Di Tanah Lada By Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

27213435Ya Gustiii.. Ini cerita sedih banget yak! Dan kenapa pula saya suka sama cerita-cerita sedih macem gini.

Maaf reviewnya dibuka seperti ini karena saya sesungguhnya masih baper.

Kenyataan memang seringkali jauh dari indahnya cerita dalam dongeng. Namun di mata seorang anak 6 tahun seperti Ava, anak perempuan yang menjadi tokoh utama dalam cerita ini, bisa jadi kepahitan dan kegetiran tersebut diceritakan sebagai kondisi biasa. Hal itulah yang membuat membaca buku ini membawa efek geram.

Ava memiliki sepasang Papa dan Mama. Papanya suka marah-marah dan memukul Mamanya. Bagi Ava, Papanya itu menakutkan seperti hantu. Ava berasumsi semua Papa itu jahat. Asumsi Ava bertambah kuat ketika ia bersama orang tuanya harus pindah ke sebuah Rusun bersama Rusun Nero. Papanya membawa mereka pindah kesana karena baru menerima warisan dan ingin tinggal lebih dekat ke tempat perjudian.

Di sana Ava bertemu dengan seorang anak lelaki berumur 10 tahun yang bernama P (iya namanya hanya huruf P) yang juga tinggal di Rusun Nero. Pertemuan mereka terjadi di warung makan, Ava-seorang anak berumur 6 tahun diberi uang dan disuruh mencari makan sendiri di luar oleh Papanya. Ava yang memesan ayam goreng kebingungan karena ia belum bisa makan ayam goreng sendiri. Di saat itulah P yang juga sedang ada di warung makan membantu dengan menyuapi Ava makan.

P lalu mengantar Ava kembali ke unitnya, apa cerita unitnya terkunci, Papa dan Mamanya pergi keluar tanpa membawa atau mencari Ava dan menguncinya di luar. Mulai geram? Saya sih di bagian ini sudah mulai geram. Dari narasi-narasi Ava & P berikutnya kita jadi tahu kalo ternyata Papa P juga jahat dan sering memukulnya. Ava dan P lalu menyimpulkan bahwa semua Papa di dunia ini jahat. Beruntung P mempunyai teman di Rusun yaitu Mas Alri dan Kak Suri.

Bagaimana dengan Mama Ava? Mama Ava sesungguhnya bukan orang yang jahat. Mama Ava hanya teramat sangat takut kepada Papa Ava. Mama Ava, ketika sibuk dengan perasaannya sendiri kadang melupakan keberadaan Ava. Menurut P sih mamanya Ava juga jahat, namun jahat yang berbeda dengan Papa Ava. Bagaimana menurut saya? Menurut saya Mamanya Ava bisa berusaha lebih baik kalau dia mau. Tapi dia tidak berusaha, dan disitulah letak permasalahannya. Disitulah Ava menerima collateral damage dari kekacauan kedua orang tuanya.

P tidak punya Mama. Mama P meninggalkan P dengan papanya ketika ia masih bayi. P dibesarkan oleh Papanya. Di usia yang 10 ini Papa P juga sudah tidak ambil pusing akan keberadaan P, bahkan cenderung marah besar yang berujung pada kekerasan jika ia melihat P. P tidak punya kasur, ia tidur di dalam kotak kardus besar di dalam unit Papanya.

Sudah geram? Di bagian ini saya sudah mulai ingin menangis, tapi saya tidak bisa berhenti membaca buku ini. Saya khawatir dengan Ava dan P.

Alur cerita berakselerasi ketika Papa dan Mama Ava bertengkar dan Papa Ava mencoba mengurung Ava di dalam koper besar, terjadi keributan hebat di unit Rusun mereka, para tetangga akhirnya ikut campur, Mama Ava membawa Ava kabur dan menginap di Hotel. Tapi kondisi tersebut tidak menghalangi Ava dan P untuk bermain bersama.

Suatu ketika Ibu Ava ketiduran dan tidak awas akan keberadaan Ava. Ava berakhir di Rusun lagi karena ia sangat suka bermain dengan P. Namun sialnya ketika Ava dan P sedang bermain di Unit P, Papa P datang. Ava yang sedang menengok kardus tempat P tidur ketakutan. P mencoba melindungi Ava dengan menyembunyikannya dalam kardus, Ava yang mendengar suara pukulan2 mengerikan akhirnya berteriak keluar dari kardus sambil memukul Papa P dengan gitar. Ternyata P dipukul di bagian tangan oleh Ayahnya dengan menggunakan setrika panas.

Dari titik inilah kisah pelarian Ava dan P bermulai. Dari titik ini kita bisa melihat upaya setengah-setengah orang dewasa untuk membantu sepasang anak berusia 6 dan 10 tahun dan dibuat geram karenanya.

Ava adalah seorang anak perempuan pintar yang selalu membawa kamus kemana-mana untuk melihat arti kata-kata yang ia dengar. P adalah seorang anak laki-laki yang kuat namun lembut hatinya walaupun kehidupannya sangat sulit.  Mereka berdua percaya bahwa hanya melalui reinkarnasi mereka bisa hidup bahagia walaupun mereka hanya punya ide samar-samar tentang bahagia. Ava ingin menjadi penguin di kehidupan selanjutnya. P ingin menjadi badak bercula satu.

Mereka tidak sepantasnya menjalani semua yang mereka jalani.

Mereka seharusnya mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Mereka seharusnya bisa percaya bahwa di kehidupan ini mereka bisa bahagia.

Mereka seharusnya tahu bahwa tidak semua Papa jahat dan tidak semua Mama tidak berdaya.

Para orang dewasa seharusnya bisa berbuat lebih dari ini.

Hidup ini tidak adil. Saya benci bahwa terkadang hidup ini tidak adil bahkan terhadap anak kecil sekalipun.

Suatu waktu saya pergi ke pusat perbelanjaan Grosir di Jakarta, di bilik kamar mandi saya mendengar kemarahan seorang Ibu kepada anak perempuannya hanya karena anak perempuannya secara tidak sengaja menyiram baju Ibunya dengan air. Kata-kata kasar Ibunya masih terngiang2 dengan jelas di ingatan saya “Anjing kamu! Baju Mama jadi basah, dasar anak ngga ada guna, Anjing!” lalu saya mendengar suara pukulan, kemudian suara anak perempuan menangis.

Darah saya mengalir cepat ke kepala, tangan saya terasa dingin, saya buru-buru membereskan baju dan keluar bilik kamar mandi, ketika saya keluar bilik sang Ibu sudah bergerak menyeret tangan anaknya keluar dengan terburu-buru. Anak itu menoleh ke belakang, matanya yang menangis menatap mata saya.

Mereka bertemu seorang laki-laki yang mungkin ayahnya lalu berjalan menjauh. Saya mematung, tangan saya masih terasa beku.

Saya bersalah karena tidak bisa melakukan apa-apa. Saya seharusnya bisa berbuat lebih baik dari sekedar mematung.

Buku ini terasa seperti momen itu.

Hidup ini tidak adil.

5 dari 5 bintang dari saya untuk buku ini.

Reconstructing Amelia By Kimberly McCreight

15820136The worst thing that could happen to a mother is losing her child..

Itu kali ya yang bikin buku ini haunting buat saya, karena dari awal kita sudah diberitahu hasil akhirnya. Amelia, seorang anak remaja perempuan, meninggal lompat dari gedung sekolahnya.

Pada suatu pagi Kate Baron, seorang pengacara yang cukup sukses mendapat telepon dari sekolah anaknya bahwa anaknya diskors karena menyerahkan tugas yang ternyata merupakan karya plagiat. Kate dipanggil ke sekolah. Kate lalu meninggalkan pekerjaannya dan bergegas naik kereta menuju ke sekolah anaknya.

Sesampainya di sekolah Kate melihat ambulans dan mobil polisi. Lalu ia melihat mayat seorang anak tergeletak di rumput dan tertutupi, bagian badan yang terlihat hanya sepatunya. Kate lalu mengingat-ingat sepatu apa yang digunakan Amelia tadi pagi, dan kesal pada dirinya sendiri karena tidak bisa mengingat apa yang anaknya pakai ke sekolah. The dread, the guilt. Can you imagine?

Anak yang tergeletak di rumput itu ternyata betul adalah Amelia. Polisi mengatakan Amelia bunuh diri karena malu telah membuat karya plagiat, Amelia menulis “sorry” di dinding yang terletak di atap sekolahnya sebelum ia melompat.

Kate sempat menyangsikan bahwa anaknya membuat karya plagiat karena Amelia merupakan anak yang cerdas dan tidak pernah bermasalah dari sisi akademik. Kate menyekolahkan Amelia di private school di daerah Brooklyn karena menginginkan anaknya mendapatkan pendidikan yang terbaik.

Ketika mengetahui dirinya hamil Amelia, Kate telah memutuskan untuk menjadi single parent. Dan dia telah bekerja keras untuk menyediakan segala sesuatu yang dibutuhkan Amelia. Kate tidak menyangkal bahwa karena pekerjaan yang harus ia lakukan ia menjadi jarang di rumah dan sering meninggalkan Amelia.

Namun bagaimanapun Kate adalah orang tua yang penuh kasih sayang, walaupun ia hanya menghabiskan waktu yang terbatas bersama anaknya, Amelia tumbuh menjadi remaja yang sempurna dimata Kate (dan remaja idaman menurut saya), pintar, cerdas, tidak macam-macam, pengertian dan tidak seemosional remaja-remaja lain pada umumnya.

Namun polisi menyimpulkan bahwa Amelia bunuh diri. Dan tidak ada yang bisa Kate lakukan kecuali tenggelam dalam duka. Membayangkan seorang Ibu yang harus memakamkan anaknya sendiri sudah cukup membuat saya sakit perut dan ngilu sendiri.

Lalu kemudian Kate memperoleh sms anonim bahwa Amelia tidak membunuh dirinya sendiri. Dari situlah obsesi Kate dimulai untuk mencari tau apa yang sebenarnya terjadi pada Amelia, Kate menggeledah barang-barang Amelia, membaca file-file dalam laptop, handphone dan juga status-status di media sosial Amelia. Kate juga somehow berhasil membuat penyelidikan terhadap kasus Amelia dibuka kembali.

POV cerita berganti-ganti antara Kate dimasa kini dan Amelia beberapa waktu sebelum kematiannya. Beberapa narasi berupa status facebook dan newsletter tidak resmi di sekolah Amelia (semacam film seri Gossip Girl) dan saya jadi sukaaaa banget sama kepribadian Amelia yang bookish.

Di awal-awal narasi Amelia saya juga menyangsikan bahwa ia bisa menjadi seputus asa itu dan lompat dari atap sekolahnya. Lalu dari cerita yang disuguhkan saya dibuat ragu sendiri dan geram karena cerita berkembang ke arah dimana Amelia menjadi terpojok dan mungkin saja menjadi putus asa. Dan lalu saya disuguhkan ending yang bikin ternganga dan pengen mewek sendiri.

Why do bad things happen to good people.. Why?

Lalu saya jadi ngeri sendiri dengan kehidupan remaja di masa sekarang, bullying, cyberbullying, dan dibuat gelisah dan ngga bisa tidur. Apa saya bisa menemani anak saya sendiri dengan selamat melewati masa-masa rawan itu?

Saya sedih karena Kate tidak sempat mengetahui apa yang terjadi di kehidupan anaknya sampai semuanya menjadi terlambat dan bertanya-tanya sendiri seperti apa sih sebenarnya kehidupan remaja-remaja jaman sekarang. Walaupun saya masih punya cukup waktu untuk mempersiapkan diri I’m still feel clueless and afraid.

Beberapa hari yang lalu saya membaca berita tentang anak remaja di amerika yang membunuh dirinya sendiri karena cyberbullying yang memang amat sangat parah.

Walaupun ada beberapa kelemahan dalam jalan cerita Reconstructing Amelia, menurut saya isi buku ini masih sangat direkomendasikan untuk dibaca sebagai sentilan untuk para orangtua untuk melakukan evaluasi dari waktu ke waktu. Apakah komunikasi dengan anak berjalan dengan lancar? Kapan terakhir kali betul-betul menyediakan waktu untuk mendengarkan cerita tentang kehidupan anaknya? Apa kita betul-betul tahu apa yang terjadi dalam kehidupan anak kita?

Kalo buat saya buku ini recomended banget, bikin sesak nafas, inti serta jalannya ceritanya bagus, tema dan pesan yang disampaikan juga penting. Jadi 4 dari 5 bintang dari saya untuk buku ini.

Wuthering Heights By Emily Brontë

“Catherine Earnshaw, may you not rest as long as I am living. You said I killed you–haunt me then. The murdered do haunt their murderers. I believe–I know that ghosts have wandered the earth. Be with me always–take any form–drive me mad. Only do not leave me in this abyss, where I cannot find you! Oh, God! It is unutterable! I cannot live without my life! I cannot live without my soul!”

6712426Maybe something really bad happened to Emily Brontë ? Hmmm..

Kalo baca buku yang cerita dan tokoh-tokohnya ajaib seperti ini saya selalu penasaran dan jadi berhayal-hayal sendiri tentang bagaimana latar belakang sang penulis sehingga bisa melahirkan buku seperti ini. Hehehe. Ditambah lagi ini merupakan satu-satunya buku yang dihasilkan oleh Emily Brontë. Maybe something really bad did happened to her.. I highly suspect so..

Kenapa saya berpikiran seperti itu? Karena ya ampyuuuun saya ngga paham dengan tindakan dan keputusan yang diambil oleh tokoh-tokohnya. Memang betul sih untuk novel klasik yang ditulis lebih dari 100 tahunan yang lalu rata-rata kurang bisa saya pahami dari cara hidup maupun cara berpikir tokoh-tokohnya (seperti novel-novel Jane Austen yang suka bikin saya emeeeeeesh ;p).

Buku ini sama sekali bukan bercerita tentang romantisme, buku ini bercerita tentang rasa iri, obsesi dan dendam kesumat. It is not love, it is hate and vengeance.

Seorang pria bernama Mr Lockwood menyewa sebuah rumah di daerah terpencil di utara Inggris bernama Thrushcross Grange. Tidak lama setelah kedatangannya Mr Lockwood mulai mengeksplorasi lingkungan di sekitar Thrushcross Grange. Setelah beberapa lama berjalan kaki Mr Lockwood sampai ke sebuah rumah bernama Wuthering Heights dimana tidak lama kemudian ia bertemu dengan tuan rumahnya yang bernama Mr Heathcliff. Ada sesuatu yang sangat aneh dan kasar dengan Mr Heathcliff.

Di rumah itu ia bertemu dengan seorang wanita muda yang menarik namun ketus yang ternyata merupakan menantu Mr Heathcliff dan seorang pria muda yang tampak seperti pelayan namun ternyata bagian dari keluarga.

Malam itu badai salju datang dan Mr Lockwood pun terjebak di Wuthering Heights bersama tuan rumah yang tidak segan-segan mengekspresikan keberatannya atas keberadaan Mr Lockwood. Oleh seorang pelayan Mr Lockwood pun diantar ke sebuah kamar yang sudah lama tidak terpakai. Di kamar itu iya banyak melihat coretan Catherine di dinding dan dihantui oleh mimpi buruk (tentang arwah yang mencoba masuk dari jendela) yang membuatnya terbangun berteriak.

Pengalaman menginap satu malam di Wuthering Heights membuat Mr Lockwood sedikit banyak penasaran dengan latar belakang para penghuninya. Sekembalinya ke Thrushcross Grange Mr Lockwood pun bertanya pada seorang pelayan wanita disana yang bernama Ellen Dean. Ellen Dean ternyata pernah bekerja di Wuthering Heights dan dari kesaksian Ellen lah mengalir cerita tragis para penghuni Wuthering Heights.

Heathcliff adalah anak angkat pemilik Wuthering Heights, Mr Earnshaw yang ditemukan olehnya terlunta-lunta di pinggir jalan. Merasa terenyuh, Mr Earnshaw kemudian membawanya pulang dengan niatan membesarkan Heathcliff secara layak. Mr Earnshaw sendiri sudah memiliki dua anak, seorang anak laki-laki bernama Hindley dan adik perempuannya Catherine.

Heathcliff dan Catherine segera menjadi akrab dan melakukan segala sesuatu bersama. Lain halnya dengan Hindley yang membenci Heathcliff karena menganggap Heathcliff telah merebut kasih sayang Ayahnya.

Hindley kemudian keluar dari Wuthering Heights untuk belajar. Tahun demi tahun berlalu, Hindley kembali ke Wuthering Heights bersama istrinya. Di saat itu Mr Earnshaw telah berada dalam kondisi sakit-sakitan kemudian meninggal. Sepeninggal Mr Earnshaw, Hindley menjadi tuan rumah di Wuthering Heights. Karena dendam lamanya Hindley pun mengembalikan posisi Heathcliff menjadi pelayan biasa dan bukan anggota keluarga. This is the root of the fiasco in that family.

Antara Heathcliff dan Catherine yang beranjak remaja mulai muncul perasaan yang lebih dari sekedar teman bermain. Suatu insiden dalam petualangan Heathcliff dan Catherine menyebabkan Catherine terluka di dekat area tetangga terdekat mereka Thrushcross Grange dan menyebabkan Catherine selama beberapa minggu harus tinggal disana.

Sekembalinya dari Thrushcross Grange Heathcliff merasa Catherine menjadi berbeda dan lebih feminim, bukan lagi Catherine tomboy yang senang bermain dan bertualang berama Heathclif. Ditambah lagi Catherine menjadi dekat dengan Edgar Linton anak tuan rumah Thrushcross Grange.

Dua tahun kemudian Edgar Linton melamar Catherine. Heathcliff mencuri dengar pembicaraan Catherine dengan Ellen bahwa ia sebenarnya tidak mencintai Edgar melainkan Heathcliff, namun ia tidak bisa menikahi Heathcliff karena status dan pendidikan Heathcliff.

Merasa tersinggung dan direndahkan, malam itu Heathcliff meninggalkan Wuthering Heights. Tiga tahun kemudian Catherine dan Edgar resmi menikah, Catherine pindah ke Thrushcross Grange dengan membawa serta Ellen. Enam bulan setelah pernikahan Catherine dan Edgar Heathcliff kembali ke Wuthering Heights dan malapetaka pun dimulai.

Saya dengan keras menolak menggolongkan Heathcliff kedalam misunderstood romantic character. Apa yang membuat Heathcliff melakukan apa yang dia lakukan adalah bukan cinta yang berubah menjadi benci tetapi harga diri yang tersinggung, obsesi yang gelap, egoisme, dan sumur dendam yang tidak ada dasarnya.

Hindley dan Catherine telah menyinggung dan menyakiti orang yang salah dan mereka dipaksa membayar keputusan-keputusan yang mereka ambil oleh orang paling pendendam di dunia yang bernama Heathcliff.

Membaca buku ini betul-betul bikin makan hati.

Heathcliff yang kamu lakukan ke saya itu JAHAT! (bayangkan cinta di AADC 2 yang mengucapkan kalimat ini) ;p

Hehehe..

Tadinya mau ngasih 4 bintang karena buku ini bagaimanapun sudah membuat saya esmosi jiwa dan pengen baca terus, tapi semakin dipikirin saya semakin sebel sama Heathcliff dan tokoh-tokoh lainnya jadi saya turunin ke 3 bintang saja. Hahaha.

Untung Emily Brontë ngga pernah ketemu dengan George R. R. Martin, they will make a perfect couple, hehe.. (apaaaaaaa sih cha)

A Little Life By Hanya Yanagihara

Fairness is for happy people, for people who have been lucky enough to have lived a life defined more by certainties than by ambiguities. Right and wrong, however, are for—well, not unhappy people, maybe, but scarred people; scared people.

27250648Pernah ngga nonton film horor dimana ada adegan yang takut kita lihat, tapi penasaran, jadi kita mencoba menutup mata pake jari tapi sambil mengintip-intip? Itu persisnya apa yang saya rasakan saat membaca 2/3 terakhir buku ini. Penasaran sekaligus ngga sanggup ngebaca apa yang terjadi di halaman-halaman berikutnya.

Buku ini betul-betul memberikan efek roller coaster esmosi jiwa buat pembacanya (setidak-tidaknya buat saya :D).

Saya selesai membaca buku ini di kantor (curi-curi saking penasarannya), menutup halaman terakhir saya nangis bombay sendiri bak orang aneh dan butuh waktu beberapa saat untuk memulihkan diri sendiri kembali ke dunia nyata ;p

Buku ini bercerita tentang 4 sahabat, Willem, Jude, JB dan Malcom yang berkenalan di awal masa perkuliahan mereka, dimulai di waktu mereka berempat telah lulus kuliah dan baru saja memulai meniti karir masing-masing.

Willem yang ketika itu baru memulai karir sebagai aktor sambil menyambi menjadi pelayan sebuah restoran, JB yang baru saja memulai project-nya sebagai seniman, Malcom yang baru saja bergabung dengan biro arsitek yang sebenarnya tidak sesuai dengan idealismenya dan Jude yang baru saja memulai karirnya di bidang hukum.

Narasi di awal-awal banyak diceritakan dari point of view Malcom dan JB. Dari cerita keduanya pembaca dapat memperoleh perspektif dasar tentang persahabatan empat sekawan ini dan karakter dari masing-masing personilnya. JB sang seniman nyetrik yang gay, Malcom yang thoughtful tapi sulit mengambil keputusan dan enggan memiliki konflik dengan orang lain, Willem yang merupakan definisi dari pria baik-baik dan Jude yang sangat cerdas, santun, namun misterius dan tertutup.

Lalu cerita berkembang dan berputar di sekitar kehidupan Jude. Ketiga sahabatnya telah mengerti batasan mana yang boleh dan tidak boleh dilanggar dalam kehidupan Jude. Ditambah lagi Jude punya kekurangan fisik yaitu sakit kronis di bagian tulang belakang  sehingga ketiga sahabat Jude cenderung sedikit protektif terhadapnya.

Di awal-awal cerita ketiga sahabatnya tersebut cukup nyaman dengan segala kemisteriusan latar belakang kehidupan Jude dan memiliki gambaran buram bahwa Jude memiliki masalah, namun cukup menghormati privasi Jude untuk tidak banyak bertanya macam-macam. Jude mengawali masa “dewasa”nya setelah lulus kuliah dengan menyewa flat berdua dengan Willem, dengan begitu mereka dapat hidup dengan lebih ekonomis dan Willem sekaligus dapat menjaga Jude.

Lalu kita sebagai pembaca mengetahui bahwa ternyata Jude memiliki rahasia gelap yaitu kebiasaan menyakiti diri sendiri dengan menggoreskan silet di lengannya. Damn! This is not going well, kata saya dalam hati ;p

Jude sendiri sangaaaaat tertutup dengan apa yang sedang ia rasakan, ditambah dengan Willem yang terlalu santun untuk menodong Jude apa masalahnya sebenarnya membuat saya merasa semakin tersiksa sebagai pembaca karena merasa helpless melihat penderitaan terpendam Jude.

Memasuki usia 30-an empat sekawan itu mulai sukses di bidangnya masing-masing. Harold adalah salah satu tokoh favorit saya yang diceritakan sebagai profesor Jude di masa kuliah dan terus memiliki hubungan dekat dengan Jude, Harold merasa bahwa Jude adalah pengganti anak lelakinya yang meninggal dunia sehingga di usia Jude yang ke-30, Harold dan Istrinya Julia memutuskan untuk resmi mengadopsi Jude (yang memang yatim piatu) sebagai anak lelaki mereka.

Mendekati usia 40 an Jude dan Willem telah memiliki apartemen masing-masing dan tinggal sendiri-sendiri, sempat terjadi perselisihan diantara Jude dan JB sehingga hubungan keempat sekawan itu menjadi renggang. Di usia 40-an Jude belum juga memiliki hubungan romantis dengan siapapun sehingga membuat orang-orang terdekatnya bertanya-tanya.

Lalu Jude bertemu dengan Caleb, dan darisana cerita menjadi semakin buruk dan kelam. Di beberapa titik saya sampai merasa tidak punya cukup keberanian untuk membuka halaman berikutnya, di beberapa titik saya ingin melemparkan buku ini ke tembok dan di beberapa titik saya ingin terjun ke dalam buku dan menguncang2 badan orang-orang terdekat Jude sambil berteriak “Why won’t you do someting! Do something!”

Tapi apa daya saya cuma seorang pembaca yang emosinya berhasil diobrak-abrik oleh Hanya Yanagihara. Saya hanya bisa membuka halaman demi halaman sambil menelan berbagai macam esmosi jiwa yang saya yakini merupakan efek samping dari buku ini terhadap semua pembacanya ;p

Ketika saya telah sampai ke bagian dimana seluruh chapter mengerikan telah terbuka dan masa lalu Jude terungkap saya sempat bernafas lega karena mungkin pada akhirnya Jude akan menemukan kebahagiaan. Maybe the worst part is over. Jude memang akhirnya menemukan kebahagiaan. Namun hidup memang parodi ironis, termasuk kehidupan di dunia fiksi dalam buku ini sehingga di akhir cerita, seperti yang sudah saya ceritakan di atas, saya hanya bisa menangis dan merasa emotionally wounded.

Namun untuk bisa membawa efek maha dahsyat sedemikian rupa terhadap pembaca merupakan cerminan dari keberhasilan penceritaan suatu buku, sehingga saya tidak ragu untuk memberikan buku ini lima bintang. Walaupun ceritanya kelam, menyebalkan dan sama sekali bukan untuk ditiru, membaca buku ini merupakan suatu privilage dan pengalaman yang sangat berkesan.

Menurut pendapat pribadi saya buku ini lebih pantas untuk menang Goodreads Choice Award tahun 2015 dibandingkan denga Go Set A Watchman nya Harper Lee.

Oh ya satu hal lagi yang harus saya sampaikan setelah membaca buku ini adalah tentang mental ilness awareness. Orang-orang di Indonesia masih sangat enggan untuk mengakui bahwa mental ilness itu ada dan nyata, dan juga belum sepenuhnya menyadari bawa people with depression or who is mentally troubled can’t help themself. Adalah orang-orang terdekat yang sebaiknya mendampingi dan menyarankan bahwa they need help, and should insist that they should get one. Leaving them alone won’t lead to better result. Just please do something and stand by their side.

“Sometimes he wakes so far from himself that he can’t even remember who he is. “Where am I?” he asks, desperate, and then, “Who am I? Who am I?”

And then he hears, so close to his ear that it is as if the voice is originating inside his own head, Willem’s whispered incantation.

“You’re Jude St. Francis. You are my oldest, dearest friend. You’re the son of Harold Stein and Julia Altman. You’re the friend of Malcolm Irvine, of Jean-Baptiste Marion, of Richard Goldfarb, of Andy Contractor, of Lucien Voigt, of Citizen van Straaten, of Rhodes Arrowsmith, of Elijah Kozma, of Phaedra de los Santos, of the Henry Youngs.

“You’re a New Yorker. You live in SoHo. You volunteer for an arts organization; you volunteer for a food kitchen.

“You’re a swimmer. You’re a baker. You’re a cook. You’re a reader. You have a beautiful voice, though you never sing anymore. You’re an excellent pianist. You’re an art collector. You write me lovely messages when I’m away. You’re patient. You’re generous. You’re the best listener I know. You’re the smartest person I know, in every way. You’re the bravest person I know, in every way.

“You’re a lawyer. You’re the chair of the litigation department at Rosen Pritchard and Klein. You love your job; you work hard at it.

“You’re a mathematician. You’re a logician. You’ve tried to teach me, again and again.

“You were treated horribly. You came out on the other end. You were always you.”

Go Set A Watchman By Harper Lee

24831147Menutup halaman terakhir dari buku ini, saya bertanya-tanya sendiri untuk apa Harper Lee menulis buku ini?

Saya, seperti juga kebanyakan orang, pada awalnya tidak mengetahui bahwa buku Go Set A Watchman selesai ditulis dua tahun sebelum To Kill A Mockingbird diterbitkan.

Publikasi yang menggembar-gemborkan bahwa akhirnya ada sequel dari To Kill A Mockingbird menimbulkan persepsi yang salah dan harapan yang terlalu besar akan kerinduan para penggemar To Kill A Mockingbird terhadap Atticus, Scout dan Jem. Termasuk saya.

Untuk yang belum membaca dan atau baru akan membaca, let me warn you, Go Set A Watchman bukan merupakan sequel dari To Kill A Mockingbird.

Walaupun Go Set A Watchman menceritakan Scout yang telah menjadi wanita muda berumur 26 tahun dan pulang kampung ke tempat kelahirannya Maycomb setelah membangun hidup secara mandiri di kota New York sendirian, harus dipahami bahwa Scout ini dilahirkan terlebih dahulu daripada Scout berumur 6 tahun yang lebih dulu kita kenal di To Kill A Mockingbird.

Draft Go Set A Watchman sendiri ditolak oleh penerbit Lippincot Company, namun seorang editor bernama Tay Hohoff mengenali potensi cerita atau potensi dalam diri Harper Lee sendiri, dan selama dua tahun kemudian mendampingi Harper Lee menulis sebuah buku baru yang akar ceritanya sebenarnya berasal dari Go Set A Watchman.

Alih-alih menerbitkan realitas (yang terkadang memang luar biasa pahit) yang terceritakan di Go Set A Watcman, mereka memilih untuk memberikan harapan akan dunia yang lebih baik dalam To Kill A Mockingbird. Atticus Finch merupakan sebuah lambang dari harapan.

Selama puluhan tahun Harper Lee memilih untuk tidak menyinggung2 ataupun menerbitkan Go Set A Watchman. Saya paham karena ibarat patung pahatan, dari segi alur cerita Go Set A Watchman ini masih berupa gundukan-gundukan yang menyerupai suatu bentuk. Setelah berproses barulah menjadi patung indah yang kita kenal di To Kill A Mockingbird.

Lalu kenapa sekarang Harper Lee setuju untuk menerbitikan manuskripnya? Terdapat banyak kontroversi mengenai hal ini. Harper Lee yang sekarang berumur 89 tahun telah tinggal dan dirawat di sebuah nursing home.

Setelah saudara perempuannya (yang biasa menghandle segala urusannya) meninggal, barulah terwujud sebuah surat persetujuan dari Harper Lee untuk menerbitkan naskah Go Set A Watchman.

Beberapa orang terdekat Harper Lee menyebutkan bahwa Harper Lee sekarang berada dalam kondisi sudah tidak bisa mendengar dan tidak bisa melihat sehingga ia, dengan tidak terlalu aware-nya bisa saja menanandatangani surat persetujuan itu tanpa sadar betul akan apa yang ia lakukan.

Terlepas dari kontroversi perihal bagaimana Go Set A Watchman ini bisa diterbitkan. Saya merasa harus menceritakan latar belakang di atas terlebih dahulu sebelum saya menceritakan isi Go Set A Watchman, karena kedua buku ini harus diperlakukan sebagai dua buku yang berbeda.

Harper Lee tidak merusak atau mengkorupsi sosok Atticus Finch yang terlanjur kita cintai karena Atticus Finch yang kita kenal terlahir setelah Go Set A Watchman. Harper Lee tidak memutuskan untuk membunuh tokoh Jem karena Jem sendiri baru dikembangkan menjadi pemuda yang kita sayangi dua tahun setelah ia terlebih dahulu menulis Go Set A Watchman.

This is two different books. Two alternate universe.

Kembali ke cerita Go Set A Watchman, Scout yang tengah berlibur di kota kelahirannya di sambut oleh Henry teman masa kecilnya yang kini telah menjadi prodigy Atticus karena Jem telah meninggal dunia karena terkena penyakit jantung.

Cerita-cerita kilas balik masa kecil Scout cukup mengobati kekangenan saya akan dunia To Kill A Mockingbird, sampai suatu saat Scout secara tidak sengaja mengintip pertemuan dewan rakyat Maycomb dimana Atticus dan Henry termasuk di dalamnya.

Scout kaget bagaimana pandangan rasis terhadap kaum kulit hitam secara bebas dan vulgar dipaparkan dalam pertemuan tersebut, dan ia merasa mual karena Atticus dan Henry tidak mengeluarkan sepatah kata pun untuk menentang pemaparan tersebut.

Atticus yang membesarkan Scout dengan prinsip tidak membeda-bedakan manusia berdasarkan warna kulitnya, kini telah menarik garis sampai dimana ia bisa menoleransi warga berkulit hitam dalam kehidupan sehari-harinya.

Scout juga terpukul karena Calipurnia, pengasuh kulit hitam yang membesarkannya semenjak Ibunya meninggal sekarang mengambil jarak dan melihatnya hanya sebagai another white person.

Buku ini pada intinya menceritakan hal tersebut, bagaimana idealisme seorang gadis muda yang ia dapat dari ayahnya yang ia puja, sekarang hancur dan terinjak-injak oleh kenyataan kondisi lingkungannya pada saat itu dan oleh orang-orang terdekatnya, termasuk Ayahnya sendiri.

Bagaimana pemujaannya terhadap Ayah-nya akhirnya hancur. Bagaimana Scout harus turun ke bumi dari surga idealnya, dan menerima bahwa Ayahnya juga manusia biasa yang harus berkompromi dengan keadaan.

Dan bagaimana bahwa rasisme itu memang ada dan harus diterima olehnya.

Go Set A Watchman juga tidak menyinggung-nyinggung tentang Boo Radley yang dalam To Kill A Mockingbird juga sama pentingnya mengajarkan banyak hal tentang prasangka dan perbedaan.

Alurnya memang agak lambat, buku ini mencapai puncak alurnya di 1/3 terakhir cerita, namun saya cukup terhibur dengan cerita kilas balik masa kecil Scout.

Menarik bagi saya bagaimana Harper Lee bisa mentransformasilkan bibit-bibit dalam Go Set A Watchman menjadi To Kill A Mockingbird yang sangat saya sukai. Dan menurut saya kisah bagaimana Harper Lee berproses hingga melahirkan To Kill A Mockingbird akan menjadi suatu cerita seru tersendiri.

3 dari 5 bintang dari saya untuk buku ini. Ingat! Ingat! Buku ini bukan sequel dari To Kill A Mockingbird, melainkan sebuah raw material. Karya pertama dari seorang Harper Lee yang nantinya melahirkan buku yang akan dicintai sepanjang peradaban masih ada.

“the time your friends need you is when they’re wrong, Jean Louise. They don’t need you when they’re right—”

Looking For Alaska By John Green

/home/wpcom/public_html/wp-content/blogs.dir/2e1/22348610/files/2015/01/img_4194.jpg

Those awful things are survivable, because we are indestructible as we believe ourselves to be. When adults say, “Teenagers think they are invincible” with that sly, stupid smile on their faces, they don’t know how right they are. We need never be hopeless, because we can never be irreparably broken. We think that we are invincible because we are.

Wow! Udah lama banget rasanya saya bisa terpengaruh secara emosional oleh sebuah buku dan berhasil dibuat tercenung sendiri di tengah-tengah cerita.

Membaca buku ini membuat saya merasa bahwa pengalaman saya tumbuh dewasa highly uneventful. Hehe. Padahal emang ia biasa banget, bukan cuman perasaan ;p

Tiba-tiba saya ingin sekali masuk kedalam cerita di buku ini. Kembali menjadi remaja untuk berteman dengan seorang Miles Halter.

Seorang Miles Halter yang terobsesi dengan buku biografi tokoh-tokoh plus kata-kata terakhir dari orang-orang yang diceritakan sebelum mereka meninggal dunia dan menghafalnya diluar kepala.

Yes, I love quirky teenager!

Merasa bosan dengan kehidupannya di public school, Miles meminta izin kepada kedua orang tuanya untuk pindah ke sebuah boarding school bernama Culver Creek.

Miles Halter sedang mencari sesuatu yang dinamakan “The Great Perhaps”, yang ia dapatkan dari seorang penulis puisi bernama Francois Rebelais.

“The Great Perhaps”.. Kemungkinan, kesempatan, pengalaman hidup..

Apapun itu, yang memang dalam hidup ini harus dicari.

Kita tidak bisa memperoleh semua itu dengan hanya duduk manis di bangku, menunggu segala sesuatu terjadi.

Mind you, I wish I had done that. Creating chances for myself.

Setelah menjejakkan kaki di Culver Creek, Miles Halter menemukan dirinya memperolah seorang teman sekamar yang sangat menarik yang bernama Chip Martin.

Well.. Chip Martin ini menjuluki dirinya sendiri “The Colonel”. Dan seketika itu juga menciptakan nama panggilan yang tidak kalah menariknya untuk Miles. Pudge.

Sang Colonel bersekolah di Culver Creek dengan beasiswa penuh dari yayasan. Saat itu adalah tahun ketiga untuk Sang Colonel bersekolah disana dan mereka berada di kelas yang sama.

Sang Colonel kemudian memperkenalkan Miles alias Pudge kepada kehidupan di Culver Creek. Dari mulai dimana membeli barang-barang yang dilarang di asrama, dimana tempat persembunyian terbaik, sampai kepada para penghuninya. Termasuk kepala asrama mereka Mr. Eagle.

Miles akhirnya (semacam) bergabung dengan kelompok Sang Kolonel. Kelompok tersebut hanya terdiri dari dua orang tambahan. Takumi (pemuda dari Jepang), dan seorang perempuan bernama Alaska.

Perkenalan dengan Alaska yang dimulai dengan adegan membeli rokok meninggalkan Miles menjadi (sedikit) terobsesi dengan Alaska.

Alaska yang kamarnya dipenuhi oleh buku yang tidak semua (namun suatu hari pasti) ia baca. Alaska yang senang melakukan “prank” alias keisengan-keisengan di sekolah mereka. Alaska yang jago mengajarkan Pre Calculus. Alaska yang moody.. Dan.. Alaska yang sudah memiliki pacar ganteng bernama Jake.

Poor Miles.. Hehe..

Saya suka banget bagaimana John Green menggambarkan tokoh-tokohnya sebagai remaja yang suka baca buku dan remaja yang “berpikir”.

Dan mengikuti bagaimana Miles, Sang Colonel, Takumi, dan Alaska menjalani hari-hari mereka, mempelajari latar belakang dan kisah hidup setiap tokoh, bagaimana mereka menjalin persahabatan, belajar dengan serius sekaligus bersenang-senang sungguh membuat saya iri.

Ketika secara tiba-tiba hidup menggantung Miles dan Sang Kolonel dengan tragedi dan pertanyaan-pertanyaan tak terjawab, bisakah mereka menerima kenyataan?

Atau sebagaimana kutipan dari buku kesukaan Alaska, The General in his Labyrinth by Gabriel Garcia Marques (ya sodara-sodara, pengarang favorit saya juga!! Gabriel Garcia Marquez!!)

How will I ever get out of this labyrinth??

Bisakah mereka memecahkan misteri labirin hidup mereka?

I love this book!! I love this book with all it’s question, lesson, and beautiful quotes.

To all of you youngster out there. Please don’t waste your life sitting on a bench, just waiting for something to happen.

You have to get out there. Seeking “The Great Perhaps”

You spend your whole life stuck in the labyrinth, thinking about how you’ll escape it one day, and how awesome it will be, and imagining that future keeps you going, but you never do it. You just use the future to escape the present.

That everyone who wades through time eventually gets dragged out to sea by the undertow-that, in short, we are all going.

The Age of Innocence By Edith Warton

IMG_3465

“It was the old New York way.. The way people who dreaded scandal more than disease, who placed decency above courage, and who considered that nothing was more ill bred than “scenes”, except those who gave rise to them”

Baru kali ini saya menikmati buku dengan cara mendengarkan audiobook. Alkisah karena jalanan Jakarta yang macet, dan sayang rasanya waktu yang dihabiskan buat bermacet2, saya Iseng2 menginstal aplikasi Audiobook dari Librivox di Apple Store yang ternyata enak dan mudah buat di dengar.

Dan sekarang tidak ada lagi waktu yang terbuang. Di mobil saya masih bisa menikmati buku. Hehe.

Back to the book..
The Age of Innocence-nya Edith Warton berlatar belakang di New York pada tahun 1870-an. Adegan dibuka dengan sang tokoh utama, seorang pemuda bernama Newland Archer yang sedang menghadiri opera, bersama masyarakat terpadang kota New York lainnya.

New York dimasa itu masih berwujud komunitas kecil dimana terdapat tata krama masyarakat setempat yang jika tidak dipatuhi, maka akan menyebabkan skandal. Juga terdapat keluarga2 besar yang berpengaruh dan menjadi penentu apa yang pantas dan apa yang tidak. Newland Archer telah bertunangan dengan seorang gadis dari keluarga Mingotts yang merupakan salah satu keluarga paling berpengaruh di New York di kala itu.

Di opera, Newland sedang memandangi tunangannya, May Welland yang duduk di box khusus untuk keluarga Mingotts. Saat itu, Newland melihat seorang wanita masuk ke box keluarga Mingotts di tengah2 opera berlangsung. Newland mengenali wanita itu, ia adalah Ellen Olenska, sepupu May. Seketika itu Newland merasa terganggu.

Kenapa ?

Karena di momen itu Newland Archer adalah sosok pemuda yang taat pada nilai2 dan tata krama masyarakat. Newland merasa terganggu karena Ellen Olenska adalah tokoh yang kontroversial. Ia dikabarkan telah meninggalkan suaminya Count Ollenski di Eropa. Newland merasa khawatir akan gossip yang akan menerpa calon keluarganya.

Untuk mengalihkan perhatian masyarakat dari Countess Olenska, Newland dan May memutuskan untuk mengumumkan pertunangan mereka di malam itu, di pesta keluarga Beaufort.

Beberapa hari kemudian, Newland Archer yang berprofesi sebagai pengacara mendapatkan berita dari atasannya, Mr. Letterblair, bahwa Ellen Olenska berniat untuk menggugat cerai suaminya. Mr. Letterblair meminta bantuan Newland (atas permintaan keluarga Mingotts) untuk membujuk Ellen Olenksa untuk mengurungkan niatnya.

Perceraian, di kala itu, merupakan skandal besar dan seluruh keluarga besar akan terkena dampak dari perhatian dan gossip yang beredar karena skandal tersebut.

Newland, sebagai calon anggota keluarga Mingotts sepantasnya ikut khawatir akan prosepek skandal tersebut, dan harus pula turut mengerahkan upaya untuk mencegah terjadinya skandal yang ditakutkan.

Atas pertimbangan yang diuraikan Mr. Letterblair, Newland setuju untuk mencoba berbicara dengan Ellen Olenska. Newland Archer pun berkunjung ke kediaman sang Countess.

Pada kunjungannya akhirnya Newland bisa melihat Ellen Olenska yang sebenarnya, dan bukan hanya dari skandal yang disebabkan oleh kedatangannya. Ellen Olenska ternyata adalah wanita yang cerdas, pemberani, dan kritis. Singkatnya, Ellen Olenska berbeda dari wanita lain yang Newland pernah kenal, termasuk tunangannya May.

Newland Archer mulai jatuh cinta pada sang Countess.

Apa yang harus dilakukan Newland ? Ellen Olenska masih berstatus istri orang, dan seluruh komunitas telah mengetahui pertunangannya dengan May. Lebih parah lagi, Ellen adalah sepupu May dan hubungan mereka dekat.

Cerita selanjutnya baca sendiri ya.. Hehe..

Apakah Newland Archer akan melakukan apa yang benar  atau apa yang pantas? Apakah Ellen Olenska akan pada akhirnya tunduk pada standar2 yang ditetapkan masyarakat? dan apakah May Welland pada akhirnya bisa melihat kenyataan yang sebenarnya?

“But marriage is a long sacrifice..”

Buku ini adalah kesedihan yang indah. 50% pertama dari cerita saya kesal karena Newland yang ngga jelas. Namun 50% terakhir benar-benar membuat saya penasaran akan apa jalan yang akan ditempuh tokoh2 tersebut. Fyi, Newland yang jatuh cinta dengan Olenska lalu malah mempercepat pernikahannya dengan May. Dan mereka akhirnya menikah, namun Newland terus mencintai Ellen dan berniat kabur dengannya.

Menurut saya, malah Ellen dan May adalah tokoh kuatnya. Merekalah yang pada akhirnya menentukan sikap dan mengambil pilihan.

Hidup memang isinya penuh dengan pilihan. Dan pernikahan itu memang lebih dari sekedar cinta2an. Pernikahan itu penuh dengan tanggung jawab dan kompromi.

Percaya deh, buku ini bukan sekedar romantisme yang klise. Buku ini mengajarkan kedewasaan. Mengajarkan pengorbanan. Dan terlepas dari masyarakatnya yang lebay, kaku dan penuh dengan prasangka, cinta itu memang bukan segalanya.

“The real loneliness is living among all these kind people who only ask to pretend.”

“I can’t love you, unless I give you up.”

5 dari 5 bintang untuk buku ini.