The Maze Runner ( The Maze Runner #1 ) By James Dashner

6186357“Shouldn’t someone give a pep talk or something?” Minho asked, pulling Thomas’s attention away from Alby.
“Go ahead,” Newt replied.
Minho nodded and faced the crowd. “Be careful,” he said dryly. “Don’t die.”

Seorang remaja laki-laki bernama Thomas, terbangun dalam sebuah lift dengan tidak satu pun memori dalam ingatannya.

Masih dalam keadaan kebingungan, Thomas mendapati dirinya ditarik keluar oleh segerombolan remaja laki-laki yang menjulukinya “Greenie” alias anak baru.

Ternyata Thomas berada di sebuah tempat bernama Glade. Tempat itu berupa ruang terbuka yang dikelilingi tembok maha tinggi yang menyerupai labirin. Anak-anak remaja yang tinggal disana menyebut dirinya Gladers.

Tempat itu telah ada selama dua tahun. Alby, sang pemimpin dari Gladers, merupakan anak-anak pertama yang dikirim kesana. Setiap bulannya satu anak laki-laki (hanya laki-laki) baru dikirim oleh dalang dari semua “permainan” yang mereka sebut sebagai The Creators.

Semua anak dikirim dalam keadaan tanpa ingatan kecuali nama mereka.

Semenjak terbangun di tempat tersebut, Alby dan kawan-kawan telah berusaha untuk membangun komunitas dengan peran-peran tertentu untuk setiap anak agar komunitas mereka sustain dan dapat bertahan. Ada yang berperan sebagai petani, peternak, tenaga kesehatan, tukang masak, pembangun, dan salah satu peran terpenting adalah sebagai “runners” alias pelari.

Rupanya setiap siang hari terdapat celah pintu masuk ke labirin yang selalu terbuka, pintu tersebut akan tertutup pada waktu yang selalu sama menjelang malam. Tugas para runners adalah menelusuri labirin dan mencoba mencari jalan keluar. Tidak ada anak yang boleh masuk ke dalam labirin kecuali para runners. Mereka harus kembali sebelum pintu tertutup. Jika tidak, mereka akan (hampir pasti) terbunuh oleh mahluk monster setengah mesin setengah binatang yang mereka namakan “Grievers”.

Grievers digambarkan sebagai mahluk dengan banyak tangan yang sebagian berupa senjata maupun suntikan (iya! Suntikan) yang bergerak dengan cara menggulung tubuhnya seperti bola dan menggeludung dengan bunyi yang keras dan mengerikan.

Baju, peralatan-peralatan dan juga serum penyembuh (jika tersengat grievers) dikirimkan oleh para Creators melalui lift.

Alby kemudian menugaskan seorang anak bernama Chuck untuk membantu Thomas beradaptasi. Chuck merupakan anak baru sebelum Thomas datang yang ternyata menawarkan persabahatan kepada Thomas.

Keadaan mulai kacau ketika sehari setelah Thomas datang, para Creators mengirimkan anak lain ke dalam Glade. Ini belum pernah terjadi. Ditambah lagi anak yang dikirim ternyata adalah seorang anak perempuan dalam keadaan koma dengan sepotong kertas dalam genggaman tangannya yang bertuliskan “She’s the last one”.

Setelah itu peristiwa menegangkan satu persatu mulai terjadi. Percobaan pembunuhan terhadap Thomas, terjebaknya Thomas, Alby dan Minho (pemimpin para runners) di dalam labirin. Terbunuhnya Grievers untuk pertama kalinya dalam sejarah Glade. Terhentinya malam dan siang. Ter-trigger nya ending dari Glade. Dan yang paling mengejutkan yaitu peran Thomas dalam keseluruhan permainan.

Thing are definitely changing at The Glade.

Mampukah mereka memecahkan teka teki dari labirin? Mampukah mereka keluar?

Dan orang gila macam apa yang tega menaruh anak-anak remaja dalam eksperimen hidup dan mati?

“If you ain’t scared… you ain’t human.”

Kesan yang diterima oleh saya, buku ini adalah campuran dari buku Lord of the Flies nya William Golding, buku The Hunger Games, dan juga film Saw. Hehehe. Seru!! Awal-awalnya saya agak sulit mengikuti cerita karena istilah-istilah gaul yang digunakan anak-anak Gladers.

Namun melewati 30% dari buku saya susaaaaaaaaaaaah banget ngerem baca. Thrill nya itu loh. Ditambah lagi endingnya yang bikin gerabakan cari buku seri selanjutnya.

Haaaaaaa.. Sangat direkomendasikan..

Dan ngeri juga ya kalo menilik cerita dystopia yang selalu berawal dari kondisi post-apocalypse. Seperti sebuah penerawangan atas masa depan bumi kita ini. Hancurnya peradaban selalu dituliskan sebagai sebuah kepastian.

Alkisah habis baca buku ini saya langsung nonton filmnya. Hhhmmmmm saya ngga begitu suka filmnya. Terlalu banyak disimpangkan jadi “lack of reason”.

Baca bukunya aja yaaaaaaaa…. Hihihihi…

5 dari 5 bintang untuk buku ini.