Harry Potter and the Cursed Child By Jack Thorne

Caution, my reviews contains spoiler.

Act Three Scene Nine

Snape

“Tell Albus – tell Albus Severus – I’m proud he carries my name. Now go. Go!

29056083I’m in tears when I read that part. I can imagine this scene clear as a day. Severus Snape will do it all over again for his love for Lily. Did I mention that Severus Snape is probably my favorite fictional character of all time? ;p

When I read this script (not book), the scene where Severus Snape was there may very be the main reason that I am grateful that I bought this script.

Ok back to business..

Buku ini sebenarnya adalah naskah sebuah drama teater yang ditulis oleh Jack Thorne, tentu saja berkolaborasi dengan J. K. Rowling. Naskah ini terbagi menjadi 2 Part dan IV Act (saya juga termasuk salah satu orang yang tidak familiar dengan struktur naskah drama, so pardon me if I make mistakes reviewing this script).

A walk down a memory lane..

Cerita dimulai dengan adegan penutup buku Harry Potter and the Deathly Hallows, 19 tahun setelah Battle of Hogwarts,  dimana Harry & Ginny yang sudah dewasa sedang mengantar anak kedua mereka Albus Severus berangkat untuk pertama kalinya dengan Hogwart Express.

Do you remember?

Albus bertanya pada ayahnya bagaimana jika nanti Sorting Hat menempatkannya di Slytherin, and this is how Harry respond :

“Albus Severus,” Harry said quietly, so that nobody but Ginny could hear, and she was tactful enough to pretend to be waving to Rose, who was now on the train, “you were named for two headmasters of Hogwarts. One of them was a Slytherin and he was probably the bravest man I ever knew.”

That is definitely an aaaaaaawww moments and I am freaked out by how well I remember passages from Harry Potter books ;p

The story continues..

Berangkatlah Albus dengan Hogwarts Express, di kereta ia memulai pertemanan dengan Scorpius Malfoy, anak dari Draco Malfoy. Sesampainya di Hogwarts Albus dan Scorpius dua2nya ditempatkan oleh Sorting Hat di asrama Slytherin.

Albus dan Scorpius merasa memiliki banyak kesamaan, mereka berdua mempunyai ayah yang terkenal walaupun terkenal karena dua hal yang berbeda. Albus merasa tertekan karena nama besar ayahnya, dan bagaimana dirinya selalu dibandingkan dengan ayahnya, sedangkan scorpius tertekan dengan ejekan orang-orang kepada ayahnya, dimana sempat tersebar rumor bahwa ia sebenarnya adalah anak dari Voldemort yang melalukan perjalanan waktu.

Mereka berdua pun menjadi bersahabat sebagaimana dulu Harry bersahabat dengan Ron dan Hermione.

Tiga tahun kemudian Harry Potter telah menjabat sebagai kepala Magical Law Enforcement di Ministry of Magic dan Hermione menjabat sebagai Minister of Magic (couldn’t be more appropriate if I may say). Debacle ini bermula dari ditemukannya barang sihir terlarang, sebuah Time Turner, alat untuk kembali ke masa lalu.

Dalam 3 tahun ini pun hubungan Harry dan Albus semakin memburuk, Albus merasa tidak dipahami oleh ayahnya dan merasa bahwa ayahnya tidak bangga kepada dirinya. Harry merasa bahwa Albus semakin menjauh dan semakin tidak mengenali anaknya.

Pada suatu hari Albus mencuri dengar pembicaraan antara Amos (ayah Cedric Digory) yang sekarang sudah sangat sepuh dengan ayahnya di rumah mereka. Amos datang ke rumah Harry untuk meminta Harry menggunakan Time Turner untuk menyelamatkan Cedric Digory.

Harry menolak dengan alasan bahwa kembali ke masa lalu dan merubah sesuatu adalah hal yang berbahaya. Di kesempatan itu pula Albus berkenalan dengan Delphi, keponakan sekaligus perawat Amos yang juga ikut mencuri dengar percakapan antara Harry dan Amos.

Albus pun kembali ke Hogwarts untuk menjalani tahun keempatnya, Rose (anak dari Ron dan Hermione yang masuk ke asrama Gryffindor) dalam upayanya untuk kembali berteman dengan Albus (mereka berteman sewaktu belum memulai bersekolah di Hogwarts, setelah Hogwarts pertemanan mereka tidak lagi seperti dulu bahkan mungkin bisa dibilang tidak lagi berteman) menginformasikan bahwa keberadaan Time Turner itu benar dan sekarang Time Turner itu berada di Ministry of Magic.

Albus, dalam upaya untuk membuktikan bahwa ayahnya tidak sempurna dan membuat banyak kesalahan, mengemukakan ide kepada Scorpius untuk bersama2 mencuri Time Turner itu, kembali ke masa lalu dan mencegah adegan dimana Cedric Digory terbunuh.

How harmless it can be, they think..

Nothing will go wrong they think..

Untuk misi ini Albus dan Scorpius meminta bantuan dari Delphi.. Bertiga mereka meminum Polyjuice Potion dan menyamar sebagai Harry, Ron dan Hermione, masuk ke Ministry of Magic dan mencuri Time Turner-nya.

They did it and after that everything goes haywire..

Selesai membaca naskah ini, saya pada awalnya memberikan rating 5 di goodreads, kemudian saya turunkan jadi 4, kemudian besoknya saya turunkan lagi jadi 3.

Sekangen2nya saya dengan dunia Harry Potter, plot twist di akhir naskah dimana Voldemort memiliki anak dari seseorang tampak terlalu mustahil and doesn’t fit the profile at all, I can not phantom a Harry Potter world where Voldemort manage to produce a child and refuse to accept that. Period. Hehe.

Pada awal-awal mendalami karakter Harry di naskah ini,  saya sempat sebal dengan miskomunikasi antara Harry dan dan Albus, namun dipikir2 Harry grows up without James, so I’ll give him a pass. The alternate universe dimana Ron dan Hermoine tidak menikah itu agak-agak menyakitkan, seeing how miserable they’ve become.

I absolutely love Scorpius! And Draco Malfoy. But anyway by the end of Harry Potter and the Deathly Hallows the Malfoys are already forgiven and deserved a second chance.

In the end, bagaimanapun juga, mengunjungi kembali dunia Harry Potter bersama tokoh2nya tetap merupakan sesuatu yang menyenangkan dan akan selalu dirindukan. It’s a privilege.

14910578_10154056189573379_8182615881656500421_nDan Severus Snape.. ah Severus Snape..

“SCORPIUS: The world changes and we change with it. I am better off in this world. But the world is not better. And I don’t want that.”

“It is exceptionally lonely, being Draco Malfoy. I will always be suspected. There is no escaping the past.”

“How to distract Scorpius from difficult emotional issues. Take him to a library.”

The Night Circus By Erin Morgenstein

20140425-122633.jpg

“Stories have changed, my dear boy,” the man in the grey suit says, his voice almost imperceptibly sad.

“There are no more battles between good and evil, no monsters to slay, no maidens in need of rescue. Most maidens are perfectly capable of rescuing themselves in my experience, at least the ones worth something, in any case.

There are no longer simple tales with quests and beasts and happy endings. The quests lack clarity of recognize for what they are.

And there are never really endings, happy or otherwise. Things keep going on, they overlap and blur, your story is part of your sister’s story is part of many other stories, and there is no telling where any of them my lead.

Good and evil are a great deal more complex than a princess and a dragon, or a wolf and a scarlet-clad little girl. And is not the dragon the hero of his own story?

Is not the wolf simply acting as a wolf should act? Though perhaps it is a singulat wolf who goes to such lengths as to dress as a grandmother to toy with its prey.”

Pfiuh.. It’s been a quite while since I write a review.. Maybe it took this book for me to start again.. I’ve been itching to write this review ever since I finished this book on a plane from Jakarta to Yogyakarta!

Terus terang saya ngga pernah nonton pertunjukan sirkus, paling banter nonton di tv. Itu mungkin yang paling saya suka dari buku ini. Penggambaran suasana, flow cerita, seakan-akan saya betul-betul ada di dalam sirkus dan ikut merasakan efek magis yang ada.

Le Cirque des Reves nama sirkusnya. Dan sirkus tersebut datang dan pergi tanpa diundang. Tanpa mobilisasi dan peringatan apapun Le Cirque des Reves mendatangi suatu kota. Di suatu pagi tenda-tenda megah tiba-tiba sudah terbangun dengan megahnya. Pada pintu pagarnya akan terlulis sebuah papan hitam dengan tulisan putih:
Opens at Nightfall, Closes at Dawn

You step into a bright, open courtyard surrounded by striped tents.

Curving pathways along the perimeter lead away from the courtyard, turning into unseen mysteries dotted with twinkling lights.

Semua dimulai dari ide gila seorang Bilyuner nyentrik bernama Chandresh Christopher Lefevre. Di suatu malam ia mengumpulkan beberapa orang yang ia nilai bisa mewujudkan obsesi barunya dalam sebuah jamuan makan malam. Dan di keesokan paginya perencanaan sirkus pun telah dimulai.

Setelah blueprint sirkus ditetapkan mereka pun mulai mengaudisi performers. Salah satu yang terpilih adalah Celia Bowen, yang di kemudian hari akan menjadi bagian penting dari jalan nasib The Circus of Dreams.

Pada malam pembukaan sirkus, suatu kejadian di luar skenario terjadi. Salah seorang performers wanita yang berprofesi sebagai pawang macan melahirkan sepasang bayi kembar yang kemudian diberi nama panggilan Poppet dan Widget.

Bisa dikatakan bahwa Poppet dan Widget adalah anak dari sirkus itu sendiri. Tahun demi tahun berlalu, sirkus pun terus berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya tanpa pertanda atau peringatan, menyihir setiap pengunjungnya dengan venue-venue yang magis. The Hanged Man, Hall of Mirrors, The Labyrinth, The Cloud Maze, Wishing Tree, The Ice Garden, Pool of Tears.

Semua digambarkan seolah-olah pembaca betul-betul ada disana, dan berharap betul-betul bisa berada disana.

“You’re not destined or chosen, I wish I could tell you that you were if that would make it easier, but it’s not true. You’re in the right place at the right time, and you care enough to do what needs to be done. Sometime’s that’s enough.”

Menjelang ulang tahun sirkus yang kesepuluh, salah seorang pendiri sirkus bernama Tara Burgess mulai merasa gelisah. Ada sesuatu yang salah dengan Le Cirque des Reves, dari mulai atmosfir magis yang terlalu nyata sampai dengan kenyataan bahwa tidak satupun para anggota sirkus maupun pendirinya yang terlihat bertambah tua kecuali si kembar Poppet dan Widget.

Tidak lama kemudian Tara Burgess meninggal karena tertabrak kereta.

Sebenarnya ada apa dengan sirkus tersebut. Bagaimana sirkus tersebut bisa menghadirkan atmosfir magis yang seolah-olah (atau memang sebetulnya) nyata?

How about you? Care to join the Circus? 🙂

“Before you leave, the fortune-teller reminds you that the future is never set in stone.”

Among Others By Jo Walton

20130613-092607.jpg

Hahaha.. Saya harus jitak diri sendiri waktu liat postingan ini ada di box draft sejak tanggal 13 Juni, terus lupa ga diterusin.. Maafkan teman2, maklum masih menyesuaikan dengan ritme kehidupan di Jakarta Raya Megapolitan ini 😉

Padahal waktu selesai baca pengeeeen banget cerita tentang buku ini, apalagi waktu BBI ada jadwal posting bareng review buku dengan tema “book about books“. Waaah cocok banget nih, soalnya tokoh utama di buku ini Morwena Phelps alias Mori adalah seorang hardcore bookaholics di genre science fiction & fantasy. Saya aja selesai baca langsung hunting buku2 SF!! *ga insyaf2 emang nih saya* 😉

Buku bergenre contemporary fantasy magic ini bercerita tentang remaja perempuan bernama Mori yang pada suatu waktu tidak memiliki pilihan lain melainkan pindah dari kota tempat ia dibersarkan dan tinggal bersama Ayahnya yang telah pergi dari kehidupannya semenjak ia kecil.

Tadinya Mori memiliki seorang saudara kembar perempuan identik, Mor. Mereka berdua memiliki kemampuan melihat mahluk2 magis, peri, kurcaci dan sebagainya. Sayangnya, mereka dibesarkan oleh seorang Ibu yang agak gila merangkap seorang penyihir jahat.

Suatu insiden yang melibatkan Ibu mereka menyebabkan saudara kembar Mori meninggal. Dan semenjak saat itu Mori menyadari jika hidupnya akan selalu berada dalam bahaya jika ia masih berada di sekitar Ibunya.

Maka Mori mengambil keputusan berat untuk pindah. Satu2nya pelarian Mori adalah buku2 science fiction & fantasy-nya. And believe me she’s an expert in those genre, saya langsung merasa ngga tau apa2 ttg buku2 yang Mori sebutkan di ceritanya.

Ternyata Ayahnya adalah orang yang cukup baik, walau tidak hangat. Mereka berdua memiliki hobby yang sama yaitu membaca. Satu kesamaan itu sudah cukup membuat Mori merasa nyaman dengan Ayahnya.

Oleh sang Ayah, Mori didaftarkan ke sebuah boarding school khusus untuk anak perempuan. Disana Mori bertahan dengan buku2nya, plus perpustakaan boarding school tersebut memiliki koleksi yang cukup lumayan menurut standar Mori.

Satu kerepotan yang harus ia lalukan adalah menebarkan sihir untuk menghalangi Ibunya memata-matai dirinya dari jauh. Mori menemukan itu sedikit sulit karena hanya ada sedikit magic di sekitar sekolahnya. Bahkan ia kesulitan untuk menemukan seorang peri! Di tempat dimana penghuninya tidak percaya lagi pada hal2 magis, maka para peri pun tidak akan mau menampakkan dirinya.

Seminggu sekali setiap murid diizinkan untuk pergi ke kota terdekat selama satu hari. Tebak apa yang Mori cari ketika pertama kalinya pergi ke kota? Tentu saja perpustakaan!! Hehe. Tempat itulah yang menjadi tujuan utama Mori untuk rekreasi.

Diantara mengatasi perasaan sedih karena kehilangan saudari kembarnya dan juga takut akan keberadaan Ibunya. Mori mengubur dirinya dalam buku. Tidak lama ia menemukan bahwa perpustakaan kota yang sering ia kunjungi memiliki reading club khusus genre favoritnya. Anggota perkumpulan tersebut bertemu seminggu sekali untuk membahas buku2 dan juga pengarang2 science fiction & fantasy.

Disana Mori berkenalan dengan seorang remaja laki2 yang sehobi dan sama fasihnya dalam pengetahuan tentang buku. Saat kehidupan mulai berjalan dengan baik, dalam hatinya Mori tau bahwa ia tidak bisa selamanya menghindar. Ada hal yang harus ia selesaikan di tempat kelahirannya, ada hal yang harus ia selesaikan dengan Ibunya.

Lalu akankah sihir Mori cukup kuat untuk mengkonfrontasi Ibunya?

In my humble opinion buku ini memiliki material cerita yang keren banget. Namun saya baru yakin 100% sihir yang diceritakan Mori adalah nyata ketika sudah mencapai 1/2 buku. Tadinya jujur saya mengira ybs sedikit delusional.

Satu lagi, klimaks dari cerita agak kurang menggigit (menurut saya loh), karena saya sudah menunggu2 momen2 akhir itu dengan sangat antusias, sayang eksekusi pertarungan akhirnya kurang nendang.

Terlepas dari semua “sayang” yang tadi saya ceritakan. Saya tetap memberikan 4 dari 5 bintang untuk buku ini ’cause I love book about books especially when the main character is a bookaholic just like me. Hehehe.

Dan ceritanya memang seru kok, I just wish that it has more sensational ending. And probably that just a subjectively opinion from my self, I’m sure you’ll like this book plus the heroine.

Paranormalcy By Kiersten White

8254259Penerbit : Terakota Books (Uncorrected Version/ Dummy)
Tebal : 403 Halaman
Alih Bahasa : Tendy Yulianes Susanto

Jujur nih, saya sempet trauma dengan buku2 yang mengandung vampire dan ware-wolf setelah membaca Twilight Series. Lalu kemarin2 saya bertekad untuk mengapus keengganan untuk membaca segala jenis buku yang tadinya saya hindarin dan mencoba lagi untuk kembali netral. Kebeneran dapet tawaran dari Terakota Books buat baca versi dummy dari buku Paranormalcy nya Kiersten White yang bakalan mereka terbitin.

Gayung bersambut deh. Dan emang kayaknya ngga boleh deh menghakimi suatu genre itu asik atau ngga. Buktinya buku ini berhasil mengampuni prasangka saya terhadap cerita2 yang mengandung vampire dan ware-wolf. Hehe.

Tokoh utama di buku ini namanya Evie. Seorang remaja perempuan yang bekerja di IPCA ( The International Paranormal Containment Agency). IPCA ada untuk mendata, melacak dan menertralkan semua mahluk jadi2an (atau istilah lainnya golongan paranormal) yang berkeliaran di dunia. Vampire, Ware-wolf, Faerie, Mermaid, Hag dan aneka mahluk jadi2an lainnya yang belum dikategorikan.

Para mahluk paranormal tersebut biasanya menggunakan wujud penyamaran (Glamor, istilah mereka) agar bisa berkeliaran bebas di dunia manusia. Wujud penyamaran tersebut sebenarnya hanya ilusi untuk menipu mata mahluk lain. Di titik itulah Evie memiliki kelebihan, dia bisa melihat wujud asli mahluk paranormal menembus Glamor-nya. Dengan kata lain, tidak ada satu pun mahluk paranormal yang bisa bersembunyi dari mata Evie.

Karena itu, semenjak berumur kurang dari 10 tahun Evie  dirawat dan dibesarkan oleh orang2 IPCA. Dan ketika telah cukup terlatih, Evie bekerja untuk menetralkan para vampir dan mahluk lainnya sehingga tidak dapat mengganggu manusia.

Di kompleks IPCA Evie memiliki unit tempat tinggalnya sendiri, ia bersahabat dengan seorang Mermaid pintar bernama Liz yang juga bekerja untuk IPCA. Namun seperti halnya remaja biasa, Evie seringkali memimpikan kehidupan normal seperti yang ia lihat di serial TV. Dan hal2 yang paling ia inginkan untuk miliki sebagai perlambang kehidupan remaja normal adalah memiliki SIM dan locker sendiri. Hehehe.

Boleh dibilang salah satu kelebihan dari buku ini adalah karakter heroine nya. Evie yang cerdik, lucu dan tangguh. Jauh dari kesan menye2 (we had enough of Bella Swan thank you!) pokoknya si Evie ini.

Suatu hari markas IPCA menangkap seorang penyelundup di ruangan agen/ibu asuh Evie, Rachel. Si penyelundup ternyata semacam shapeshifter yang belum pernah ditemukan dan dikategorikan oleh IPCA. Sang shape shifter itu bernama Lend yang ternyata pada dasarnya adalah seorang remaja pria yang seumuran dengan Evie.

Didorong oleh rasa penasarannya (karena minim teman sebaya), akhirnya Evie berteman dekat dengan Lend yang statusnya tahanan IPCA. Dari hasil ngobrol2 mereka Evie mulai mempertanyakan keberadaannya di IPCA. Apa sebenarnya statusnya, kenapa ia tidak boleh bebas keluar dari lembaga itu, dan pertanyaan2 lain yang sebelumnya diterima Evie sebagai suatu kewajaran.

Di sisi lain terjadi sesuatu yang tidak biasa di dunia paranomal. Banyak mahluk2 paranormal yang ditemukan mati tanpa sebab. Setelah beberapa kasus rumor beredar bahwa pembunuhnya adalah mahluk berwujud api yang dapat membuat paranormal sekuat apapun mati hanya dengan menyentuhnya.

Ternyata rumor tersebut berkaitan dengan kelakuan Reth, seorang Faerie yang pernah dekat (tapi sekarang tidak) dan terlanjur terobsesi dengan Evie. Reth terus mencoba dengan berbagai cara untuk mendekati Evie dan mengisinya dengan api.

Apa sebenarnya benah merah dari semua puzzle di atas? Siapa sebenarnya Evie? Baca sendiri aja ya.. Yang jelas terimakasih kepada pihak yang memberikan kesempatan saya untuk baca terjemahan ini duluan, saya jadi kadung penasaran dan beli ebook buku ini dan dua buku terusannya untuk ngobatin penyakit penasaran saya. Hehehe.

Saya suka banget dengan ide adanya lembaga kayak IPCA buat mengatur keberadaan para mahluk jadi2an. Idenya orignal dan menarik. Setelah bandingin dengan versi bahasa inggrisnya, ternyata versi terjemahannya ini berhasil mentransfer semua muatan dari bahasa aslinya tanpa mengurangi kesegaran jalannya cerita.

Ngga gampang deh kayaknya mengkonversi celoteh khas remaja dari versi bahasa inggris ke versi bahasa indonesia. Salah2 bisa2 kedengeran ganjil dan ngerusak seluruh keasikan baca. Makanya saya bisa bilang kalo ini salah satu versi terjemahan yang berhasil.

Buat para penggemar genre Young Adult Paranormal kayaknya keterlaluan kalo sampe ngelewatin buku ini. Buat para penggemar genre lain, ngga ada salahnya juga nyoba baca. Terlepas apa genrenya, buku ini cukup seru dan menarik buat dibaca. 4 dari 5 bintang dari saya.

PS : Menurut saya satu2nya yang kurang OK adalah covernya. Ngga menggambarkan kepribadian Evie soalnya. Terlalu feminim dan kurang sangar. Hihihi.

The Eye Of The Moon By Anonymous (Bourbon Kid #2)

Penerbit : Michael O’Mara Books Limited

Tebal : 380 Halaman

Pheeew.. Udah lumayan lama juga saya baca buku pertamanya The Book With No Name.. Waktu itu saya baca terjemahan dari penerbit Kantera, setelah ditunggu2 sequelnya The Eye Of The Moon ini ngga juga terbit jadi ya sudah beli yang bahasa inggrisnya saja.

Setelah baca mungkin akan lebih seru lagi kalo saya baca yang bhs inggrisnya saja dari buku pertama. Banyak banget jokes yang agak ganjil kalo diterjemahin ke bahasa indonesia. Di akhir buku pertama kita akhirnya ngeh kalau Santa Mondega adalah kota antah berantah yang ternyata memang dipenuhi oleh vampir, warewolf dan berbagai macam mahluk mati tapi hidup lainnya.

Setelah keributan berdarah di Bar Tapioca milik Sanchez, sang tokoh utama dalam buku ini, si Bocah Bourbon yang berdarah dingin menyangka kalo perempuan jadi2an yang bernama Jessica telah ia bunuh dengan bantuan Dante (manusia biasa yang kebetulan akhirnya tahu mahluk macam apa Jessica sebenarnya). Padahal kemudian Jessica lagi2 diselamatkan oleh Sanchez yang konyolnya sebenarnya tidak mengerti apa yang terjadi.

Si Bocah Bourbon kemudian berhasil membunuh musuh lain yang konon tidak bisa mati dan pergi untuk membantai para biarawan Hubal dan merebut The Eye of The Moon. Ia berhasil membantai para biarawan tersebut, namun salah satu biarawan muda, Peto (yang juga telah menginjakkan kaki di Santa Mondega) berhasil selamat dan membawa serta batu yang diperebutkan itu.

Di buku kedua yang tidak kalah sadis dan penuh darah, cerita dibuka dengan flashback ke berbelas tahun yang lalu. Tentang masa lalu si Bocah Bourbon yang menyebabkan ia menjadi seperti sekarang. Tentang alasan di balik selalu selamatnya Sanchez dari pembantaian yang dilakukan si Bocah Bourbon dan kenapa ia mencari batu bertuah The Eye of The Moon.

Di sisi lain, sesuatu yang mengerikan terbangkitkan ketika si Bocah Bourbon membunuh pemimpin biarawan Hubal. Sesuatu yang mengerikan itu mencari sesuatu yang telah ribuan tahun dicuri darinya. Matanya, The Eye of The Moon.

Sementara itu Peto, setelah seluruh isi biaranya mati dibantai, kembali ke Santa Mondega dengan misi gila untuk menyembukan si Bocah Bourbon dari penyakit kejam dan haus darahnya. Dante dan pacarnya Kacy pun ternyata tidak dapat lari dari Santa Mondega dan malah terlibat semakin jauh ke dalam plot para mahluk jadi2an yang berniat mencelakakannya dan Kacy.

Dan Sanchez dengan keculunan tingkat tingginya tetap melakukan hal2 tidak disengaja yang sebenarnya sangat berpengaruh ke dalam seluruh jalan cerita. Kesimpulan saya, sequel The Book With No Name ini jauh lebih seru dari buku pertamanya. Apalagi setelah tahu kalo si Bocah Bourbon dulunya anak biasa yang juga mengalami cinta monyet (yang sayangnya berakhir tragis) dan punya keluarga (yang sayangnya juga berakhir tragis) ;p.

Akhir kata, jangan sekali-kali mau datang ke Santa Mondega atau berkenalan dengan orang-orang yang berasal dari sana. Salah2 ketularan kengerian yang tertimpa pada para penghuninya. Hehehe.

Circle of Fire By Michelle Zink (Book Three of Prophecy of the Sisters)

Penerbit  : Little Brown Books

Tebal : 359 Halaman

Masih keingetan pertama kali baca review buku Prophecy of the Sisters sebagai proyek baca bareng Blogger Buku Indonesia awal2 di tahun yang lalu. Akhirnya saya penasaran dan baca bukunya juga. Latar belakang ceritanya yang berbau Ghotic cukup menarik, namun di buku satu alurnya memang kelewat lambat dan ngga ada keseruan yang dilewati sampai dengan selesai menutup buku.

Terus saya nemu buku kedua dari seri ini Guardian of the Gate di sale di toko buku Periplus. Dan yang namanya buku berseri memang racun banget, hehe. Kalo udah baca satu, ntah rame atau ngga rame pengennya diselesein sampe tamat. Jadilah saya beli.  Cukup banyak twist di buku kedua yang membuat saya berpikir Ok mungkin memang salah potong chapter aja buat pembagian bukunya. Seru2 dan kejutan2 baru ada di buku kedua.

Lalu karena tidak kunjung menemukan seri ketiganya ini di toko buku akhirnya memesanlah saya lewat on line shop. Dan huummm, bentar2 meningan diceritain sekilas dari awal kali ya.

Alkisah dua anak perempuan kembar Lia dan Alice yang baru saja kehilangan ayahnya. Tak lama setelah ayahnya meninggal muncul tanda aneh di pergelangan tangan Lia dan juga Alice. Lalu Lia sang protagonis menemukan sobekan kertas yang berisi ramalan kuno tentang Iblis Samael. Bahwa dari waktu ke waktu sang Iblis akan mencoba untuk melakukan invasi ke dunia melalui seorang perempuan yang berperan sebagai gerbang (Gate). Peristiwa itu dari waktu ke waktu telah berhasil dicegah oleh para penjaga (Guardian) yang ternyata selalu jatuh pada saudara kembar sang gerbang.

Tidak butuh waktu untuk mengerti kalo ramalan itu nyata. Ibu dari Lia dan Alice yang meninggal ketika mereka kecil juga memiliki seorang saudara kembar bernama Abigail. Mereka juga adalah sepasang Guardian dan Gate.

Di buku satu Lia menyimpulkan bahwa dirinya adalah sang guadian yang berkewajiban mencegah Samael melaksanakan rencananya. Sedari kecil memang Alice lah yang (sepertinya) memiliki bibit2 jahat dan Lia curiga jika Alice sudah lebih dahulu sadar akan siapa mereka dan sudah berpihak pada Samael. Untuk mencegah rencana besar itu iya harus menemukan perempuan2 lain yang berperan sebagai kunci yang diperlukan untuk mengusir Samael.

Lalu di buku kedua terbuka fakta bahwa ternyata Lia lah yang berperan sebagai gerbang dan Alice lah yang harus mencegahnya. Lia adalah The Angel alias The Choosen one, gerbang paling kuat untuk menarik Samael masuk ke dunia. Ketika peran dan perasaan terbalik2 Lia memilih untuk meneruskan upaya pencegahan terhadap bangkitnya Samael. Kita meninggalkan buku kedua dengan fakta2 tersebut. Plus bumbu2 romance kalo ternyata kekasih Lia yang ia tinggalkan demi misinya kini menjadi tunangan Alice, tapi di perjalanannya Lia juga telah bertemu dengan Dimitri yang misterius dan menjadi kekasihnya.

Dan kesimpulan buku ketiga. Saya tetep kesel sama Lia. She is one of the weakest heroine I’ve ever read. Lia yang banyak mengeluh dan berharap semua orang harus mengerti dirinya. Lia yang tidak pernah mau benar-benar mengerti mengapa Alice berbuat apa yang ia perbuat. Bahkan mungkin motivasi saya terus membaca seri ini adalah karena penasaran dengan Alice dan bukan Lia.

Di buku ketiga ini misi Lia adalah menemukan tempat dimana Samael akan muncul, mengumpulkan para kunci, dan yang (menurutnya) tersulit adalah membujuk Alice untuk melaksanakan perannya sebagai Guardian. Di sisi lain Lia juga berusaha untuk menahan godaan dari Samael yang membujuknya semanis madu untuk berhenti melawan dan beralih pihak saja.

Dan saya sangat menyesalkan endingnya. Ntah misi mereka berhasil atau tidak, saya tetap merasa Alice diperlakukan dengan tidak adil oleh sang pengarang. Dan in my humble opinion cerita ini akan jauh lebih menarik dan dramatis dari sudut pandang Alice daripada membaca keluhan dan perilaku menye2 Lia.

Latar belakang Ghotic yang sebenarnya sangat menarik ini kurang diekplorasi maksimal sehingga ngga begitu seru efeknya. Begitu juga dengan bumbu romantis Lia dan Dimitri ala twilight series yang ganggu banget (buat saya) dan karakter Heroine (supposed to be) nya yang annoying, kekanak-kanakan dan (kadang) dangkal.

Sebagai penutupnya di akhir buku mau ngga mau saya merasa sedih. Bukan karena ceritanya yang rame banget. Tapi untuk salah satu tokohnya yang selalu salah dimengerti dari awal sampai akhir cerita. Another Severus Snape. Poor Alice.. She deserve her own story..

“Yet it doesn’t matter whether our dreams are simple or elaborate. Whether we wish to live quietly as wives or visibly as rulers of many. In the end, we all want the same thing: to live. To live in our own terms.”

The Serpent’s Shadow (Kane Chronicles #3) By Rick Riordan

Penerbit : Hyperion Books

Tebal : 406 Halaman

“Sadie Kane here.

If you’re listening to this, congratulations! You survived doomsday.

I’d like to apologize straightaway for any inconvinience the end of the world may caused you. The earthquakes, rebellions, riots, tornadoes, floods, tsunamis, and of course the giant snake who swallowed the sun. I’m afraid most of that was our fault. Carter and I decided we should at least explain how it happened.”

Haha, typical Sadie banget. Miss them (Sadie & Carter)? I do. Dan akhirnya kita sampai kepada buku ketiga dari Kane Chronicles. Setelah The Red Pyramyd & The Throne of Fire, buku ketiga ini berjudul The Serpent’s Shadow yang secara garis besar udah mewakili isi cerita.

Buat yang ketinggalan seri ini, secara garis besar ceritanya dewa dewi mesir adalah nyata dan mereka sampai saat ini masi berkeliaran di muka bumi. Adalah Sadie & Carter Kane, kakak beradik yang ternyata merupakan titisan Isis dan Horus yang menjadi ujung tombak keselamatan dunia dari doomsday.

Doomsday? Iya, sang lord of chaos alias aphopis yang seringkali digambarkan dengan wujud ular raksasa (serpent) sedang merencanakan untuk mengembalikan kondisi dunia yang kita tinggali ini ke nothingness alias “kegelapan”. Caranya adalah dengan menelan matahari.

Dalam The Throne of Fire Sadie dan Carter menaruh harapan pada Ra. Sang dewa matahari yang tertolong dewa tertua dalam mitologi mesir. Pada akhirnya mereka super duper kecewa karena menemukan Ra telah menjadi orang tua (banget) yang sudah kembali ke mental anak-anak dan lupa akan segala kedewaannya. Di masa jayanya Ra tidak berhenti melakukan perjalanan dari langit hingga dunia bawah untuk memastikan matahari tetap terbit dan dunia berjalan seperti biasa. Ra dulu adalah dewa dari segala dewa.

Sekarang beban mereka bertambah dengan keharusan untuk mengasuh Ra (yang kelakuannya balik seperti balita) dan memastikan Ra tetap aman karena aphopis mengincarnya. Tugas mengasuh Ra jatuh ke tangan Zia,  salah seorang remaja perempuan magicians yang ditaksir oleh Carter.

Markas Sadie & Carter bernama Brooklyn House, disana mereka mengumpulkan para magicians muda untuk berlatih. Fyi, dunia para magicians sekarang terbelah menjadi dua kubu. Salah satunya adalah kubu para pemberontak yang berambisi menghancurkan perkumpulan, termasuk Brooklyn House dan Kane bersaudara. Jadi para penyihir mudah tersebut harus berlatih untuk membela diri.

Ketika harapan mereka habis setelah melihat kondisi Ra. Alternatif lain untuk menghancurkan aphopis muncul, yaitu dengan menemukan bayangannya. Dalam mitologi mesir ada tiga bagian penting dari suatu individu. Jasad fisik, jiwa dan bayangan. Jika suatu individu mati, maka jasad fisiknya akan hancur dan jiwanya pergi ke alam bawah. Namun jika individu tersebut ketika hidup berkesempatan untuk menyembunyikan bayangannya, maka suatu hari ia masih dapat dibangkitkan dengan memanggil bayangannya. Ini juga berlaku untuk para dewa dewi mesir.

Aphopis pernah menyembunyikan bayangannya. Dengan menghancurkan bayangannya maka mereka juga akan menghancurkan aphopis. Namun segalan catatan tentang dimana aphopis menyembunyikan bayangannya telah dihancurkan. Satu2nya yang mengetahuinya adalah penulis catatan2 tersebut. Seseorang super duper licik yang kini telah menjadi hantu, Setne namanya. Bahkan para dewa dewi pun telah berkali2 terperdaya oleh tipuan Setne.

Namun ini adalah pilihan terakhir. Mereka harus meminta tolong Setne atau dunia akan kiamat. Walaupun kemungkinan besar yang bersangkutan akan menusuk mereka dari belakang.

Buku Rick Riordan memang ngga pernah ngebosenin. Walaupun tipical plot serial fantasy gini sang jagoan pada akhirnya akan menang tapi tetep aja bikin penasaran ngga ngebosenin. Ending cerita ini juga memungkinkan buat munculnya seri lain dari cerita Kane bersaudara seperti halnya dengan The Heroes of Olympus nya Percy Jackson series.

Saya suka banget dengan buku2 Rick Riordan. Ending buku ini pun masuk dalam kategori memuaskan. Tinggal nunggu buku ketiga dari The Heroes of Olympus, Mark of Athena. Bikin penasaran banget!!