Reconstructing Amelia By Kimberly McCreight

15820136The worst thing that could happen to a mother is losing her child..

Itu kali ya yang bikin buku ini haunting buat saya, karena dari awal kita sudah diberitahu hasil akhirnya. Amelia, seorang anak remaja perempuan, meninggal lompat dari gedung sekolahnya.

Pada suatu pagi Kate Baron, seorang pengacara yang cukup sukses mendapat telepon dari sekolah anaknya bahwa anaknya diskors karena menyerahkan tugas yang ternyata merupakan karya plagiat. Kate dipanggil ke sekolah. Kate lalu meninggalkan pekerjaannya dan bergegas naik kereta menuju ke sekolah anaknya.

Sesampainya di sekolah Kate melihat ambulans dan mobil polisi. Lalu ia melihat mayat seorang anak tergeletak di rumput dan tertutupi, bagian badan yang terlihat hanya sepatunya. Kate lalu mengingat-ingat sepatu apa yang digunakan Amelia tadi pagi, dan kesal pada dirinya sendiri karena tidak bisa mengingat apa yang anaknya pakai ke sekolah. The dread, the guilt. Can you imagine?

Anak yang tergeletak di rumput itu ternyata betul adalah Amelia. Polisi mengatakan Amelia bunuh diri karena malu telah membuat karya plagiat, Amelia menulis “sorry” di dinding yang terletak di atap sekolahnya sebelum ia melompat.

Kate sempat menyangsikan bahwa anaknya membuat karya plagiat karena Amelia merupakan anak yang cerdas dan tidak pernah bermasalah dari sisi akademik. Kate menyekolahkan Amelia di private school di daerah Brooklyn karena menginginkan anaknya mendapatkan pendidikan yang terbaik.

Ketika mengetahui dirinya hamil Amelia, Kate telah memutuskan untuk menjadi single parent. Dan dia telah bekerja keras untuk menyediakan segala sesuatu yang dibutuhkan Amelia. Kate tidak menyangkal bahwa karena pekerjaan yang harus ia lakukan ia menjadi jarang di rumah dan sering meninggalkan Amelia.

Namun bagaimanapun Kate adalah orang tua yang penuh kasih sayang, walaupun ia hanya menghabiskan waktu yang terbatas bersama anaknya, Amelia tumbuh menjadi remaja yang sempurna dimata Kate (dan remaja idaman menurut saya), pintar, cerdas, tidak macam-macam, pengertian dan tidak seemosional remaja-remaja lain pada umumnya.

Namun polisi menyimpulkan bahwa Amelia bunuh diri. Dan tidak ada yang bisa Kate lakukan kecuali tenggelam dalam duka. Membayangkan seorang Ibu yang harus memakamkan anaknya sendiri sudah cukup membuat saya sakit perut dan ngilu sendiri.

Lalu kemudian Kate memperoleh sms anonim bahwa Amelia tidak membunuh dirinya sendiri. Dari situlah obsesi Kate dimulai untuk mencari tau apa yang sebenarnya terjadi pada Amelia, Kate menggeledah barang-barang Amelia, membaca file-file dalam laptop, handphone dan juga status-status di media sosial Amelia. Kate juga somehow berhasil membuat penyelidikan terhadap kasus Amelia dibuka kembali.

POV cerita berganti-ganti antara Kate dimasa kini dan Amelia beberapa waktu sebelum kematiannya. Beberapa narasi berupa status facebook dan newsletter tidak resmi di sekolah Amelia (semacam film seri Gossip Girl) dan saya jadi sukaaaa banget sama kepribadian Amelia yang bookish.

Di awal-awal narasi Amelia saya juga menyangsikan bahwa ia bisa menjadi seputus asa itu dan lompat dari atap sekolahnya. Lalu dari cerita yang disuguhkan saya dibuat ragu sendiri dan geram karena cerita berkembang ke arah dimana Amelia menjadi terpojok dan mungkin saja menjadi putus asa. Dan lalu saya disuguhkan ending yang bikin ternganga dan pengen mewek sendiri.

Why do bad things happen to good people.. Why?

Lalu saya jadi ngeri sendiri dengan kehidupan remaja di masa sekarang, bullying, cyberbullying, dan dibuat gelisah dan ngga bisa tidur. Apa saya bisa menemani anak saya sendiri dengan selamat melewati masa-masa rawan itu?

Saya sedih karena Kate tidak sempat mengetahui apa yang terjadi di kehidupan anaknya sampai semuanya menjadi terlambat dan bertanya-tanya sendiri seperti apa sih sebenarnya kehidupan remaja-remaja jaman sekarang. Walaupun saya masih punya cukup waktu untuk mempersiapkan diri I’m still feel clueless and afraid.

Beberapa hari yang lalu saya membaca berita tentang anak remaja di amerika yang membunuh dirinya sendiri karena cyberbullying yang memang amat sangat parah.

Walaupun ada beberapa kelemahan dalam jalan cerita Reconstructing Amelia, menurut saya isi buku ini masih sangat direkomendasikan untuk dibaca sebagai sentilan untuk para orangtua untuk melakukan evaluasi dari waktu ke waktu. Apakah komunikasi dengan anak berjalan dengan lancar? Kapan terakhir kali betul-betul menyediakan waktu untuk mendengarkan cerita tentang kehidupan anaknya? Apa kita betul-betul tahu apa yang terjadi dalam kehidupan anak kita?

Kalo buat saya buku ini recomended banget, bikin sesak nafas, inti serta jalannya ceritanya bagus, tema dan pesan yang disampaikan juga penting. Jadi 4 dari 5 bintang dari saya untuk buku ini.

The Martian By Andy Weir

“They say once you grow crops somewhere, you have officially ‘colonised’ it. So technically, I colonised Mars.
In your face, Neil Armstrong!”

Meet Mark Watney, our hero in this book.

Jikalau kamu tumbuh besar di tahun 90an kamu pasti inget dong pria serba bisa ini : macgyver

Man he can make anything out of nothing!

This Mark Watney is a more sophisticated, witty and modern version of MacGyver, plus kalo MacGyver mempraktekkan kecerdasannya di bumi dimana beliau bisa bebas menghirup oksigen, Mark Watney harus memutar otak secerdas mungkin di PLANET MARS aja dong.

Hahaha!

Mark Watney adalah salah satu astronot pesawat luar angkasa Ares 3 yang sedang menjalani misi dari National Aeronautics and Space Administration (NASA) di planet Mars. Mark Watney mempunyai keahlian sebagai Botanist dan Mechanical Engineer dalam misi ini.

Ketika badai debu disertai angin melanda Acidalia Planitia – tempat pesawat luar angkasa Ares 3 mendarat, semua kru Ares 3 bersegera menyelamatkan diri masuk ke pesawat luar angkasa Ares 3 dan segera pergi dari permukaan planet Mars.

Sialnya, Mark Watney menabrak antenna dan jatuh pingsan di tengah-tengah badai debu tersebut. Kru lainnya yang telah berkumpul di Ares 3 berasumsi dan berhipotesis jikalau Mark (hampir pasti) sudah mati, dan mereka pun meninggalkan planet Mars.

Terbangun dan terbengkalai di planet Mars, geeky nerdy Mark Watney tidak memberikan kesempatan kepada dirinya sendiri untuk berlebay-lebay meratap karena ditinggalkan sendirian di planet Mars, dia segera begerak menuju The Hab (sepertinya ini adalah tempat atau stasiun semi permanen tempat para astronot beristirahat selama mereka berkeliaran di planet Mars) dan melakukan inventory mengenai barang krusial apa saja yang ia miliki dan memikirkan bagaimana caranya ia bisa bertahan sampai misi mars berikutnya.

Tepatnya, bagaimana ia harus bertahan dengan jatah makanan luar angkasa untuk 6 orang selama 50 hari, 300 galon air dan 12 buah kentang selama 4 tahun sampai misi ke Mars berikutnya (Ares 4) datang.

Sementara itu berhari2 kemudian di bumi, orang2 di NASA baru menyadari blunder yang meraka lakukan bahwa Mark Watney masih hidup, tertinggal dan wira wiri sendiri di planet Mars melalui rekaman citra satelit. Berita tersebut bocor ke media dan Mark pun segera menjadi pusat perhatian di seluruh dunia (ya iyalah).

NASA segera mereka-reka berbagai scenario penyelamatan yang mungkin dilakukan untuk menjemput Mark Watney.

“He’s stuck out there. He thinks he’s totally alone and that we all gave up on him. What kind of effect does that have on a man’s psychology?” He turned back to Venkat. “I wonder what he’s thinking right now.”

LOG ENTRY: SOL 61 How come Aquaman can control whales? They’re mammals! Makes no sense.”

Sementara itu di planet Mars, Mark dengan rajin merekam segala aktivitas yang ia lakukan untuk membuat dirinya sendiri bertahan hidup.

Termasuk dengan cerdasnya berhasil menumbuhkan kentang didalam The Hab dengan menggunakan tanah mars yang diperkaya oleh bakteri2 dari sisa pencernaan manusia (tebak sendiri apa itu, hihihi ;p) dan memperbanyak cadangan air sesuai kebutuhannya.

Kedengerannya gampang ya? Tapi kalo dibaca bukunya kebayang deh otak macam apa yang dibutuhkan untuk merancang dan mengeksekusi rencana-rencana yang dijalankan oleh Mark Watney. Thank God he’s a genius!

Edun dan unbelievable bagaimana Mark Watney mempertahankan hidupnya (fisik dan mental) sendirian di Mars sana. Peluang ia untuk diselamatkan sangaaaaaaaaaaaat kecil dan kita sebagai pembaca dibuat ngga bisa berhenti menguntit hari2 Mark di planet Mars dan geleng2 kepala sendiri atau ketawa terkekeh2 sendiri membaca kelakuan Mark Watney.

Hehehe.

Will the odds be ever in his favor?

18401393Read it yourself yaaaa.. Buku ini saya rekomendasikan banget, 5 dari 5 bintang untuk The Martian.

PS : Saya udah siap2 kecewa dengan filmnya, yang jadi Mark Watney-nya Matt Damon yang notabene tidak sesuai dengan si geeky Mark Watney yang ada di kepala saya ;p hehehe. Baca bukunya aja yaa, dijamin lebih seru!

“Yes, of course duct tape works in a near-vacuum. Duct tape works anywhere. Duct tape is magic and should be worshiped.”

“Also, please watch your language. Everything you type is being broadcast live all over the world. [12:15] WATNEY: Look! A pair of boobs! -> (.Y.)”

“Each crewman had their own laptop. So I have six at my disposal. Rather, I had six. I now have five. I thought a laptop would be fine outside. It’s just electronics, right? It’ll keep warm enough to operate in the short term, and it doesn’t need air for anything. It died instantly. The screen went black before I was out of the airlock. Turns out the “L” in “LCD” stands for “Liquid.” I guess it either froze or boiled off. Maybe I’ll post a consumer review. “Brought product to surface of Mars. It stopped working. 0/10.”

I’ll Give You the Sun By Jandy Nelson

20820994“Or maybe a person is just made up of a lot of people,” I say. “Maybe we’re accumulating these new selves all the time.” Hauling them in as we make choices, good and bad, as we screw up, step up, lose our minds, find our minds, fall apart, fall in love, as we grieve, grow, retreat from the world, dive into the world, as we make things, as we break things.”

“Reality is crushing. The world is a wrong-sized shoe. How can anyone stand it?”

So let me tell you how good this book is. I cannot compare it with any book that I have read. At time I have to force myself to stop reading and remember my ground. This book is like an alien suddenly burst from another galaxy just to let you know that if you’re feeling that you are a misfit, an outcast that doesn’t belong anywhere.

You are not alone.

You are, mistakenly, never have been alone.

Man, This book is magic.

Bercerita tentang sepasang anak kembar bernama Noah dan Jude. Dengan point of view bergantian antara Noah ketika umur mereka 14 tahun, dan point of view Jude dua tahun kemudian, ketika mereka sudah berumur 16 tahun.

Pada narasi pertama dari Noah, saya langsung jatuh cinta dengan tokoh dorky, geeky Noah yang punya daya imajinasi dan kemampuan lukis luar biasa sehingga ia hampir setiap saat membayangkan adegan-adegan yang terjadi dalam hidupnya dalam bentuk self potrait skecth dengan judul yang nyeleneh.

Noah adalah remaja penyendiri yang tidak mempunyai teman. Bertolak belakang dengan saudari kembarnya Jude yang normal dan populer. Jude yang digambarkan berambut pirang teramat panjang seperti malaikat. Jude sang daredevil dan nge geng dengan para surfer yang berumur jauh lebih tua darinya.

Kedua orang tua Noah dan Jude adalah orang dengan kepribadian yang sangat bertolak belakang. Ibu mereka yang seniman banget, dreamy dan percaya pada hal-hal yang bersifat supranatural. Ayah mereka yang seorang scientist, logis dan normal in every way. Nenek Noah dan Jude belum lama meninggal.

Pada suatu acara makan malam Ibu mereka mengumumkan kalo arwah nenek mereka yang sudah meninggal mendatanginya, dan memberikan wangsit kalau Noah dan Jude harus masuk sekolah seni yang kebetulan ada di lingkungan sekitar mereka. Kebetulan Noah dan Jude memang sangat berbakat.

Semenjak malam itu Ibu mereka menjadi semacam mengadakan sebuah kontes antara Noah dan Jude. Siapa yang paling berbakat. Dan darisana segala sesuatunya mulai berjalan salah.

Dari narasi Noah ketika berumur 14 tahun dan narasi Jude ketika berumur 16 tahun, kita bisa mengetahui bahwa ada sesuatu yang terjadi diantara waktu tersebut yang membuat segalanya berubah. Di narasi Noah kita tau kalo Noah adalah the geeky one dan Jude adalah the popular one.

Apa yang sebenarnya terjadi diantara kedua tahun tersebut sehingga di usia 16 tahun kehidupan mereka seperti berbalik 180 derajat. Noah menjadi remaja normal sedangkan Jude menjadi penyendiri, percaya pada segala macam tahayul dan bisa serta senang mengobrol dengan hantu neneknya.

Di umur 16 tahun Jude merasa frustasi karena karya2nya di sekolah seni (iya Jude berhasil masuk sekolah seni) selalu dipecahkan oleh hantu Ibunya hingga Ia diberi julukan CJ alias Calamity Jude oleh guru dan teman-teman di sekolahnya.

Jude pun didesak pihak sekolah untuk membuat karya yang lebih serius. Jude akhirnya memilih untuk mencari mentor yang bisa mengajarinya membuat karya dengan bahan dasar batu. Dari titik ini lah cerita mulai beranjak seru.

Narasi yang bergantian antara Noah dan Jude (yang sama gila dan indahnya) membuat pembaca makin penasaran akan apa yang sebenarnya terjadi, dan akhirnya mengerti kenapa tokoh2 yang ada bisa sampe ke titik dimana mereka berada. Keren. Keren.

Reading this book makes me feel okay about my own craziness. Everybody is crazy in their own thoughts I bet. They all have magic in them that they no longer believe in. They’ve become robots. Living dead man.

Sometimes I’m having trouble to explain myself without being judge that I am a complete loon. How can anybody understand ? But Jude does. She is like my long lost best friend emerging from a book. Jude, I wish you were here with me. So we can whack this dead uninteresting world together in our Hippitty Hop.

And the way Jude and Noah utter their words.. No one can talk like that. No one.

Oh ya, satu lagi tokoh favorit saya, Grandma Sweetwine yang berhasil menulis Superstition Bible untuk Jude, yang suka memakai dress bunga-bunga dan juga menyebut Tuhan dengan nama panggilan sayang Clark Gable. Oh how I love the sassy ghost of Grandma Sweetwine. Hehe.

And last but not least. Buku ini juga mengajarkan kita akan Redemption, kesempatan kedua. Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki semuanya.

Let’s remake the world.

5 dari 5 bintang untuk buku ini. Semoga segera diterjemahkan ke bahasa Indonesia.

“I didn’t know you could get buried in your own silence.”

“Sometimes you think you know things, know things very deeply, only to realize you don’t know a damn thing.”

“No one tells you how gone gone really is, or how long it lasts.”

“If you’re going through hell, keep going.” – Winston Churchill”

Looking For Alaska By John Green

/home/wpcom/public_html/wp-content/blogs.dir/2e1/22348610/files/2015/01/img_4194.jpg

Those awful things are survivable, because we are indestructible as we believe ourselves to be. When adults say, “Teenagers think they are invincible” with that sly, stupid smile on their faces, they don’t know how right they are. We need never be hopeless, because we can never be irreparably broken. We think that we are invincible because we are.

Wow! Udah lama banget rasanya saya bisa terpengaruh secara emosional oleh sebuah buku dan berhasil dibuat tercenung sendiri di tengah-tengah cerita.

Membaca buku ini membuat saya merasa bahwa pengalaman saya tumbuh dewasa highly uneventful. Hehe. Padahal emang ia biasa banget, bukan cuman perasaan ;p

Tiba-tiba saya ingin sekali masuk kedalam cerita di buku ini. Kembali menjadi remaja untuk berteman dengan seorang Miles Halter.

Seorang Miles Halter yang terobsesi dengan buku biografi tokoh-tokoh plus kata-kata terakhir dari orang-orang yang diceritakan sebelum mereka meninggal dunia dan menghafalnya diluar kepala.

Yes, I love quirky teenager!

Merasa bosan dengan kehidupannya di public school, Miles meminta izin kepada kedua orang tuanya untuk pindah ke sebuah boarding school bernama Culver Creek.

Miles Halter sedang mencari sesuatu yang dinamakan “The Great Perhaps”, yang ia dapatkan dari seorang penulis puisi bernama Francois Rebelais.

“The Great Perhaps”.. Kemungkinan, kesempatan, pengalaman hidup..

Apapun itu, yang memang dalam hidup ini harus dicari.

Kita tidak bisa memperoleh semua itu dengan hanya duduk manis di bangku, menunggu segala sesuatu terjadi.

Mind you, I wish I had done that. Creating chances for myself.

Setelah menjejakkan kaki di Culver Creek, Miles Halter menemukan dirinya memperolah seorang teman sekamar yang sangat menarik yang bernama Chip Martin.

Well.. Chip Martin ini menjuluki dirinya sendiri “The Colonel”. Dan seketika itu juga menciptakan nama panggilan yang tidak kalah menariknya untuk Miles. Pudge.

Sang Colonel bersekolah di Culver Creek dengan beasiswa penuh dari yayasan. Saat itu adalah tahun ketiga untuk Sang Colonel bersekolah disana dan mereka berada di kelas yang sama.

Sang Colonel kemudian memperkenalkan Miles alias Pudge kepada kehidupan di Culver Creek. Dari mulai dimana membeli barang-barang yang dilarang di asrama, dimana tempat persembunyian terbaik, sampai kepada para penghuninya. Termasuk kepala asrama mereka Mr. Eagle.

Miles akhirnya (semacam) bergabung dengan kelompok Sang Kolonel. Kelompok tersebut hanya terdiri dari dua orang tambahan. Takumi (pemuda dari Jepang), dan seorang perempuan bernama Alaska.

Perkenalan dengan Alaska yang dimulai dengan adegan membeli rokok meninggalkan Miles menjadi (sedikit) terobsesi dengan Alaska.

Alaska yang kamarnya dipenuhi oleh buku yang tidak semua (namun suatu hari pasti) ia baca. Alaska yang senang melakukan “prank” alias keisengan-keisengan di sekolah mereka. Alaska yang jago mengajarkan Pre Calculus. Alaska yang moody.. Dan.. Alaska yang sudah memiliki pacar ganteng bernama Jake.

Poor Miles.. Hehe..

Saya suka banget bagaimana John Green menggambarkan tokoh-tokohnya sebagai remaja yang suka baca buku dan remaja yang “berpikir”.

Dan mengikuti bagaimana Miles, Sang Colonel, Takumi, dan Alaska menjalani hari-hari mereka, mempelajari latar belakang dan kisah hidup setiap tokoh, bagaimana mereka menjalin persahabatan, belajar dengan serius sekaligus bersenang-senang sungguh membuat saya iri.

Ketika secara tiba-tiba hidup menggantung Miles dan Sang Kolonel dengan tragedi dan pertanyaan-pertanyaan tak terjawab, bisakah mereka menerima kenyataan?

Atau sebagaimana kutipan dari buku kesukaan Alaska, The General in his Labyrinth by Gabriel Garcia Marques (ya sodara-sodara, pengarang favorit saya juga!! Gabriel Garcia Marquez!!)

How will I ever get out of this labyrinth??

Bisakah mereka memecahkan misteri labirin hidup mereka?

I love this book!! I love this book with all it’s question, lesson, and beautiful quotes.

To all of you youngster out there. Please don’t waste your life sitting on a bench, just waiting for something to happen.

You have to get out there. Seeking “The Great Perhaps”

You spend your whole life stuck in the labyrinth, thinking about how you’ll escape it one day, and how awesome it will be, and imagining that future keeps you going, but you never do it. You just use the future to escape the present.

That everyone who wades through time eventually gets dragged out to sea by the undertow-that, in short, we are all going.

The Night Circus By Erin Morgenstein

20140425-122633.jpg

“Stories have changed, my dear boy,” the man in the grey suit says, his voice almost imperceptibly sad.

“There are no more battles between good and evil, no monsters to slay, no maidens in need of rescue. Most maidens are perfectly capable of rescuing themselves in my experience, at least the ones worth something, in any case.

There are no longer simple tales with quests and beasts and happy endings. The quests lack clarity of recognize for what they are.

And there are never really endings, happy or otherwise. Things keep going on, they overlap and blur, your story is part of your sister’s story is part of many other stories, and there is no telling where any of them my lead.

Good and evil are a great deal more complex than a princess and a dragon, or a wolf and a scarlet-clad little girl. And is not the dragon the hero of his own story?

Is not the wolf simply acting as a wolf should act? Though perhaps it is a singulat wolf who goes to such lengths as to dress as a grandmother to toy with its prey.”

Pfiuh.. It’s been a quite while since I write a review.. Maybe it took this book for me to start again.. I’ve been itching to write this review ever since I finished this book on a plane from Jakarta to Yogyakarta!

Terus terang saya ngga pernah nonton pertunjukan sirkus, paling banter nonton di tv. Itu mungkin yang paling saya suka dari buku ini. Penggambaran suasana, flow cerita, seakan-akan saya betul-betul ada di dalam sirkus dan ikut merasakan efek magis yang ada.

Le Cirque des Reves nama sirkusnya. Dan sirkus tersebut datang dan pergi tanpa diundang. Tanpa mobilisasi dan peringatan apapun Le Cirque des Reves mendatangi suatu kota. Di suatu pagi tenda-tenda megah tiba-tiba sudah terbangun dengan megahnya. Pada pintu pagarnya akan terlulis sebuah papan hitam dengan tulisan putih:
Opens at Nightfall, Closes at Dawn

You step into a bright, open courtyard surrounded by striped tents.

Curving pathways along the perimeter lead away from the courtyard, turning into unseen mysteries dotted with twinkling lights.

Semua dimulai dari ide gila seorang Bilyuner nyentrik bernama Chandresh Christopher Lefevre. Di suatu malam ia mengumpulkan beberapa orang yang ia nilai bisa mewujudkan obsesi barunya dalam sebuah jamuan makan malam. Dan di keesokan paginya perencanaan sirkus pun telah dimulai.

Setelah blueprint sirkus ditetapkan mereka pun mulai mengaudisi performers. Salah satu yang terpilih adalah Celia Bowen, yang di kemudian hari akan menjadi bagian penting dari jalan nasib The Circus of Dreams.

Pada malam pembukaan sirkus, suatu kejadian di luar skenario terjadi. Salah seorang performers wanita yang berprofesi sebagai pawang macan melahirkan sepasang bayi kembar yang kemudian diberi nama panggilan Poppet dan Widget.

Bisa dikatakan bahwa Poppet dan Widget adalah anak dari sirkus itu sendiri. Tahun demi tahun berlalu, sirkus pun terus berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya tanpa pertanda atau peringatan, menyihir setiap pengunjungnya dengan venue-venue yang magis. The Hanged Man, Hall of Mirrors, The Labyrinth, The Cloud Maze, Wishing Tree, The Ice Garden, Pool of Tears.

Semua digambarkan seolah-olah pembaca betul-betul ada disana, dan berharap betul-betul bisa berada disana.

“You’re not destined or chosen, I wish I could tell you that you were if that would make it easier, but it’s not true. You’re in the right place at the right time, and you care enough to do what needs to be done. Sometime’s that’s enough.”

Menjelang ulang tahun sirkus yang kesepuluh, salah seorang pendiri sirkus bernama Tara Burgess mulai merasa gelisah. Ada sesuatu yang salah dengan Le Cirque des Reves, dari mulai atmosfir magis yang terlalu nyata sampai dengan kenyataan bahwa tidak satupun para anggota sirkus maupun pendirinya yang terlihat bertambah tua kecuali si kembar Poppet dan Widget.

Tidak lama kemudian Tara Burgess meninggal karena tertabrak kereta.

Sebenarnya ada apa dengan sirkus tersebut. Bagaimana sirkus tersebut bisa menghadirkan atmosfir magis yang seolah-olah (atau memang sebetulnya) nyata?

How about you? Care to join the Circus? 🙂

“Before you leave, the fortune-teller reminds you that the future is never set in stone.”

Among Others By Jo Walton

20130613-092607.jpg

Hahaha.. Saya harus jitak diri sendiri waktu liat postingan ini ada di box draft sejak tanggal 13 Juni, terus lupa ga diterusin.. Maafkan teman2, maklum masih menyesuaikan dengan ritme kehidupan di Jakarta Raya Megapolitan ini 😉

Padahal waktu selesai baca pengeeeen banget cerita tentang buku ini, apalagi waktu BBI ada jadwal posting bareng review buku dengan tema “book about books“. Waaah cocok banget nih, soalnya tokoh utama di buku ini Morwena Phelps alias Mori adalah seorang hardcore bookaholics di genre science fiction & fantasy. Saya aja selesai baca langsung hunting buku2 SF!! *ga insyaf2 emang nih saya* 😉

Buku bergenre contemporary fantasy magic ini bercerita tentang remaja perempuan bernama Mori yang pada suatu waktu tidak memiliki pilihan lain melainkan pindah dari kota tempat ia dibersarkan dan tinggal bersama Ayahnya yang telah pergi dari kehidupannya semenjak ia kecil.

Tadinya Mori memiliki seorang saudara kembar perempuan identik, Mor. Mereka berdua memiliki kemampuan melihat mahluk2 magis, peri, kurcaci dan sebagainya. Sayangnya, mereka dibesarkan oleh seorang Ibu yang agak gila merangkap seorang penyihir jahat.

Suatu insiden yang melibatkan Ibu mereka menyebabkan saudara kembar Mori meninggal. Dan semenjak saat itu Mori menyadari jika hidupnya akan selalu berada dalam bahaya jika ia masih berada di sekitar Ibunya.

Maka Mori mengambil keputusan berat untuk pindah. Satu2nya pelarian Mori adalah buku2 science fiction & fantasy-nya. And believe me she’s an expert in those genre, saya langsung merasa ngga tau apa2 ttg buku2 yang Mori sebutkan di ceritanya.

Ternyata Ayahnya adalah orang yang cukup baik, walau tidak hangat. Mereka berdua memiliki hobby yang sama yaitu membaca. Satu kesamaan itu sudah cukup membuat Mori merasa nyaman dengan Ayahnya.

Oleh sang Ayah, Mori didaftarkan ke sebuah boarding school khusus untuk anak perempuan. Disana Mori bertahan dengan buku2nya, plus perpustakaan boarding school tersebut memiliki koleksi yang cukup lumayan menurut standar Mori.

Satu kerepotan yang harus ia lalukan adalah menebarkan sihir untuk menghalangi Ibunya memata-matai dirinya dari jauh. Mori menemukan itu sedikit sulit karena hanya ada sedikit magic di sekitar sekolahnya. Bahkan ia kesulitan untuk menemukan seorang peri! Di tempat dimana penghuninya tidak percaya lagi pada hal2 magis, maka para peri pun tidak akan mau menampakkan dirinya.

Seminggu sekali setiap murid diizinkan untuk pergi ke kota terdekat selama satu hari. Tebak apa yang Mori cari ketika pertama kalinya pergi ke kota? Tentu saja perpustakaan!! Hehe. Tempat itulah yang menjadi tujuan utama Mori untuk rekreasi.

Diantara mengatasi perasaan sedih karena kehilangan saudari kembarnya dan juga takut akan keberadaan Ibunya. Mori mengubur dirinya dalam buku. Tidak lama ia menemukan bahwa perpustakaan kota yang sering ia kunjungi memiliki reading club khusus genre favoritnya. Anggota perkumpulan tersebut bertemu seminggu sekali untuk membahas buku2 dan juga pengarang2 science fiction & fantasy.

Disana Mori berkenalan dengan seorang remaja laki2 yang sehobi dan sama fasihnya dalam pengetahuan tentang buku. Saat kehidupan mulai berjalan dengan baik, dalam hatinya Mori tau bahwa ia tidak bisa selamanya menghindar. Ada hal yang harus ia selesaikan di tempat kelahirannya, ada hal yang harus ia selesaikan dengan Ibunya.

Lalu akankah sihir Mori cukup kuat untuk mengkonfrontasi Ibunya?

In my humble opinion buku ini memiliki material cerita yang keren banget. Namun saya baru yakin 100% sihir yang diceritakan Mori adalah nyata ketika sudah mencapai 1/2 buku. Tadinya jujur saya mengira ybs sedikit delusional.

Satu lagi, klimaks dari cerita agak kurang menggigit (menurut saya loh), karena saya sudah menunggu2 momen2 akhir itu dengan sangat antusias, sayang eksekusi pertarungan akhirnya kurang nendang.

Terlepas dari semua “sayang” yang tadi saya ceritakan. Saya tetap memberikan 4 dari 5 bintang untuk buku ini ’cause I love book about books especially when the main character is a bookaholic just like me. Hehehe.

Dan ceritanya memang seru kok, I just wish that it has more sensational ending. And probably that just a subjectively opinion from my self, I’m sure you’ll like this book plus the heroine.

Fahrenheit 451 By Ray Bradbury

20130530-172304.jpg

There’s nothing magical about books at all. The magic is only in what books say, how the stiched the patches into one garment of us.

I’ve been wondering for quite a long time.. What is it that so special about books that makes me can’t get enough of them? The more I read the more I want to read. Does that even make sense?

Saat pertanyaan yang serupa dilontarkan oleh seorang tokoh tidak signifikan dalam buku ini, “Apa yang membuat buku begitu spesial hingga seseorang rela membahayakan dirinya untuk benda itu?

Can you answer it?

Mungkin salah satu jawaban yang sebenarnya adalah dalam quote di atas. Bukan apa isi dari buku itu sendiri yang ajaib, tetapi efek yang disebabkan kepada pembacanya itu sendiri yang luar biasa. Dan satu buku dapat memberikan efek yang berbeda dan unik antara satu orang dengan orang lainnya.

Makanya, never undermine anyone because of what they’re read and what they perceived by their reading experience.

Hal itu akan memicu perdebatan yang tidak ada ujungnya karena pengalaman membaca dan persepsi yang disebabkan oleh pengalaman membaca tersebut tidak akan ada yang persis serupa antara setiap orang yang satu dengan yang lainnya.

Back to the story, jadi apa itu Fahrenheit 451? Itu adalah suhu dimana kertas/buku mulai terbakar. Kenapa hal itu signifikan? Karena di dunia ini tugas utama seorang pemadam kebakaran adalah membumi hanguskan buku-buku berikut rumah dimana buku-buku tersebut ditemukan.

Tokoh utama kita, Guy Montag adalah seorang pemadam kebakaran. Ia tadinya menikmati pekerjaannya, melihat api menjilat-jilat menghanguskan benda-benda terlarang itu adalah suatu pemandangan yang teramat indah menurutnya.

Sampai suatu saat sepulang kerja ia bertemu dengan seorang tetangga baru, remaja perempuan bernama Clarrise. Dalam dunia itu, Clarisse adalah anak yang “berbeda” karena ia suka berbicara, berfikir dan mempertanyakan banyak hal yang membuatnya di cap bermasalah.

Dalam suatu percakapan dengan Guy Montag, Clarrise memprotes kenapa dirinya di cap sebagai orang yang tidak dapat bersosialisasi. Bagi Clarrise bersosialisasi adalah kegiatan mengobrol seperti yang saat itu mereka lalukan, bukan semata-mata sekumpulan orang yang didudukan di dalam satu ruangan yang sama dan dibuat menyaksikan suatu rekaman video pelajaran dalam diam.

Percakapan sepulang kerja dengan Clarrise akhirnya menjadi rutinitas yang menyenangkan bagi Guy Montag. Bak rubah dan sang pangeran kecil dalam buku cerita The Little Prince. Clarrise akan menunggunya di ujung jalan dan mereka bercakap-cakap hingga masing-masing sampai di depan rumah mereka yang bersebelahan.

Setelah itu Guy pulang ke Mildred, istrinya. Istrinya dan tayangan-tayangan televisi kesayangan yang diibaratkan sebagai keluarga. Istrinya yang kadang Guy pun merasa asing melihatnya.

Hingga pada suatu saat Guy tidak pernah melihat Clarrise lagi. Seminggu berlalu, ia mendapat kabar bahwa Clarrise mengalami kecelakaan, gadis itu tertabrak oleh mobil yang ngebut dan keluarganya pindah segera setelah peristiwa tersebut.

Ide-ide Clarrise dan pernyataan2nya tentang dunia meninggalkan jejak dalam diri Guy. Sebuah perasaan langka di dunianya yang bernama kehilangan.

Pada suatu malam alarm pemadam kebakaran berbunyi nyaring di markas mereka. Guy dan timnya pergi untuk melaksanakan tugas. Dalam prosedur normal, sebuah rumah bersama buku2 yang ada di dalamnya hanya akan dibakar ketika semua penghuni sudah keluar.

Di malam itu Guy merasa terguncang karena menemukan penghuni rumah yang memilih mati terbakar bersama buku-bukunya. Apa yang membuat orang itu begitu mencintai buku-buku?

Guy kehilangan minat bekerja. Ia tidak sanggup kembali ke markas pemadam kebakaran.

Guy sebenarnya menyimpan rahasia, ia menyimpan suvenir dari pekerjaannya. Dan saat ia mulai bertanya-tanya apa keistimewaan dari suvenir2 yang ia kumpulkan yang tidak lain adalah buku2, disaat itulah sang pemburu berbalik menjadi seseorang yang diburu.

Sejujurnya endingnya agak nanggung buat saya. But for the sake of the love of reading! For the good that books brought to us! With pleasure I gave 5 stars for this book.

PS : Review ini juga ditulis dalam rangka posting bareng Blogger Buku Indonesia (BBI) bulan Mei untuk kategori Klasik Kontemporer 🙂