Wuthering Heights By Emily Brontë

“Catherine Earnshaw, may you not rest as long as I am living. You said I killed you–haunt me then. The murdered do haunt their murderers. I believe–I know that ghosts have wandered the earth. Be with me always–take any form–drive me mad. Only do not leave me in this abyss, where I cannot find you! Oh, God! It is unutterable! I cannot live without my life! I cannot live without my soul!”

6712426Maybe something really bad happened to Emily Brontë ? Hmmm..

Kalo baca buku yang cerita dan tokoh-tokohnya ajaib seperti ini saya selalu penasaran dan jadi berhayal-hayal sendiri tentang bagaimana latar belakang sang penulis sehingga bisa melahirkan buku seperti ini. Hehehe. Ditambah lagi ini merupakan satu-satunya buku yang dihasilkan oleh Emily Brontë. Maybe something really bad did happened to her.. I highly suspect so..

Kenapa saya berpikiran seperti itu? Karena ya ampyuuuun saya ngga paham dengan tindakan dan keputusan yang diambil oleh tokoh-tokohnya. Memang betul sih untuk novel klasik yang ditulis lebih dari 100 tahunan yang lalu rata-rata kurang bisa saya pahami dari cara hidup maupun cara berpikir tokoh-tokohnya (seperti novel-novel Jane Austen yang suka bikin saya emeeeeeesh ;p).

Buku ini sama sekali bukan bercerita tentang romantisme, buku ini bercerita tentang rasa iri, obsesi dan dendam kesumat. It is not love, it is hate and vengeance.

Seorang pria bernama Mr Lockwood menyewa sebuah rumah di daerah terpencil di utara Inggris bernama Thrushcross Grange. Tidak lama setelah kedatangannya Mr Lockwood mulai mengeksplorasi lingkungan di sekitar Thrushcross Grange. Setelah beberapa lama berjalan kaki Mr Lockwood sampai ke sebuah rumah bernama Wuthering Heights dimana tidak lama kemudian ia bertemu dengan tuan rumahnya yang bernama Mr Heathcliff. Ada sesuatu yang sangat aneh dan kasar dengan Mr Heathcliff.

Di rumah itu ia bertemu dengan seorang wanita muda yang menarik namun ketus yang ternyata merupakan menantu Mr Heathcliff dan seorang pria muda yang tampak seperti pelayan namun ternyata bagian dari keluarga.

Malam itu badai salju datang dan Mr Lockwood pun terjebak di Wuthering Heights bersama tuan rumah yang tidak segan-segan mengekspresikan keberatannya atas keberadaan Mr Lockwood. Oleh seorang pelayan Mr Lockwood pun diantar ke sebuah kamar yang sudah lama tidak terpakai. Di kamar itu iya banyak melihat coretan Catherine di dinding dan dihantui oleh mimpi buruk (tentang arwah yang mencoba masuk dari jendela) yang membuatnya terbangun berteriak.

Pengalaman menginap satu malam di Wuthering Heights membuat Mr Lockwood sedikit banyak penasaran dengan latar belakang para penghuninya. Sekembalinya ke Thrushcross Grange Mr Lockwood pun bertanya pada seorang pelayan wanita disana yang bernama Ellen Dean. Ellen Dean ternyata pernah bekerja di Wuthering Heights dan dari kesaksian Ellen lah mengalir cerita tragis para penghuni Wuthering Heights.

Heathcliff adalah anak angkat pemilik Wuthering Heights, Mr Earnshaw yang ditemukan olehnya terlunta-lunta di pinggir jalan. Merasa terenyuh, Mr Earnshaw kemudian membawanya pulang dengan niatan membesarkan Heathcliff secara layak. Mr Earnshaw sendiri sudah memiliki dua anak, seorang anak laki-laki bernama Hindley dan adik perempuannya Catherine.

Heathcliff dan Catherine segera menjadi akrab dan melakukan segala sesuatu bersama. Lain halnya dengan Hindley yang membenci Heathcliff karena menganggap Heathcliff telah merebut kasih sayang Ayahnya.

Hindley kemudian keluar dari Wuthering Heights untuk belajar. Tahun demi tahun berlalu, Hindley kembali ke Wuthering Heights bersama istrinya. Di saat itu Mr Earnshaw telah berada dalam kondisi sakit-sakitan kemudian meninggal. Sepeninggal Mr Earnshaw, Hindley menjadi tuan rumah di Wuthering Heights. Karena dendam lamanya Hindley pun mengembalikan posisi Heathcliff menjadi pelayan biasa dan bukan anggota keluarga. This is the root of the fiasco in that family.

Antara Heathcliff dan Catherine yang beranjak remaja mulai muncul perasaan yang lebih dari sekedar teman bermain. Suatu insiden dalam petualangan Heathcliff dan Catherine menyebabkan Catherine terluka di dekat area tetangga terdekat mereka Thrushcross Grange dan menyebabkan Catherine selama beberapa minggu harus tinggal disana.

Sekembalinya dari Thrushcross Grange Heathcliff merasa Catherine menjadi berbeda dan lebih feminim, bukan lagi Catherine tomboy yang senang bermain dan bertualang berama Heathclif. Ditambah lagi Catherine menjadi dekat dengan Edgar Linton anak tuan rumah Thrushcross Grange.

Dua tahun kemudian Edgar Linton melamar Catherine. Heathcliff mencuri dengar pembicaraan Catherine dengan Ellen bahwa ia sebenarnya tidak mencintai Edgar melainkan Heathcliff, namun ia tidak bisa menikahi Heathcliff karena status dan pendidikan Heathcliff.

Merasa tersinggung dan direndahkan, malam itu Heathcliff meninggalkan Wuthering Heights. Tiga tahun kemudian Catherine dan Edgar resmi menikah, Catherine pindah ke Thrushcross Grange dengan membawa serta Ellen. Enam bulan setelah pernikahan Catherine dan Edgar Heathcliff kembali ke Wuthering Heights dan malapetaka pun dimulai.

Saya dengan keras menolak menggolongkan Heathcliff kedalam misunderstood romantic character. Apa yang membuat Heathcliff melakukan apa yang dia lakukan adalah bukan cinta yang berubah menjadi benci tetapi harga diri yang tersinggung, obsesi yang gelap, egoisme, dan sumur dendam yang tidak ada dasarnya.

Hindley dan Catherine telah menyinggung dan menyakiti orang yang salah dan mereka dipaksa membayar keputusan-keputusan yang mereka ambil oleh orang paling pendendam di dunia yang bernama Heathcliff.

Membaca buku ini betul-betul bikin makan hati.

Heathcliff yang kamu lakukan ke saya itu JAHAT! (bayangkan cinta di AADC 2 yang mengucapkan kalimat ini) ;p

Hehehe..

Tadinya mau ngasih 4 bintang karena buku ini bagaimanapun sudah membuat saya esmosi jiwa dan pengen baca terus, tapi semakin dipikirin saya semakin sebel sama Heathcliff dan tokoh-tokoh lainnya jadi saya turunin ke 3 bintang saja. Hahaha.

Untung Emily Brontë ngga pernah ketemu dengan George R. R. Martin, they will make a perfect couple, hehe.. (apaaaaaaa sih cha)

Dracula By Bram Stoker

17238Format : librivox.org Audiobook

Adalah Jonathan Harker, seorang penasehat hukum, yang pada suatu waktu menerima perintah dari Biro Hukumnya untuk pergi ke tempat seorang klien bernama Count Dracula yang tinggal di suatu tempat bernama Transylvania.

Jonathan Harker mengganggap penugasan tersebut sebagai petualangan dan cukup bersemangat untuk menyelesaikannya. Sepanjang perjalanan, Jonathan selalu menulis jurnal tentang pengalamannya dari hari ke hari, dan juga menulis surat kepada kekasihnya Wilhelmina Murray.

Melalui jurnal dan surat-surat tersebutlah kita memperoleh narasi tentang pengalaman Jonathan Harker di Transylvania.

Fyi, gaya penulisan novel ini memang memiliki format epistolary, yaitu penceritaan berdasarkan jurnal dan juga surat dari tokoh-tokoh utamanya, dan juga dokumen-dokumen tertulis lain seperti Log Book kapal atau berita di surat kabar.

Gaya penceritaan model ini, menambah unsur misteri di keseluruhan jalan cerita dan juga memberikan kesempatan kepada pembaca untuk melihat suatu kejadian dari berbagai sudut pandang tokoh utamanya.

Kembali ke cerita. Dalam perjalanan menuju kastil Count Dracula, Jonathan mulai menemui hal-hal misterius. Diantaranya adalah nyaris diserang oleh sekumpulan Serigala, dan ketika singgah di suatu tempat istirahat menuju kastil tersebut, setelah bercerita tentang tempat tujuannya, oleh pemilik tempat istirahat Jonathan dibekali salib untuk dikalungkan. Untuk melindungi Jonathan, ujar si pemilik tempat istirahat. Weird.

Sesampainya di Kastil, Jonathan bercerita tentang aura misterius tempat tersebut, dan juga tentang Count Dracula yang dingin, tidak pernah sekalipun terlihat makan, dan juga memilih waktu-waktu yang ganjil untuk berkonsultasi kepada Jonathan tentang prosedur pembelian rumah di London serta permasalahan hukum lainnya.

Count Dracula sangat tertarik dengan London. Itu kesan kuat yang didapatkan oleh Jonathan.

Setelah beberapa hari Jonathan menyadari bahwa ia tidak pernah melihat siapapun di dalam kastil tersebut. Hanya ia dan Count Dracula. Jonathan pun perlahan sadar kalo sebenarnya ia adalah seorang tahanan di Kastil tersebut.

Pada suatu malam ketika nyenyak tertidur, Jonathan mendengar suara-suara di kamarnya. Mengintip melalui kelopak matanya yang tertutup, Jonathan melihat tiga wanita yang cantiknya tidak manusiawi sedang memandangi Jonathan yang tertidur. Ia menjuluki mereka the tree sisters. Ketika salah satu dari perempuan itu merundukkan mukanya ke arah Jonathan, ia diselamatkan oleh Count Dracula yang segera mengusir perempuan-perempuan itu.

Yang membuat Jonathan ketakutan adalah bahwa ketika Count Dracula tiba-tiba muncul, ia membawa sebuah karung. Dan apa yang Nampak merupakan isi dari karung tersebut, Jonathan menduga, adalah tubuh seorang anak kecil.

Jonathan pun mulai menyelidiki kastil tersebut. Ia menyaksikan Count Dracula mampu merayap di dinding kastil. Dan juga menemukan tempat istirahat dari Count Dracula yang tidak lain berupa sebuah peti mati.

Jonathan takut setakut2nya.

Narasi kemudian beralih ke log book sebuah kapal yang tiba di London dalam keadaan kosong dan hanya menyisakan kapten kapal. Semua kru kapal hilang di perjalanan. Melalui jurnal sang kapten kita mempelajari bahwa ia beberapa kali melihat seorang laki-laki tinggi kurus asing berkeliaran di kpalnya. Dan juga muatan aneh berupa 50 peti mati yang konon berisi tanah dari Trasylvania. Setibanya di pelabuhan London, sang kapten melihat seekor serigala besar melompat dari kapalnya.

Dari sini cerita beralih ke tunangan Jonathan, Wilhelmina Murray. Melalui jurnal Mina, begitu ia biasanya dipanggil, dan juga surat-surat Mina kepada sahabat karibnya Lucy Westenra, pembaca bisa menduga-duga apa yang terjadi.

Setelah beberapa waktu Mina mengkhawatirkan tunangannya yang hilang tanpa kabar, ia akhirnya berhasil menemukan Jonathan yang ternyata jatuh sakit dan menderita demam otak. Tidak ada yang tahu kapan dan bagaimana Jonathan kabur dari kastil di Trasylvania.

Jonathan yang baru sembuh akhirnya meminta Mina untuk menikahinya. Namun sebelumnya menyerahkan jurnalnya kepada Mina, untuk ia baca dan setelah itu untuk baru memberikan keputusan apakah ia mau menikahi Jonathan.

Mina bersedia untuk menyimpan jurnal tersebut, namun menolak untuk membacanya karena ia percaya sepenuhnya pada Jonathan. Mereka pun menikah dengan bahagia.

Sementara itu di tempat lain, sahabat Mina, Lucy Westenra tiba-tiba menderita sakit berat. Tubuhnya tampak pucat dan tidak berdaya. Tunangan Lucy, Arthur Holmwood kemudian meminta bantuan temannya, seorang dokter bernama John Seward.

Karena penyakit Lucy yang hanya aneh dan hanya bisa disembuhkan dengan transfusi darah, John Seward pun akhirnya meminta bantuan kolega nya Abraham Van Helsing.

Legenda Vampir, sesungguhnya telah ada untuk waktu yang sangat lama. Abraham Van Helsing, ternyata adalah salah satu orang yang familiar dengan legenda-legenda tersebut. Penyakit Lucy, membuat Van Helsing memiliki dugaan tertentu. Van

Helsing kemudian mencoba melidungi Lucy dengan barang-barang yang menurut mitos dapat menangkal Vampir. Namun demikian Lucy terus menerus memerlukan transfuse darah. Arthur Holmwood, John Seward dan juga Van Helsing telah menyumbangkan darah mereka untuk Lucy.

Ketika Lucy masih membutuhkan darah, mereka pun mencari orang lain yang dapat melakukannya. Bertemulah ketiga orang tersebut dengan pemuda yang bernama Quincy Jones, yang ternyata pernah melamar Lucy namun ditolak olehnya (John Seward juga pernah melamar Lucy namun ditolak juga).

Ketiga pemuda yang sama-sama mencintai Lucy, dan juga Van Helsing telah berusaha sebisa mereka untuk menyelamatkannya. Namun apa daya, Lucy Westenra akhirnya meninggal. Anehnya, setelah meninggal tubuh Lucy secara fisik terlihat lebih sehat dan lebih hidup serta jauh lebih cantik, daripada sebelumnya. Ketiga pemuda itu pun berduka.

Dan Van Helsing tau bahwa permasalahannya tidak akan berakhir disini.

Beberapa hari kemudian, sebuah berita di surat kabar memberitakan tentang sebuah fenomena aneh. Dalam beberapa hari terakhir kerap terjadi kejadian “anak hilang”. Anak2 tersebut selalu hilang menjelang malam, dan pada pagi harinya ditemukan kembali di tempat-tempat umum. Anak-anak yang ditemukan tersebut selalu memiliki dua bekas gigitan kecil di lehernya.

Mereka mengaku dibawa oleh seorang bloofer lady (beautiful lady). Menarik kan?

Abraham Van Helsing, Athur Holmwood, John Seward, dan Quincy Jones akhirnya berkorespondsi dan bertemu dengan Jonathan dan Mina Harker. Mereka berenam pun mengakurkan cerita mereka. Akhirnya mereka membentuk persekutuan untuk memburu mahluk bernama Count Dracula. Dan disinilah cerita menjadi amat sangat seru dan membuat penasaran.

Dan jangan salah, Count Dracula pun tidak akan menyerah tanpa perlawanan.

Seruuuuuuuuuuuuuuuu deh!!

Yang jelas buku Dracula nya Bram Stoker ini menjadi cerita gothic yang menjadi trendsetter vampirisms. Buku klasik yang harus dibaca… Itu juga kalo kamu berani! Hihihi..

Circle of Fire By Michelle Zink (Book Three of Prophecy of the Sisters)

Penerbit  : Little Brown Books

Tebal : 359 Halaman

Masih keingetan pertama kali baca review buku Prophecy of the Sisters sebagai proyek baca bareng Blogger Buku Indonesia awal2 di tahun yang lalu. Akhirnya saya penasaran dan baca bukunya juga. Latar belakang ceritanya yang berbau Ghotic cukup menarik, namun di buku satu alurnya memang kelewat lambat dan ngga ada keseruan yang dilewati sampai dengan selesai menutup buku.

Terus saya nemu buku kedua dari seri ini Guardian of the Gate di sale di toko buku Periplus. Dan yang namanya buku berseri memang racun banget, hehe. Kalo udah baca satu, ntah rame atau ngga rame pengennya diselesein sampe tamat. Jadilah saya beli.  Cukup banyak twist di buku kedua yang membuat saya berpikir Ok mungkin memang salah potong chapter aja buat pembagian bukunya. Seru2 dan kejutan2 baru ada di buku kedua.

Lalu karena tidak kunjung menemukan seri ketiganya ini di toko buku akhirnya memesanlah saya lewat on line shop. Dan huummm, bentar2 meningan diceritain sekilas dari awal kali ya.

Alkisah dua anak perempuan kembar Lia dan Alice yang baru saja kehilangan ayahnya. Tak lama setelah ayahnya meninggal muncul tanda aneh di pergelangan tangan Lia dan juga Alice. Lalu Lia sang protagonis menemukan sobekan kertas yang berisi ramalan kuno tentang Iblis Samael. Bahwa dari waktu ke waktu sang Iblis akan mencoba untuk melakukan invasi ke dunia melalui seorang perempuan yang berperan sebagai gerbang (Gate). Peristiwa itu dari waktu ke waktu telah berhasil dicegah oleh para penjaga (Guardian) yang ternyata selalu jatuh pada saudara kembar sang gerbang.

Tidak butuh waktu untuk mengerti kalo ramalan itu nyata. Ibu dari Lia dan Alice yang meninggal ketika mereka kecil juga memiliki seorang saudara kembar bernama Abigail. Mereka juga adalah sepasang Guardian dan Gate.

Di buku satu Lia menyimpulkan bahwa dirinya adalah sang guadian yang berkewajiban mencegah Samael melaksanakan rencananya. Sedari kecil memang Alice lah yang (sepertinya) memiliki bibit2 jahat dan Lia curiga jika Alice sudah lebih dahulu sadar akan siapa mereka dan sudah berpihak pada Samael. Untuk mencegah rencana besar itu iya harus menemukan perempuan2 lain yang berperan sebagai kunci yang diperlukan untuk mengusir Samael.

Lalu di buku kedua terbuka fakta bahwa ternyata Lia lah yang berperan sebagai gerbang dan Alice lah yang harus mencegahnya. Lia adalah The Angel alias The Choosen one, gerbang paling kuat untuk menarik Samael masuk ke dunia. Ketika peran dan perasaan terbalik2 Lia memilih untuk meneruskan upaya pencegahan terhadap bangkitnya Samael. Kita meninggalkan buku kedua dengan fakta2 tersebut. Plus bumbu2 romance kalo ternyata kekasih Lia yang ia tinggalkan demi misinya kini menjadi tunangan Alice, tapi di perjalanannya Lia juga telah bertemu dengan Dimitri yang misterius dan menjadi kekasihnya.

Dan kesimpulan buku ketiga. Saya tetep kesel sama Lia. She is one of the weakest heroine I’ve ever read. Lia yang banyak mengeluh dan berharap semua orang harus mengerti dirinya. Lia yang tidak pernah mau benar-benar mengerti mengapa Alice berbuat apa yang ia perbuat. Bahkan mungkin motivasi saya terus membaca seri ini adalah karena penasaran dengan Alice dan bukan Lia.

Di buku ketiga ini misi Lia adalah menemukan tempat dimana Samael akan muncul, mengumpulkan para kunci, dan yang (menurutnya) tersulit adalah membujuk Alice untuk melaksanakan perannya sebagai Guardian. Di sisi lain Lia juga berusaha untuk menahan godaan dari Samael yang membujuknya semanis madu untuk berhenti melawan dan beralih pihak saja.

Dan saya sangat menyesalkan endingnya. Ntah misi mereka berhasil atau tidak, saya tetap merasa Alice diperlakukan dengan tidak adil oleh sang pengarang. Dan in my humble opinion cerita ini akan jauh lebih menarik dan dramatis dari sudut pandang Alice daripada membaca keluhan dan perilaku menye2 Lia.

Latar belakang Ghotic yang sebenarnya sangat menarik ini kurang diekplorasi maksimal sehingga ngga begitu seru efeknya. Begitu juga dengan bumbu romantis Lia dan Dimitri ala twilight series yang ganggu banget (buat saya) dan karakter Heroine (supposed to be) nya yang annoying, kekanak-kanakan dan (kadang) dangkal.

Sebagai penutupnya di akhir buku mau ngga mau saya merasa sedih. Bukan karena ceritanya yang rame banget. Tapi untuk salah satu tokohnya yang selalu salah dimengerti dari awal sampai akhir cerita. Another Severus Snape. Poor Alice.. She deserve her own story..

“Yet it doesn’t matter whether our dreams are simple or elaborate. Whether we wish to live quietly as wives or visibly as rulers of many. In the end, we all want the same thing: to live. To live in our own terms.”

Frankenstein By Mary Shelley

Penerbit : Penguin Popular Classics

Tebal : 215 Halaman

“When falsehood can look so like the truth, who can assure themselves of certain happiness?”

Saya merinding baca kata pengantar dari pengarang di edisi buku yang ini. Bayangkan, Mary Shelley menuliskan kata pengantar tersebut tahun 1831. Sekarang 180 tahun kemudian kita masih bisa baca pesan langsung dari sang pengarang ke pembacanya. Amazing bagaimana suatu karya tulis dapat bertahan di tengah gempuran waktu. Ngga seperti manusianya yang akan kembali ke tanah, karya tulis seperti ini akan terus bertahan dari generasi ke generasi. Perasaan merinding yang sering muncul setiap kali saya baca buku klasik.

By the way. Salah kaprah kalo digambarkan di media bahwa Frankenstein itu monster. Frankenstein itu nama manusia pinter keblinger hingga nekat “Playing God’ menciptakan mahluk tambal sulam dan memberinya kehidupan (ntah bagaimana caranya). Victor Frankenstein menamai mahluk ciptaannya itu sebagai daemon (setan/iblis/jin)nya.

Kisah ini dibuka oleh surat2 dari Captain Robert Walton kepada saudara perempuannya. Dalam suatu ekspedisi ke Kutub Utara Captain Robert Walton berhasil menyelamatkan seorang pria yang nyaris mati beku. Pria tersebut adalah Victor Frankenstein. Dan melalui narasinya Frankenstein menceritakan sebab musabab ia berkelana hingga ke Kutub Utara.

Frankenstein terlahir di keluarga yang bahagia dan sangat berada di Geneva, Swiss. Ia tumbuh besar dengan rasa cinta kepada ilmu pengetahuan dan sedikit terobsesi pada ilmu pengetahuan kuno tentang bagaimana caranya manusia bisa menciptakan kehidupan.

Ketika beranjak dewasa Frankenstein menuntut ilmu di kota London, Inggris. Disana keingintahuannya tentang pengetahuan kuno tersebut terpuaskan sampai di suatu titik ia merasa bahwa dengan hanya membaca saja tidak akan cukup. Ia harus melalukan percobaan.

Maka kegiatan gila itu pun di mulai. Frankenstein mengumpulkan organ2 tubuh dari mayat2 dan menambal sulamnya menjadi mahluk (yang ia pikir) cukup mirip manusia. Pada akhirnya ia berhasilkan menghidupkan mahluk tersebut (dengan tidak diperinci bagaimana caranya, pintar memang Jeng Mary Shelley ini).

Ketika akhirnya mahluk itu bangkit. Frankenstein tercekam oleh ketakutannya sendiri dan lari meninggalkan mahluk tersebut di tempat tinggalnya. Ketika ia kembali, mahluk itu telah hilang dari tempat tinggalnya. Frankenstein pun menenangkan dirinya dengan berpura-pura bahwa peristiwa tersebut tidak pernah terjadi (timpuk Frankenstein pake pompa). Namun akhirnya ia jatuh sakit berkepanjangan. Di saat itu sahabat masa kecilnya Henry datang dan menemani Frankenstein menuju ke kesembuhan.

Setelah sembuh dari sakit Frankenstein menerima kabar duka bahwa adik lelakinya William telah meninggal karena dibunuh. Ia dan Henry lalu kembali ke Geneva. Frankenstein memendam kecurigaan dalam dirinya. Kecurigaan itu semakin menjadi ketika ia melihat luka cekikan hitam di leher adiknya dan dibulatkan ketika pada suatu hari ia melihat daemon nya. Mahluk yang ia ciptakan telah membunuh adiknya.

Dihantui oleh rasa bersalah Victor Frankenstein menjadi murung dan penyendiri. Ketika ia sedang melamun di suatu puncak perbukitan, mahluk itu mendatanginya. Reaksi pertama Frankenstein adalah histeris dan berusaha menyerang mahluk tersebut. Menyadari bahwa mahluk yang ia ciptakan memiliki kekuatan dan kecepatan melebihi manusia biasa, maka ia pun berhenti melawan.

Ternyata sang daemon menuntut sesuatu dari penciptanya. Namun sebelum menyebutkan tuntutannya, ia pun berkisah dari saat dirinya hidup hingga ia bisa sampai di Geneva.

Pada awal kehidupannya sang daemon adalah mahluk yang sangat mengagumi kehidupan. Cahaya matahari, kicauan burung, wanginya udara pagi dan keajaiban alam lainnya. Ia pergi dari tempat tinggal Frankesntein dan kemudian berkelana ke alam bebas. Pertemuannya dengan manusia selalu menimbulkan ketakutan dan histeria dari manusia yang ia temui dan penyerangan terhadap dirinya. Padahal di saat itu sang daemon tidak memiliki niat jahat sekalipun.

Saat kabur ke wilayah hutan ia menemukan sebuah pondok kecil yang dihuni oleh tiga orang manusia, seorang kakek yang buta dan sepasang cucu laki2 dan perempuan yang senantiasa merawatnya. Ia mengamati keluarga kecil itu dari jauh selama berbulan2. Dari keluarga itulah ia belajar mendefinisikan perasaan. Kasih sayang, kebaikan, kesedihan, kemarahan.

Ia mencoba membantu keluarga tersebut secara diam2 dengan mencarikan persediaan kayu bakar untuk mereka. Perlahan sang daemon mencoba mengartikulasikan bahasanya, dan melalui suatu proses akhirnya dia secara otodidak belajar untuk membaca. Suatu hari salah seorang diantara keluarga kecil tersebut meninggalkan tiga buah buku di luar. Sang daemon merasa itu ditujukan untuknya dan melalui buku2 tersebut ia belajar tentang peradaban manusia.

Singkat kata, ia jatuh hati pada keluarga kecil tersebut dan ingin berteman dengan mereka. Ya, mahluk itu hanya mendambakan memiliki teman. Rencana telah ia susun baik2 tentang bagaimana caranya ia memperkenalkan diri kepada keluarga tersebut. Ia telah melihat bayangannya sendiri di air ketika bulan purnama dan membenci penciptanya karena telah membuat ia begitu mengerikan dan buruk rupa.

Apa boleh dikata, rencana yang telah ia susun baik2 pun berantakan. Keluarga tersebut berbalik histeris dan menyerangnya. Sang daemon merasa marah dan terluka. Terkikis habislah kepercayaannya pada kebaikan manusia. Baginya, manusia hanya mahluk yang penuh dengan prasangka karena menilainya hanya dari penampilannya saja. Ia pun murka kepada Frankenstein. Dari jubah yang ia ambil dari tempat tinggal Frankenstein ia memperoleh jurnal penciptaannya. Ia ingat betapa Frankenstein memandangnya dengan mata jijik bercampur takut ketika ia pertama kali hidup. Ia pun berniat untuk mencari Frankenstein dan menuntut keadilan.

Keadilan yang ia tuntut adalah agar Frankenstein menciptakan mahluk lain untuk menjadi temannya. Jika Frankenstein bersedia maka ia tidak akan menampakkan dirinya di depan manusia lagi. Jika tidak ia akan membunuh keluarga Frankenstein satu demi satu dan tidak akan berhenti menyebabkan penderitaan di hidup Frankenstein.

Lalu apakah sang maha pintar akan mengabulkan permintaannya? Haha tebaklah.. Yang jelas menurut saya di buku ini monsternya bukan sang daemon. Melainkan Victor Frankenstein yang ingin bermain sebagai Tuhan. Setelah menyadari apa yang diperbuatnya ia malah lari kesana kemari dan menye2. Ah, saya benci sekali pada tokoh ini.

Sentilan yang baik juga untuk para manusia modern di zaman ini yang ekstrim mendewakan science. Kita ini cuma manusia. Kesempurnaan hanya milik Tuhan. Jika kita mengira bisa menciptakan sesuatu yang sempurna, then we are making a big mistake.