong-sized shoe. How can anyone stand it?”

So let me tell you how good this book is. I cannot compare it with any book that I have read. At time I have to force myself to stop reading and remember my ground. This book is like an alien suddenly burst from another galaxy just to let you know that if you’re feeling that you are a misfit, an outcast that doesn’t belong anywhere.

You are not alone.

You are, mistakenly, never have been alone.

Man, This book is magic.

Bercerita tentang sepasang anak kembar bernama Noah dan Jude. Dengan point of view bergantian antara Noah ketika umur mereka 14 tahun, dan point of view Jude dua tahun kemudian, ketika mereka sudah berumur 16 tahun.

Pada narasi pertama dari Noah, saya langsung jatuh cinta dengan tokoh dorky, geeky Noah yang punya daya imajinasi dan kemampuan lukis luar biasa sehingga ia hampir setiap saat membayangkan adegan-adegan yang terjadi dalam hidupnya dalam bentuk self potrait skecth dengan judul yang nyeleneh.

Noah adalah remaja penyendiri yang tidak mempunyai teman. Bertolak belakang dengan saudari kembarnya Jude yang normal dan populer. Jude yang digambarkan berambut pirang teramat panjang seperti malaikat. Jude sang daredevil dan nge geng dengan para surfer yang berumur jauh lebih tua darinya.

Kedua orang tua Noah dan Jude adalah orang dengan kepribadian yang sangat bertolak belakang. Ibu mereka yang seniman banget, dreamy dan percaya pada hal-hal yang bersifat supranatural. Ayah mereka yang seorang scientist, logis dan normal in every way. Nenek Noah dan Jude belum lama meninggal.

Pada suatu acara makan malam Ibu mereka mengumumkan kalo arwah nenek mereka yang sudah meninggal mendatanginya, dan memberikan wangsit kalau Noah dan Jude harus masuk sekolah seni yang kebetulan ada di lingkungan sekitar mereka. Kebetulan Noah dan Jude memang sangat berbakat.

Semenjak malam itu Ibu mereka menjadi semacam mengadakan sebuah kontes antara Noah dan Jude. Siapa yang paling berbakat. Dan darisana segala sesuatunya mulai berjalan salah.

Dari narasi Noah ketika berumur 14 tahun dan narasi Jude ketika berumur 16 tahun, kita bisa mengetahui bahwa ada sesuatu yang terjadi diantara waktu tersebut yang membuat segalanya berubah. Di narasi Noah kita tau kalo Noah adalah the geeky one dan Jude adalah the popular one.

Apa yang sebenarnya terjadi diantara kedua tahun tersebut sehingga di usia 16 tahun kehidupan mereka seperti berbalik 180 derajat. Noah menjadi remaja normal sedangkan Jude menjadi penyendiri, percaya pada segala macam tahayul dan bisa serta senang mengobrol dengan hantu neneknya.

Di umur 16 tahun Jude merasa frustasi karena karya2nya di sekolah seni (iya Jude berhasil masuk sekolah seni) selalu dipecahkan oleh hantu Ibunya hingga Ia diberi julukan CJ alias Calamity Jude oleh guru dan teman-teman di sekolahnya.

Jude pun didesak pihak sekolah untuk membuat karya yang lebih serius. Jude akhirnya memilih untuk mencari mentor yang bisa mengajarinya membuat karya dengan bahan dasar batu. Dari titik ini lah cerita mulai beranjak seru.

Narasi yang bergantian antara Noah dan Jude (yang sama gila dan indahnya) membuat pembaca makin penasaran akan apa yang sebenarnya terjadi, dan akhirnya mengerti kenapa tokoh2 yang ada bisa sampe ke titik dimana mereka berada. Keren. Keren.

Reading this book makes me feel okay about my own craziness. Everybody is crazy in their own thoughts I bet. They all have magic in them that they no longer believe in. They’ve become robots. Living dead man.

Sometimes I’m having trouble to explain myself without being judge that I am a complete loon. How can anybody understand ? But Jude does. She is like my long lost best friend emerging from a book. Jude, I wish you were here with me. So we can whack this dead uninteresting world together in our Hippitty Hop.

And the way Jude and Noah utter their words.. No one can talk like that. No one.

Oh ya, satu lagi tokoh favorit saya, Grandma Sweetwine yang berhasil menulis Superstition Bible untuk Jude, yang suka memakai dress bunga-bunga dan juga menyebut Tuhan dengan nama panggilan sayang Clark Gable. Oh how I love the sassy ghost of Grandma Sweetwine. Hehe.

And last but not least. Buku ini juga mengajarkan kita akan Redemption, kesempatan kedua. Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki semuanya.

Let’s remake the world.

5 dari 5 bintang untuk buku ini. Semoga segera diterjemahkan ke bahasa Indonesia.

“I didn’t know you could get buried in your own silence.”

“Sometimes you think you know things, know things very deeply, only to realize you don’t know a damn thing.”

“No one tells you how gone gone really is, or how long it lasts.”

“If you’re going through hell, keep going.” – Winston Churchill”

Looking For Alaska By John Green

/home/wpcom/public_html/wp-content/blogs.dir/2e1/22348610/files/2015/01/img_4194.jpg

Those awful things are survivable, because we are indestructible as we believe ourselves to be. When adults say, “Teenagers think they are invincible” with that sly, stupid smile on their faces, they don’t know how right they are. We need never be hopeless, because we can never be irreparably broken. We think that we are invincible because we are.

Wow! Udah lama banget rasanya saya bisa terpengaruh secara emosional oleh sebuah buku dan berhasil dibuat tercenung sendiri di tengah-tengah cerita.

Membaca buku ini membuat saya merasa bahwa pengalaman saya tumbuh dewasa highly uneventful. Hehe. Padahal emang ia biasa banget, bukan cuman perasaan ;p

Tiba-tiba saya ingin sekali masuk kedalam cerita di buku ini. Kembali menjadi remaja untuk berteman dengan seorang Miles Halter.

Seorang Miles Halter yang terobsesi dengan buku biografi tokoh-tokoh plus kata-kata terakhir dari orang-orang yang diceritakan sebelum mereka meninggal dunia dan menghafalnya diluar kepala.

Yes, I love quirky teenager!

Merasa bosan dengan kehidupannya di public school, Miles meminta izin kepada kedua orang tuanya untuk pindah ke sebuah boarding school bernama Culver Creek.

Miles Halter sedang mencari sesuatu yang dinamakan “The Great Perhaps”, yang ia dapatkan dari seorang penulis puisi bernama Francois Rebelais.

“The Great Perhaps”.. Kemungkinan, kesempatan, pengalaman hidup..

Apapun itu, yang memang dalam hidup ini harus dicari.

Kita tidak bisa memperoleh semua itu dengan hanya duduk manis di bangku, menunggu segala sesuatu terjadi.

Mind you, I wish I had done that. Creating chances for myself.

Setelah menjejakkan kaki di Culver Creek, Miles Halter menemukan dirinya memperolah seorang teman sekamar yang sangat menarik yang bernama Chip Martin.

Well.. Chip Martin ini menjuluki dirinya sendiri “The Colonel”. Dan seketika itu juga menciptakan nama panggilan yang tidak kalah menariknya untuk Miles. Pudge.

Sang Colonel bersekolah di Culver Creek dengan beasiswa penuh dari yayasan. Saat itu adalah tahun ketiga untuk Sang Colonel bersekolah disana dan mereka berada di kelas yang sama.

Sang Colonel kemudian memperkenalkan Miles alias Pudge kepada kehidupan di Culver Creek. Dari mulai dimana membeli barang-barang yang dilarang di asrama, dimana tempat persembunyian terbaik, sampai kepada para penghuninya. Termasuk kepala asrama mereka Mr. Eagle.

Miles akhirnya (semacam) bergabung dengan kelompok Sang Kolonel. Kelompok tersebut hanya terdiri dari dua orang tambahan. Takumi (pemuda dari Jepang), dan seorang perempuan bernama Alaska.

Perkenalan dengan Alaska yang dimulai dengan adegan membeli rokok meninggalkan Miles menjadi (sedikit) terobsesi dengan Alaska.

Alaska yang kamarnya dipenuhi oleh buku yang tidak semua (namun suatu hari pasti) ia baca. Alaska yang senang melakukan “prank” alias keisengan-keisengan di sekolah mereka. Alaska yang jago mengajarkan Pre Calculus. Alaska yang moody.. Dan.. Alaska yang sudah memiliki pacar ganteng bernama Jake.

Poor Miles.. Hehe..

Saya suka banget bagaimana John Green menggambarkan tokoh-tokohnya sebagai remaja yang suka baca buku dan remaja yang “berpikir”.

Dan mengikuti bagaimana Miles, Sang Colonel, Takumi, dan Alaska menjalani hari-hari mereka, mempelajari latar belakang dan kisah hidup setiap tokoh, bagaimana mereka menjalin persahabatan, belajar dengan serius sekaligus bersenang-senang sungguh membuat saya iri.

Ketika secara tiba-tiba hidup menggantung Miles dan Sang Kolonel dengan tragedi dan pertanyaan-pertanyaan tak terjawab, bisakah mereka menerima kenyataan?

Atau sebagaimana kutipan dari buku kesukaan Alaska, The General in his Labyrinth by Gabriel Garcia Marques (ya sodara-sodara, pengarang favorit saya juga!! Gabriel Garcia Marquez!!)

How will I ever get out of this labyrinth??

Bisakah mereka memecahkan misteri labirin hidup mereka?

I love this book!! I love this book with all it’s question, lesson, and beautiful quotes.

To all of you youngster out there. Please don’t waste your life sitting on a bench, just waiting for something to happen.

You have to get out there. Seeking “The Great Perhaps”

You spend your whole life stuck in the labyrinth, thinking about how you’ll escape it one day, and how awesome it will be, and imagining that future keeps you going, but you never do it. You just use the future to escape the present.

That everyone who wades through time eventually gets dragged out to sea by the undertow-that, in short, we are all going.

The Maze Runner ( The Maze Runner #1 ) By James Dashner

6186357“Shouldn’t someone give a pep talk or something?” Minho asked, pulling Thomas’s attention away from Alby.
“Go ahead,” Newt replied.
Minho nodded and faced the crowd. “Be careful,” he said dryly. “Don’t die.”

Seorang remaja laki-laki bernama Thomas, terbangun dalam sebuah lift dengan tidak satu pun memori dalam ingatannya.

Masih dalam keadaan kebingungan, Thomas mendapati dirinya ditarik keluar oleh segerombolan remaja laki-laki yang menjulukinya “Greenie” alias anak baru.

Ternyata Thomas berada di sebuah tempat bernama Glade. Tempat itu berupa ruang terbuka yang dikelilingi tembok maha tinggi yang menyerupai labirin. Anak-anak remaja yang tinggal disana menyebut dirinya Gladers.

Tempat itu telah ada selama dua tahun. Alby, sang pemimpin dari Gladers, merupakan anak-anak pertama yang dikirim kesana. Setiap bulannya satu anak laki-laki (hanya laki-laki) baru dikirim oleh dalang dari semua “permainan” yang mereka sebut sebagai The Creators.

Semua anak dikirim dalam keadaan tanpa ingatan kecuali nama mereka.

Semenjak terbangun di tempat tersebut, Alby dan kawan-kawan telah berusaha untuk membangun komunitas dengan peran-peran tertentu untuk setiap anak agar komunitas mereka sustain dan dapat bertahan. Ada yang berperan sebagai petani, peternak, tenaga kesehatan, tukang masak, pembangun, dan salah satu peran terpenting adalah sebagai “runners” alias pelari.

Rupanya setiap siang hari terdapat celah pintu masuk ke labirin yang selalu terbuka, pintu tersebut akan tertutup pada waktu yang selalu sama menjelang malam. Tugas para runners adalah menelusuri labirin dan mencoba mencari jalan keluar. Tidak ada anak yang boleh masuk ke dalam labirin kecuali para runners. Mereka harus kembali sebelum pintu tertutup. Jika tidak, mereka akan (hampir pasti) terbunuh oleh mahluk monster setengah mesin setengah binatang yang mereka namakan “Grievers”.

Grievers digambarkan sebagai mahluk dengan banyak tangan yang sebagian berupa senjata maupun suntikan (iya! Suntikan) yang bergerak dengan cara menggulung tubuhnya seperti bola dan menggeludung dengan bunyi yang keras dan mengerikan.

Baju, peralatan-peralatan dan juga serum penyembuh (jika tersengat grievers) dikirimkan oleh para Creators melalui lift.

Alby kemudian menugaskan seorang anak bernama Chuck untuk membantu Thomas beradaptasi. Chuck merupakan anak baru sebelum Thomas datang yang ternyata menawarkan persabahatan kepada Thomas.

Keadaan mulai kacau ketika sehari setelah Thomas datang, para Creators mengirimkan anak lain ke dalam Glade. Ini belum pernah terjadi. Ditambah lagi anak yang dikirim ternyata adalah seorang anak perempuan dalam keadaan koma dengan sepotong kertas dalam genggaman tangannya yang bertuliskan “She’s the last one”.

Setelah itu peristiwa menegangkan satu persatu mulai terjadi. Percobaan pembunuhan terhadap Thomas, terjebaknya Thomas, Alby dan Minho (pemimpin para runners) di dalam labirin. Terbunuhnya Grievers untuk pertama kalinya dalam sejarah Glade. Terhentinya malam dan siang. Ter-trigger nya ending dari Glade. Dan yang paling mengejutkan yaitu peran Thomas dalam keseluruhan permainan.

Thing are definitely changing at The Glade.

Mampukah mereka memecahkan teka teki dari labirin? Mampukah mereka keluar?

Dan orang gila macam apa yang tega menaruh anak-anak remaja dalam eksperimen hidup dan mati?

“If you ain’t scared… you ain’t human.”

Kesan yang diterima oleh saya, buku ini adalah campuran dari buku Lord of the Flies nya William Golding, buku The Hunger Games, dan juga film Saw. Hehehe. Seru!! Awal-awalnya saya agak sulit mengikuti cerita karena istilah-istilah gaul yang digunakan anak-anak Gladers.

Namun melewati 30% dari buku saya susaaaaaaaaaaaah banget ngerem baca. Thrill nya itu loh. Ditambah lagi endingnya yang bikin gerabakan cari buku seri selanjutnya.

Haaaaaaa.. Sangat direkomendasikan..

Dan ngeri juga ya kalo menilik cerita dystopia yang selalu berawal dari kondisi post-apocalypse. Seperti sebuah penerawangan atas masa depan bumi kita ini. Hancurnya peradaban selalu dituliskan sebagai sebuah kepastian.

Alkisah habis baca buku ini saya langsung nonton filmnya. Hhhmmmmm saya ngga begitu suka filmnya. Terlalu banyak disimpangkan jadi “lack of reason”.

Baca bukunya aja yaaaaaaaa…. Hihihihi…

5 dari 5 bintang untuk buku ini.

Anthem By Ayn Rand

Anthem By Ayn Rand

2114“And here, over the portals of my fort, I shall cut in the stone the word which is to be my beacon and my banner. The word which will not die should we all perish in battle. The word which can never die on this earth, for it is the heart of it and the meaning and the glory.

The sacred word: EGO”

Buat saya, Anthem nya Ayn Rand lebih cenderung berada di genre Philosophy yang disampaikan melalui cerita bergaya Dystopia. Let me explain why..

Penghilangan atribut-atribut individualitas secara ekstrim pada manusia tidak mungkin untuk dilakukan kecuali secara genetic direkayasa seperti dalam buku A Brave New World Aldous Huxley, atau dihadapkan dengan the power of extreme fear seperti dibangun George Orwell dalam 1984.

Diluar dari kondisi ekstrem tersebut, tatanan masyarakat Dystopia yang dibentuk secara fondasi akan sangat lemah dan pastinya akan menimbulkan banyak pemberontakan.

Ayn Rand sengaja mengambil bentuk Dystopia untuk meng-highlight individualitas dan ego manusia yang memang hampir mustahil untuk dihilangkan, kecuali oleh dua hal yang saya sebutkan sebelumnya.

Anthem berlatar di suatu waktu yang tidak spesifik di masa yang akan datang. Pada komunitas tersebut, semua atribut individual telah dicabut manusia. Seluruh anggota masyarakat, berkegiatan dan bekerja solely untuk kepentingan komunitas. Keinginan pribadi adalah dosa.

Profesi anggota masyarakat ditunjuk oleh counsel. Regenerasi dilaksanakan dengan mempertemukan perempuan dan laki-laki yang sudah masuk ke umur produktif secara seksual dipertemukan dalam secara random oleh counsel dalam suatu “mating night”. Bayi-bayi yang lahir kemudian diurus oleh komunitas hingga mereka dewasa untuk kemudian ditunjuk profesinya. Total Collectivism.

Is it possible? Secara Human Nature, No.

Selalu ada individu seperti tokoh Utama kita, Equality 7-2521 yang ditunjuk counsel untuk berprofesi sebagai penyapu jalan. Point of view narasi adalah dari Equality 7-2521. Awal-awalnya saya sempat dibuat bingung dengan narasi Equality 7-2521 yang menyebut I sebagai we. Tidak ada ungkapan sebagai individu. Sejak lahir orang-orang di komunitas tersebut sudah menggantikan I dengan kata We. The word “I”, simply does not exist.

Equality 7-2521 sebenarnya happy2 saja menjalankan perannya sebagai penyapu jalan. Namun ia tidak bisa melawan rasa keingintahuannya terhadap fenomena alam seperti hujan dan petir. Fyi, di komunitas itu, penerangan kembali ke bentuk lilin, tidak ada listrik, tidak ada teknologi whatsoever.

Rasa keingintahuan pribadi seharusnya merupakan dosa besar di komunitas tersebut. Namun anehnya Equality 7-2521 sama sekali tidak merasa itu adalah dosa. Menurutnya, keingintahuan itu adalah sebuah panggilan karena sebenarnya Equality 7-2521 sangat ingin berprofesi sebagai seorang scholar. Alias peneliti atau penemu.

Pada suatu hari, ketika menyapu jalan. Equality 7-2521 menemukan terowongan bawah tanah peninggalan peradaban yang sudah lama hancur. Agaknya, terowongan bawah tanah itu adalah eks terowongan kereta api peradaban modern yang pada saat ini sedang kita jalani.

Equality 7-2521 terkesima melihat terowongan tersebut. Ubin2nya halus dan putih, logam2 yang berjajar rapi (most likely rel kereta). Menurut peraturan, Equality 7-2521 seharusnya melaporkan temuannya tersebut. Namun ia ingin menyimpan rahasianya tersebut untuk dirinya sendiri. Equality 7-2521 tidak bisa membendung rasa ingin tahunya dan memutuskan untuk mengeskplorasi terowongan tersebut.

Pada waktu yang hampir bersamaan, Equality 7-2521 secara tidak sengaja bertemu dengan seorang wanita dengan kode nama Liberty 5-3000. Pria dan wanita secara aturan dilarang untuk saling memperhatikan. Namun Equality 7-2521 pada kenyataannya selalu mencari alasan untuk menyapu jalan di area ia biasanya bisa melihat Liberty 5-3000 bekerja. Suatu hari Equality 7-2521 memberanikan diri untuk berbicara dengan Liberty 5-3000 untuk meminta air. Ia menjuluki Liberty 5-3000 “the golden one” karena rambutnya yang pirang indah.

Equality 7-2521 telah melakukan eksperimen-eksperimen di terowongan bawah tanahnya. Secara tidak sengaja Equality 7-2521 berhasil menemukan listrik. Ia berencana untuk membawa penemuannya ke gedung para penemu agar komuitas mereka dapat menjadi tempat terang benderang yang ia impikan.

Namun apa daya, yang terjadi ketika ia menerobos masuk ke ruangan para scholar dan mendemonstrasikan penemuannya yang terjadi adalah mereka memanggilnya evil wretch dan filthy side sweeper. Para scholar sama sekali tidak mengganggap penemuannya dan meminta petugas keamanan untuk menahan Equality 7-2521.

Equality 7-2521 lalu kemudian kabur keluar batas area komunitas mereka. Ke hutan yang selama ini dilarang untuk diinjak oleh counsel komunitasnya. Pelarian Equality 7-2521 telah menjadi hot news di komunitasnya, Liberty 5-3000 kemudian memutuskan untuk menyusul Equality 7-2521 dan berhasil. Mereka berdua kemudian berjalan bersama mengarungi daerah hutan yang tak tersentuh dan juga berjalan untuk kemudian perlahan memahami konsep individu.

Ketika Equality 7-2521 akhirnya menangkap arti kata “I”, digambarkan oleh Ayn Rand seperti Hellen Keller pertama kali memperoleh pemahaman melaui kata pertamanya, “air”.

“The word “We” is as lime poured over men, which sets and hardens to stone, and crushes all beneath it, and that which is white and that which is black are lost equally in the grey of it.

It is the word by which the depraved steal the virtue of the good, by which the weak steal the might of the strong, by which the fools steal the wisdom of the sages. What is my joy if all hands, even the unclean, can reach into it? What is my wisdom, if even the fools can dictate to me? What is my freedom, if all creatures, even the botched and impotent, are my masters? What is my life, if I am but to bow, to agree and to obey?

But I am done with this creed of corruption. I am done with the monster of “We,” the word of serfdom, of plunder, of misery, falsehood and shame.

And now I see the face of god, and I raise this god over the earth, this god whom men have sought since men came into being, this god who will grant them joy and peace and pride.

This god, this one word: “I.”

5 dari 5 bintang untuk Ayn Rand atas penegasannya atas konsep alamiah individu dan ego yang memang adalah hal tersulit untuk disingkirkan dari fitrah seorang manusia.

Dracula By Bram Stoker

17238Format : librivox.org Audiobook

Adalah Jonathan Harker, seorang penasehat hukum, yang pada suatu waktu menerima perintah dari Biro Hukumnya untuk pergi ke tempat seorang klien bernama Count Dracula yang tinggal di suatu tempat bernama Transylvania.

Jonathan Harker mengganggap penugasan tersebut sebagai petualangan dan cukup bersemangat untuk menyelesaikannya. Sepanjang perjalanan, Jonathan selalu menulis jurnal tentang pengalamannya dari hari ke hari, dan juga menulis surat kepada kekasihnya Wilhelmina Murray.

Melalui jurnal dan surat-surat tersebutlah kita memperoleh narasi tentang pengalaman Jonathan Harker di Transylvania.

Fyi, gaya penulisan novel ini memang memiliki format epistolary, yaitu penceritaan berdasarkan jurnal dan juga surat dari tokoh-tokoh utamanya, dan juga dokumen-dokumen tertulis lain seperti Log Book kapal atau berita di surat kabar.

Gaya penceritaan model ini, menambah unsur misteri di keseluruhan jalan cerita dan juga memberikan kesempatan kepada pembaca untuk melihat suatu kejadian dari berbagai sudut pandang tokoh utamanya.

Kembali ke cerita. Dalam perjalanan menuju kastil Count Dracula, Jonathan mulai menemui hal-hal misterius. Diantaranya adalah nyaris diserang oleh sekumpulan Serigala, dan ketika singgah di suatu tempat istirahat menuju kastil tersebut, setelah bercerita tentang tempat tujuannya, oleh pemilik tempat istirahat Jonathan dibekali salib untuk dikalungkan. Untuk melindungi Jonathan, ujar si pemilik tempat istirahat. Weird.

Sesampainya di Kastil, Jonathan bercerita tentang aura misterius tempat tersebut, dan juga tentang Count Dracula yang dingin, tidak pernah sekalipun terlihat makan, dan juga memilih waktu-waktu yang ganjil untuk berkonsultasi kepada Jonathan tentang prosedur pembelian rumah di London serta permasalahan hukum lainnya.

Count Dracula sangat tertarik dengan London. Itu kesan kuat yang didapatkan oleh Jonathan.

Setelah beberapa hari Jonathan menyadari bahwa ia tidak pernah melihat siapapun di dalam kastil tersebut. Hanya ia dan Count Dracula. Jonathan pun perlahan sadar kalo sebenarnya ia adalah seorang tahanan di Kastil tersebut.

Pada suatu malam ketika nyenyak tertidur, Jonathan mendengar suara-suara di kamarnya. Mengintip melalui kelopak matanya yang tertutup, Jonathan melihat tiga wanita yang cantiknya tidak manusiawi sedang memandangi Jonathan yang tertidur. Ia menjuluki mereka the tree sisters. Ketika salah satu dari perempuan itu merundukkan mukanya ke arah Jonathan, ia diselamatkan oleh Count Dracula yang segera mengusir perempuan-perempuan itu.

Yang membuat Jonathan ketakutan adalah bahwa ketika Count Dracula tiba-tiba muncul, ia membawa sebuah karung. Dan apa yang Nampak merupakan isi dari karung tersebut, Jonathan menduga, adalah tubuh seorang anak kecil.

Jonathan pun mulai menyelidiki kastil tersebut. Ia menyaksikan Count Dracula mampu merayap di dinding kastil. Dan juga menemukan tempat istirahat dari Count Dracula yang tidak lain berupa sebuah peti mati.

Jonathan takut setakut2nya.

Narasi kemudian beralih ke log book sebuah kapal yang tiba di London dalam keadaan kosong dan hanya menyisakan kapten kapal. Semua kru kapal hilang di perjalanan. Melalui jurnal sang kapten kita mempelajari bahwa ia beberapa kali melihat seorang laki-laki tinggi kurus asing berkeliaran di kpalnya. Dan juga muatan aneh berupa 50 peti mati yang konon berisi tanah dari Trasylvania. Setibanya di pelabuhan London, sang kapten melihat seekor serigala besar melompat dari kapalnya.

Dari sini cerita beralih ke tunangan Jonathan, Wilhelmina Murray. Melalui jurnal Mina, begitu ia biasanya dipanggil, dan juga surat-surat Mina kepada sahabat karibnya Lucy Westenra, pembaca bisa menduga-duga apa yang terjadi.

Setelah beberapa waktu Mina mengkhawatirkan tunangannya yang hilang tanpa kabar, ia akhirnya berhasil menemukan Jonathan yang ternyata jatuh sakit dan menderita demam otak. Tidak ada yang tahu kapan dan bagaimana Jonathan kabur dari kastil di Trasylvania.

Jonathan yang baru sembuh akhirnya meminta Mina untuk menikahinya. Namun sebelumnya menyerahkan jurnalnya kepada Mina, untuk ia baca dan setelah itu untuk baru memberikan keputusan apakah ia mau menikahi Jonathan.

Mina bersedia untuk menyimpan jurnal tersebut, namun menolak untuk membacanya karena ia percaya sepenuhnya pada Jonathan. Mereka pun menikah dengan bahagia.

Sementara itu di tempat lain, sahabat Mina, Lucy Westenra tiba-tiba menderita sakit berat. Tubuhnya tampak pucat dan tidak berdaya. Tunangan Lucy, Arthur Holmwood kemudian meminta bantuan temannya, seorang dokter bernama John Seward.

Karena penyakit Lucy yang hanya aneh dan hanya bisa disembuhkan dengan transfusi darah, John Seward pun akhirnya meminta bantuan kolega nya Abraham Van Helsing.

Legenda Vampir, sesungguhnya telah ada untuk waktu yang sangat lama. Abraham Van Helsing, ternyata adalah salah satu orang yang familiar dengan legenda-legenda tersebut. Penyakit Lucy, membuat Van Helsing memiliki dugaan tertentu. Van

Helsing kemudian mencoba melidungi Lucy dengan barang-barang yang menurut mitos dapat menangkal Vampir. Namun demikian Lucy terus menerus memerlukan transfuse darah. Arthur Holmwood, John Seward dan juga Van Helsing telah menyumbangkan darah mereka untuk Lucy.

Ketika Lucy masih membutuhkan darah, mereka pun mencari orang lain yang dapat melakukannya. Bertemulah ketiga orang tersebut dengan pemuda yang bernama Quincy Jones, yang ternyata pernah melamar Lucy namun ditolak olehnya (John Seward juga pernah melamar Lucy namun ditolak juga).

Ketiga pemuda yang sama-sama mencintai Lucy, dan juga Van Helsing telah berusaha sebisa mereka untuk menyelamatkannya. Namun apa daya, Lucy Westenra akhirnya meninggal. Anehnya, setelah meninggal tubuh Lucy secara fisik terlihat lebih sehat dan lebih hidup serta jauh lebih cantik, daripada sebelumnya. Ketiga pemuda itu pun berduka.

Dan Van Helsing tau bahwa permasalahannya tidak akan berakhir disini.

Beberapa hari kemudian, sebuah berita di surat kabar memberitakan tentang sebuah fenomena aneh. Dalam beberapa hari terakhir kerap terjadi kejadian “anak hilang”. Anak2 tersebut selalu hilang menjelang malam, dan pada pagi harinya ditemukan kembali di tempat-tempat umum. Anak-anak yang ditemukan tersebut selalu memiliki dua bekas gigitan kecil di lehernya.

Mereka mengaku dibawa oleh seorang bloofer lady (beautiful lady). Menarik kan?

Abraham Van Helsing, Athur Holmwood, John Seward, dan Quincy Jones akhirnya berkorespondsi dan bertemu dengan Jonathan dan Mina Harker. Mereka berenam pun mengakurkan cerita mereka. Akhirnya mereka membentuk persekutuan untuk memburu mahluk bernama Count Dracula. Dan disinilah cerita menjadi amat sangat seru dan membuat penasaran.

Dan jangan salah, Count Dracula pun tidak akan menyerah tanpa perlawanan.

Seruuuuuuuuuuuuuuuu deh!!

Yang jelas buku Dracula nya Bram Stoker ini menjadi cerita gothic yang menjadi trendsetter vampirisms. Buku klasik yang harus dibaca… Itu juga kalo kamu berani! Hihihi..

The Age of Innocence By Edith Warton

IMG_3465

“It was the old New York way.. The way people who dreaded scandal more than disease, who placed decency above courage, and who considered that nothing was more ill bred than “scenes”, except those who gave rise to them”

Baru kali ini saya menikmati buku dengan cara mendengarkan audiobook. Alkisah karena jalanan Jakarta yang macet, dan sayang rasanya waktu yang dihabiskan buat bermacet2, saya Iseng2 menginstal aplikasi Audiobook dari Librivox di Apple Store yang ternyata enak dan mudah buat di dengar.

Dan sekarang tidak ada lagi waktu yang terbuang. Di mobil saya masih bisa menikmati buku. Hehe.

Back to the book..
The Age of Innocence-nya Edith Warton berlatar belakang di New York pada tahun 1870-an. Adegan dibuka dengan sang tokoh utama, seorang pemuda bernama Newland Archer yang sedang menghadiri opera, bersama masyarakat terpadang kota New York lainnya.

New York dimasa itu masih berwujud komunitas kecil dimana terdapat tata krama masyarakat setempat yang jika tidak dipatuhi, maka akan menyebabkan skandal. Juga terdapat keluarga2 besar yang berpengaruh dan menjadi penentu apa yang pantas dan apa yang tidak. Newland Archer telah bertunangan dengan seorang gadis dari keluarga Mingotts yang merupakan salah satu keluarga paling berpengaruh di New York di kala itu.

Di opera, Newland sedang memandangi tunangannya, May Welland yang duduk di box khusus untuk keluarga Mingotts. Saat itu, Newland melihat seorang wanita masuk ke box keluarga Mingotts di tengah2 opera berlangsung. Newland mengenali wanita itu, ia adalah Ellen Olenska, sepupu May. Seketika itu Newland merasa terganggu.

Kenapa ?

Karena di momen itu Newland Archer adalah sosok pemuda yang taat pada nilai2 dan tata krama masyarakat. Newland merasa terganggu karena Ellen Olenska adalah tokoh yang kontroversial. Ia dikabarkan telah meninggalkan suaminya Count Ollenski di Eropa. Newland merasa khawatir akan gossip yang akan menerpa calon keluarganya.

Untuk mengalihkan perhatian masyarakat dari Countess Olenska, Newland dan May memutuskan untuk mengumumkan pertunangan mereka di malam itu, di pesta keluarga Beaufort.

Beberapa hari kemudian, Newland Archer yang berprofesi sebagai pengacara mendapatkan berita dari atasannya, Mr. Letterblair, bahwa Ellen Olenska berniat untuk menggugat cerai suaminya. Mr. Letterblair meminta bantuan Newland (atas permintaan keluarga Mingotts) untuk membujuk Ellen Olenksa untuk mengurungkan niatnya.

Perceraian, di kala itu, merupakan skandal besar dan seluruh keluarga besar akan terkena dampak dari perhatian dan gossip yang beredar karena skandal tersebut.

Newland, sebagai calon anggota keluarga Mingotts sepantasnya ikut khawatir akan prosepek skandal tersebut, dan harus pula turut mengerahkan upaya untuk mencegah terjadinya skandal yang ditakutkan.

Atas pertimbangan yang diuraikan Mr. Letterblair, Newland setuju untuk mencoba berbicara dengan Ellen Olenska. Newland Archer pun berkunjung ke kediaman sang Countess.

Pada kunjungannya akhirnya Newland bisa melihat Ellen Olenska yang sebenarnya, dan bukan hanya dari skandal yang disebabkan oleh kedatangannya. Ellen Olenska ternyata adalah wanita yang cerdas, pemberani, dan kritis. Singkatnya, Ellen Olenska berbeda dari wanita lain yang Newland pernah kenal, termasuk tunangannya May.

Newland Archer mulai jatuh cinta pada sang Countess.

Apa yang harus dilakukan Newland ? Ellen Olenska masih berstatus istri orang, dan seluruh komunitas telah mengetahui pertunangannya dengan May. Lebih parah lagi, Ellen adalah sepupu May dan hubungan mereka dekat.

Cerita selanjutnya baca sendiri ya.. Hehe..

Apakah Newland Archer akan melakukan apa yang benar  atau apa yang pantas? Apakah Ellen Olenska akan pada akhirnya tunduk pada standar2 yang ditetapkan masyarakat? dan apakah May Welland pada akhirnya bisa melihat kenyataan yang sebenarnya?

“But marriage is a long sacrifice..”

Buku ini adalah kesedihan yang indah. 50% pertama dari cerita saya kesal karena Newland yang ngga jelas. Namun 50% terakhir benar-benar membuat saya penasaran akan apa jalan yang akan ditempuh tokoh2 tersebut. Fyi, Newland yang jatuh cinta dengan Olenska lalu malah mempercepat pernikahannya dengan May. Dan mereka akhirnya menikah, namun Newland terus mencintai Ellen dan berniat kabur dengannya.

Menurut saya, malah Ellen dan May adalah tokoh kuatnya. Merekalah yang pada akhirnya menentukan sikap dan mengambil pilihan.

Hidup memang isinya penuh dengan pilihan. Dan pernikahan itu memang lebih dari sekedar cinta2an. Pernikahan itu penuh dengan tanggung jawab dan kompromi.

Percaya deh, buku ini bukan sekedar romantisme yang klise. Buku ini mengajarkan kedewasaan. Mengajarkan pengorbanan. Dan terlepas dari masyarakatnya yang lebay, kaku dan penuh dengan prasangka, cinta itu memang bukan segalanya.

“The real loneliness is living among all these kind people who only ask to pretend.”

“I can’t love you, unless I give you up.”

5 dari 5 bintang untuk buku ini.