The Gathering By Anne Enright

Image

Penerbit : Vintage Books London

ISBN : 9780099523826

“We do not always like the people we love- we do not always have that choice.”

Note : Postingan ini adalah dalam rangka posting bersama bulan Oktober Blogger Buku Indonesia yaitu review buku pemenang penghargaan Man Booker Prize.

Saya rasa hampir setiap keluarga memiliki ciri khas dan kegilaannya masing2. Tapi cara Veronica Hegarty mendeskripsikan keluarganya sungguh bisa menularkan rasa pahit getir kepada saya sebagai pembaca kisahnya. Penuh dengan humor sarkastis yang menggambarkan kalo Veronica mencintai sekaligus membenci keluarga (gila)nya.

Besar sebagai anak kesekian dari dua belas bersaudara dengan Ayah yang menjaga jarak dan Ibu yang depresif dan mengawang-awang,  membuat Veronica dalam usia 39 tahun merasa menjadi salah satu yang paling beruntung karena berhasil meraih masa depan yang terlihat mapan dan normal. Mapan dalam arti memiliki suami yang memiliki pekerjaan bagus dan normal dalam arti memiliki keluarga yang ideal menurut pandangan masyarakat dengan dua anak perempuan yang manis.

Tapi masa lalu yang tidak terselesaikan tidak akan membiarkan kita kabur dan bebas begitu saja. Lari hanya akan meninggalkan hantu2 yang terpedam dalam memori.

Oleh karena itu kematian Liam, kakak laki2 yang hanya berjarak 11 bulan darinya membuat benteng kepura2an yang dibangun Veronica runtuh seketika. Liam mati karena menenggelamkan dirinya sendiri. Dan di alam bahwa sadarnya Veronica bisa menduga asal muasal Liam menempuh jalan hidupnya.

Kematian Liam membuat Veronica gelisah. Tiba-tiba Veronica merasa asing di tengah keluarga kecilnya. Ingatan-ingatan yang muncul dan tenggelam membuatnya sulit membedakan antara yang betul2 terjadi dan yang hanya sebatas khayalannya. Hantu2 masa lalu yang berisik dan menuntut untuk diingat dan dikenali.

Di dalam hatinya Veronica merasakan kebencian terhadap Ayah dan Ibunya yang terlalu banyak bereproduksi. Selain dari dua belas anak yang terlahir dengan selamat, Ibunya juga telah mengalami tujuh kali keguguran, dan sebagai akibatnya kondisi kejiwaan Ibunya menjadi tidak bisa diandalkan. Veronica dan saudara2nya selalu sepakat untuk tidak  memberitahu Ibu mereka jika ada satu dan lain hal yang dapat mengganggu ketenangannya. Ibu adalah mahluk rapuh yang harus senantiasa mereka lindungi.

Akibat dari kondisi Ibunya yang terus menerus (sepanjang ingatan Veronica) berada dalam kondisi hamil, pada suatu waktu Veronica, Liam dan satu adik perempuan mereka dititipkan di rumah nenek mereka, Ada Merriman. Ketika itu Ibu mereka tengah mengalami depresi karena salah satu kejadian keguguran. Dan melalui narasinya Veronica akan menceritakan apa yang tiga bersaudara tersebut alami mulai dari titik itu.

Namun untuk dapat menceritakkannya Veronica harus mundur jauh ke latar belakang cerita, ke masa lalu, di tahun 1925, ketika nenek mereka yang cantik Ada Merriman pertama kali bertemu dengan dua pria, Charlie Spillane dan Lamb Nugget. Salah satu dari kedua pria tersebut kelak menjadi kakek mereka, dan bagaimana keputusan Ada untuk memilih salah satu diantaranya bisa membawa dampak pada jalan hidup tiga generasi berikutnya.

Buku ini memenangkan penghargaan Man Booker Prize pada tahun 2007. Dengan tebal 261 halaman dan cara penulisan yang mengalir dan mudah dibaca membuat saya tidak membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikannya. Namun dampak dari menutup halaman terakhir buku ini sungguh membuat saya merasa dunia ini memang suram dan berbahaya.  Untuk beberapa lama saya menderita book hangover berupa rasa tidak berdaya dan putus asa. Sampai segitunya dampak yang bisa diakibatkan buku ini.

Buku yang bisa membawa dampak psikologis seperti itu pada pembacanya (walaupun dampak tersebut adalah dampak depresif) menandakan keahlian sang penulis untuk merangkai cerita, menggambarkan perasaan, dan mendeskripsikan situasi. Dan ketiga poin itulah yang Anne Enright sangat kuasai sehingga harus diakui bahwa beliau layak mendapatkan penghargaan Man Booker.

Hadapi saja, tidak semua cerita di dunia ini adalah cerita bahagia. Hanya beberapa pengarang yang  bold enough untuk memilih menceritakan sisi suram dunia. Dan terlepas dari sesuram apapun kisah yang diceritakan, a good writing is a good writing as Anne Enright has done beautifully in this book.

We By Yevgeny Zamyatin

20130930-084504.jpg
Saya baru tau keberadaan novel ini setelah seorang pembaca review A Brave New World saya merekomendasikannya. Dan setelah selesai membaca We ini, sulit bagi saya untuk mengendapkan kenyataan bahwa buku ini ditulis sebelum dua dedengkot buku dystopian favorit saya yaitu 1984-George Orwell dan A Brave New World-Aldous Huxley.

Yevgeny Zamyatin menulis buku ini pada tahun 1920-an, sedangkan di Rusia sendiri (tempat buku ini ditulis) buku ini baru bisa dibaca dengan bebas pada tahun 1980-an. Naskahnya terlebih dahulu bisa masuk ke luar Rusia dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.

Agak menggelitik bahwa George Orwell pernah menulis A Brave New World-nya Aldous Huxley terinspirasi dari buku ini, sedangkan banyak pihak yang juga menganalisis kalau sebenarnya 1984-nya George Orwell juga memiliki plot yang sama dengan We. In a way saya dapat melihat cikal bakal kedua buku kesukaan saya dalam We ini. Buku ini adalah pionernya, Aldous Huxley dan George Orwell menyempurnakannya dengan menuliskan dua jenis buku dystopia dengan basis yang berbeda, yaitu rekayasa genetis+subconscious dan the power of fear.

Kembali ke buku utama yang sedang dibahas, secara singkat di dalam dunia di buku ini setiap manusia yang hidup tidak memiliki kebebasan individu. Mereka tidak memiliki nama dan hanya diidentifikasikan melalui nomor yang diberikan oleh Negara. Tidak ada konsep keluarga, setiap orang hidup di flat kaca tembus pandang hingga seluruh kegiatan dapat dilihat oleh para penghuni lain dan para penegak hukum.

Satu-satunya kesempatan untuk menurunkan tirai kaca adalah ketika setiap penduduk mendapatkan jatah “tiket pink”, yaitu kesempatan untuk melaksanakan proses reproduksi manusia dimana bayi yang lahir akan diasuh dan dibesarkan oleh Negara.

It’s natural that once Hunger had been vanquished (which is algebraically the equivalent of attaining the summit of material well-being), OneState mounted an attack on that other ruler of the world, Love. Finally, this element was also conquered, i.e., organized, mathematicized, and our Lex sexualis was promulgated about 300 years ago: “Any Number has the right of access to any other Number as sexual product.”

The rest is a purely technical matter. They give you a careful going-over in the Sexual Bureau labs and determine the exact content of the sexual hormones in your blood and work out your correct Table of Sex Days. Then you fill out a declaration that on your days you’d like to make use of Number (or Numbers) so-and-so and they hand you the corresponding book of tickets (pink). And that’s it.

Semua aspek dalam hidup telah disimplifikasi melalui hitungan matematika sehingga segala sesuatu berjalan sesuai dengan prediksi dan penuh dengan keteraturan. Pemimpin mereka adalah The Benefactor yang memiliki kekuasaan mutlak akan segala hal. Setiap perbuatan makar akan mendapatkan ganjaran hukuman mengerikan yaitu di-disintegrasikan hingga ke level atom di depan umum. The Benefactor menekan tombol mesin, dan “puff” manusia di dalamnya pun meleleh kemudian menjadi butiran debu.

Narator cerita ini diidentifikasi dengan nomor D-503, seorang pria yang berprofesi sebagai mathematicians dan sedang melaksanakan proyek pembangunan pesawat luar angkasa pertama mereka, The Integral.

Just this morning I was at the hangar where the INTEGRAL is being built—and suddenly I caught sight of the equipment: the regulator globes, their eyes closed, oblivious, were twirling round; the cranks were glistening and bending to the left and right; the balance beam was proudly heaving its shoulders; the bit of the router was squatting athletically to the beat of some unheard music. I suddenly saw the whole beauty of this grandiose mechanical ballet, flooded with the light of the lovely blue-eyed sun.

But why—my thoughts continued—why beautiful? Why is the dance beautiful? Answer: because it is nonfree movement, because all the fundamental significance of the dance lies precisely in its aesthetic subjection, its ideal nonfreedom. And if it is true that our ancestors gave themselves over to dancing at the most inspired moments of their lives (religious mysteries, military parades), that can mean only one thing: that from time immemorial the instinct of nonfreedom has been an organic part of man, and that we, in our present-day life, are only deliberately …

Quote di atas merepresetasikan bagaimana narrator kita D-503 begitu mencintai presisi yang tercipta dalam dunianya. Sampai suatu saat ia bertemu dengan seorang wanita, I-330. Sederhananya, D-503 jatuh cinta dan di dalam dunianya, sesuatu yang tidak dapat diprediksi seperti halnya jatuh cinta, tidak ada bedanya dengan kegilaan (Aldous Huxley menyempurnakan kemungkinan itu dalam dunia dystopia versinya).

I-330 ternyata bagian dari sebuah pergerakan geriliya untuk menentang kekuasaan The Benefactor. Dengan jatuh cinta kepada I-330, D-503 tidak dapat mengelak untuk terlibat dalam perkumpulan berbahaya tersebut.

Sementara itu para penguasa yang telah dapat membaca bahwa sesuatu sedang terjadi mengumumkan bahwa telah terjadi pandemi penyakit yang menurut mereka disebabkan oleh bagian dalam otak manusia yang memicu imajinasi. Mereka menawarkan operasi penyembuhan dengan menyingkirkan bagian otak bermasalah tersebut sehingga manusia bisa hidup dalam damai.

Dan semua hal kembali ke D-503, apakah ia akan memilih untuk dive to the unknown atau kembali ke dunia sebelumnya yang penuh dengan presisi? Well.. Read it for yourself, I won’t spoiled this masterpiece.. Hehe.. A highly recommended classics pioneer dystopia!

Mata Air Kumari By Yudhi Herwibowo

20130530-122227.jpg

Penerbit : Bukukatta
Tebal : 136 Halaman

Peringatan : Kalo anda gampang gentar jangan coba-coba membaca cerpen ini malam-malam sendirian, hehe. Nanti nasibnya seperti saya yang merinding sendiri di dalam gerbong kereta sepi malam hari begitu sampai ke cerita tentang Ana Bakka! Hiiiiiii.

Kayaknya baru kali ini deh saya memberi 5 bintang pada buku kumpulan cerpen. Terlebih lagi kumpulan cerpen Indonesia. Mungkin memang cerita-cerita pendek di buku ini selera saya banget. Yang jelas begitu nutup buku langsung tertegun saking dibuat merindingnya oleh beberapa cerita di buku ini.

Secara keseluruhan terdapat 14 kisah dalam kumpulan cerpen ini. Genre setiap cerpen adalah campuran misteri, horror, dan magic realisme. Beberapa subjek cerita sudah kita jumpai dalam beberapa buku Yudhi Herwibowo yang lain seperti cerita tentang Kitta Kadafaru dan cerita tentang para Tiku (gerombolan perampok).

Ada beberapa cerita yang ingin saya highlight dari koleksi ini. Beberapa cerita yang menurut saya paling istimewa dan nendang banget, hehe. Berikut top five stories dari keempatbelas koleksi yang ada:

5. Bayi Baboa
Kisah ini adalah tentang seorang dokter wanita bernama Linda Dethan yang berpraktek di sebuah kota kecil bernama Rimolaka, sekitar 50 km sebelah utara kota Ende, Nusa Tenggara Timur.

Suatu ketika selesai praktek di kliniknya, dalam perjalanan pulang Linda di hentikan oleh seorang wanita yang menduga anaknya digigit ular. Ia pun segera mengikuti wanita yang ternyata bernama Magdalena itu.

Bayinya ternyata tidak apa-apa. Magdalena rupanya panik karena melihat dengan mata kepala sendiri ada ular baboa di dalam tempat tidur bayinya. Setelah ia berteriak ular itu pun pergi ke arah jendela dan Magdalena pergi mencari dokter.

Selang beberapa hari berlalu, Magdalena tiba-tiba datang ke tempat praktek Linda. Ia terlihat galau karena ular baboa itu muncul lagi di samping bayinya. Magdalena galau justru karena ular itu tidak mengigit bayinya. Dia khawatir bahwa bayinya adalah jelmaan setang (setan)!

Rupanya terdapat kepercayaan bahwa bila bayi baru lahir didatangi ular baboa, ia akan menjadi anak yang jahat dan durhaka pada orang tua. Ini bukan kejadian pertama, dan kejadian-kejadian sebelumnya selalu berakhir dengan Sang Ibu dengan tega membuang bayinya sendiri.

Sebagai dokter bagaimana Linda akan bersikap? Adakah itu hanya cerita karangan masyarakat setempat saja?

4. Dua Mata Perak
Dua mata perak adalah cerita tentang seorang wanita tuna susila yang tinggal berdua bersama anak perempuannya yang berumur 6 tahun, Aritha.

Aritha terlahir terlahir dengan dua mata perak yang membuatnya tidak dapat melihat. Terlepas dari hal itu, Aritha tumbuh menjadi anak yang kuat.

Namun ntah kenapa perempuan itu merasa Aritha belakangan ini banyak melakukan perlawanan diam terhadap dirinya. Aritha yang tadinya tidak pernah keberatan pada kenyataan ia banyak membawa lelaki ke rumah akhir2 ini menghatuinya dengan kedua mata perak itu.

Perempuan itu merasa takut kepada pandangan mata anaknya. Di kedua mata perak itu ia seolah-olah melihat bayangan kematian.

3. Anak Nemang Kawi
Cerita ini berlatar belakang di papua. Dengan tokoh seorang anak lelaki berumur 12 tahun yang mencoba membuktikan kepada teman-temannya bahwa ia juga adalah seorang anak yang pemberani, walaupun dengan perbuatannya itu ia telah melanggar larangan Ibunya.

Apa bentuk tantangan yang harus ia lalui itu?

Ia hanya harus mendaki bukit bernama Anak Nemang Kawi. Pada ajakan pertama ia menolak teman2nya karena ingat pada peringatan sang Ibu : Anak Nemang Kawi adalah tempat yang berbahaya, banyak orang jahat disana. Anak Nemang Kawi menurut Ibunya adalah tempat orang-orang mati.

Penolakan atas tantangan teman-temannya membuat ia diejek-ejek sebagai anak penakut dan pengecut. Oleh karena itu ia sekarang akan membuktikan keberaniannya dengan mendaki bukit itu sendirian, walaupun hati kecilnya tetap memperingati bahwa tindakannya salah. Ia bukan seorang pengecut.

2. Keris Kyai Setan Kober
Pernahkah terpikir oleh anda bahwa sebuah keris bisa memiliki ambisi?

Ya, ia adalah sebuah keris yang diciptakan seorang empu sakti dengan kemampuan terakhirnya. Ia ditempa dengan mantra-mantra sakti, ditemani dengan bayang-bayang gelap dan suara-suara bisikan dan gelak tawa yang licik.

Terbentuk sempurna dengan wilah 13 lekukan, sang keris pun tercipta sempurna dengan dilingkupi oleh bayang-bayang gelap dan dingin.

Lama terlupakan, keris itu haus akan petualangan. Ambisi untuk membuktikan kehebatannya semakin memuncak karena ejekan-ejekan dari bayang-bayang gelap yang menyelimutinya. Ia marah, dan mencari tuan yang layak untuk memilikinya.

1. Ana Bakka
Rombongan dokter muda dari Dinas Kesehatan Provinsi mendapatkan tugas untuk mengunjungi Desa Mafat-to, tiga jam dari Kota Kupang.

Salah satu dari rombongan itu adalah seorang dokter perempuan bernama Winda. Mereka memilki misi untuk melaksanakan survey perihal busung lapar.

Di tengah pelaksanaan survey Winda terhenyak melihat seorang anak perempuan yang terduduk di tanah. Kaki anak itu dipasung dengan kayu besar dari pohon kelapa.

Tanpa memperdulikan peringatan dari warga bahwa anak perempuan itu gila, Winda nekat mendekatinya. Ana Bakka, anak perempuan itu terlihat tak berdaya dan mengenaskan.

Terlepas dari cerita absurd penduduk desa bahwa Ana telah membunuh Ibunya sendiri, bahwa fam Bakka adalah fam jahat dan semua leluhurnya merupakan orang tidak baik. Winda bertekad harus menyelamatkan anak perempuan malang itu, Ana Bakka.

PS : Postingan juga dibuat dalam rangka posting bareng Blogger Buku Indonesia edisi bulan Mei 2013 untuk kategori kumpulan cerita 🙂

BBI Second Anniversary, Close Up Interview with Perdani Budiarti

20130425-200422.jpg

Dalam rangka ulang tahun Blogger Buku Indonesia (BBI) yang kedua, divisi event dari komunitas BBI nyelenggarain 3 kegiatan besar antara lain : giveaway hop, close up interview dan BBI berbagi.

Karena akhir2 ini hidup lg hectic banget jadilah saya cuma bisa ikut kegiatan yang kedua yaitu Close Up Interview (CUI). Ini ide brilian banget karena makin banyaknya anggota BBI, hampir pasti satu sama lain anggota banyak yang belum saling kenal lebih jauh. Host dari kegiatan ini adalah dokter gigi cantik kita, non Mia Prasetya.

Setelah diundi saya ternyata dapet bagian ngewawancara Perdani Budiarti.

Saya sendiri baru kenal sekilas dari pertemanan di twitter. Yang menarik dari akun twitter Dani adalah avatarnya yang berkarakter Pororo, idola anak saya Ayid. Jadi setiap ketangkep basah ayid lg twitteran pasti rebutan hp karena ayid pengen liat Pororo. Hihihi.

Ternyata mba yang satu ini udah lumayan lama ngeblog. Dulu punya akun multiply lalu hijrah (toss) plus beberapa akun blog lain.

Saya mengaku dosa kalo salah liat tanggal posting CUI, padahal Mia udah jelas2 kasitau via Whatsapp kalo postingnya tanggal 25. Saya keukeuh ngira tanggal 27. Jadilah Dani dikerjain karena pertanyaannya baru saya kirim tanggal 23 malem. Hihihi. Maaphkan yah. Saya bener2 silap.

Ada 15 pertanyaan yang saya kirim lewat email. Berikut jawaban dari pertanyaan2 itu yang mudah2an bikin kita semua kenal lebih jauh dengan Perdani Budiarti alias Dani 🙂

1. Sehari2 kegiatannya apa dan kapan aja waktu buat baca buku?

Kegiatan sehari2 di hari kerja: ngantor di Pemkot Solo dari pk.7.00 pagi sampai saatnya pulang (entah pk berapa tpi paling cepat pk.16.30), pulang, terus tepar sampai pagi. Waktu baca sih biasanya sore setelah pulang kantor, atau malam.

Kalau pas hari libur (Sabtu-Minggu) biasanya baca seharian kalau mmg nggak ada acara. Jadi intinya baca kalau sempat saja #plak *makanya timbunannya nggak berkurang malah nambah terus ^^v*

2. Sejak kapan suka baca dan ngeriview buku and kenapa?

Kalo suka baca sih sejak kecil ya, karena bapakku lebih suka kasih hadiah buku kalo anak2nya dapat ranking di sekolah. Hobi baca juga diturunkan dari bapak, jadi kalo aku jdi penimbun skrg ini juga gr2 bapak #eh *alasan*

Kalau mereview buku sih setelah gabung di goodreads ya, sekitar tahun 2009, terus awal tahun 2012 mule gabung di BBI dan benar2 jdi penimbun akut karenanya, hu3

3. Sebutin 5 buku yang paling berpengaruh dalam hidup dan kenapa?

a. Al-Qur’an; buku pertama yg harus dibaca pake ngapalin huruf arab & nggak habis2 😐

b. Harry Potter; sukses membuatku jadi Potterhead walo aku liat filmnya duluan, tapi memang sihir JKR tak terbantahkan.

c. Five People You Meet in Heaven; buku pertama Mitch Albom yg sukses bikin aku nempelin bnyak stick note karena hampir setiap kalimat di dalamnya berupa quotation bermakna *jempol*

d. The Bridgerton Series-nya Julia Quinn yg sukses memaksaku utk mengoleksi historical romance utk pertama kalinya karena di membuatku terhibur sepanjang membaca buku-buku tsb.

e. Message in a Bottle-nya Nicholas Sparks yang aku suka karena berisi surat-surat dari seorang pria ke wanita yang dicintainya *tsah*

f. Perfume-nya Patrick Süskind, terkesan banget dengan kegilaan tokoh utamanya yg berambisi untuk mendapatkan wangi terbaik di dunia, hiiiiih.

*gpp ya, Teh, ada 6 buku favoritku, ha3

4. Sebutin 5 buku yang setelah dibaca paling bikin keki dan kenapa?

a. Memory & Destiny; suweeer, otakku bener2 nggak prima karena butuh waktu luama bgt utk nekat baca buku ini dan harus tersiksa selama berhari2 karenanya, nggak kelar2 soalnya (>0<”)

b. Twilight; terpaksa baca buku pertamanya karena dikasih temen pas ultah, langsung keki dengan kelakuan Bella. Buku kedua sampe ke empat aku baca sambil lalu dari rental dan masih keki sama Bella dan egoisme dia utk mndapatkan perhatian dri skitarnya. Plus obsesinya si Edward yg… *digebukin fans Edward*

c. Fifty Shades of Grey; well, awalnya penasaran seperti apa buku yg awalnya fanfic TW yg bertema BDSM ini, namun saat baca aku jdi ketiduran mulu karena alurnya yg luambat pisan, terus si obsesi Mr. Grey-nya ke Ana yg dkasi laptop super canggih hnya utk email2an aja gitu? D*mn, aku mau laptopnya utk ngegame & maen grafiiiis *intinya iri sama Ana, ha3* Belum menjamah buku kedua & ketiga karena trauma sama kkedua tokohnya tersebut, hiks

d. A Romantic Story About Serena; uhm, well, yeah, terlalu mirip gaya penulisan harlequin jadul & karakter Serena-nya nggak kuat 😐

e. Pokoknya semua buku yang karakter cewe-nya TSTL *sudah susah nyari buku apalagi*

5. Paling suka ending buku yang seperti apa?

Ending yg unpredictable, jdi setelah baca buku itu aku bengong sebentar saking terpesonanya, terus teriak…gelaaaaaa… Aku tidak bermasalah dg sad/happy ending, selama ending itulah yg terbaik utk semua tokoh di dalam buku tsb 🙂 __<”

6. Kalo boleh kasih hadiah ke 3 orang yang paling disayang, bakalan kasih buku apa dan kenapa? (sebutin juga orangnya ya)

a. Koleksi lengkap Tetralogi Buru ke my beloved father, soalnya kemarin pas ad yg nitip Bumi Manusia dan bapak liat langsung terliat mupeng jadi ya aku beliin aja deh buat beliau 😀

b. Buku-buku karya Ayu Utami ke adikku yang memang penggemar penulis tersebut. Sudah beberapa kali ultah, dia aku kasih bukunya Ayu Utami terus, hehe

c. Irma, teman sejak SD yg smpe skr masih kontak. Dia suka semua jenis buku, tapi bentar lagi mau merid, jadi enaknya dikasih buku nikah aja ya? #plak

7. Kalo boleh kasih hadiah ke 3 orang yang pernah bikin sakit hati, bakalan kasih buku apa dan kenapa? (Nama boleh disamarin)

Waduh, siapa ya… er….duh, nggak ada Teh…eman-eman bukune #plak Tapi suer, nggak ada ide sama sekali T^T

8. Pernah dianggap sebagai orang aneh karena sesuatu yang berkaitan dengan buku?

Nggg, nggak secara langsung sih, tapi seorang teman adikku sempat komentar ngapain beli buku, kalau sudah dibaca ya sudah habis, dianggurin di rak. Argh, kan seninya jadi pencinta buku selain membacanya adalah menimbun yang banyak #eh

9. Domisili pernah dimana aja? Dimana yang paling berkesan? Kalo bisa hidup di dalam buku pengen hidup di dalam buku apa?

Err, numpang lahir di Magelang tapi sejak usia beberapa bulan stay terus di Solo sampe skrg.

Pengen hidup di dunia sekarang tapi bisa mampir ke Hogwarts-nya Harry Potter

10. Sekarang punya berapa buku (fisik maupun ebook) dan berapa yang udah dibaca?

Waduh, susah ini…belum didata semua, teh T^T. Tadi nengok rak goodreads sih hanya ada 169-an gitu utk buku fisik, kalo ebook…ada 1.400-an file, tapi kayanya kurang valid juga deh *worried*

Yg sudah dibaca? Err…aduh, Teh Chacha, aku nggak mendata jugaaaa *die*

11. Apa genre kesukaannya dan kenapa?

a. Romance; karena sering baca cerpen romance di Aneka pas zama SMPD dulu, terus curi baca novel remaja koleksi bapak yg ternyata romance semua, huehehe.

b. Fantasy; karena sejak kecil aku hidup di dunia khayal dan suka melarikan diri dari kenyataan*halah*

c. Detektif, thriller, misteri; sejak kecil baca 5 Sekawan, STOP, Trio Detektif, dll hasil pinjam di perpus sekolah yg membuatku pengen gabung di klub detektif gitu karena mupeng memecahkan misteri dg segala kerumitan kode2nya

12. Sebutin 5 pengarang luar yang bukunya otomatis dibeli and kenapa?

Waduh, pertanyaan yg sulit karena sampe skrg aku cumi rental setia. Tapi ada beberapa yg memang aku usahakan beli bukunya…

a. J.K. Rowling, kecuali The Casual Vancancy yg masih masuk dlm daftar tunggu dibeli 😀

b. Nicholas Sparks; setiap ada terjemahan baru bukunya aku beli sih, suka aja sama gaya bercerita romance dia, sesuatu yg sepele di buku dia bisa jadi sesuatu yg romantis & berkesan utk para couple dalam buku2 dia

c. Kim Dong Hwa; mangaka Korea ini ketiga bukunya langsung aku borong karena bagus, dan memang bagus ternyata Trilogi Warna-nya. Sepeda Merah belum sempat terbeli karena bulan April ini aku boke 😥

d. Neil Gaiman; walau belum pernah baca bukunya tapi entah kenapa otomatis beli aja buku2 dia 😛

4 aja ya, Teh…yg satu sebenernya Sandra Brown, tapi aku beli buku dia cuma yg aku suka aja beberapa, lainnya cumi rental :”)

13. Sebutin 5 pengarang indonesia yang bukunya otomatis dibeli dan kenapa?

Err, nggak ada 😥 piye ikiiii? (>_<”) soalnya aku lebih sering baca buku terjemahan sejak kecil, jadi kurang akrab sama buku-buku lokal, hu3, mafkan aku, Para Penulis Indo #plak

Eh, setelah kupikir2, ada ding penulis Indonesia yang aku beli bukunya otomatis…Ayu Utami, soalnya adikku koleksi, jadi aku suka otomatis beliin dia juga 😀 terus Ahmad Fuadi buat Bapak untuk melengkapi koleksi Negeri 5 Merana-nya

14. Sejak kapan masuk BBI, gimana ceritanya dan setelah masuk gimana kesannya sama BBI?

Masuk BBI sejak Januari 2012, tertarik gr2 ada event Secret Santa yg diobrolin sma anak goodreads solo pas kopdar di rumah Alvina, kok kayaknya seru. Ya udah deh habis itu cari info, blogwalking, daftar, dan akhirnya ketimbun buku bersama para member BBI lainnya smpe skrg. Kesannya sih pengetahuan tentang buku menjadi lebih luas

15. Sebutin 5 anggota BBI terfavorit dan kenapa?

Mbak ASD, eh, mbak Dewi; karena review2nya yang jujur dan nendang ke ulu hati #halah

Ndari; karena walau masih muda bgt tpi bacaannya ajaib2 semua #shock

Mbak Desty; kecepatan baca & reviewnya daebak! Ngiri sama update2nya yang ter-schedule dengan baik >_<”

Mbak Fanda; yang fokus dan konsisten sama genre classic di tengah maraknya genre lain yang seabrek itu

Hernadi Tanzil a.k.a Rahib Sang Sesepuh BBI; salut sama koleksi bukunya yang beragam dan semangatnya untuk terus baca-review-share!

Fyuh, udahan ya Teh Chacha…capeeee

———————————————

Hahaha.. Maaf ya Dani aku kerjain, walaupun bilangnya fotonya berantakan tapi tetep cantik kok. Oiya koleksi buku yang bikin kekinya 90% sama nih sama saya (walaupun sampe saat ini belum ada waktu luang buat baca 50 shades)

Dan paraaaah nih ngga ngedata buku, curiga timbunannya jauh lebih banyak dari yang diperkirain. Hihihihi. Data deh! Pasti kaget sendiri (seperti yang saya alami).

Anyway tengkyu ya atas kesediaannya jawab pertanyaanku. Aaaand yang pasti sukses terus buat Dani plus semua anggota Blogger Buku Indonesia tercinta. Semoga kita makin kompak & makin punya gigi di dunia literasi Indonesia.

Maju terus BBI!

20130425-200535.jpg

By the way di kegiatan Close Up Interview ini saya diwawancara sama Luthfia alias Lulu.. Hasil wawancaranya bisa dilihat disini.

Cerita Cinta Enrico By Ayu Utami

13454650Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia

Tebal : 244 Halaman

“Selanjutnya hidup bagaikan judi…”

Lebih dari 10 tahun lalu saya mencoba membaca buku Saman karya Ayu Utami. Saya waktu itu baru akan memasuki umur 20 tahunan langsung menyimpulkan bahwa Saman is not my cup of tea. Ketika itu saya versi “remaja-dewasa” merasa sudah tau pasti siapa diri saya, apa yang saya mau dalam hidup, mau kemana langkah kaki saya arahkan.

Lalu kehidupan yang sebenarnya datang. Dan semakin bertambah umur, semakin saya tahu bahwa tidak ada yang pasti di dunia ini. Hidup selalu mendorong manusia untuk selalu berubah. Di suatu titik saya sempat bingung dengan  perubahan diri sendiri dan merasa tidak mengenal orang yang saya lihat dalam kaca. Namun pada akhirnya saya mengerti bahwa memang kita tidak akan pernah tahu. Tidak ada satu hal pun yang pasti dalam hidup.

Saya belajar untuk menenggang. Saya belajar untuk menempatkan diri di banyak sisi sebelum mengambil kesimpulan.

Ini berlaku juga dalam pilihan buku yang ingin saya baca. Saya memutuskan untuk mencoba kembali membaca buku2 yang dulu saya labeli “bukan untuk saya” untuk belajar menemukan keindahan perubahan cara pandang yang dibawa oleh waktu.

Dan kehidupan menjawab maksud saya. Ayu Utami mengeluarkan karya barunya Cerita Cinta Enrico. Saya yang tadinya berfikir untuk memulai dari Saman tiba-tiba merubah pikiran untuk berjalan mundur dari masa kini ke masa lalu. Saya akan memulai dari Cerita Cinta Enrico dan merunut ke karya2 Ayu Utami sebelumnya.

Walaupun orang-orang bilang ini adalah buku yang termasuk ringan untuk karya Ayu Utami, buat saya buku ini adalah kejutan yang menyenangkan. Kenapa?

Pertama karena gaya berceritanya yang unik. Enrico si tokoh utama bercerita tentang bab-bab kehidupannya dengan menggunakan peristiwa2 bersejarah Indonesia sebagai acuan waktu. Gaya ini pernah saya lihat dalam salah satu buku Salman Rushdie dan merupakan sesuatu menyenangkan untuk melihat versi lain gaya ini di Cerita Cinta Enrico.

Kedua karena buku Cerita Cinta Enrico ini merupakan penyeimbang. Penyeimbang dari kisah perjalanan anak Indonesia lainnya yang telah banyak beredar. Kebanyakan kisah perjalan tersebut mengajarkan kemuliaan dalam meraih mimpi, pengorbanan, kecintaan pada keluarga, determinasi, dan sifat2 baik lainnya sehingga sang tokoh berhasil meraih mimpi yang dicita-citakan.

Enrico berkelana ke Bandung dari Sumatra karena ingin bebas. Bebas dari suasana tertekan yang diradiasikan Ibunya. Bebas untuk memilih siapa dirinya. Buat saya keberanian untuk jujur menginginkan kebebasan itulah yang menyeimbangkan. Tidak semua dari kita diberkahi dengan jenis cinta keluarga yang membentuk kita menjadi manusia dengan sifat2 terbaik. Sebagian besar dari kita ingin terbebas dari kungkungan, terlepas dari kenyataan kita mencintai keluarga kita. Itu adalah kenyataan.

Ketiga, kisah Enrico meng-amin-ni, cerita pengalaman saya di awal2 paragraf bahwa manusia akan selalu berubah. Dan jika pada saat ini kita merasa masih belum menemukan diri kita, itu adalah sesuatu yang wajar karena fitrah manusia untuk selalu merubah dirinya. Kalo diibaratkan puzzle, seumur hidup kita akan selalu mengisi kepingan puzzle yang kosong itu, dan keping terakhir akan kita lengkapi di saat hembusan nafas terakhir. Jadi percayalah bahwa tidak ada pilihan yang salah dan jangan pernah merasa terlambat untuk sesuatu. Jalan hidup kita masih bisa berubah selama kita masih bernyawa.

Empat dari lima bintang dari saya untuk buku ini. Selebihnya tentang sinopsis cerita bisa teman2 lihat di goodreads karena apa yang saya tulis di atas lebih banyak muatan curhatnya daripada reviewnya. Hehehe.

Oh iya. Ini posting pertama para Blogger Buku Indonesia untuk tahun 2013. Untuk bulan Januari para anggota BBI memposting review buku hadiah dari event Secret Santa di bulan Desember 2012. Di postingan ini setiap orang harus mencantumkan tebakan siapa Secret Santanya.

Dan Secret Santa saya (hampir 100% yakin) adalah tak lain dan tak bukan Mia Prasetya sang dokter gigi cantik dari bali. Hehehe. Darimana saya tahu? 1. Resinya mencantumkan kode agen pengiriman denpasar; 2. Riddlenya pernah saya baca di buku The Hobbit and BBI’ers bali yang mereview buku itu not so long ago adalah Mia. Hihihihi. Iya kan Mia? ;p

“Orang yang tidak pernah merasa tertekan tak kan bisa menginginkan kebebasan.”

“Aku selalu merasa bahwa perempuan sering jauh lebih tangguh daripada laki-laki. Dan mereka memikirkan kehidupan, bukan kegagahan. Kami, para lelaki, sering melakukan sesuatu demi kegagahan. Tapi kaum perempuan berbuat demi kehidupan. Lelaki sering berbuat untuk egonya sendiri, sedang perempuan berbuat untuk orang lain.”

“Aku kini mahasiswa. Tapi perguruan tinggi telah menjadi peternakan yang membesarkan ayam-ayam leghorn dan broiler saja. Yaitu ayam-ayam palsu, yang tak punya kemauan, tak punya kenakalan, tak punya rasa ingin mencari yang sebenarnya. Ayam-ayam yang diproduksi untuk daging dan telurnya saja. Ayam-ayam yang tak punya karakter, tak punya keunikan individu. Ayam-ayam yang hanya mengangguk-angguk, mematuk2 apapun yang diberikan kepada mereka, sampai kelak Kiamat memotong leher mereka.”

The Time Keeper By Mitch Albom

15041918Penerbit : Hyperion New York

eISBN: 9781401304706

“Man alone measure time

Man alone chimes the hour

And because of this, man alone suffers a paralyzing fear that no other creature endures

A fear of time running out”

6000 tahun yang lalu seorang pria bernama Dor menemukan cara untuk menandai waktu. Sesuatu yang sebelumnya berlalu begitu saja berhasil dikuantifikasi oleh Dor yang memang cukup dikenal karena kepintarannya. Suatu saat seorang raja yang sedang membangun menara maha tinggi untuk mengalahkan para dewa2 meminta bantuan Dor untuk menggunakan peralatan2 temuannya. Dor yang tidak memiliki minat pada ketenaran, kekayaan maupun kekuasaan pun menolaknya. Dor hanya ingin hidup damai dengan istri dan anak2nya.

Sang raja pun murka. Dor dan keluarganya pun diasingkan dari daerah tersebut. Di pengasingan pada suatu saat istri Dor mengidap penyakit mewabah yang cukup parah. Keadaannya semakin memburuk hingga pada suatu hari Dor merasa kalau ajal istrinya semakin dekat.

Didorong oleh rasa putus asa, panik dan kemarahan karena pengetahuan yang ia miliki tidak dapat menyelamatkan istrinya, Dor pun lari menuju menara maha tinggi yang dibangun sang raja. Dor bertekad untuk memanjat menara tersebut hingga ia dapat sampai ke surga. Lalu ia akan memaksa para dewa untuk menghentikan waktu agar ia dapat menyelamatkan istrinya.

Saat Dor sedang memanjat menara tersebut, tiba2 bangunan megah tersebut runtuh secara perlahan2. Manusia2 yang sedang berada di dalam menara pun berjatuhan seperti boneka. Hanya satu orang yang terus bergerak ke atas, Dor. Ketika ia sampai di puncaknya seluruh menara luluh lantak, di saat itu Dor terangkat ke langit, dan tidak seorangpun pernah melihatnya lagi.

Dor kemudian terbangun di sebuah gua. Karena ialah yang pertama kali mengetahui tentang waktu, maka ia ditugaskan oleh Tuhan untuk menjaga penemuannya tersebut. Dor menjadi The Time Keeper. Dalam gua tersebut ia akan hidup abadi dan dapat mendengarkan seluruh permohonan manusia tentang waktu.

“Mankind is connected in ways it does not understand”

6000 tahun kemudian seorang remaja perempuan bernama Sarah Lemon berharap agar waktu dapat berjalan lebih cepat hingga ia dapat segera bertemu dengan pria pujaannya. Di tempat yang lain seorang lelaki bernama Victor Delamonte berharap agar waktu dapat berjalan lebih lambat hingga ia dapat menyembuhkan penyakit kanker yang dideritanya, Victor tidak bisa menerima bahwa ia akan dikalahkan oleh waktu.

Di saat yang sama Dor menerima petunjuk bahwa tugasnya telah hampir selesai. Untuk menutup seluruh perjalannya Dor harus menemukan makna dari waktu. Caranya adalah dengan turun ke bumi dan membantu dua manusia yang sedang memohon untuk dapat melakukan tawar menawar dengan waktu.

Dor pun terlempar ke bumi. Lalu garis Tuhan mempertemukannya dengan Sarah Lemon dan Victor Delamonte. Melalui permasalahan kedua manusia tersebutlah Dor mencoba untuk memahami tujuan perjalannya sendiri. Kenapa ia harus mengalami semua yang ia alami.

“Sitting high above the city, father of time realized that knowing something and understanding it were not the same thing”

Mmmm.. Buat saya buku ini sedikit dibahwa ekspektasi. Mungkin juga karena kesan dari buku2 Mitch Albom lain yang lebih ngena sehingga cerita di buku ini rasanya klise dan datar2 aja. However, I really appreciate how Mitch Albom always try to remind us how important it is what we choose to do in the time that had been given to us. And how sometimes we have to try to view our circumstances from outside our own perspective.

Situation in which we think as the end of the world, might seems silly if we try to see it from other’s eyes.

Anyhow, 3 dari 5 bintang dari saya untuk buku ini.

“A heart weighs more when it splits in two; it crashes in the chest like a broken plane”

“There is a reason God limits our days

Why?

To make each one precious..