Sebelas Patriot By Andrea Hirata

Penerbit : Bentang Pustaka

Tebal : 101 Halaman

Cinta sepak bola adalah cinta buta yang paling menyenangkan” (Hal 88)

Ungkapan ini sungguh membawa saya ke masa-masa dimana saya menjadi penggila bola, saat kelas 1 SMA, setelah piala dunia 1998. Saya dan temen-temen satu geng bahkan masuk ke ekskul bola di sebagai manager recok. Kami mati-matian menjadi suporter tim kelas, walaupun kalah, tapi rasanya tim kelas kami tetap yang terhebat. Cinta sepakbola memang cinta buta.

Back to the book, membaca novel terbaru Andrea Hirata ini membuat saya pada beberapa bagian tertawa geli dan pada beberapa bagian lain sangat terharu. Masih bercerita tentang salah satu chapter dalam kehidupan ikal, kali ini Andrea bercerita tentang bagaimana asal muasalnya ikal pada suatu waktu bercita-cita menjadi seorang pemain sepak bola.

Berawal dari selembar foto kuno yang ditemukan ikal di salah satu album di rumahnya. Ikal kemudian mengetahui bahwa pada suatu masa Ayahnya pernah menjadi penjuang sepak bola yang melegenda di kampungnya. Ketika berumur 13 tahun Ayah ikal dan kedua kakaknya dipaksa untuk bekerja rodi menjadi penambang timah oleh penjajah Belanda.

Para penjajah tersebut selalu mengadakan turnamen olah raga dalam rangka memperingati hari kelahiran Ratu Belanda. Namun dalam setiap cabang olah raga, tim Belanda selalu harus menang. Kecuali pada suatu kesempatan ketika Ayah ikal dan kedua kakaknya melakukan perlawanan lewat sepak bola, walaupun sebagai ganjarannya tempurung lutut kiri Ayah ikal hancur.

Kisah itu menginspirasi ikal untuk menjadi pemain PSSI. Ikal pun bergabung dengan tim sepak bola kampung yang dipimpin oleh Pelatih Toharun. Pelatih legendaris kampung yang hanya menganut dua filosofi sederhana, yaitu filosofi buah-buahan dan kedua, dia percaya bahwa kualitas seorang pemain sepak bola dapat dilihat dari bentuk pantatnya ^_^

Dari novel-novel Andre Hirata sebelum ini, bagian favorit yang selalu membuat saya terharu adalah hubungan Ayah – anak antara ikal dan ayahnya. Masih terbayang-bayang di ingatan saya ketika ikal menceritakan bahwa mereka harus berkeliling kampung memakai baju safari di Sang Pemimpi, atau ketika ayahnya menyetrika baju baik-baik dalam rangka menyambut hari pembagian rapot. Sungguh kisah-kisah yang meninggalkan kesan mendalam.

Ikal selalu menggambarkan Ayahnya sebagai sosok pendiam yang bersahaja. Saya sangat senang di buku ini saya bisa mengetahui lebih banyak tentang Ayah ikal, sosok misterius itu. Novel Andrea Hirata berikutnya konon berjudul “Ayah”, mudah-mudahan bercerita lebih banyak tentang sosok Ayah ikal.

Setelah bercerita tentang mengapa ikal pada suatu masa ingin menjadi seorang pemain PSSI (sebelum berlanjut ke bulutangkis), Andrea juga bercerita tentang hipotesisnya mengapa pada saat ini banyak wanita penggila bola di dunia, termasuk salah satunya Adriana yang ia temui dalam perjalanan backpacking ke eropa.

Kurenungkan sebentar, bahwa cinta bagi perempuan adalah dedikasi dalam waktu yang lama, tuntutan yang tak ada habis-habisnya sepanjang hayat, dan semua pengorbanan itu tak jarang berakhir dengan suatu kekecewaan yang besar. Demikian kesimpulanku atas jawaban Adriana. Bagi perempuan ini, mencintai sepakbola adalah seluruh antitesis dari mencintai manusia. Sungguh mengesankan.”

Hanya satu kekurangan dalam buku ini, ceritanya kurang banyak, hehe. Saat menutup buku membuat saya berfikir, c’mon tell me more!! ^_^

Walaupun memang sebagian besar membicarakan tentang sepak bola, isi buku ini bukan semata-mata tentang sepak bola. Kesan yang saya tangkap dari buku ini adalah cinta dan hubungan ayah dan anak yang indah, membuat terenyuh sekaligus iri. Hehe.

Prestasi tertinggi seseorang, medali emasnya, adalah jiwa besarnya.

Nasihat Ayah ikal kepada ikal saat kalah dalam pertandingan sepak bola.

Negeri 5 Menara By A.Fuadi

Reviewed on : July 18th 2010

“Ada dua hal yang paling penting dalam mempersiapkan diri untuk sukses, yaitu going the extra miles. Tidak menyerah dengan rata-rata. Kalau orang belajar 2 jam, dia akan belajar 5 jam. Kalau orang berlari 2 kilo, dia akan berlari 3 kilo.

Resep lainnya adalah tidak pernah mengizinkan diri kalian dipengaruhi oleh unsur diluar diri kalian. Oleh siapapun, apapun dan suasana bagaiamana pun. Artinya jangan mau sedih, marah, kecewa dan takut karena ada factor dari luar. Kalianlah yang berkuasa terhadap diri kalian sendiri, jangan serahkan kekuasaan kepada orang lain. Orang boleh menodong senapan, tapi kalian punya pilihan untuk takut atau tetap tegar. Kalian punya pilihan di lapisan diri kalian yang paling dalam, dan itu tidak ada hubungannya dengan pengaruh luar.”

(Negeri 5 Menara)

2 paragraf dari 405 halaman buku ini sudah cukup untuk membuat saya memasukannya dalam kategori Worth To Read.

Modoc By Ralph Helfer

Reviewed on : June 29th 2009

Saya membeli buku ini di tahun 2007. Sampai saat ini saya sudah membacanya dua kali dan selalu berakhir termehek-mehek, hehe. Buku terbitan Elex Media Komputindo yang bertebal 418 halaman ini ditulis berdasarkan kisah nyata dan sungguh mampu untuk mengetuk mata hati.

Buku ini bercerita tentang persahabatan anak manusia bernama Bram dan seekor gajah bernama Modoc. Mereka lahir di hari dan jam yang sama, dan takdir mereka pun kemudian bertalian seumur hidup. Bram adalah anak dari seorang pelatih gajah di kelompok sirkus.

Petualangan mereka dimulai dari bangkrutnya pemilik sirkus sehingga sirkus itu dan segala isinya harus dijual termasuk Modoc. Dari titik itu Bram senantiasa berusaha mati-matian untuk berada di dekat Modoc, dan keputusan itu membawanya ke peristiwa-peristiwa luar biasa. Mengapung di lautan bersama Modoc karena kapal yang mereka tumpangi karam, terjebak di tengah konflik militer di pedalaman India, hingga akhirnya bersama-sama menghadapi masa tua. Tentu saja cerita ini juga dilengkapi dengan kisah percintaan. Tapi kisah yang terjadi sangat realistis dan dewasa (menurut saya loh) sehingga menambah dalamnya cerita.

Mungkin banyak pembaca akan menyangsikan betapa pintarnya Modoc, sang gajah yang menjadi tokoh utama dalam cerita ini. Namun gajah memang binatang pintar yang punya ingatan panjang. Silahkan dibaca literature yang bertebaran di jagat maya tentang gajah.

Buku ini sangat menyentuh. Apalagi kalau pembaca pernah merasakan punya binatang peliharaan. Pasti ikut gemes ketika sampai di bagian Modoc diperlakukan dengan kejam dan ikut termehek-mehek ketika Bram dan Modoc harus menghadapi kematian.

Saya sangat merekomendasikan buku ini untuk dibaca. Terutama ketika anda sedang marasa sumpek dengan rutinitas hidup. Buku ini bias jadi embun penyegar yang membuat hati anda fresh lagi.

Three Cups Of Tea By Greg Mortenson and Oliver Relin

Reviewed on : February 4th 2009

Buku yang ditulis oleh Greg Mortenson dan David Oliver Relin setebal 626 halaman terbitan mizan ini bercerita tentang kisah nyata seorang Greg Mortenson yang berjuang untuk memberikan pendidikan bagi anak-anak muslim di Pakistan dan Afganistan.

Berawal dari upaya pendakian gunung yang tidak berhasil, Greg akhirnya tersesat ke suatu desa kecil bernama Korphe dan disanalah dia menemukan jalan hidupnya.

Berawal dari keprihatinan beliau melihat anak-anak desa korphe belajar dengan khidmat di ruangan terbuka, di tengah cuaca yang dingin menggigit, Greg Mortenson berjanji pada dirinya sendiri bahwa suatu saat dia akan kembali ke desa itu dan mendirikan sekolah yang layak bagi anak-anak disana.

Greg Mortenson memberikan contoh bagaimana seorang individu dapat membuat perbedaan yang begitu besar bagi kehidupan apabila memiliki tekad yang kuat, dimana apabila kita sudah menemukan suatu tujuan, maka jangan berhenti berbuat sampai tujuan itu tercapai.

Sangat sulit untuk tetap berfokus pada suatu titik, terkadang terlalu banyak hal yang membuat kita berbelok ke kiri dan ke kanan sebelum menemukan jalan lurus ke arah tujuan kita. Namun tidak demikian halnya untuk seorang Greg Mortenson. Diawali dengan pencarian dana secara mandiri, dengan 580 surat permohonan dana untuk mendirikan sekolah di Korphe, beliau berakhir sebagai direktur sebuah lembaga kemanusiaan bernama Central Asia Institute (CAI) dan berhasil membangun kurang lebih 78 sekolah di area-area paling remote pedalaman pakistan dan afganistan.

Di saat semua orang hanya sibuk beretorika dan menuangkan janji-janji, Greg benar-benar melakukan sesuatu dan menciptakan keajaiban bagi ratusan anak-anak yang membutuhkan pendidikan karena beliau beranggapan pendidikan adalah modal terbesar yang bisa diberikan kepada seseorang. Dengan pendidikan, manusia akan memiliki pilihan akan apa yang mungkin dia lakukan dengan hidupnya.

Buku ini sangat memberikan inspirasi dan akan membuat kita merasa malu pada diri sendiri dan bertanya-tanya apa yang yang telah kita lakukan dalam hidup. Perbedaan apa yang bisa kita berikan di semasa hidup kita, ataukah kita hanya akan menjadi suatu mahluk yang hanya numpang lewat dalam kehidupan.

Please read this book, and you’ll see what a single individual could achieve not for himself but for many other people. Bravo Greg Mortenson !!!