Jakarta Sebelum Pagi By Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

“Ini alasan kenapa dongeng dan happy ever after cuma terjadi di zaman dahulu kala : masa kini ngga memberi tempat bagi mereka untuk terjadi. Ini masalah orang-orang jaman sekarang-ngga terbatas, tapi terutama orang-orang yang tinggal di ibukota dan sudah belajar untuk bersikap skeptis dan always keep their guards up. They always keep their guards up.”

I love absurdities. And this book is full of absurd conversation. Bikin cekikikan sendiri deh.

34311766Rasanya pengen banget ketemu dan menjadi teman tokoh-tokoh di buku Jakarta Sebelum Pagi ini, my kind of people, hehe. Tokoh utamanya adalah seorang perempuan muda berumur 20-an bernama Emina (tapi kalo bertemu dengan orang arab Emina akan memperkenalkan dirinya sebagai Aminah, konon ;p)

Here’s some things I love about Emina, kalo di buku-buku Indonesia kebanyakan, tokoh perempuan usia 20-an 30-an digambarkan sebagai karakter yang trendi, smart, sophisticated dan sukses. Makan atau traveling ke tempat-tempat keren, memakai barang-barang keren itu kayaknya hal yang biasa banget. Those books or characters are not my cup of tea, not real enough. I couldn’t relate to their lives. Beda dengan Emina.

  • Emina ini adalah everyday people, common people yang mungkin aja berada dalam satu bis transjakarta dengan saya ;p
  • Emina masih meniti karir, merasa dirinya sebagai kacung kantoran (dimana sebagian besar dari kita adalah betul merupakan kacung kantoran) yang pekerjaannya ngga banget.
  • Emina memang tinggal di apartemen, tetapi dia tinggal disana karena kedua orang tuanya telah meninggal karena kecelakaan lalu lintas. Kedua orang tua Emina mewariskan sebuah rumah yang kemudian ia tukar dengan apartemen tempatnya tinggal sekarang.
  • Emina masih mempunyai sepasang nenek kakek plus adik perempuan kakeknya yang tinggal bersama di satu rumah yang ia beri julukan Rumah Para Jompo.
  • Emina is a very quirky person. Gokil kalo istilah generasi 90-an mungkin yah.

Para jomponya Emina mempunyai seorang tetangga (kakek-kakek yang juga jompo) bule yang mereka panggil Pak Meneer. Jika berkunjung ke rumah para jompo Emina biasanya mampir ke rumah Pak Meneer untuk sekedar mengobrol atau meminjam buku koleksi Pak Meneer (bahkan kadang dipaksa meminjam buku oleh Pak Meneer ;p).

Pak Meneer adalah kakek-kakek bule kece. Nin (adik perempuan kakeknya Emina) naksir berat kepadanya. Dan aku mendukung kisah cinta Nin karena satu alasan : kalau mereka kawin beneran, Nin akan dipanggil Nyonya Meneer ;p”

Cerita bermulai ketika Emina menemukan sebuah balon perak dengan sebatang bunga Hyacinth terikat di talinya di balkon apartemen. Di batang bunga tersebut tertulis namanya, Emina.

Emina kemudian menceritakan penemuannya kepada Nissa, seorang teman(kerja)nya, perempuan yang suka mengibaskan jilbab dan meninggalkan noda lipstick di giginya sendiri.

Emina memiliki hipotesa kalo balon itu diterbangkan oleh orang yang tinggal di unit satu lantai di bawah unit apartemennya. Emina ingin mencaritau siapa orang tersebut.

Ketika di weekend selanjutnya Emina mengunjungi rumah para jompo dan mampir ke rumah Pak Meneer, Emina melihat Bunga Hyacinth menghiasi rumah Pak Meneer. Bunga Hyacinth bukan merupakan bunga yang secara alami tumbuh di Indonesia. Emina pun menjadi curiga. Ketika Emina bertanya, Pak Meneer menjawab bahwa bunga itu adalah pemberian cucunya. Pak Meneer memang mempunyai seorang cucu laki-laki, Emina pernah sekali melihat cucu Pak Meneer dari jendela ketika ia masih kecil. Apakah mungkin cucu Pak Meneer yang mengirimkan ia bunga?

Emina memulai penyelidikan(amatir)nya dengan mendatangi toko bunga di apartemennya, siapa tau ada yang membeli bibit bunga Hyacinth akhir-akhir ini. Dari kunjungan itu Emina berkenalan dengan seorang anak perempuan nyeleneh nyrempet creepy yang memiliki rambut bak iklan shampo, Suki namanya. Dari Suki Emina berkenalan dengan Abel, cucu Pak Meneer (ternyata hipotesis Emina benar) yang memiliki phobia (yang parah) terhadap suara dan sentuhan.

“Aku menggigit bibir dan merasa malu. Suki dan Nisa memang benar. Kalau ini Silence of the Lambs, aku adalah mbak-mbak kurang cerdas yang dengan sukarela turun ke sumur.”

Emina lagi-lagi menerima sebuah balon perak berikut bunga Hyacinth lagi di balkon apartemennya. Kali ini kiriman balon dilengkapi dengan sebuah surat cinta.

Surat yang dikirimkan Abel (sang tersangka stalker) ternyata berasal dari potongan halaman kosong dari buku2 milik Pak Meneer. Di awal surat-surat tersebut (Abel memiliki banyak sampel surat-surat yang ia sobek dari buku2 kakeknya) selalu ada tulisan BAR sebagai misteri tambahan. Siapakah penulis surat-surat tersebut? Siapakah BAR? Dari surat-surat tersebut Emina dan Abel yang mempunyai chemistry bak wi-fi super kenceng kemudian menelusuri tempat-tempat di Jakarta untuk mencari hubungan antara masa lalu dan masa kini sambil berusaha melompati tembok mereka masing-masing.

jsp1Waktu pertama kali buku ini terbit saya mengurungkan niat untuk membelinya karena design cover yang terlalu mirip dengan I’ll give you the Sun nya Jandy Nelson, jadi ilfeel aja. Hehe. Untungnya dicetak ulang dengan cover baru dan ternyata bukunya baguus, karakternya juara, terutama Emina dan Suki. Plus buku ini dilengkapi dengan ilustrasi2 keren dan sedikit banyak bikin saya penasaran dengan sejarah spot-spot tertentu di Jakarta.

I love this book. Dibaca kedua kalinya pun sama sekali ngga bikin bosen. Percakapannya yang hiperbolis dan kental dengan sarkasme tapi bisa bikin cengar cengir sendiri di depan umum (saya literary ketawa sendiri di antrian Transjakarta ;p). Menghibur banget bisa baca cerita yang berbeda seperti Jakarta Sebelum Pagi. 5 bintang dari saya.

Here’s some of my favorites quotes from this book :

 “Bottom line, life goes on, aku menyimpulkan, dan dia mengangguk. Untuk menghancurkan suasana, aku menambahkan, What doesn’t kill you, makes you Darth Vader ;p”

“Bukannya aku tahu mau bekerja dimana, dan sebagai apa. Aku melanjutkan sekolah, masuk kuliah dan diburu-buru kerja. Setelah masuk kerja, merasa tersesat karena ini bukan pekerjaan yang kuinginkan. Tapi, kalau aku mau berhenti sebentar untuk memikirkan apa yang kuinginkan, orang-orang akan berlari melewatiku dan bersikap meremehkan. Ngga menyadari bahwa mereka hanya anggota dari kelompok orang-orang yang ngga berpikir.

Ditambah lagi, begitu masuk kerja, kita sadar kalau uang itu sulit didapat dan kita membutuhkannya; dan berhenti untuk berpikir akan membuat kita kehilangan kesempatan untuk mendapatkannya. Jadi kita terus bekerja di tempat yang sama.

Kurasa ini masalah yang umum dihadapi, tapi agak menakutkan menyadari bahwa aku juga harus menghadapinya. Semua orang takut miskin dan takut dipandang rendah. Tapi, kurasa, melihat Suki yang menekuni teh dengan begitu semangat, kurasa aku lebih takut jadi orang yang ngga tau apa yang disukai. Lebih takut jadi bagian dari orang-orang yang bahkan ngga memikirkan apa yang membuat mereka bahagia.”

“Kami berjalan berdampingan, tapi aku menjaga jarak setengah lencang kanan supaya terhindar dari accidental homicide terhadap penderita sentuhanfobia.”

“Semua orang mengalami tragedi dalam hidupnya. Nggak semuanya besar menurut orang, tapi semuanya besar bagi yang mengalami.”

“You’re damaged too. But that’s what makes you special. Some things are better damaged.”

“Pak Meneer berdehem dan menunduk sekilas sebelum memandangku lagi. Kumisnya bergerak-gerak, mengacaukan konsentrasiku. Kumisnya agak mirip ikan tongkol ;p”

Di Tanah Lada By Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

27213435Ya Gustiii.. Ini cerita sedih banget yak! Dan kenapa pula saya suka sama cerita-cerita sedih macem gini.

Maaf reviewnya dibuka seperti ini karena saya sesungguhnya masih baper.

Kenyataan memang seringkali jauh dari indahnya cerita dalam dongeng. Namun di mata seorang anak 6 tahun seperti Ava, anak perempuan yang menjadi tokoh utama dalam cerita ini, bisa jadi kepahitan dan kegetiran tersebut diceritakan sebagai kondisi biasa. Hal itulah yang membuat membaca buku ini membawa efek geram.

Ava memiliki sepasang Papa dan Mama. Papanya suka marah-marah dan memukul Mamanya. Bagi Ava, Papanya itu menakutkan seperti hantu. Ava berasumsi semua Papa itu jahat. Asumsi Ava bertambah kuat ketika ia bersama orang tuanya harus pindah ke sebuah Rusun bersama Rusun Nero. Papanya membawa mereka pindah kesana karena baru menerima warisan dan ingin tinggal lebih dekat ke tempat perjudian.

Di sana Ava bertemu dengan seorang anak lelaki berumur 10 tahun yang bernama P (iya namanya hanya huruf P) yang juga tinggal di Rusun Nero. Pertemuan mereka terjadi di warung makan, Ava-seorang anak berumur 6 tahun diberi uang dan disuruh mencari makan sendiri di luar oleh Papanya. Ava yang memesan ayam goreng kebingungan karena ia belum bisa makan ayam goreng sendiri. Di saat itulah P yang juga sedang ada di warung makan membantu dengan menyuapi Ava makan.

P lalu mengantar Ava kembali ke unitnya, apa cerita unitnya terkunci, Papa dan Mamanya pergi keluar tanpa membawa atau mencari Ava dan menguncinya di luar. Mulai geram? Saya sih di bagian ini sudah mulai geram. Dari narasi-narasi Ava & P berikutnya kita jadi tahu kalo ternyata Papa P juga jahat dan sering memukulnya. Ava dan P lalu menyimpulkan bahwa semua Papa di dunia ini jahat. Beruntung P mempunyai teman di Rusun yaitu Mas Alri dan Kak Suri.

Bagaimana dengan Mama Ava? Mama Ava sesungguhnya bukan orang yang jahat. Mama Ava hanya teramat sangat takut kepada Papa Ava. Mama Ava, ketika sibuk dengan perasaannya sendiri kadang melupakan keberadaan Ava. Menurut P sih mamanya Ava juga jahat, namun jahat yang berbeda dengan Papa Ava. Bagaimana menurut saya? Menurut saya Mamanya Ava bisa berusaha lebih baik kalau dia mau. Tapi dia tidak berusaha, dan disitulah letak permasalahannya. Disitulah Ava menerima collateral damage dari kekacauan kedua orang tuanya.

P tidak punya Mama. Mama P meninggalkan P dengan papanya ketika ia masih bayi. P dibesarkan oleh Papanya. Di usia yang 10 ini Papa P juga sudah tidak ambil pusing akan keberadaan P, bahkan cenderung marah besar yang berujung pada kekerasan jika ia melihat P. P tidak punya kasur, ia tidur di dalam kotak kardus besar di dalam unit Papanya.

Sudah geram? Di bagian ini saya sudah mulai ingin menangis, tapi saya tidak bisa berhenti membaca buku ini. Saya khawatir dengan Ava dan P.

Alur cerita berakselerasi ketika Papa dan Mama Ava bertengkar dan Papa Ava mencoba mengurung Ava di dalam koper besar, terjadi keributan hebat di unit Rusun mereka, para tetangga akhirnya ikut campur, Mama Ava membawa Ava kabur dan menginap di Hotel. Tapi kondisi tersebut tidak menghalangi Ava dan P untuk bermain bersama.

Suatu ketika Ibu Ava ketiduran dan tidak awas akan keberadaan Ava. Ava berakhir di Rusun lagi karena ia sangat suka bermain dengan P. Namun sialnya ketika Ava dan P sedang bermain di Unit P, Papa P datang. Ava yang sedang menengok kardus tempat P tidur ketakutan. P mencoba melindungi Ava dengan menyembunyikannya dalam kardus, Ava yang mendengar suara pukulan2 mengerikan akhirnya berteriak keluar dari kardus sambil memukul Papa P dengan gitar. Ternyata P dipukul di bagian tangan oleh Ayahnya dengan menggunakan setrika panas.

Dari titik inilah kisah pelarian Ava dan P bermulai. Dari titik ini kita bisa melihat upaya setengah-setengah orang dewasa untuk membantu sepasang anak berusia 6 dan 10 tahun dan dibuat geram karenanya.

Ava adalah seorang anak perempuan pintar yang selalu membawa kamus kemana-mana untuk melihat arti kata-kata yang ia dengar. P adalah seorang anak laki-laki yang kuat namun lembut hatinya walaupun kehidupannya sangat sulit.  Mereka berdua percaya bahwa hanya melalui reinkarnasi mereka bisa hidup bahagia walaupun mereka hanya punya ide samar-samar tentang bahagia. Ava ingin menjadi penguin di kehidupan selanjutnya. P ingin menjadi badak bercula satu.

Mereka tidak sepantasnya menjalani semua yang mereka jalani.

Mereka seharusnya mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Mereka seharusnya bisa percaya bahwa di kehidupan ini mereka bisa bahagia.

Mereka seharusnya tahu bahwa tidak semua Papa jahat dan tidak semua Mama tidak berdaya.

Para orang dewasa seharusnya bisa berbuat lebih dari ini.

Hidup ini tidak adil. Saya benci bahwa terkadang hidup ini tidak adil bahkan terhadap anak kecil sekalipun.

Suatu waktu saya pergi ke pusat perbelanjaan Grosir di Jakarta, di bilik kamar mandi saya mendengar kemarahan seorang Ibu kepada anak perempuannya hanya karena anak perempuannya secara tidak sengaja menyiram baju Ibunya dengan air. Kata-kata kasar Ibunya masih terngiang2 dengan jelas di ingatan saya “Anjing kamu! Baju Mama jadi basah, dasar anak ngga ada guna, Anjing!” lalu saya mendengar suara pukulan, kemudian suara anak perempuan menangis.

Darah saya mengalir cepat ke kepala, tangan saya terasa dingin, saya buru-buru membereskan baju dan keluar bilik kamar mandi, ketika saya keluar bilik sang Ibu sudah bergerak menyeret tangan anaknya keluar dengan terburu-buru. Anak itu menoleh ke belakang, matanya yang menangis menatap mata saya.

Mereka bertemu seorang laki-laki yang mungkin ayahnya lalu berjalan menjauh. Saya mematung, tangan saya masih terasa beku.

Saya bersalah karena tidak bisa melakukan apa-apa. Saya seharusnya bisa berbuat lebih baik dari sekedar mematung.

Buku ini terasa seperti momen itu.

Hidup ini tidak adil.

5 dari 5 bintang dari saya untuk buku ini.

Mata Air Kumari By Yudhi Herwibowo

20130530-122227.jpg

Penerbit : Bukukatta
Tebal : 136 Halaman

Peringatan : Kalo anda gampang gentar jangan coba-coba membaca cerpen ini malam-malam sendirian, hehe. Nanti nasibnya seperti saya yang merinding sendiri di dalam gerbong kereta sepi malam hari begitu sampai ke cerita tentang Ana Bakka! Hiiiiiii.

Kayaknya baru kali ini deh saya memberi 5 bintang pada buku kumpulan cerpen. Terlebih lagi kumpulan cerpen Indonesia. Mungkin memang cerita-cerita pendek di buku ini selera saya banget. Yang jelas begitu nutup buku langsung tertegun saking dibuat merindingnya oleh beberapa cerita di buku ini.

Secara keseluruhan terdapat 14 kisah dalam kumpulan cerpen ini. Genre setiap cerpen adalah campuran misteri, horror, dan magic realisme. Beberapa subjek cerita sudah kita jumpai dalam beberapa buku Yudhi Herwibowo yang lain seperti cerita tentang Kitta Kadafaru dan cerita tentang para Tiku (gerombolan perampok).

Ada beberapa cerita yang ingin saya highlight dari koleksi ini. Beberapa cerita yang menurut saya paling istimewa dan nendang banget, hehe. Berikut top five stories dari keempatbelas koleksi yang ada:

5. Bayi Baboa
Kisah ini adalah tentang seorang dokter wanita bernama Linda Dethan yang berpraktek di sebuah kota kecil bernama Rimolaka, sekitar 50 km sebelah utara kota Ende, Nusa Tenggara Timur.

Suatu ketika selesai praktek di kliniknya, dalam perjalanan pulang Linda di hentikan oleh seorang wanita yang menduga anaknya digigit ular. Ia pun segera mengikuti wanita yang ternyata bernama Magdalena itu.

Bayinya ternyata tidak apa-apa. Magdalena rupanya panik karena melihat dengan mata kepala sendiri ada ular baboa di dalam tempat tidur bayinya. Setelah ia berteriak ular itu pun pergi ke arah jendela dan Magdalena pergi mencari dokter.

Selang beberapa hari berlalu, Magdalena tiba-tiba datang ke tempat praktek Linda. Ia terlihat galau karena ular baboa itu muncul lagi di samping bayinya. Magdalena galau justru karena ular itu tidak mengigit bayinya. Dia khawatir bahwa bayinya adalah jelmaan setang (setan)!

Rupanya terdapat kepercayaan bahwa bila bayi baru lahir didatangi ular baboa, ia akan menjadi anak yang jahat dan durhaka pada orang tua. Ini bukan kejadian pertama, dan kejadian-kejadian sebelumnya selalu berakhir dengan Sang Ibu dengan tega membuang bayinya sendiri.

Sebagai dokter bagaimana Linda akan bersikap? Adakah itu hanya cerita karangan masyarakat setempat saja?

4. Dua Mata Perak
Dua mata perak adalah cerita tentang seorang wanita tuna susila yang tinggal berdua bersama anak perempuannya yang berumur 6 tahun, Aritha.

Aritha terlahir terlahir dengan dua mata perak yang membuatnya tidak dapat melihat. Terlepas dari hal itu, Aritha tumbuh menjadi anak yang kuat.

Namun ntah kenapa perempuan itu merasa Aritha belakangan ini banyak melakukan perlawanan diam terhadap dirinya. Aritha yang tadinya tidak pernah keberatan pada kenyataan ia banyak membawa lelaki ke rumah akhir2 ini menghatuinya dengan kedua mata perak itu.

Perempuan itu merasa takut kepada pandangan mata anaknya. Di kedua mata perak itu ia seolah-olah melihat bayangan kematian.

3. Anak Nemang Kawi
Cerita ini berlatar belakang di papua. Dengan tokoh seorang anak lelaki berumur 12 tahun yang mencoba membuktikan kepada teman-temannya bahwa ia juga adalah seorang anak yang pemberani, walaupun dengan perbuatannya itu ia telah melanggar larangan Ibunya.

Apa bentuk tantangan yang harus ia lalui itu?

Ia hanya harus mendaki bukit bernama Anak Nemang Kawi. Pada ajakan pertama ia menolak teman2nya karena ingat pada peringatan sang Ibu : Anak Nemang Kawi adalah tempat yang berbahaya, banyak orang jahat disana. Anak Nemang Kawi menurut Ibunya adalah tempat orang-orang mati.

Penolakan atas tantangan teman-temannya membuat ia diejek-ejek sebagai anak penakut dan pengecut. Oleh karena itu ia sekarang akan membuktikan keberaniannya dengan mendaki bukit itu sendirian, walaupun hati kecilnya tetap memperingati bahwa tindakannya salah. Ia bukan seorang pengecut.

2. Keris Kyai Setan Kober
Pernahkah terpikir oleh anda bahwa sebuah keris bisa memiliki ambisi?

Ya, ia adalah sebuah keris yang diciptakan seorang empu sakti dengan kemampuan terakhirnya. Ia ditempa dengan mantra-mantra sakti, ditemani dengan bayang-bayang gelap dan suara-suara bisikan dan gelak tawa yang licik.

Terbentuk sempurna dengan wilah 13 lekukan, sang keris pun tercipta sempurna dengan dilingkupi oleh bayang-bayang gelap dan dingin.

Lama terlupakan, keris itu haus akan petualangan. Ambisi untuk membuktikan kehebatannya semakin memuncak karena ejekan-ejekan dari bayang-bayang gelap yang menyelimutinya. Ia marah, dan mencari tuan yang layak untuk memilikinya.

1. Ana Bakka
Rombongan dokter muda dari Dinas Kesehatan Provinsi mendapatkan tugas untuk mengunjungi Desa Mafat-to, tiga jam dari Kota Kupang.

Salah satu dari rombongan itu adalah seorang dokter perempuan bernama Winda. Mereka memilki misi untuk melaksanakan survey perihal busung lapar.

Di tengah pelaksanaan survey Winda terhenyak melihat seorang anak perempuan yang terduduk di tanah. Kaki anak itu dipasung dengan kayu besar dari pohon kelapa.

Tanpa memperdulikan peringatan dari warga bahwa anak perempuan itu gila, Winda nekat mendekatinya. Ana Bakka, anak perempuan itu terlihat tak berdaya dan mengenaskan.

Terlepas dari cerita absurd penduduk desa bahwa Ana telah membunuh Ibunya sendiri, bahwa fam Bakka adalah fam jahat dan semua leluhurnya merupakan orang tidak baik. Winda bertekad harus menyelamatkan anak perempuan malang itu, Ana Bakka.

PS : Postingan juga dibuat dalam rangka posting bareng Blogger Buku Indonesia edisi bulan Mei 2013 untuk kategori kumpulan cerita 🙂

Miracle Journey By Yudhi Herwibowo

20130517-064014.jpgPenerbit : Elex Media Komputindo
Tebal : 172 Halaman

Lalu apa yang bisa engkau ceritakan tentang jejak-jejak yang terlihat di jalan setapak, dan pelan-pelan hilang tersapu angin? Sebagai pengingat kita untuk tak lagi melihat ke belakang?

Saya pernah membuat review buku Perjalanan Menuju Cahaya dimana di dalam ceritanya terdapat legenda tentang Kitta Kadafaru dari desa Kofa. Desa Kofa yang indah dan memiliki empat mata air semenjak Kitta lahir. Kitta yang dapat menyembuhkan orang lain dengan cahaya yang ada di telapak tangannya.

Lalu suatu hari Kitta Kadafaru muda meninggalkan Kofa, dan mulai saat itu Kofa kembali menjadi desa yang gersang seperti desa-desa sekitarnya.

Kitta Kadafaru merasa perlu mencari jawaban tentang kegelisahan yang menggumpal di hatinya. Tentang beban yang ia rasakan karena fisiknya yang memiliki kekurangan, tentang hal2 yang bisa ia lakukan sehingga membuatnya dianggap sakti oleh penduduk desanya.

Kitta Kadafaru, pemuda dengan punuk di punggungnya. Kitta Kadafaru, pemuda dengan mimpi sederhana, menjadi normal seperti orang-orang lainnya.

Aku ingin menjadi burung-burung yang bisa terbang bebas menuju langit tak bertepi, dan bersembunyi di balik awan…

Di perjalanan Kitta bertemu dengan seorang bapak tua yang tertidur di bawah pohon rindang. Kitta dengan terpaksa membangunkan bapak tua itu karena perlu meminta air. Bekal air yang dibawa Kitta telah lama habis dan ia melihat bapak tua tersebut memiliki tabung bambu yang penuh air.

Dari perkenalan itu mereka memutuskan untuk berjalan bersama sampai arah mereka bersimpangan. Dalam perjalanan tersebut mereka banyak bertukar cerita. Tepatnya bapak tua tersebut banyak bercerita tentang legenda2 yang pernah ia temukan selama perjalanan.

Suatu ketika mereka bermalam di sebuah rumah kosong. Kitta melihat bahwa bapak tua tersebut kesulitan mencari posisi tidur dan tampak kesakitan. Empati membuat Kitta akhirnya memutuskan untuk melakukan sesuatu untuk bapak tua tersebut, ia mendekatkan tangannya ke arah kaki sang bapak tua. Dan cahaya pun muncul dari telapak tangan Kitta.

Pagi harinya bapak tua itu tekejut karena seluruh rasa sakit di tubuhnya menghilang sama sekali. Bapak tua tersebut juga sempat melihat cahaya yang keluar dari telapak tangan Kitta. Saat bapak tua itu menanyakan yang sebenarnya kepada Kitta, mengalirlah cerita muasal Kitta meninggalkan desa tercintanya Kofa.

Bapak tua tersebut kemudian menceritakan satu kisah lagi kepada Kitta sebelum mereka berpisah jalan. Kisah tentang Matu Lesso, seorang leleki yang dapat memanggil hujan.

Dikisahkan bahwa Matu Lesso dapat memanggil hujan dengan melemparkan pasir yang ada di tas selempangnya ke arah langit. Matu Lesso melakukan perjalanan panjang dari satu tempat ke tempat lainnya untuk membantu memanggil hujan. Suatu hari Matu Lesso merasa lelah dengan kelebihan yang ia miliki. Matu Lesso hanya ingin hidup normal, menetap dan berkeluarga layaknya orang biasa.

Matu Lesso memutuskan untuk mengabulkan hanya tiga permintaan lagi. Setelah itu ia akan berhenti melakukan perjalanan. Ia akan menetap dan hidup normal.

Menurut sang bapak tua pada akhirnya Matu Lesso melaksanakan keinginannya. Ia hanya mengabulkan tiga permintaan dan setelah itu menetap, hidup layaknya orang biasa.

Melalui kisah itu sang bapak tua mencoba menyampaikan kepada Kitta bahwa ia memiliki pilihan yang sama. Jika Kitta betul2 mendambakan untuk hidup normal, cobalah untuk melakukan hal yang sama seperti yang Matu Lesso lakukan. Semua itu adalah hak Kitta untuk dilakukan, keputusannya sendiri untuk diambil.

Kitta pun memutuskan untuk menerima saran bapak tua. Merekapun berpisah jalan dan saling mendoakan. Dari titik itu Kitta bertekad untuk membantu tiga orang lagi, kemudian mencari tempat untuk menetap dan hidup normal.

Pertanyaannya, sanggupkah ia mengambil pilihan tersebut?

Pertanyaan yang menurut saya menjadi tema seluruh isi cerita bergenre Magic Realism ini. If you had the resources to help those in needs, would you? And if you decide not to, can you live with that decision?

That is a deep question and this book makes me question myself too.

Belakangan ini saya mengambil keputusan yang membuat saya keluar dari zona nyaman saya. Keputusan yang menempatkan diri saya sendiri dalam risiko. Saya mengambil keputusan itu karena pada akhirnya saya menolak memalingkan muka dari kesewenangan yang terang2an dipamerkan di lingkungan saya.

Pada akhirnya memang satu orang tidak akan bisa memberontak kepada satu sistem. It requires much more than that. Tapi tidak sedikitpun saya menyesali langkah yang sudah saya ambil. Jika semua dapat diulang saya pun tetap akan mengambil langkah yang sama. Karena hanya dengan itu saya dapat berdamai dengan diri saya, dengan nurani saya. I take all consequences with no regrets. In my case, that’s my answer for the question.

Nah jadi curcol kan.. Hehe.. Anyway, I love this story about Kitta Kadafaru’s journey. Genre Magical Realism masih jarang dijamah oleh para pengarang Indonesia and I highly encourage Yudhi Herwibowo to continue doing so. He’s doing a good job in this Genre!

4 dari 5 bintang dari saya untuk buku Miracle Journey ini.

Cerita Cinta Enrico By Ayu Utami

13454650Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia

Tebal : 244 Halaman

“Selanjutnya hidup bagaikan judi…”

Lebih dari 10 tahun lalu saya mencoba membaca buku Saman karya Ayu Utami. Saya waktu itu baru akan memasuki umur 20 tahunan langsung menyimpulkan bahwa Saman is not my cup of tea. Ketika itu saya versi “remaja-dewasa” merasa sudah tau pasti siapa diri saya, apa yang saya mau dalam hidup, mau kemana langkah kaki saya arahkan.

Lalu kehidupan yang sebenarnya datang. Dan semakin bertambah umur, semakin saya tahu bahwa tidak ada yang pasti di dunia ini. Hidup selalu mendorong manusia untuk selalu berubah. Di suatu titik saya sempat bingung dengan  perubahan diri sendiri dan merasa tidak mengenal orang yang saya lihat dalam kaca. Namun pada akhirnya saya mengerti bahwa memang kita tidak akan pernah tahu. Tidak ada satu hal pun yang pasti dalam hidup.

Saya belajar untuk menenggang. Saya belajar untuk menempatkan diri di banyak sisi sebelum mengambil kesimpulan.

Ini berlaku juga dalam pilihan buku yang ingin saya baca. Saya memutuskan untuk mencoba kembali membaca buku2 yang dulu saya labeli “bukan untuk saya” untuk belajar menemukan keindahan perubahan cara pandang yang dibawa oleh waktu.

Dan kehidupan menjawab maksud saya. Ayu Utami mengeluarkan karya barunya Cerita Cinta Enrico. Saya yang tadinya berfikir untuk memulai dari Saman tiba-tiba merubah pikiran untuk berjalan mundur dari masa kini ke masa lalu. Saya akan memulai dari Cerita Cinta Enrico dan merunut ke karya2 Ayu Utami sebelumnya.

Walaupun orang-orang bilang ini adalah buku yang termasuk ringan untuk karya Ayu Utami, buat saya buku ini adalah kejutan yang menyenangkan. Kenapa?

Pertama karena gaya berceritanya yang unik. Enrico si tokoh utama bercerita tentang bab-bab kehidupannya dengan menggunakan peristiwa2 bersejarah Indonesia sebagai acuan waktu. Gaya ini pernah saya lihat dalam salah satu buku Salman Rushdie dan merupakan sesuatu menyenangkan untuk melihat versi lain gaya ini di Cerita Cinta Enrico.

Kedua karena buku Cerita Cinta Enrico ini merupakan penyeimbang. Penyeimbang dari kisah perjalanan anak Indonesia lainnya yang telah banyak beredar. Kebanyakan kisah perjalan tersebut mengajarkan kemuliaan dalam meraih mimpi, pengorbanan, kecintaan pada keluarga, determinasi, dan sifat2 baik lainnya sehingga sang tokoh berhasil meraih mimpi yang dicita-citakan.

Enrico berkelana ke Bandung dari Sumatra karena ingin bebas. Bebas dari suasana tertekan yang diradiasikan Ibunya. Bebas untuk memilih siapa dirinya. Buat saya keberanian untuk jujur menginginkan kebebasan itulah yang menyeimbangkan. Tidak semua dari kita diberkahi dengan jenis cinta keluarga yang membentuk kita menjadi manusia dengan sifat2 terbaik. Sebagian besar dari kita ingin terbebas dari kungkungan, terlepas dari kenyataan kita mencintai keluarga kita. Itu adalah kenyataan.

Ketiga, kisah Enrico meng-amin-ni, cerita pengalaman saya di awal2 paragraf bahwa manusia akan selalu berubah. Dan jika pada saat ini kita merasa masih belum menemukan diri kita, itu adalah sesuatu yang wajar karena fitrah manusia untuk selalu merubah dirinya. Kalo diibaratkan puzzle, seumur hidup kita akan selalu mengisi kepingan puzzle yang kosong itu, dan keping terakhir akan kita lengkapi di saat hembusan nafas terakhir. Jadi percayalah bahwa tidak ada pilihan yang salah dan jangan pernah merasa terlambat untuk sesuatu. Jalan hidup kita masih bisa berubah selama kita masih bernyawa.

Empat dari lima bintang dari saya untuk buku ini. Selebihnya tentang sinopsis cerita bisa teman2 lihat di goodreads karena apa yang saya tulis di atas lebih banyak muatan curhatnya daripada reviewnya. Hehehe.

Oh iya. Ini posting pertama para Blogger Buku Indonesia untuk tahun 2013. Untuk bulan Januari para anggota BBI memposting review buku hadiah dari event Secret Santa di bulan Desember 2012. Di postingan ini setiap orang harus mencantumkan tebakan siapa Secret Santanya.

Dan Secret Santa saya (hampir 100% yakin) adalah tak lain dan tak bukan Mia Prasetya sang dokter gigi cantik dari bali. Hehehe. Darimana saya tahu? 1. Resinya mencantumkan kode agen pengiriman denpasar; 2. Riddlenya pernah saya baca di buku The Hobbit and BBI’ers bali yang mereview buku itu not so long ago adalah Mia. Hihihihi. Iya kan Mia? ;p

“Orang yang tidak pernah merasa tertekan tak kan bisa menginginkan kebebasan.”

“Aku selalu merasa bahwa perempuan sering jauh lebih tangguh daripada laki-laki. Dan mereka memikirkan kehidupan, bukan kegagahan. Kami, para lelaki, sering melakukan sesuatu demi kegagahan. Tapi kaum perempuan berbuat demi kehidupan. Lelaki sering berbuat untuk egonya sendiri, sedang perempuan berbuat untuk orang lain.”

“Aku kini mahasiswa. Tapi perguruan tinggi telah menjadi peternakan yang membesarkan ayam-ayam leghorn dan broiler saja. Yaitu ayam-ayam palsu, yang tak punya kemauan, tak punya kenakalan, tak punya rasa ingin mencari yang sebenarnya. Ayam-ayam yang diproduksi untuk daging dan telurnya saja. Ayam-ayam yang tak punya karakter, tak punya keunikan individu. Ayam-ayam yang hanya mengangguk-angguk, mematuk2 apapun yang diberikan kepada mereka, sampai kelak Kiamat memotong leher mereka.”

Ibuk By Iwan Setyawan

14624906Penerbit :  PT Gramedia Pustaka Utama

Tebal : 289 Halaman

“Dapur ini penuh dengan jelaga. Hidup ini mungkin akan penuh dengan jelaga juga. Tapi anak-anakku lah yang akan memberikan warna terang dalam hidupku. Ini hartaku. Dan kini saatnya , semua yang telah keluar dari rahimku bisa hidup bahagia. Tanpa jelaga, lanjutnya”

“Cintanya, terbisikkan lewat nasi goreng terasi. Lewat tatapan mata yang syahdu. Lewat daster batik usangnya. Ah, begitu perkasa. Lima buah hati di tangan satu perempuan yang penuh cinta dan ketulusan”

Saya pernah membaca komentar orang bahwa terdapat ratusan ribu kisah seperti ini Indonesia. That’s so true. Tapi ngga semuanya bisa menuliskan kisah yang dijalani seperti Iwan Setyawan. Menulis hingga dapat mentransferkan emosi dan perasaan. Menulis hingga dapat menyebabkan pembacanya literary merasakan kasih sayang yang besar antar keluarga.

Kisah ini sederhana. Kisah seorang Bayek yang memiliki Ibu luar biasa. Kisah seorang Bayek yang sangat mencintai keluarganya dan bersumpah untuk tidak akan membiarkan Ibunya menangis. Kisah ini adalah kisah ribuan anak Indonesia yang berhasil mencapai sesuatu dari kondisi yang penuh dengan keterbatasan.

Ya. Kisah sederhana yang saya tidak akan pernah bosan membacanya. Kisah sederhana dengan perasaan yang mampu menjalar keluar dari buku dan menghangatkan hati. Kisah sederhana yang akan selalu saya rindukan.

Bayek adalah anak ketiga dari lima bersaudara. Keempat saudaranya perempuan. Ayahnya seorang supir angkutan umum. Ibunya adalah seorang Ibu rumah tangga yang memegang prinsip-prinsip keuangan maju bahkan sebelum prinsip-prinsip tersebut dibakukan dalam sebuah teori seperti sekarang ini.

Kalau ada uang lebih simpanlah. Untuk anak-anak sekolah sisihkan dari uang sehari-hari. Jika ada rezeki simpanlah dalam bentuk emas untuk dijual jika tidak ada pilihan lain. Jauh sebelum Ligwina Hananto membuka QM Financial Ibunya Bayek sudah mempraktekan hal ini.

Sumber penghasilan dari menarik angkot harus diputar sedemikian mungkin agar anak-anak tidak kelaparan. Agar ada atap diatas kepala mereka. Agar anak2 bisa sekolah.

Penghargaan tertinggi saya untuk Ibu dan Ayah Bayek. Mereka sepasang manusia luar biasa yang sukses menghantarkan anak2nya menjadi manusia2 bersahaja. Mereka pasangan yang saling melengkapi hingga ketika Bapak harus pergi keluar kota di masa tua dan baru menyadari kerinduan terhadap Ibu, sesungguhnya mereka tidak pernah berpisah lama seumur hidup.

“Hidup adalah perjalanan untuk membangun rumah untuk hati. Mencari penutup lubang-lubang kekecewaan, penderitaan, ketidakpastian, dan keraguan. Akan penuh dengan perjuangan. Dan itu yang akan membuat sebuah rumah indah”

Bayek digambarkan sebagai anak yang kadang suka merengek. Tidak bisa jauh dari keluarga, dan teramat sangat kangenan dengan suara Ibu. Bayek bukan anak super pemberani namun ia belajar untuk berani. Bayek bukan seorang pemimpi tapi selalu mengusahakan yang terbaik di setiap langkahnya, demi usaha yang telah dilakukan kedua orangtuanya.

Di akhir buku saya turut menangis tersedu-sedu bersama Bayek. Ah Bayek.. Kedua orangtuamu pasti akan selalu bangga denganmu. Bayek yang memenuhi janjinya untuk tidak akan pernah membiarkan Ibunya menangis. Bayek yang membantu kehidupan kakak2 dan adik2 perempuannya. Bayek yang berbakti pada keluarga.

Ah.. Saya harap anak saya bisa seperti Bayek.. Amin.

“Cinta membutuhkan sebuah keberanian untuk membuka pintu hati”

 “Kadang perpisahan bisa membuat mata kita menjadi segar lewat air mata, hati menjadi peka lewat gelombang besar yang menerpa, dan menumbuhkan cinta yang lebih besar lewat orang-orang yang menyentuh hidup kita. Hidup semakin luas”

[Un]affair By Yudhi Herwibowo

Penerbit : Bukukatta

Tebal : 169 Halaman

“Kenapa sebuah lagu bisa diterima di semua tempat, di semua negara? Musik memang universal, tapi kisah dibalik lagu itulah yang membuatnya semakin diterima. Itu artinya sebuah kejadian seperti dalam lagu itu ternyata terjadi pula di tempat-tempat lain. Jadi seseorang seharusnya tidak perlu terlalu sedih akan sesuatu, karena di tempat lain pun, ada orang yang bersedih karena hal yang sama.”

Aaaakkhh ternyata Yudhi Herwibowo kalo menulis romance baguuuss ^_^ hehe.. Udah ada feeling waktu baca Perjalanan Menuju Cahaya, kayaknya kalo nulis drama atau romance bakalan sedih ceritanya dan ternyata ngga jauh2 tuh.. Hehe.. Because sometimes sad ending does make a story felt more real.. Life ain’t a fairy tale right?

Buku ini berkisah tentang seorang pemuda bernama Bajja yang memilih untuk berkerja dan tinggal di sebuah kota kecil bernama Kota Sendu. Kota Sendu? Iya.. Sebuah kota kecil dimana hujan selalu datang, dihiasi oleh taman yang dilengkapi dengan bangku-bangku untuk menghabiskan waktu, sebuah toko buku tua di pojokan jalan dan cafe dimana seseorang bisa membunuh malam dengan nyamannya. Akhhh semakin dijelaskan semakin saya ingin terjun masuk ke dalam buku dan tinggal di kota sendu ini.

Kembali ke cerita Bajja.. Huuumm.. Saya punya teori gila kalo sebenarnya setiap manusia hidup di frekuensi jiwa (soul) yang berbeda-beda. Dan bisa menemukan seseorang yang berada di frekuensi jiwa yang sama untuk menjadi sahabat, pasangan hidup atau sekedar rekan kerja adalah anugrah yang luar biasa. Dan biasanya jika kita menemukan seseorang yang berada dalam frekuensi yang sama, semua hal akan bergulir begitu saja seperti memang sudah digariskan, bagaikan potongan puzzle yang akhirnya menjadi masuk akal dan membentuk sebuah gambar yang berarti. Tiba-tiba kita seperti telah mengenal orang tersebut begitu lama, bisa saling memahami tanpa banyak bicara.

Saya rasa itu yang terjadi ketika Bajja dan Arra saling menemukan. Sayangnya Arra sudah memiliki kekasih, walaupun dari apa yang diceritakan, sepertinya orang itu lebih banyak membawa kesedihan daripada kebahagiaan buat Arra.

Pertemuan Arra dan Bajja bisa dihitung oleh jari, namun memang tidak akan butuh lama untuk dua orang dalam frekuensi yang sama untuk saling mengenal, dan prosesnya memang sulit untuk dijelaskan. Terjadi begitu saja.

Di pertemuan terakhir Arra mengabarkan bahwa ia telah dilamar oleh kekasihnya, dan tidak pernah muncul lagi di kehidupan Bajja. Undangan pernikahan datang ke rumahnya tidak lama setelah itu. Kehampaan yang khas ketika seseorang baru saja mengalami perpisahan pun mengisi relung hati pemuda itu.

Sesungguhnya semasa kuliah Bajja memiliki seorang kekasih bernama Canta. Namun ketika lulus karena belum siap dengan rencana apapun mereka menempuh jalan masing-masing.

Siapa sangka kemudian Canta datang ke Kota Sendu. Profesi Canta sebagai dokter memungkinkan dirinya untuk pindah ke kota itu, kota dimana Bajja tinggal. Hari-hari Bajja pun kembali diisi oleh Canta. Namun hidup memang kadang persis seperti panggung sandiwara dimana kita adalah aktornya, namun kita tidak pernah tau skenario apa yang menunggu kita di adegan berikutnya. Sisanya baca sendiri ya! ^_^ hehe..

Hhhhhh.. Jadi pengen tinggal di Kota Sendu..

“Pertemuan itu sebenarnya mudah saja, kita yang membuatnya menjadi rumit.”