Go Set A Watchman By Harper Lee

24831147Menutup halaman terakhir dari buku ini, saya bertanya-tanya sendiri untuk apa Harper Lee menulis buku ini?

Saya, seperti juga kebanyakan orang, pada awalnya tidak mengetahui bahwa buku Go Set A Watchman selesai ditulis dua tahun sebelum To Kill A Mockingbird diterbitkan.

Publikasi yang menggembar-gemborkan bahwa akhirnya ada sequel dari To Kill A Mockingbird menimbulkan persepsi yang salah dan harapan yang terlalu besar akan kerinduan para penggemar To Kill A Mockingbird terhadap Atticus, Scout dan Jem. Termasuk saya.

Untuk yang belum membaca dan atau baru akan membaca, let me warn you, Go Set A Watchman bukan merupakan sequel dari To Kill A Mockingbird.

Walaupun Go Set A Watchman menceritakan Scout yang telah menjadi wanita muda berumur 26 tahun dan pulang kampung ke tempat kelahirannya Maycomb setelah membangun hidup secara mandiri di kota New York sendirian, harus dipahami bahwa Scout ini dilahirkan terlebih dahulu daripada Scout berumur 6 tahun yang lebih dulu kita kenal di To Kill A Mockingbird.

Draft Go Set A Watchman sendiri ditolak oleh penerbit Lippincot Company, namun seorang editor bernama Tay Hohoff mengenali potensi cerita atau potensi dalam diri Harper Lee sendiri, dan selama dua tahun kemudian mendampingi Harper Lee menulis sebuah buku baru yang akar ceritanya sebenarnya berasal dari Go Set A Watchman.

Alih-alih menerbitkan realitas (yang terkadang memang luar biasa pahit) yang terceritakan di Go Set A Watcman, mereka memilih untuk memberikan harapan akan dunia yang lebih baik dalam To Kill A Mockingbird. Atticus Finch merupakan sebuah lambang dari harapan.

Selama puluhan tahun Harper Lee memilih untuk tidak menyinggung2 ataupun menerbitkan Go Set A Watchman. Saya paham karena ibarat patung pahatan, dari segi alur cerita Go Set A Watchman ini masih berupa gundukan-gundukan yang menyerupai suatu bentuk. Setelah berproses barulah menjadi patung indah yang kita kenal di To Kill A Mockingbird.

Lalu kenapa sekarang Harper Lee setuju untuk menerbitikan manuskripnya? Terdapat banyak kontroversi mengenai hal ini. Harper Lee yang sekarang berumur 89 tahun telah tinggal dan dirawat di sebuah nursing home.

Setelah saudara perempuannya (yang biasa menghandle segala urusannya) meninggal, barulah terwujud sebuah surat persetujuan dari Harper Lee untuk menerbitkan naskah Go Set A Watchman.

Beberapa orang terdekat Harper Lee menyebutkan bahwa Harper Lee sekarang berada dalam kondisi sudah tidak bisa mendengar dan tidak bisa melihat sehingga ia, dengan tidak terlalu aware-nya bisa saja menanandatangani surat persetujuan itu tanpa sadar betul akan apa yang ia lakukan.

Terlepas dari kontroversi perihal bagaimana Go Set A Watchman ini bisa diterbitkan. Saya merasa harus menceritakan latar belakang di atas terlebih dahulu sebelum saya menceritakan isi Go Set A Watchman, karena kedua buku ini harus diperlakukan sebagai dua buku yang berbeda.

Harper Lee tidak merusak atau mengkorupsi sosok Atticus Finch yang terlanjur kita cintai karena Atticus Finch yang kita kenal terlahir setelah Go Set A Watchman. Harper Lee tidak memutuskan untuk membunuh tokoh Jem karena Jem sendiri baru dikembangkan menjadi pemuda yang kita sayangi dua tahun setelah ia terlebih dahulu menulis Go Set A Watchman.

This is two different books. Two alternate universe.

Kembali ke cerita Go Set A Watchman, Scout yang tengah berlibur di kota kelahirannya di sambut oleh Henry teman masa kecilnya yang kini telah menjadi prodigy Atticus karena Jem telah meninggal dunia karena terkena penyakit jantung.

Cerita-cerita kilas balik masa kecil Scout cukup mengobati kekangenan saya akan dunia To Kill A Mockingbird, sampai suatu saat Scout secara tidak sengaja mengintip pertemuan dewan rakyat Maycomb dimana Atticus dan Henry termasuk di dalamnya.

Scout kaget bagaimana pandangan rasis terhadap kaum kulit hitam secara bebas dan vulgar dipaparkan dalam pertemuan tersebut, dan ia merasa mual karena Atticus dan Henry tidak mengeluarkan sepatah kata pun untuk menentang pemaparan tersebut.

Atticus yang membesarkan Scout dengan prinsip tidak membeda-bedakan manusia berdasarkan warna kulitnya, kini telah menarik garis sampai dimana ia bisa menoleransi warga berkulit hitam dalam kehidupan sehari-harinya.

Scout juga terpukul karena Calipurnia, pengasuh kulit hitam yang membesarkannya semenjak Ibunya meninggal sekarang mengambil jarak dan melihatnya hanya sebagai another white person.

Buku ini pada intinya menceritakan hal tersebut, bagaimana idealisme seorang gadis muda yang ia dapat dari ayahnya yang ia puja, sekarang hancur dan terinjak-injak oleh kenyataan kondisi lingkungannya pada saat itu dan oleh orang-orang terdekatnya, termasuk Ayahnya sendiri.

Bagaimana pemujaannya terhadap Ayah-nya akhirnya hancur. Bagaimana Scout harus turun ke bumi dari surga idealnya, dan menerima bahwa Ayahnya juga manusia biasa yang harus berkompromi dengan keadaan.

Dan bagaimana bahwa rasisme itu memang ada dan harus diterima olehnya.

Go Set A Watchman juga tidak menyinggung-nyinggung tentang Boo Radley yang dalam To Kill A Mockingbird juga sama pentingnya mengajarkan banyak hal tentang prasangka dan perbedaan.

Alurnya memang agak lambat, buku ini mencapai puncak alurnya di 1/3 terakhir cerita, namun saya cukup terhibur dengan cerita kilas balik masa kecil Scout.

Menarik bagi saya bagaimana Harper Lee bisa mentransformasilkan bibit-bibit dalam Go Set A Watchman menjadi To Kill A Mockingbird yang sangat saya sukai. Dan menurut saya kisah bagaimana Harper Lee berproses hingga melahirkan To Kill A Mockingbird akan menjadi suatu cerita seru tersendiri.

3 dari 5 bintang dari saya untuk buku ini. Ingat! Ingat! Buku ini bukan sequel dari To Kill A Mockingbird, melainkan sebuah raw material. Karya pertama dari seorang Harper Lee yang nantinya melahirkan buku yang akan dicintai sepanjang peradaban masih ada.

“the time your friends need you is when they’re wrong, Jean Louise. They don’t need you when they’re right—”

Les Misérables By Victor Hugo

33175“But it is an error to suppose that we can ever exhaust Fate or reach the end of everything? What is the riddle of these countless scattered destinies, whither are they bound, why are they as they are? He who knows the answer to this knows all things. He is alone. His name is God.”

Akhirnya.. Selesai juga baca buku ini..

Jangan salah, bukan karena saya kurang suka atau males baca buku maha tebal model begini, tapi karena memang sejatinya Les Misérables ini butuh dicerna pelan2. Di suatu waktu saya memaksakan marathon baca, hasilnya adalah overload pemikiran yang sayang kalo tidak diendapkan satu persatu.

Buku ini penuh dengan pemaparan nilai2 yang menohok sampai2 selesai baca buku membuat saya geleng2 kepala sendiri. Kondisi sosial politik, sejarah, agama dan nilai2 kemanusiaan secara umum, sarat ditawarkan kepada pembaca di setiap halamannya.

Bahkan pemikiran dan analisa sosial yang dituliskan oleh Victor Hugo saya rasa masih relevan sampai detik ini. Apalagi di Indonesia negeri tercinta kita. Ada banyak kemiripan antara kondisi tempat Jean Valjean ditempa dan kondisi Indonesia saat ini, khususnya di Ibukota Jakarta. Gap social yang begitu lebar antara orang2 yang hartanya berlimpah dengan  orang2 yang masih tidak tau hari ini harus makan apa begitu kentara terlihat.

Di belakang apartemen2 mewah dan mall2 terdapat bedeng2 kecil yang bisa ditinggali hingga lima jiwa. Banyak orang yang sanggup membeli mobil atau rumah yang berharga milyaran rupiah dan banyak juga yang hingga akhir hayatnya berpasrah mengontrak. Dimana karena perkara uang 100 ribu nyawa bisa melayang. Ah.. Dunia tempat kita tinggali ini semakin menakutkan memang.

Berawal dari kebaikan dan kemurnian hati seorang Bishop Myriel yang memperlakukan orang lain bukan berdasarkan cap yang diberikan masyarakat kepada seseorang, tetapi lebih kepada keyakinan bahwa setiap manusia pada dasarnya memiliki banyak kebaikan. Perlakuannya kepada seorang napi dalam perlarian mampu mengetuk hari nurani yang masih tersisa dan menyababkan napi tersebut bertekad untuk hanya berada di jalan kebaikan selama sisa hidup. Jean Valjean namanya.

Jean Valjean sesungguhnya melakukan kejahatan pencurian kecil karena terdorong oleh kondisi ekonomi dan ia harus menghadapi terror pengejaran dari inspektur Javert, seorang polisi yang tidak akan pernah melepaskan satu buronan pun dari tangannya. Tidak peduli apakan orang tersebut menjadi terdakwa karena betul2 salah atau tidak. Tidak peduli apakah orang tersebut telah kembali ke jalan yang benar dan sebagai penebusan atas kejahatan kecilnya, telah berubah menjadi seseorang yang sukses dan berbuat banyak untuk masyarakat, baginya seorang penjahat tetaplah seorang penjahat.

Dunia bagi inspektur Javert adalah hitam putih, dimana sekali seseorang masuk ke dunia hitam. Maka tidak ada jalan baginya untuk kembali. Dan Jean Valjean adalah salah satu dari sekian banyak Les Misérables, orang-orang yang selalu ditempa penderitaan dan ketidakadilan hampir seumur hidupnya.

“And there comes a point, moreover, where the unfortunate and the infamous are grouped together, merged in a single, fateful word. They are Les Misérables – the outcasts, the underdogs.”

Lalu adapula Fantine yang melambangkan kenaifan. Naif bahwa kekasihnya akan bertanggung jawab. Naif bahwa keluarga Thenadier akan merawat anaknya Cossette dengan baik sementara ia mencari nafkah dengan menjual jiwanya. Sedangkan keluarga Thenadier datang dari dunia yang sama sekali berbeda. Dunia yang penuh dengan tipu daya, pengambilan keuntungan dan kejahatan2 lain yang dalam pandangan keluarga itu, sudah hampir seperti jalan hidup yang diambil.

And when all is lost, the future still remains..

Harapan adalah sesuatu yang penting untuk dimiliki. Bahwa hidup ini seperti roda yang berputar, dan harapan harus selalu ada untuk membimbing kita ke bagian atas roda. Bagi saya Cossette dan Marius melambangkan harapan. Harapan dari kesemerawutan dan kegelapan yang melatar belakangi kehidupan keduanya, kebaikan pada akhirnya akan selalu ada.

Tapi buku ini bukan sekedar tokoh2nya. Buku ini adalah pemikiran luar biasa yang digambarkan melalui benang merah jalan hidup tokoh2nya. Victor Hugo adalah tokoh utamanya, dan untuk kali ini, saya menaruh penghargaan tertinggi untuk sang pengarang yang mewariskan nilai2 untuk dianut sepanjang masa.

“It is ourselves we have to dear. Prejudice is the real robber, and vice the real murderer. Why should we be troubled by a threat to our person or our pocket? What we have to beware if is the threat to our souls.”

I, Claudius By Robert Graves

Penerbit : Vintage Books

Tebal : 432 Halaman

“I, Tiberius Claudius Drusus Nero Germanicus This-that-and-the-other (for I shall not trouble you yet with all my titles) who was once, and not so long ago either, known to my friends and relatives and associates as “Claudius the Idiot,” or “That Claudius,” or “Claudius the Stammerer” or “Clau-Clau-Claudius” or at best as “Poor Uncle Claudius,” am now about to write this strange history of my life; starting from my earliest childhood and continuing year by year until I reach the fateful point of change where some eight years ago, at the age of fifty-one, I suddenly found myself caught in what I may call the “golden predicament” from which I have never since become disentangled.”

Saya nemu harta karun ini di toko buku bhs inggris second di Bandung yang namanya Readinglights. Dan setelah dibaca langsung masuk ke daftar ‘My Best Books of All Times’. Robert Graves menuliskan buku ini seolah2 betulan dinarasikan oleh Roman Emperor Claudius yang pada masa kecil hingga dewasa selalu dianggap remeh karena cara bicaranya yang gagap dan kakinya yang pincang.

Tidak banyak yang mengetahui kalau dibalik penampilan fisiknya yang lemah Claudius menyimpan akal sehat yang mungkin melebihi akal sehat seluruh anggota Roman Empire bahkan jika seluruhnya digabungkan sekalipun. Tidak ada seorang anggota kekaisaran pun yang merasa terancam dengan keberadaan Claudius the Idiot. Sementara anggota kekaisaran yang lain sibuk berkonspirasi dan saling menusuk dari belakang, Claudius lolos dari seluruh intrik politik tersebut dan menjadi saksi mata seluruh peristiwa, dari mulai zaman kekaisaran Augustus hingga keponakan sakit jiwanya Caligula.

Claudius yang pada mulanya bukan siapa2 dan memposisikan dirinya hanya sebagai pengamat, tiba2 terjerat dalam event politik yang menyebabkan namanya tercatat sebagai salah satu Kaisar Romawi. Dan dari apa yang saya baca, he was a great one too. Banyak bangunan untuk kepentingan umum yang berhasil diselesaikannya, ia juga melakukan terobosan untuk mengefektifkan sistem hukum kekaisaran, dan dalam masa pemerintahannya, untuk pertama kalinya kekaisaran Romawi berhasil melaksanakan ekspansi hingga wilayah Britain.

Claudius menceritakan kembali semua peristiwa yang ia saksikan dengan gaya seorang Historian, namun tentu saja dengan dibumbui emosi dan motif2 tersembunyi dari setiap tokohnya. Cara berceritanya membuat kisah Claudius ini tidak kalah seru dari serial Beverly Hills 90210 yang penuh intrik dan sensasi namun tentu saja dengan detail2 sejarah yang akurat.

Selesai membaca buku ini saya merasa perlu mencari tau lebih jauh tentang sejarah Roman Empire untuk memisahkan yang mana fakta dan yang mana fiksi. Ternyata sebagian besar isi dari buku ini adalah fakta sejarah, namun Robert Graves menghidupkan kembali tokoh2 sejarah tersebut dengan memberikan mereka karakter yang kuat dan terasa sangat nyata, seolah2 memang seperti itulah adanya sifat2 dari para pelaku sejarah tersebut. This is definitely a fun way to learn about Roman History.

Diantara banyak tokoh kekaisaran Romawi yang berseliweran, yang paling notable buat daya adalah karakter Livia Drusilla. Istri dari Kaisar Augustus, nenek dari Claudius. Karakternya yang digambarkan sebagai tokoh paling berpengaruh di kekaisaran Romawi, bahkan melebihi Kaisar Augustus sendiri, menjadikannya menjadi salah satu tokoh antagonis yang paling berkesan buat saya. Plotting, scheming, poisoning people who stands in her way, semua atas nama kebaikan dan utuhnya kekaisaran Romawi. She’s the ultimate mastermind wicked character in this whole story. Tanpa Livia kisah ini akan seperti makanan tanpa garam. Livia dengan segala tindak tanduknya adalah jiwa dari cerita.

I, Claudius sangat layak berada di dalam daftar 100 Times Greatest Novels. Buku ini beserta buku sequelnya, Claudius the God sudah dijadikan serial TV oleh BBC. Sayangnya saya belum nemu2 DVD nya, padahal seru tuh kayaknya.

Walaupun sejarah Romawi keliatannya berat dan rumit buat dipelajari, namun buku ini sama sekali tidak berat untuk dibaca. Ya itu dia, karena dinarasikan ala serial TV penuh intrik, buku ini jadi sama sekali tidak membosankan, seru,  dan memberikan kita gambaran yang cukup nyata tentang gaya hidup anggota Kekaisaran Romawi yang memang kadang nyeleneh, bikin kening berkerut, tidak masuk akal dan tentunya bertaburan drama. They were all crazy in their own way.

Ngga ngerti deh kenapa belum diterjemahin ke Bahasa Indonesia. Padahal menurut saya ini buku wajib baca setidaknya sekali seumur hidup. Saya baca kedua kalinya aja ngga bosen2 ;D

“Triumphs, by the way, have been a curse to Rome. How many unnecessary wars have been fought because generals wanted the glory of riding crowned through the streets of Rome with enemy captives led in chained behind them.”

The Book Thief By Markus Zusak

Terakhir kali saya baca buku yang dinarasikan sama malaikat maut itu bukunya Neil Gaiman sama Tery Prachett yang judulnya Good Omens. Kalo ngga salah buku itu saya kasih lima bintang. Begitu pula dengan The Book Thief ini, yang cerita adalah sang malaikat maut dan lima bintang juga saya anugerahkan dengan senang hati untuk buku ini.

Buku dibuka dengan kalimat perkenalan dari sang malaikat maut :

“HERE IS A SMALL FACT

You are going to die.”

Hehe. Selanjutnya kita dibawa ke kisah singkat tentang pekerjaan sang malaikat maut yang mana ternyata menurutnya bukan pekerjaan yang menyenangkan (even death complains about his job! Haha).

“A SMALL PIECE OF TRUTH
I do not carry a sickle or scythe.
I only wear a hooded black robe when it’s cold.
And I don’t have those skull-like facial features you seem to enjoy pinning on me from a distance. You want to know what I truly look like? I’ll help you out. Find yourself a mirror while I continue.”

Haha. Death feel missunderstood, how cute is that. Salah satu hal tidak menyenangkan menurut sang malaikat maut dalam pekerjaannya adalah justru melihat para survivors. Survivors yang seringkali hidup dalam kondisi menyedihkan.

Namun dalam beberapa kejadian luar biasa, sang malaikat maut dapat bertemu dengan survivors yang sama lebih dari satu kali, yang kemudian menggiring kita ke cerita inti yang ingin diuraikan sang malaikat maut. The Book Thief alias sang pencuri buku, begitu sang malaikat maut menjulukinya. Ia berselisih jalan dengan sang pencuri buku sebanyak tiga kali dalam tugasnya. Dan melalui tiga pertemuan yang membekas itu, sang malaikat maut menyimak kehidupan Liesel Meminger, anak perempuan itu, sang pencuri buku.

“It was a year for the ages, like 79, like 1346, to name just a few. Forget the scythe, Goddamn it, I needed a broom or a mop. And I needed a vacation. ”

Pertemuan pertamanya dengan Liesel adalah pada tahun 1939. Saat itu sang malaikat maut sedang bertugas mengambil jiwa adik laki2 Liesel. Dan setelah pertemuan pertama itu pula Liesel mencuri buku pertamanya. Tidak istimewa memang buku itu, judulnya The Graves Digger Handbook. Ia mengambil buku itu di dekat makam adiknya.

Liesel lalu dititipkan oleh Ibu kandungnya ke sepasang orangtua angkat. Hans dan Rosa Hubermann yang tinggal di Himmel Street, Molching (kota fiktif), German. Rosa adalah seorang perempuan keras yang hobby mengkritik dan membicarakan kejelekan orang2 yang menggunakan jasanya untuk mencuci baju. Rosa memperlakukan Liesel dengan cukup baik, namun penuh dengan kedisiplinan. Lain halnya dengan Hans. Hans adalah figur kebapakan yang selalu menemani Liesel ketika terbangun karena mimpi buruk (adegan dimana ia menyaksikan adik laki2nya mati di gerbong kereta).

Liesel menjadi sangat dekat dengan Hans. Ketika Hans menemukan bahwa Liesel membawa sebuah buku, ia pun mengajari Liesel membaca. Lebih tepatnya, Hans lah yang membuka pintu menuju dunia yang dicintai Liesel. Buku, kisah, kata-kata.

Sekolah tidak dilaluinya dengan mudah karena Liesel termasuk anak yang telat belajar. Beruntungnya ia menemukan seorang teman, sahabat dan nantinya (mungkin) lebih dari dua definisi itu. Rudy, nama sang anak lelaki itu. Mereka banyak menghabiskan waktu bersama sepulang sekolah karena Liesel, walaupun seorang anak perempuan, sangat gemar bergabung bermain bola dengan para anak lelaki di Himmel Street.

Cerita mulai berkembang bersamaan dengan meluasnya jaring-jaring kekuasaan Hitler di Jerman. Singkat kata, Liesel telah jatuh cinta dengan kisah dalam buku2. Baik yang diberikan oleh Hans, maupun yang ia dapatkan sendiri (dengan mencuri). Sebuah pertemuan mengenalkan Liesel pada seorang wanita kaya yang depresif yang menggunakan jasa Ibunya, Rosa untuk mencuci baju. Ilsa Hermann yang secara tidak sengaja mengetahui affair Liesel dengan buku. Ilsa ternyata memiliki sebuah perpustakaan besar di rumahnya, dan ia mengizinkan Liesel untuk menjadikan perpustakaan itu taman bermainnya.

Cerita mulai seru ketika Hans dan Rosa memutuskan untuk membantu seorang pemuda yahudi bernama Max. Hans berhutang nyawa pada ayah Max di perang dunia pertama. Dan yang mengejutkan buat Liesel. Rosa yang keras hati dan galak ternyata mendukung Hans 100%. Jadilah ditengah genosida Hitler terhadap Yahudi, keluarga kecil itu berhasil menyelamatkan seorang pemuda dengan menyembunyikannya di basement mereka.

Banyak adegan menyentuh hati yang membuat kita lebih mengenal karakter2 dalam cerita ini dengan cukup dalam. Yang mengejutkan buat Liesel (dan juga saya) adalah Rosa. Rosa yang ternyata menyimpan kebaikan hati malaikat di belakang topeng galaknya.

“What shocked Liesel most was the change in her mama. Whether it was the calculated way in which she divided the food, or the considerable muzzling of her notorious mouth, or even the gentler expression on her cardboard face, one thing was becoming clear.

AN ATTRIBUTE OF ROSA HUBERMANN

She was a good woman for a crisis.”

Di tengah carut marut situasi Jerman pada saat itu. Buku adalah senjata rahasia Liesel. Benteng pribadinya yang tidak seorang pun bisa menyentuhnya. Bahkan ketika latihan keadaan darurat bom mulai dilaksanakan secara teratur dan penduduk Himmel Street harus berlari ke ruang perlindungan bawah tanah ketika alarm berbunyi, Liesel membantu para tetangganya dengan membacakan buku ketika mereka menunggu alarm tanda aman berbunyi.

Di titik ini cerita ini tampak familiar buat saya. Book does bring a comforting feeling. And just like Liesel, my personal fortress is also build by books. It’s my way of resistance against all the last year chaotic events. Tidak perduli sebagaimanapun kacaunya hidup saya tahun lalu, atau bahkan dari bertahun2 yang lalu sekalipun, satu hal yang tidak pernah berhenti saya lakukan adalah membaca buku.

Lalu bagaimana kisah Liesel, Hans, Rosa, Rudy dan Max di tengah-tengah kiamat kecil yang didalangi oleh sesosok manusia bernama Hitler. Ah, bahkan malaikat maut pun tersentuh karenanya. Even death has a heart, sang malaikat maut berucap. Cerita semacam ini (dan juga seperti Schindler’s List) yang selalu membawa harapan buat saya, karena saya tidak pernah mengerti bagaimana suatu bangsa bisa terhipnotis ke dalam dogma tidak masuk akal yang dijadikan pembenaran untuk membunuh ratusan ribu nyawa. Bahkan di masa itu sang malaikat maut merasa muak dengan pekerjaannya.

There will always people with conscience.. Even in the middle of a completely senseless events, they will always be there.. There might be only a few, but they always bring hope to humanity..

5 bintang dari saya buat buku ini. Untuk keberanian ceritanya. Untuk pesannya tentang buku sebagai priceless treasure. Untuk harapan di tengah2 kekacauan. Untuk air mata di akhir buku yang diperuntukkan untuk seorang anak perempuan tegar bernama Liesel Meminger yang bahkan malaikat maut pun terenyuh oleh kisahnya.

“It amazes me what humans can do, even when streams are flowing down their faces and they stagger on, coughing and searching, and finding.”

“I saw him hip-deep in some icy water, chasing a book, and I saw a boy lying in bed, imagining how a kiss would taste from his glorious next-door neighbor. He does something to me, that boy. Every time. It’s his only detriment. He steps on my heart. He makes me cry.”

“Yes, I have seen a great many things in this world. I attend the greatest disasters and work for the greatest villains.

But then there are other moments. There’s a multitude of stories (a mere handful, as I have previously suggested) that I allow to distract me as I work, just as the colors do. I pick them up in the unluckiest, unlikeliest places and I make sure to remember them as I go about my work. The Book Thief is one such story.”

Evidence of Things Unseen By Marianne Wiggins

Penerbit : Simon & Schuster

Tebal : 383 Halaman

“I know that every atom of life in all this universe is bound up together. I know that pebble cannot be thrown into the ocean without distrubing every drop of water in the sea. I know that every life is inextricably mixed and woven with every other life. I know that every influence, conscious and unconscious, acts and reacts on every living organism, and that no one can fix the blame.

I know that all life is a series of infinite chances, which sometimes result one way and sometimes another. I have not the infinite wisdom that can fathom it, neither has any other human brain. But I do know that in back of it is a power that made it, that power alone can tell, and if there is no power, then it is an infinite chance which man cannot solve.”

Terakhir kali saya baca buku yang saya randomly beli tanpa tau apa2 tentang buku itu dan ternyata pada akhirnya saya kasih lima bintang itu The Thirteen Tale. Udah lama juga yah? Tapi setiap “menemukan” buku lima bintang secara ngga sengaja itu rasanya puas banget.

Buku ini judulnya eye catching, waktu beli saya kira ada unsur2 misterinya gitu. Ternyata setelah dibaca meleset banget dugaan saya. ¼ bagian pertama buku, saya masih menyesuaikan dengan bahasanya Marianne Wiggins yang puitis banget. Dibaca pelan2 dan seksama baru mudeng. Lama-lama untungnya bahasanya me-ringan atau ntah ceritanya tambah rame karena muncul tokoh Opal.

Eh dari awal ya. Mulanya buku ini bercerita tentang Ray Foster alias Fos, seorang pemuda yang sangat menaruh minat pada science. Khususnya cahaya2 yang secara natural terdapat di alam. Phosphorenscence, kunang-kunang, bintang jatuh, hati ikan yang dapat menjadi tinta yang menyala dalam gelap, cahaya dari unsur radioaktif, x-ray, you name it. Fos sangat tertarik pada hal tersebut.

Selamat dari perang dunia pertama, Fos diajak teman seperjuangannya Flash untuk membuat sebuah studio foto. Fos menyambut baik ide itu karena dekat dengan minatnya pada cahaya alami. Dalam waktu-waktu tertentu Fos selalu bepergian untuk melihat peristiwa bintang jatuh. Dalam suatu kesempatan, nasib membawanya untuk terdampar di rumah seorang  glassblower (ini kurang lebih artinya pengrajin kaca kali ya, orang yang bikin hiasan kayak vas atau yang cth lainnya dari bahan kaca).

Dari bayangan terbalik yang ia lihat di kaca leleh yang sedang ditiup Fos pertama kali melihat Opal. Tidak seperti Flash yang bermental Don Juan. Fos ini bisa dibilang sangat polos dan sama sekali kurang berminat mencari pasangan. Namun di saat itu ada sesuatu dalam diri Opal yang membuatnya tertarik. Fos pun mengajak Opal ikut serta dalam acara berburu bintang jatuhnya. Di malam yang romantis itu Fos yakin bahwa ia dan Opal meant to be each other. Fos melamar Opal. Opal yang merasakan hal yang sama pun nekat menerima. Tanpa persiapan heboh2 mereka pun menikah dengan restu ayahnya Opal, sang glassblower. Fos lalu membawa serta Opal pulang ke Knoxville tempat ia hidup dari studio fotonya dan Flash.

Opal boleh dibilang adalah nyawa dari cerita ini (menurut saya loh). Tipe perempuan yang ngga ribet, secara alami cerdas dan memang sepertinya diciptakan untuk memahami Fos yang kadang2 keterlaluan polosnya. Untuk beberapa waktu, mereka bertiga, Fos, Opal dan Flash menghabiskan berbagai pengalaman yang cukup menyenangkan bersama.

“The sight of Fos and Opal coming down the street together absolutely tickled him. The idea of two such strangely unremarkable yet lovable people could have found and met each other reaffirmed his waning faith in anything remotely optimistic about mankind and seemed to be a more convincing proof than all the gospel shit flown from the pulpits of Knox County that life could, in fact, distribute happy endings.”

Suatu keputusan yang diambil sepihak oleh Flash atas hidupnya sendiri membawa akibat kepada kehidupan Fos dan Opal. Mereka berdua harus tercerabut dari zona amannya dan terpaksa hidup di desa dengan bertani. Fos merasa hidup telah berbuat licik padanya. Kenyataan bahwa ia tidak mengira Flash akan melakukan yang ia lakukan membuat Fos merasa tertipu oleh sahabatnya tersebut.

“It makes you wonder. How much you can know about a thing, a person. If you can know anything at all. Maybe no one’s who we think they are. No one. Makes you doubt yourself, wonder if you even know yourself orif you’ve been lyin, too, along with everybody else.”

Kehidupan keras di pedesaan tidak cocok untuk Fos yang bermental scientist. Semua menjadi salah. Sebagai akibatnya antara Fos dan Opal tercipta jarak yang ditandai dengan hening. Ditambah dengan Opal yang merasa kecewa kepada dirinya sendiri yang tidak kunjung mengandung.

Roda nasib bergerak, ketika mereka mendengar berita bahwa Ayah Opal meninggal dunia, mereka pun segera kembali ke kampung halaman Opal. Disana mereka bertemu dengan keluarga pengelana yang memiliki banyak anak, sang istri tampak akan melahirkan. Mereka beristirahat sejenak di rumah Ayah Opal yang telah kosong. Pasangan itu pun mengizinkannya dan memutuskan menginap di hotel.

Ketika kembali ke rumah itu mereka menemukan seorang bayi baru lahir yang memang dengan sengaja ditinggalkan disana. Fos dan Opal saling berpandangan, bayi itu adalah hadiah yang dibawakan nasib untuk mereka. Lightfoot mereka memanggilnya.

Lalu sebuah proyek rahasia dari pemerintah membutuhkan keahlian Fos dalam bidang fotografi. Ia pun masuk ke dalam proyek itu, membawa serta Opal dan LightFoot ke sebuah perumahan khusus untuk para pekerja proyek. Dari sana cerita bergulir ke arah yang membuat kita bertanya-tanya apakah memang benar kita sebagai manusia tidak punya kendali sama sekali akan kemana hidup akan membawa kita. Apa yang penting dan apa yang tidak penting dalam hidup. Dan apa memang benar cinta sejati itu ada.

Pada akhirnya saya menyukai bahasa Marianne Wiggins. Terbukti dari quotes2 di bawah yang ngga bisa ngga saya masukin dalam review ini. Hehe. Lima bintang untuk kisah cinta Fos dan Opal yang amat sangat bikin ngiri.

 “Wherever love comes from, whatever is its genesis, it isn’t like a quantity of gold or diamonds, even water in the earth-a fixed quantity, Fos thought. You can’t use up love, deplete it at its source. Love exists beyond fixed limits. Beyond what you can see or count.”

“You build a tower then you also build the chance it will fall. To think of life as a foolproof is a fallacy of fools, he thought. Things happen, he believed, and there’s nothing you can do to keep them from occurring.”

“I think what you can’t see is always what you should be frightened of.”

“Because way back before you were even born there was this girl you see. And I fell in love with her. It was something that I wanted-love-not because it was expected of me, but because I found it out my self-that happiness of wanting to be with that other person.”

“The future is the one thing you can count on not abandoning you, kid, he’d said. The future will always finds you. Stand still, and it will find you. The way the land just has run to sea.”

Ronggeng Dukuh Paruk By Ahmad Tohari

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Tebal : 404 Halaman

Hyaaaahh menyesal baru membaca salah satu novel fenomenal Indonesia ini sekarang. Dari jaman kuliah saya udah berkali-kali megang2 terbitan lama buku ini. Terus keingetan lagi waktu kemaren2 heboh tentang film sang penari. Baru “ngeh” kalo film itu diangkat dari novel Ronggeng Dukuh Paruk. Dan ternyata di toko2 buku terbitan lama udah ngga ada dan diganti dengan terbitan barunya dengan gambar cover para pemain filmnya. Ngga begitu suka dengan cover barunya ini. Agak2 missleading. Mengesankan roman menye2 padahal intinya sama sekali bukan tentang itu.

Positifnya adalah ternyata terbitan baru ini memasukkan kembali bagian2 yang di sensor di terbitan lama pada zaman orde baru dan merupakan penyatuan dari trilogi yang masing2 ditulis oleh Ahmad Tohari pada tahun 1982 (Ronggeng Dukuh Paruk), 1985 (Lintang Kemukus Dini Hari) dan 1986 (Jantera Bianglala).

Alkisah sebuah daerah terpencil di pulau Jawa yang bernama Dusun Dukuh Paruk. Dusun tersebut dapat dikatakan memiliki budaya dan nilai tersendiri yang terisolasi dari nilai-nilai yang berlaku pada umumnya. Konon, semua warga Dukuh Paruk berasal dari satu keturunan, yaitu dari sesepuh pendiri Dusun Dukuh Paruk yang bernama Ki Sacamenggala.

Membaca buku ini anda harus terlebih dahulu melepaskan diri dari prasangka dan kaca mata kuda nilai2, etika atau tata krama yang berlaku secara umum. Budaya adalah budaya. Pola pikir dan prilaku warga Dukuh Paruk adalah manifestasi dari budaya yang telah mengakar dan sudah diterima sebagai fitrah atau aturan hidup yang memang berlaku disana. Jangan dinilai benar atau salahnya.

Warga Dukuh Paruk memuja arwah Ki Sacamenggala dan senantiasa memohon petunjuk atas segala pertanda hidup dengan persembahan dan sesaji di makam sang leluhur tersebut. Satu-satunya hal yang cukup terkenal dari Dukuh Paruk adalah budaya Ronggeng nya. Untuk warga dukuh paruk, Ronggeng adalah perlambang kehidupan dan kebanggaan dari dusun tersebut.

Sudah lama Dukuh Paruk tidak memiliki seorang Ronggeng. Untuk menjadi seorang Ronggeng sejati, seorang perempuan Dukuh Paruk harus dirasuki/ditinggali oleh Indang Ronggeng (saya ngga menemukan padanan bahasanya) terlebih dahulu. Sampai suatu ketika salah seorang tokoh yang dituakan di Dukuh Paruk, Sancaya namanya, melihat cucu perempuannya Srintil, ketika itu berumur 11 tahun menari dan menyanyi. Seketika itu Sancaya yakin bahwa Srintil telah dihinggapi oleh Indang Ronggeng.

Kartareja, seorang tetua yang berpengalaman dalam hal membina seorang Ronggeng memastikan hal tersebut. Melalui suatu ritual upacara di makam Ki Sacamenggala dipastikan bahwa Srintil adalah generasi baru Ronggeng dari Dukuh Paruk. Srintil kemudian dititipkan kepada Kartareja dan istrinya untuk dibina menjadi seorang Ronggeng.

Srintil, cucu Sancaya adalah seorang anak yatim piatu. Ayah dan Ibu nya meninggal dalam suatu insiden keracunan tempe bongkrek ketika Srintil masih bayi. Selain orang tua Srintil, insiden tersebut juga menelan nyawa belasan orang dewasa dan juga anak-anak. Termasuk orang tua teman sebaya Srintil yang bernama Rasus.

Srintil dan Rasus adalah teman dekat. Semenjak Srintil menjadi Ronggeng Rasus mengalami sebuah perasaan aneh. Cemburu, karena Srintil sekarang adalah milik seluruh warga Dukuh Paruk. Para wanita selalu mengawal Srintil kemana-mana. Memandikannya, mencucikan bajunya, menyediakan makanan. Singkat kata Srintil adalah pujaan semua orang, baik pria maupun wanita.

Adalah suatu bagian dari kebudayaan pula bahwa seorang Ronggeng, sebagai perlambang wanita sempurna selain menari dan menyanyi juga dapat “menerima tamu” tentu dengan bayaran yang tidak sedikit. Pahamilah ini sebagai suatu bagian dari kebudayaan Dukuh Paruk, dimana para istri justru saling menyombongkan diri apabila suaminya berhasil meniduri Srintil.

Dukuh Paruk, seperti dikemukakan di atas adalah suatu daerah yang memiliki tata nilainya sendiri, dimana jika seorang suami menangkap basah istrinya di tempat tidur dengan laki-laki lain. Maka urusan dapat diselesaikan dengan mudah, sang suami tinggal balas meniduri istri laki-laki tersebut, selesai perkara.

Nilai-nilai itulah yang mengganggu Rasus, diawali dengan ketidakrelaannya tentang Srintil yang menjadi seorang Ronggeng. Akhirnya Rasus meninggalkan Dukuh Paruk ke daerah terdekat, Dawuan. Disana nasib membawanya menjadi kacung tentara. Sampai karena kerja kerasnya akhirnya Rasus berhasil masuk ketentaraan.

Pertemuan, perpisahan, pertemuan, perpisahan, pertemuan, perpisahan. Tahun demi tahun berlalu. Sangat terasa perubahan kepribadian Srintil yang semula begitu bangga dan menikmati kehidupan mewah ala Ronggeng mulai berkembang menjadi kepribadian yang bersahaja dan disegani. Srintil tidak lagi mau menerima tamu. Ia hanya menyanyi dan menari.

Karena keluguan orang-orang Dukuh Paruk, pada tahun 1965 an kelompok Ronggeng nya dimanfaatkan oleh pihak komunis sebagai alat propaganda. Setelah peristiwa G30S Dukuh Paruk pun tidak selamat dari nasib buruk. Srintil dan kelompok Ronggengnya ditahan. Dusun Dukuh Paruk dibakar. Setelah momen itu tatanan hidup mereka diguncang oleh perubahan zaman. Srintil mengalami masa tergelap dalam sejarah hidupnya.

Bertahankan Srintil? Bahagiakah ia pada akhirnya? Akankah Rasus pada akhirnya kembali ke dusun kelahirannya? Rasus yang membenci sekaligus mencintai Dukuh Paruk. Rasus dan Srintil, akankah akhirnya bertemu di sebuah titik? Aaaaaahhhh.. tergoda menceritakan spoiler.. Srintil yang malang dan Rasus yang sungguh hararese (kalo kata orang sunda mah).

Yang jelas saya memberi 5 bintang untuk novel ini. Sejarah, budaya, bumbu romantisme, pertanyaan tentang eksistensi, gender, perkembangan watak, bahasa, jalan cerita sampai endingnya disampaikan sebagai suatu keselarasan sempurna. Takdir, Nasib, Siklus Hidup. Tidak ada seorang manusia pun yang dapat menebak.

Kenapa saya bilang covernya missleading, karena inti cerita ini bukan sekedar romantisme. It was way much more than that. Lebih ke budaya dan perkembangan pola pikir serta kepribadian tokoh-tokohnya di tengah perubahan zaman. Kebeneran saya belon nonton filmnya. Mudah2an tidak kalah berkualitas dari bukunya. Denger2 sih filmnya juga bagus.

“Malam  telah sempurna gelap sebelum Nyai Sakarya dan Srintil mencapai Dukuh Paruk. Bulan tua baru akan muncul tengah malam sehingga cahaya bintang leluasa mendaulat langit. Kilatan cahaya bintang beralih memberi kesan hidup pada rentang langit. Tetapi bila kilatan cahaya itu berlangsung beberapa detik lamanya, dia menimbulkan rasa inferior; betapa kecilnya manusia di tengah keperkasaan alam. Di bawah lengkung langit yang megah Nyai Sakarya beserta cucunya merasa menjadi semut kecil yang merayap-rayap di permukaan bumi, tanpa kuasa dan tanpa arti sedikit pun.”

Cut Nyak Din, Kisah Ratu Perang Aceh By Madelon Szekely-Lulofs

Penerbit : Komunitas Bambu

Tebal : 367 Halaman

Alih Bahasa : Tim Penerjemah Komunitas Bambu

Di tempat itu arwah Umar akan menyertai kita! Dari sana jugalah kita akan memenuhi tugas-tugas kegerilyaan kita seperti yang biasa dilakukan oleh Umar. Kita akan memenuhi perintah Tuhan untuk memerangi orang kafir, Pang La’ot! Selama aku masih hidup kita masih memiliki kekuatan, perang geriliya ini akan kita teruskan! Demi Allah! Polim masih hidup! Bait hidup! Imam Longbata hidup! Sultan Daud hidup! Tuanku Hasyim hidup! Menantuku, Teuku Majet di Tiro masih hidup! Anakku Cut Gambang masih hidup! Ulama Tanah Abee hidup! Pang La’ot hidup! Kita semua masih hidup! Belum ada yang kalah! Umar memang telah Syahid! Marilah kita meneruskan pekerjaannya! Untuk Agama! Untuk kemerdekaan bangsa kita! Untuk Aceh! Allahu Akbar!

Waaaahhh.. Baca kalimat diatas bikin saya merinding! Dalam buku ini Cut Nyak Din mengucapkan kalimat di atas setelah menerima kabar bahwa suaminya Teuku Umar telah gugur di medan perang. Beliau berhasil meneguhkan hati karena menyadari bahwa sekarang dirinya harus menjadi kuat demi cita-cita perjuangan yang telah mengugurkan banyak nyawa. Maka Cut Nyak Din menyisihkan perasaan sedihnya karena kehilangan suami yang dicintainya. Merinding.

Cut Nyak Din adalah putri keluarga terkemuka di Aceh, Ayahnya Nanta Setia adalah seorang Ulubalang di wilayah 6 mukim (mukim: desa yang terdiri atas kampung-kampung masjid,  6 mukim berarti wilayah tersebut terdiri dari 6 desa). Pada tahun 1858 beliau dinikahkan dengan Teuku Ibrahim pada waktu berumur 10 tahun.

Cut Nyak Din dan Teuku Ibrahim adalah anak Aceh yang mencintai bangsa dan tanah airnya, teristimewa, Agamanya.

Sebagaimana ditulis dalam buku, dinyatakan bahwa walaupun dijodohkan. Mereka belajar bersama arti berumah tangga sehingga lama kelamaan timbul rasa saling mengasihi.

Tanggal 8 April 1873 bala tentara Belanda mendarat di Tanah Aceh. Teuku Ibrahim adalah salah satu pemimpin perlawanan terhadap Belanda yang sangat dihormati rakyat. Ketika peperangan memasuki wilayah 6 mukim, Teuku Ibrahim berada sebagai pemimpin barisan, diikuti oleh para pemuda dengan semangat berkobar untuk melawan tentara Belanda. Cut Nyak Din, para wanita dan anak-anak mengungsi dari Lampadang, kampung tempat mereka tinggal.

Di pengungsian Cut Nyak Din menerima berita bahwa suaminya gugur. Di tengah perasaan bingung dan kehilangan pegangan karena gugurnya Teuku Ibrahim, munculah sepupunya Teuku Umar yang tangkas dan berani menawarkan bantuan untuk membela wilayah 6 mukim. Din mencari tokoh yang dapat menggantikan kepemimpinan perlawanan. Di mata beliau pada saat itu tidak ada seorang pun yang cukup mumpuni untuk menggantikan Teuku Ibrahim. Munculnya Umar adalah jawaban bagi Cut Nyak Din.

Tak disangka-sangka dalam kalbu Din tersedia tempat untuk Umar. Saudara sepupunya itu dianggap cukup memiliki sifat-sifat satria dalam dirinya. Pilihan hati Din pun jatuh pada Umar. Umar itulah yang diharapkan dapat dijadikan kawan seperjuangan di masa-masa yang akan datang. Umar diharapkan menjadi pengganti kawan seperjuangan yang hilang.

Menikahlah Cut Nyak Din dengan Teuku Umar. Walaupun berstatus sebagai istri ketiga namun berbagai pihak mengakui bahwa Cut Nyak Din lah orang yang paling berpengaruh dalam perkembangan Umar selanjutnya.

Teuku Umar sendiri merupakan tokoh yang kontroversial. Banyak asumsi dan prasangka seputar diri Teuku Umar. Karena siasat menyerah pada pihak Belanda timbul banyak sekali pendapat mengenai Umar. Ada yang percaya bahwa Umar betul-betul berpura-pura menyerah dan ada yang berpendapat bahwa Umar seorang oportunis yang bertindak sesuai dengan keadaan.

Apapun motivasi Teuku Umar untuk menyerah dan bekerjasama dengan Belanda, pada akhirnya Teuku Umar menghianati pihak Belanda dengan membawa serta persediaan persenjataan dan amunisi yang tidak sedikit jumlahnya kepada pihak Aceh. Dan semenjak saat itu Teuku Umar menjadi pejuang paling berani yang memimpin perlawanan Aceh terhadap Belanda. Kiprah Teuku Umar membuat pihak Belanda menganggap bahwa untuk meredam perlawanan orang nomor satu yang harus mereka bunuh adalah Teuku Umar.

Selang beberapa waktu, Syahid pula lah Teuku Umar. Dan Cut Nyak Din menyatakan akan memimpin dan meneruskan perjuangan suaminya, sebagaimana dikutip pada awal review ini. Enam tahun setelah mempimpin geriliya Cut Nyak Din telah berada dalam kondisi tidak sehat. Matanya telah buta dan penyakit encok telah melemahkan gerak anggota tubuhnya. Seorang pengikutnya yang paling setia Pang La’ot akhirnya tidak sampai hati melihat kondisi Cut Nyak Din. Dan di saat itu hampir seluruh pejuang, bahkan Polim pun telah tunduk pada Belanda. Dengan motivasi ingin menyelamatkan Cut Nyak Din dari penderitaan akhirnya Pang La’ot mengadakan perundingan dengan Belanda.

Mereka akan menyerah asalkan Cut Nyak Din diperlakukan secara terhormat, dirawat dan diobati segala penyakit-penyakitnya. Belanda setuju, Cut Nyak Din, walaupun dengan sumpah serapah akhirnya dibawa oleh Belanda. Tadinya Cut Nyak Din akan dibiarkan tinggal di Aceh, namun melihat animo masyarakat yang tidak berhenti menjenguk pemerintah Belanda merasa khawatir akan keberadaan Cut Nyak Din. Khawatir keberadaan tokoh yang amat sangat disegani itu dapat kembali mengobarkan api perlawanan rakyat Aceh.

Akhirnya Cut Nyak Din dibuang ke Sumedang Jawa Barat. Di tanah asing itulah Cut Nyak Din menghembuskan nafas terakhirnya. Dan sampai saat terakhir masyarakat Sumedang tidak mengetahui jati diri wanita tua penuh kharisma yang mereka panggil Ibu Perbu.

Membaca buku ini serasa memanggil nama-nama dalam ingatan yang dihafal ketika masa sekolah dulu. Dan membuat saya mengerti mengapa semangat pantang menyerah itu bisa muncul.Mengerti  apa yang dibela para pejuang yang mempertaruhkan nyawanya. Dan mensyukuri detik ini saya bisa menikmati apa yang bisa saya nikmati.

Selain semangat perjuangan kita juga bisa mempelajari banyak tokoh dengan karakter yang sampai detik ini dan sampai kapan pun akan selalu ada. Manusia oportunis, manusia hipokrit, quitter, bermuka dua dan aneka ria jenis lainnya.

Saya berharap lebih banyak cerita ketika Cut Nyak Din selama enam tahun memimpin gerilya. Atau ketika beliau berada dalam pengasingan di Sumedang. Namun memang tidak banyak catatan sejarah tentang masa-masa itu.

Dan tentang Cut Nyak Din sendiri. Wanita luar biasa dengan hati seteguh karang dalam mempertahankan kebenaran. Wanita yang dengan berani membuang semua atributnya dan ikut langsung memimpin perlawanan demi tanah airnya, demi Agamanya. What more can I say? She’s simply a bright star.

Menurut orang Belanda, perang telah berakhir. Akan tetapi bagi orang Aceh yang pantang tunduk, perang masih jauh dari selesai.