A Little Life By Hanya Yanagihara

Fairness is for happy people, for people who have been lucky enough to have lived a life defined more by certainties than by ambiguities. Right and wrong, however, are for—well, not unhappy people, maybe, but scarred people; scared people.

27250648Pernah ngga nonton film horor dimana ada adegan yang takut kita lihat, tapi penasaran, jadi kita mencoba menutup mata pake jari tapi sambil mengintip-intip? Itu persisnya apa yang saya rasakan saat membaca 2/3 terakhir buku ini. Penasaran sekaligus ngga sanggup ngebaca apa yang terjadi di halaman-halaman berikutnya.

Buku ini betul-betul memberikan efek roller coaster esmosi jiwa buat pembacanya (setidak-tidaknya buat saya :D).

Saya selesai membaca buku ini di kantor (curi-curi saking penasarannya), menutup halaman terakhir saya nangis bombay sendiri bak orang aneh dan butuh waktu beberapa saat untuk memulihkan diri sendiri kembali ke dunia nyata ;p

Buku ini bercerita tentang 4 sahabat, Willem, Jude, JB dan Malcom yang berkenalan di awal masa perkuliahan mereka, dimulai di waktu mereka berempat telah lulus kuliah dan baru saja memulai meniti karir masing-masing.

Willem yang ketika itu baru memulai karir sebagai aktor sambil menyambi menjadi pelayan sebuah restoran, JB yang baru saja memulai project-nya sebagai seniman, Malcom yang baru saja bergabung dengan biro arsitek yang sebenarnya tidak sesuai dengan idealismenya dan Jude yang baru saja memulai karirnya di bidang hukum.

Narasi di awal-awal banyak diceritakan dari point of view Malcom dan JB. Dari cerita keduanya pembaca dapat memperoleh perspektif dasar tentang persahabatan empat sekawan ini dan karakter dari masing-masing personilnya. JB sang seniman nyetrik yang gay, Malcom yang thoughtful tapi sulit mengambil keputusan dan enggan memiliki konflik dengan orang lain, Willem yang merupakan definisi dari pria baik-baik dan Jude yang sangat cerdas, santun, namun misterius dan tertutup.

Lalu cerita berkembang dan berputar di sekitar kehidupan Jude. Ketiga sahabatnya telah mengerti batasan mana yang boleh dan tidak boleh dilanggar dalam kehidupan Jude. Ditambah lagi Jude punya kekurangan fisik yaitu sakit kronis di bagian tulang belakang  sehingga ketiga sahabat Jude cenderung sedikit protektif terhadapnya.

Di awal-awal cerita ketiga sahabatnya tersebut cukup nyaman dengan segala kemisteriusan latar belakang kehidupan Jude dan memiliki gambaran buram bahwa Jude memiliki masalah, namun cukup menghormati privasi Jude untuk tidak banyak bertanya macam-macam. Jude mengawali masa “dewasa”nya setelah lulus kuliah dengan menyewa flat berdua dengan Willem, dengan begitu mereka dapat hidup dengan lebih ekonomis dan Willem sekaligus dapat menjaga Jude.

Lalu kita sebagai pembaca mengetahui bahwa ternyata Jude memiliki rahasia gelap yaitu kebiasaan menyakiti diri sendiri dengan menggoreskan silet di lengannya. Damn! This is not going well, kata saya dalam hati ;p

Jude sendiri sangaaaaat tertutup dengan apa yang sedang ia rasakan, ditambah dengan Willem yang terlalu santun untuk menodong Jude apa masalahnya sebenarnya membuat saya merasa semakin tersiksa sebagai pembaca karena merasa helpless melihat penderitaan terpendam Jude.

Memasuki usia 30-an empat sekawan itu mulai sukses di bidangnya masing-masing. Harold adalah salah satu tokoh favorit saya yang diceritakan sebagai profesor Jude di masa kuliah dan terus memiliki hubungan dekat dengan Jude, Harold merasa bahwa Jude adalah pengganti anak lelakinya yang meninggal dunia sehingga di usia Jude yang ke-30, Harold dan Istrinya Julia memutuskan untuk resmi mengadopsi Jude (yang memang yatim piatu) sebagai anak lelaki mereka.

Mendekati usia 40 an Jude dan Willem telah memiliki apartemen masing-masing dan tinggal sendiri-sendiri, sempat terjadi perselisihan diantara Jude dan JB sehingga hubungan keempat sekawan itu menjadi renggang. Di usia 40-an Jude belum juga memiliki hubungan romantis dengan siapapun sehingga membuat orang-orang terdekatnya bertanya-tanya.

Lalu Jude bertemu dengan Caleb, dan darisana cerita menjadi semakin buruk dan kelam. Di beberapa titik saya sampai merasa tidak punya cukup keberanian untuk membuka halaman berikutnya, di beberapa titik saya ingin melemparkan buku ini ke tembok dan di beberapa titik saya ingin terjun ke dalam buku dan menguncang2 badan orang-orang terdekat Jude sambil berteriak “Why won’t you do someting! Do something!”

Tapi apa daya saya cuma seorang pembaca yang emosinya berhasil diobrak-abrik oleh Hanya Yanagihara. Saya hanya bisa membuka halaman demi halaman sambil menelan berbagai macam esmosi jiwa yang saya yakini merupakan efek samping dari buku ini terhadap semua pembacanya ;p

Ketika saya telah sampai ke bagian dimana seluruh chapter mengerikan telah terbuka dan masa lalu Jude terungkap saya sempat bernafas lega karena mungkin pada akhirnya Jude akan menemukan kebahagiaan. Maybe the worst part is over. Jude memang akhirnya menemukan kebahagiaan. Namun hidup memang parodi ironis, termasuk kehidupan di dunia fiksi dalam buku ini sehingga di akhir cerita, seperti yang sudah saya ceritakan di atas, saya hanya bisa menangis dan merasa emotionally wounded.

Namun untuk bisa membawa efek maha dahsyat sedemikian rupa terhadap pembaca merupakan cerminan dari keberhasilan penceritaan suatu buku, sehingga saya tidak ragu untuk memberikan buku ini lima bintang. Walaupun ceritanya kelam, menyebalkan dan sama sekali bukan untuk ditiru, membaca buku ini merupakan suatu privilage dan pengalaman yang sangat berkesan.

Menurut pendapat pribadi saya buku ini lebih pantas untuk menang Goodreads Choice Award tahun 2015 dibandingkan denga Go Set A Watchman nya Harper Lee.

Oh ya satu hal lagi yang harus saya sampaikan setelah membaca buku ini adalah tentang mental ilness awareness. Orang-orang di Indonesia masih sangat enggan untuk mengakui bahwa mental ilness itu ada dan nyata, dan juga belum sepenuhnya menyadari bawa people with depression or who is mentally troubled can’t help themself. Adalah orang-orang terdekat yang sebaiknya mendampingi dan menyarankan bahwa they need help, and should insist that they should get one. Leaving them alone won’t lead to better result. Just please do something and stand by their side.

“Sometimes he wakes so far from himself that he can’t even remember who he is. “Where am I?” he asks, desperate, and then, “Who am I? Who am I?”

And then he hears, so close to his ear that it is as if the voice is originating inside his own head, Willem’s whispered incantation.

“You’re Jude St. Francis. You are my oldest, dearest friend. You’re the son of Harold Stein and Julia Altman. You’re the friend of Malcolm Irvine, of Jean-Baptiste Marion, of Richard Goldfarb, of Andy Contractor, of Lucien Voigt, of Citizen van Straaten, of Rhodes Arrowsmith, of Elijah Kozma, of Phaedra de los Santos, of the Henry Youngs.

“You’re a New Yorker. You live in SoHo. You volunteer for an arts organization; you volunteer for a food kitchen.

“You’re a swimmer. You’re a baker. You’re a cook. You’re a reader. You have a beautiful voice, though you never sing anymore. You’re an excellent pianist. You’re an art collector. You write me lovely messages when I’m away. You’re patient. You’re generous. You’re the best listener I know. You’re the smartest person I know, in every way. You’re the bravest person I know, in every way.

“You’re a lawyer. You’re the chair of the litigation department at Rosen Pritchard and Klein. You love your job; you work hard at it.

“You’re a mathematician. You’re a logician. You’ve tried to teach me, again and again.

“You were treated horribly. You came out on the other end. You were always you.”

Go Set A Watchman By Harper Lee

24831147Menutup halaman terakhir dari buku ini, saya bertanya-tanya sendiri untuk apa Harper Lee menulis buku ini?

Saya, seperti juga kebanyakan orang, pada awalnya tidak mengetahui bahwa buku Go Set A Watchman selesai ditulis dua tahun sebelum To Kill A Mockingbird diterbitkan.

Publikasi yang menggembar-gemborkan bahwa akhirnya ada sequel dari To Kill A Mockingbird menimbulkan persepsi yang salah dan harapan yang terlalu besar akan kerinduan para penggemar To Kill A Mockingbird terhadap Atticus, Scout dan Jem. Termasuk saya.

Untuk yang belum membaca dan atau baru akan membaca, let me warn you, Go Set A Watchman bukan merupakan sequel dari To Kill A Mockingbird.

Walaupun Go Set A Watchman menceritakan Scout yang telah menjadi wanita muda berumur 26 tahun dan pulang kampung ke tempat kelahirannya Maycomb setelah membangun hidup secara mandiri di kota New York sendirian, harus dipahami bahwa Scout ini dilahirkan terlebih dahulu daripada Scout berumur 6 tahun yang lebih dulu kita kenal di To Kill A Mockingbird.

Draft Go Set A Watchman sendiri ditolak oleh penerbit Lippincot Company, namun seorang editor bernama Tay Hohoff mengenali potensi cerita atau potensi dalam diri Harper Lee sendiri, dan selama dua tahun kemudian mendampingi Harper Lee menulis sebuah buku baru yang akar ceritanya sebenarnya berasal dari Go Set A Watchman.

Alih-alih menerbitkan realitas (yang terkadang memang luar biasa pahit) yang terceritakan di Go Set A Watcman, mereka memilih untuk memberikan harapan akan dunia yang lebih baik dalam To Kill A Mockingbird. Atticus Finch merupakan sebuah lambang dari harapan.

Selama puluhan tahun Harper Lee memilih untuk tidak menyinggung2 ataupun menerbitkan Go Set A Watchman. Saya paham karena ibarat patung pahatan, dari segi alur cerita Go Set A Watchman ini masih berupa gundukan-gundukan yang menyerupai suatu bentuk. Setelah berproses barulah menjadi patung indah yang kita kenal di To Kill A Mockingbird.

Lalu kenapa sekarang Harper Lee setuju untuk menerbitikan manuskripnya? Terdapat banyak kontroversi mengenai hal ini. Harper Lee yang sekarang berumur 89 tahun telah tinggal dan dirawat di sebuah nursing home.

Setelah saudara perempuannya (yang biasa menghandle segala urusannya) meninggal, barulah terwujud sebuah surat persetujuan dari Harper Lee untuk menerbitkan naskah Go Set A Watchman.

Beberapa orang terdekat Harper Lee menyebutkan bahwa Harper Lee sekarang berada dalam kondisi sudah tidak bisa mendengar dan tidak bisa melihat sehingga ia, dengan tidak terlalu aware-nya bisa saja menanandatangani surat persetujuan itu tanpa sadar betul akan apa yang ia lakukan.

Terlepas dari kontroversi perihal bagaimana Go Set A Watchman ini bisa diterbitkan. Saya merasa harus menceritakan latar belakang di atas terlebih dahulu sebelum saya menceritakan isi Go Set A Watchman, karena kedua buku ini harus diperlakukan sebagai dua buku yang berbeda.

Harper Lee tidak merusak atau mengkorupsi sosok Atticus Finch yang terlanjur kita cintai karena Atticus Finch yang kita kenal terlahir setelah Go Set A Watchman. Harper Lee tidak memutuskan untuk membunuh tokoh Jem karena Jem sendiri baru dikembangkan menjadi pemuda yang kita sayangi dua tahun setelah ia terlebih dahulu menulis Go Set A Watchman.

This is two different books. Two alternate universe.

Kembali ke cerita Go Set A Watchman, Scout yang tengah berlibur di kota kelahirannya di sambut oleh Henry teman masa kecilnya yang kini telah menjadi prodigy Atticus karena Jem telah meninggal dunia karena terkena penyakit jantung.

Cerita-cerita kilas balik masa kecil Scout cukup mengobati kekangenan saya akan dunia To Kill A Mockingbird, sampai suatu saat Scout secara tidak sengaja mengintip pertemuan dewan rakyat Maycomb dimana Atticus dan Henry termasuk di dalamnya.

Scout kaget bagaimana pandangan rasis terhadap kaum kulit hitam secara bebas dan vulgar dipaparkan dalam pertemuan tersebut, dan ia merasa mual karena Atticus dan Henry tidak mengeluarkan sepatah kata pun untuk menentang pemaparan tersebut.

Atticus yang membesarkan Scout dengan prinsip tidak membeda-bedakan manusia berdasarkan warna kulitnya, kini telah menarik garis sampai dimana ia bisa menoleransi warga berkulit hitam dalam kehidupan sehari-harinya.

Scout juga terpukul karena Calipurnia, pengasuh kulit hitam yang membesarkannya semenjak Ibunya meninggal sekarang mengambil jarak dan melihatnya hanya sebagai another white person.

Buku ini pada intinya menceritakan hal tersebut, bagaimana idealisme seorang gadis muda yang ia dapat dari ayahnya yang ia puja, sekarang hancur dan terinjak-injak oleh kenyataan kondisi lingkungannya pada saat itu dan oleh orang-orang terdekatnya, termasuk Ayahnya sendiri.

Bagaimana pemujaannya terhadap Ayah-nya akhirnya hancur. Bagaimana Scout harus turun ke bumi dari surga idealnya, dan menerima bahwa Ayahnya juga manusia biasa yang harus berkompromi dengan keadaan.

Dan bagaimana bahwa rasisme itu memang ada dan harus diterima olehnya.

Go Set A Watchman juga tidak menyinggung-nyinggung tentang Boo Radley yang dalam To Kill A Mockingbird juga sama pentingnya mengajarkan banyak hal tentang prasangka dan perbedaan.

Alurnya memang agak lambat, buku ini mencapai puncak alurnya di 1/3 terakhir cerita, namun saya cukup terhibur dengan cerita kilas balik masa kecil Scout.

Menarik bagi saya bagaimana Harper Lee bisa mentransformasilkan bibit-bibit dalam Go Set A Watchman menjadi To Kill A Mockingbird yang sangat saya sukai. Dan menurut saya kisah bagaimana Harper Lee berproses hingga melahirkan To Kill A Mockingbird akan menjadi suatu cerita seru tersendiri.

3 dari 5 bintang dari saya untuk buku ini. Ingat! Ingat! Buku ini bukan sequel dari To Kill A Mockingbird, melainkan sebuah raw material. Karya pertama dari seorang Harper Lee yang nantinya melahirkan buku yang akan dicintai sepanjang peradaban masih ada.

“the time your friends need you is when they’re wrong, Jean Louise. They don’t need you when they’re right—”

Cerita Cinta Enrico By Ayu Utami

13454650Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia

Tebal : 244 Halaman

“Selanjutnya hidup bagaikan judi…”

Lebih dari 10 tahun lalu saya mencoba membaca buku Saman karya Ayu Utami. Saya waktu itu baru akan memasuki umur 20 tahunan langsung menyimpulkan bahwa Saman is not my cup of tea. Ketika itu saya versi “remaja-dewasa” merasa sudah tau pasti siapa diri saya, apa yang saya mau dalam hidup, mau kemana langkah kaki saya arahkan.

Lalu kehidupan yang sebenarnya datang. Dan semakin bertambah umur, semakin saya tahu bahwa tidak ada yang pasti di dunia ini. Hidup selalu mendorong manusia untuk selalu berubah. Di suatu titik saya sempat bingung dengan  perubahan diri sendiri dan merasa tidak mengenal orang yang saya lihat dalam kaca. Namun pada akhirnya saya mengerti bahwa memang kita tidak akan pernah tahu. Tidak ada satu hal pun yang pasti dalam hidup.

Saya belajar untuk menenggang. Saya belajar untuk menempatkan diri di banyak sisi sebelum mengambil kesimpulan.

Ini berlaku juga dalam pilihan buku yang ingin saya baca. Saya memutuskan untuk mencoba kembali membaca buku2 yang dulu saya labeli “bukan untuk saya” untuk belajar menemukan keindahan perubahan cara pandang yang dibawa oleh waktu.

Dan kehidupan menjawab maksud saya. Ayu Utami mengeluarkan karya barunya Cerita Cinta Enrico. Saya yang tadinya berfikir untuk memulai dari Saman tiba-tiba merubah pikiran untuk berjalan mundur dari masa kini ke masa lalu. Saya akan memulai dari Cerita Cinta Enrico dan merunut ke karya2 Ayu Utami sebelumnya.

Walaupun orang-orang bilang ini adalah buku yang termasuk ringan untuk karya Ayu Utami, buat saya buku ini adalah kejutan yang menyenangkan. Kenapa?

Pertama karena gaya berceritanya yang unik. Enrico si tokoh utama bercerita tentang bab-bab kehidupannya dengan menggunakan peristiwa2 bersejarah Indonesia sebagai acuan waktu. Gaya ini pernah saya lihat dalam salah satu buku Salman Rushdie dan merupakan sesuatu menyenangkan untuk melihat versi lain gaya ini di Cerita Cinta Enrico.

Kedua karena buku Cerita Cinta Enrico ini merupakan penyeimbang. Penyeimbang dari kisah perjalanan anak Indonesia lainnya yang telah banyak beredar. Kebanyakan kisah perjalan tersebut mengajarkan kemuliaan dalam meraih mimpi, pengorbanan, kecintaan pada keluarga, determinasi, dan sifat2 baik lainnya sehingga sang tokoh berhasil meraih mimpi yang dicita-citakan.

Enrico berkelana ke Bandung dari Sumatra karena ingin bebas. Bebas dari suasana tertekan yang diradiasikan Ibunya. Bebas untuk memilih siapa dirinya. Buat saya keberanian untuk jujur menginginkan kebebasan itulah yang menyeimbangkan. Tidak semua dari kita diberkahi dengan jenis cinta keluarga yang membentuk kita menjadi manusia dengan sifat2 terbaik. Sebagian besar dari kita ingin terbebas dari kungkungan, terlepas dari kenyataan kita mencintai keluarga kita. Itu adalah kenyataan.

Ketiga, kisah Enrico meng-amin-ni, cerita pengalaman saya di awal2 paragraf bahwa manusia akan selalu berubah. Dan jika pada saat ini kita merasa masih belum menemukan diri kita, itu adalah sesuatu yang wajar karena fitrah manusia untuk selalu merubah dirinya. Kalo diibaratkan puzzle, seumur hidup kita akan selalu mengisi kepingan puzzle yang kosong itu, dan keping terakhir akan kita lengkapi di saat hembusan nafas terakhir. Jadi percayalah bahwa tidak ada pilihan yang salah dan jangan pernah merasa terlambat untuk sesuatu. Jalan hidup kita masih bisa berubah selama kita masih bernyawa.

Empat dari lima bintang dari saya untuk buku ini. Selebihnya tentang sinopsis cerita bisa teman2 lihat di goodreads karena apa yang saya tulis di atas lebih banyak muatan curhatnya daripada reviewnya. Hehehe.

Oh iya. Ini posting pertama para Blogger Buku Indonesia untuk tahun 2013. Untuk bulan Januari para anggota BBI memposting review buku hadiah dari event Secret Santa di bulan Desember 2012. Di postingan ini setiap orang harus mencantumkan tebakan siapa Secret Santanya.

Dan Secret Santa saya (hampir 100% yakin) adalah tak lain dan tak bukan Mia Prasetya sang dokter gigi cantik dari bali. Hehehe. Darimana saya tahu? 1. Resinya mencantumkan kode agen pengiriman denpasar; 2. Riddlenya pernah saya baca di buku The Hobbit and BBI’ers bali yang mereview buku itu not so long ago adalah Mia. Hihihihi. Iya kan Mia? ;p

“Orang yang tidak pernah merasa tertekan tak kan bisa menginginkan kebebasan.”

“Aku selalu merasa bahwa perempuan sering jauh lebih tangguh daripada laki-laki. Dan mereka memikirkan kehidupan, bukan kegagahan. Kami, para lelaki, sering melakukan sesuatu demi kegagahan. Tapi kaum perempuan berbuat demi kehidupan. Lelaki sering berbuat untuk egonya sendiri, sedang perempuan berbuat untuk orang lain.”

“Aku kini mahasiswa. Tapi perguruan tinggi telah menjadi peternakan yang membesarkan ayam-ayam leghorn dan broiler saja. Yaitu ayam-ayam palsu, yang tak punya kemauan, tak punya kenakalan, tak punya rasa ingin mencari yang sebenarnya. Ayam-ayam yang diproduksi untuk daging dan telurnya saja. Ayam-ayam yang tak punya karakter, tak punya keunikan individu. Ayam-ayam yang hanya mengangguk-angguk, mematuk2 apapun yang diberikan kepada mereka, sampai kelak Kiamat memotong leher mereka.”

The Hundred Year Old Man Who Climbed Out of the Window and Disappeard By Jonas Jonasson

13486632Penerbit : Hesperus Press Limited

Tebal : 393 Halaman

“Things are what they are, and whatever will be, will be.”

Haha! Saya nutup halaman terakhir buku ini asli sambil ketawa cekikikan. Padahal ngga sengaja nemu waktu lagi browsing2 di bookdepository dan kesengsem sama judulnya yang menarik. Emang bikin penasaran kan judulnya? Hehe..

Merasa beruntung karena jenis cerita macem gini adalah salah satu jenis yang paling saya suka. Ibarat perpaduan antara Forrest Gump nya Winston Groom dan Good Omens nya Neil Gaiman sama Terry Pratchett. Lucu, humoris dan sedikit absurd. Hehe.

Alkisah seorang tua di rumah jompo yang bernama Allan Karlsson, beberapa jam lagi ia harus menghadiri pesta ulang tahunnya yang keseratus. Karena pencapaian umur yang cukup langka itu panti jomponya memutuskan  untuk mengadakan pesta yang sedikit heboh. Walikota dan beberapa media akan datang untuk meliput peristiwa langka tersebut.

Allan yang enggan menghadiri pesta tersebut akhirnya memutuskan untuk kabur dengan melompat dari jendela kamarnya dan mendarat di semak bunga yang terletak di bawah jendela. Masih menggunakan sendal tidurnya, Allan berhasil mengaburkan jejak pelariannya dan tiba di stasiun bus untuk lalu membeli tiket bus jalur apapun yang berangkat paling cepat.

Secara kebetulan di stasiun bus yang sepi itu hanya ada satu orang lain yang duduk bersamanya di ruang tunggu. Anak muda tersebut memakai jaket dengan tulisan “Never Again” dan membawa sebuah koper perak dengan ukuran yang cukup besar.

Dengan polos(atau bodoh)nya anak mudah tersebut menitipkan kopernya kepada Allan karena harus pergi ke kamar kecil (koper sebesar itu tidak akan muat dibawa ke kamar kecil). Di saat bersamaan bus yang Allan tunggu tiba, dan di dalam pikirannya mungkin di koper tersebut akan tersedia beberapa potong baju ganti dan sepasang sepatu (kalau ia beruntung). Tanpa pikir panjang Allan membawa koper yang bukan miliknya itu ke dalam bus dan berlalu melanjutkan perjalanan.

Di saat yang bersamaan pesta ulang tahun Allan yang keseratus telah siap dilaksanakan. Seluruh tamu undangan telah siap menyambut sang birthday boy. Alangkah terkejutnya direktur panti jompo ketika menemukan bahwa Allan tidak ada di kamarnya. Fakta bahwa walikota dan media telah ada di tempat itu menyebabkan peristiwa hilangnya Allan menjadi heboh. Pencarian sang sepuh pun dilakukan dan media dengan ramainya memberitakan perihal hilangnya “Sang Orang Tua yang Berumur 100 Tahun” dari panti jompo.

Lalu bagaimana kabarnya anak muda yang kopernya dibajak oleh Allan? Ternyata “Never Again” adalah nama suatu geng mafia yang memiliki spesialisasi di bidang perampokan dan perdagangan obat terlarang. Koper yang Allan curi penuh berisi uang. Tidak tanggung murkanya anak muda tersebut mendapati bahwa dirinya telah dikerjai oleh seorang kakek renta. Dengan geram (dan takut pada bos mafianya) anak mudah tersebut segera menyusul Allan dengan Bus berikutnya.

Dan petualangan absurd Allan yang melibatkan geng mafia dan sekumpulan polisi inkompeten pun dimulai. Allan diduga diculik, untuk kemudian diburu dengan tuduhan pembunuhan terhadap (tidak tanggung2) tiga orang.

“People could behave all they like, but Allan considered that in general it was quite unnecessary to be grumpy if you had the chance not to.”

Cerita digambarkan melalui kisah Allan di masa sekarang dan kilas balik cerita hidupnya. Melalui kilas balik itulah kita kemudian mengetahui bahwa tidak hanya menyaksikan sebagian besar peristiwa di abad 20-an, bahkan Allan pun terlibat dalam berbagai peristiwa besar di abad tersebut melalui keahlian otodidaknya dalam hal membuat bom.

Sebutlah berteman baik dengan Harry S. Truman, menyelamatkan istri Mao Tse-tung, bertengkar dengan Stalin, menjadi penghuni  camp Gulag dan kemudian berlibur berbelas-belas tahun di Bali, Indonesia. Hahaha!! This story is so funny and amusing that it makes me smile over and over again while writing the review.

Ah, sebenernya asik banget kalo buku ini ada yang mau terbitin di Indonesia, tapi terus terang saya khawatir dengan masyarakat Indonesia yang suka terlalu sensitif. Kenapa? Soalnya Indonesia digambarkan dalam buku ini sebagai tempat dimana segala sesuatunya bisa dibeli dengan uang (dimana kurang lebih saya sependapat dengan penulis). Reputasi, jabatan, identitas, ijasah, you name it! Hihihi..

Lima dari lima bintang dari saya untuk keseruan nan absurd buku ini.

“Allan asked the representative of the Indonesian Government to sit down. And then he explained that he had given the Bomb to Stalin, and that had been a mistake because Stalin was as crazy as they come. So first, Allan wanted to know about the mental state of Indonesian President.

The Government representative replied that President Yudhoyono was a very wise and responsible person.

‘I am glad to hear it,’ said Allan.’In that case I’d be happy to help out.’

And that’s what he did.

The End”

Ibuk By Iwan Setyawan

14624906Penerbit :  PT Gramedia Pustaka Utama

Tebal : 289 Halaman

“Dapur ini penuh dengan jelaga. Hidup ini mungkin akan penuh dengan jelaga juga. Tapi anak-anakku lah yang akan memberikan warna terang dalam hidupku. Ini hartaku. Dan kini saatnya , semua yang telah keluar dari rahimku bisa hidup bahagia. Tanpa jelaga, lanjutnya”

“Cintanya, terbisikkan lewat nasi goreng terasi. Lewat tatapan mata yang syahdu. Lewat daster batik usangnya. Ah, begitu perkasa. Lima buah hati di tangan satu perempuan yang penuh cinta dan ketulusan”

Saya pernah membaca komentar orang bahwa terdapat ratusan ribu kisah seperti ini Indonesia. That’s so true. Tapi ngga semuanya bisa menuliskan kisah yang dijalani seperti Iwan Setyawan. Menulis hingga dapat mentransferkan emosi dan perasaan. Menulis hingga dapat menyebabkan pembacanya literary merasakan kasih sayang yang besar antar keluarga.

Kisah ini sederhana. Kisah seorang Bayek yang memiliki Ibu luar biasa. Kisah seorang Bayek yang sangat mencintai keluarganya dan bersumpah untuk tidak akan membiarkan Ibunya menangis. Kisah ini adalah kisah ribuan anak Indonesia yang berhasil mencapai sesuatu dari kondisi yang penuh dengan keterbatasan.

Ya. Kisah sederhana yang saya tidak akan pernah bosan membacanya. Kisah sederhana dengan perasaan yang mampu menjalar keluar dari buku dan menghangatkan hati. Kisah sederhana yang akan selalu saya rindukan.

Bayek adalah anak ketiga dari lima bersaudara. Keempat saudaranya perempuan. Ayahnya seorang supir angkutan umum. Ibunya adalah seorang Ibu rumah tangga yang memegang prinsip-prinsip keuangan maju bahkan sebelum prinsip-prinsip tersebut dibakukan dalam sebuah teori seperti sekarang ini.

Kalau ada uang lebih simpanlah. Untuk anak-anak sekolah sisihkan dari uang sehari-hari. Jika ada rezeki simpanlah dalam bentuk emas untuk dijual jika tidak ada pilihan lain. Jauh sebelum Ligwina Hananto membuka QM Financial Ibunya Bayek sudah mempraktekan hal ini.

Sumber penghasilan dari menarik angkot harus diputar sedemikian mungkin agar anak-anak tidak kelaparan. Agar ada atap diatas kepala mereka. Agar anak2 bisa sekolah.

Penghargaan tertinggi saya untuk Ibu dan Ayah Bayek. Mereka sepasang manusia luar biasa yang sukses menghantarkan anak2nya menjadi manusia2 bersahaja. Mereka pasangan yang saling melengkapi hingga ketika Bapak harus pergi keluar kota di masa tua dan baru menyadari kerinduan terhadap Ibu, sesungguhnya mereka tidak pernah berpisah lama seumur hidup.

“Hidup adalah perjalanan untuk membangun rumah untuk hati. Mencari penutup lubang-lubang kekecewaan, penderitaan, ketidakpastian, dan keraguan. Akan penuh dengan perjuangan. Dan itu yang akan membuat sebuah rumah indah”

Bayek digambarkan sebagai anak yang kadang suka merengek. Tidak bisa jauh dari keluarga, dan teramat sangat kangenan dengan suara Ibu. Bayek bukan anak super pemberani namun ia belajar untuk berani. Bayek bukan seorang pemimpi tapi selalu mengusahakan yang terbaik di setiap langkahnya, demi usaha yang telah dilakukan kedua orangtuanya.

Di akhir buku saya turut menangis tersedu-sedu bersama Bayek. Ah Bayek.. Kedua orangtuamu pasti akan selalu bangga denganmu. Bayek yang memenuhi janjinya untuk tidak akan pernah membiarkan Ibunya menangis. Bayek yang membantu kehidupan kakak2 dan adik2 perempuannya. Bayek yang berbakti pada keluarga.

Ah.. Saya harap anak saya bisa seperti Bayek.. Amin.

“Cinta membutuhkan sebuah keberanian untuk membuka pintu hati”

 “Kadang perpisahan bisa membuat mata kita menjadi segar lewat air mata, hati menjadi peka lewat gelombang besar yang menerpa, dan menumbuhkan cinta yang lebih besar lewat orang-orang yang menyentuh hidup kita. Hidup semakin luas”

Of Human Bondage By W. Somerset Maugham

Penerbit : Pocket Books Inc

Tebal : 373 Halaman

“He asked himself dully whether whenever you got your way, you wish afterwards that you hadn’t.”

Kenapa ya dari dua buku W. Somerset Maugham yang udah saya baca tokoh utamanya selalu bikin kesel. Apakah karena memang realitasnya mayoritas manusia seperti itu? Kalo di The Painted Veil saya dibikin kesel sama Kitty, di buku ini saya berulang kali pengen jitak Philip Carrey si tokoh utama pake palu.

Tapi udah gitu selalu di titik tertentu jatuhnya jadi kasihan. Baik sama Kitty maupun sama Philip. Itulah jagonya W. Somerset Maugham kalo kata saya. Kita dibikin sangat terlibat dengan kehidupan dan emosi sang tokoh utama karena saking keselnya liat kelakuannya. Lalu tanpa sadar di akhir2 kita jadi kasihan karena pada akhirnya, semua pilihan dan keputusan yang salah itu menjerumuskan sang tokoh utama itu sendiri. Tapi untungnya ending di buku ini ngga semenyebalkan The Painted Veil.

Philip Carey ditinggal meninggal kedua orang tuanya semenjak kecil. Ia yang juga menderita deformitas (clubfoot) pada sebelah kakinya lalu dibesarkan oleh Paman dan Bibinya di areal biara di sebuah daerah kecil bernama Blackstabble tidak jauh dari kota London. Rrrrr.. Kepribadian Philip sangat dipengaruhi oleh rasa rendah diri terpendamnya (baik karena yatim piatu maupun deformitasnya), ia tumbuh menjadi remaja yang mmm.. defensif, negative thingking dan sedikit pemimpi (dalam artian yang ngga begitu bagus).

Orang tuanya meninggalkan Philip dengan warisan yang pas jumlahnya hingga diperkirakan Philip dapat menghidupi dirinya sendiri. Oleh karena itu Pamannya selalu berhati-hati dalam mengatur pengeluaran Philip. Namun sang pemuda menganggap Paman nya terlalu banyak mengatur dan ingin segera pergi dari pengawasan paman dan bibinya.

Philip lalu berpindah kesana kemari dan berganti2 profesi ini itu hanya untuk berhenti di tengah dan merasa semuanya tidak ada gunanya. Terlalu banyak mengeluh memang mas Philip ini, plus lagi tampaknya memang ybs sedikit labil dan ngga tau maunya diri sendiri apa (tuh kan saya malah ngomelin tokoh utamanya).

Philip kemudian memutuskan untuk menjadi seorang Dokter. Semuanya kondisinya diperburuk waktu Philip jatuh cinta pada seorang wanita super nyebelin bernama Mildred. Ya ampun.. Mas Philip ini yah, udah diperlakukan luar biasa buruknya oleh Mildred, dikhianatin, ditikam dari belakang, dimanfaatin dsb dsb tetep aja ngga berdaya kalo Mildred minta tolong dan selalu dengan segala daya upaya ngebantu jeng satu yang keterlaluan itu. C’mon man, she’s not worthed at all *sini saya sadarin pake palu*

Segitu keselnya sama kebodohan Philip sampai pada titik tertentu jadi kasihan. Dan biarpun kesel ngga bisa berhenti  buat baca karena pengen tau apa yang kemudian terjadi pada Philip.

Pada titik terendah di hidupnya Philip menemukan bahwa pride dan ego yang selama ini ia pelihara sebenarnya tidak ada artinya. Beruntung di antara hari2 superfisial yang ia jalani Philip sempat dipertemukan dengan orang2 tulus yang tanpa berpikir dua kali mengulurkan tangan ketika semua orang sudah berpaling.

Dari titik terendah itu saya dibawa untuk melihat Philip yang perlahan-lahan menjadi dewasa. Dan ketika Philip akhirnya mengerti apa itu bahagia, saya rasanya pengen memberikan standing ovation karena terlalu lama dibikin mengkel oleh mas Philip.

“Why did you look at the sunset?’

Philip answered with his mouth full:

Because I was happy.”

Endingnya mungkin bukan sesuatu yang indah meledak2. Namun untuk seorang tokoh seperti Philip, semua itu cukup luar biasa (saya kira dia akan menderita selamanya). Pelajaran bahwa kadang mungkin seseorang harus dibuat nyaris mati untuk menemukan titik balik, namun tidak pernah ada kata terlambat. Dan kalo kita memang mau berhenti meratap dan memandang diri sebagai korban, second chance mungkin memang selalu ada. Dan dari sana setiap orang bisa membangun lagi hidupnya.

Ah.. Philip, ikut lega karena akhirnya dia mengerti juga.. Tepuk tangan untuk W. Somerset Maugham yang udah bikin saya esmosi jiwa sekaligus ngga bisa berhenti buka halaman demi halaman. Disitulah jagonya sang pengarang ini.

“Life wouldn’t be worth living if I worried over the future as well as the present. When things are at their worst I find something always happens.”

Ronggeng Dukuh Paruk By Ahmad Tohari

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Tebal : 404 Halaman

Hyaaaahh menyesal baru membaca salah satu novel fenomenal Indonesia ini sekarang. Dari jaman kuliah saya udah berkali-kali megang2 terbitan lama buku ini. Terus keingetan lagi waktu kemaren2 heboh tentang film sang penari. Baru “ngeh” kalo film itu diangkat dari novel Ronggeng Dukuh Paruk. Dan ternyata di toko2 buku terbitan lama udah ngga ada dan diganti dengan terbitan barunya dengan gambar cover para pemain filmnya. Ngga begitu suka dengan cover barunya ini. Agak2 missleading. Mengesankan roman menye2 padahal intinya sama sekali bukan tentang itu.

Positifnya adalah ternyata terbitan baru ini memasukkan kembali bagian2 yang di sensor di terbitan lama pada zaman orde baru dan merupakan penyatuan dari trilogi yang masing2 ditulis oleh Ahmad Tohari pada tahun 1982 (Ronggeng Dukuh Paruk), 1985 (Lintang Kemukus Dini Hari) dan 1986 (Jantera Bianglala).

Alkisah sebuah daerah terpencil di pulau Jawa yang bernama Dusun Dukuh Paruk. Dusun tersebut dapat dikatakan memiliki budaya dan nilai tersendiri yang terisolasi dari nilai-nilai yang berlaku pada umumnya. Konon, semua warga Dukuh Paruk berasal dari satu keturunan, yaitu dari sesepuh pendiri Dusun Dukuh Paruk yang bernama Ki Sacamenggala.

Membaca buku ini anda harus terlebih dahulu melepaskan diri dari prasangka dan kaca mata kuda nilai2, etika atau tata krama yang berlaku secara umum. Budaya adalah budaya. Pola pikir dan prilaku warga Dukuh Paruk adalah manifestasi dari budaya yang telah mengakar dan sudah diterima sebagai fitrah atau aturan hidup yang memang berlaku disana. Jangan dinilai benar atau salahnya.

Warga Dukuh Paruk memuja arwah Ki Sacamenggala dan senantiasa memohon petunjuk atas segala pertanda hidup dengan persembahan dan sesaji di makam sang leluhur tersebut. Satu-satunya hal yang cukup terkenal dari Dukuh Paruk adalah budaya Ronggeng nya. Untuk warga dukuh paruk, Ronggeng adalah perlambang kehidupan dan kebanggaan dari dusun tersebut.

Sudah lama Dukuh Paruk tidak memiliki seorang Ronggeng. Untuk menjadi seorang Ronggeng sejati, seorang perempuan Dukuh Paruk harus dirasuki/ditinggali oleh Indang Ronggeng (saya ngga menemukan padanan bahasanya) terlebih dahulu. Sampai suatu ketika salah seorang tokoh yang dituakan di Dukuh Paruk, Sancaya namanya, melihat cucu perempuannya Srintil, ketika itu berumur 11 tahun menari dan menyanyi. Seketika itu Sancaya yakin bahwa Srintil telah dihinggapi oleh Indang Ronggeng.

Kartareja, seorang tetua yang berpengalaman dalam hal membina seorang Ronggeng memastikan hal tersebut. Melalui suatu ritual upacara di makam Ki Sacamenggala dipastikan bahwa Srintil adalah generasi baru Ronggeng dari Dukuh Paruk. Srintil kemudian dititipkan kepada Kartareja dan istrinya untuk dibina menjadi seorang Ronggeng.

Srintil, cucu Sancaya adalah seorang anak yatim piatu. Ayah dan Ibu nya meninggal dalam suatu insiden keracunan tempe bongkrek ketika Srintil masih bayi. Selain orang tua Srintil, insiden tersebut juga menelan nyawa belasan orang dewasa dan juga anak-anak. Termasuk orang tua teman sebaya Srintil yang bernama Rasus.

Srintil dan Rasus adalah teman dekat. Semenjak Srintil menjadi Ronggeng Rasus mengalami sebuah perasaan aneh. Cemburu, karena Srintil sekarang adalah milik seluruh warga Dukuh Paruk. Para wanita selalu mengawal Srintil kemana-mana. Memandikannya, mencucikan bajunya, menyediakan makanan. Singkat kata Srintil adalah pujaan semua orang, baik pria maupun wanita.

Adalah suatu bagian dari kebudayaan pula bahwa seorang Ronggeng, sebagai perlambang wanita sempurna selain menari dan menyanyi juga dapat “menerima tamu” tentu dengan bayaran yang tidak sedikit. Pahamilah ini sebagai suatu bagian dari kebudayaan Dukuh Paruk, dimana para istri justru saling menyombongkan diri apabila suaminya berhasil meniduri Srintil.

Dukuh Paruk, seperti dikemukakan di atas adalah suatu daerah yang memiliki tata nilainya sendiri, dimana jika seorang suami menangkap basah istrinya di tempat tidur dengan laki-laki lain. Maka urusan dapat diselesaikan dengan mudah, sang suami tinggal balas meniduri istri laki-laki tersebut, selesai perkara.

Nilai-nilai itulah yang mengganggu Rasus, diawali dengan ketidakrelaannya tentang Srintil yang menjadi seorang Ronggeng. Akhirnya Rasus meninggalkan Dukuh Paruk ke daerah terdekat, Dawuan. Disana nasib membawanya menjadi kacung tentara. Sampai karena kerja kerasnya akhirnya Rasus berhasil masuk ketentaraan.

Pertemuan, perpisahan, pertemuan, perpisahan, pertemuan, perpisahan. Tahun demi tahun berlalu. Sangat terasa perubahan kepribadian Srintil yang semula begitu bangga dan menikmati kehidupan mewah ala Ronggeng mulai berkembang menjadi kepribadian yang bersahaja dan disegani. Srintil tidak lagi mau menerima tamu. Ia hanya menyanyi dan menari.

Karena keluguan orang-orang Dukuh Paruk, pada tahun 1965 an kelompok Ronggeng nya dimanfaatkan oleh pihak komunis sebagai alat propaganda. Setelah peristiwa G30S Dukuh Paruk pun tidak selamat dari nasib buruk. Srintil dan kelompok Ronggengnya ditahan. Dusun Dukuh Paruk dibakar. Setelah momen itu tatanan hidup mereka diguncang oleh perubahan zaman. Srintil mengalami masa tergelap dalam sejarah hidupnya.

Bertahankan Srintil? Bahagiakah ia pada akhirnya? Akankah Rasus pada akhirnya kembali ke dusun kelahirannya? Rasus yang membenci sekaligus mencintai Dukuh Paruk. Rasus dan Srintil, akankah akhirnya bertemu di sebuah titik? Aaaaaahhhh.. tergoda menceritakan spoiler.. Srintil yang malang dan Rasus yang sungguh hararese (kalo kata orang sunda mah).

Yang jelas saya memberi 5 bintang untuk novel ini. Sejarah, budaya, bumbu romantisme, pertanyaan tentang eksistensi, gender, perkembangan watak, bahasa, jalan cerita sampai endingnya disampaikan sebagai suatu keselarasan sempurna. Takdir, Nasib, Siklus Hidup. Tidak ada seorang manusia pun yang dapat menebak.

Kenapa saya bilang covernya missleading, karena inti cerita ini bukan sekedar romantisme. It was way much more than that. Lebih ke budaya dan perkembangan pola pikir serta kepribadian tokoh-tokohnya di tengah perubahan zaman. Kebeneran saya belon nonton filmnya. Mudah2an tidak kalah berkualitas dari bukunya. Denger2 sih filmnya juga bagus.

“Malam  telah sempurna gelap sebelum Nyai Sakarya dan Srintil mencapai Dukuh Paruk. Bulan tua baru akan muncul tengah malam sehingga cahaya bintang leluasa mendaulat langit. Kilatan cahaya bintang beralih memberi kesan hidup pada rentang langit. Tetapi bila kilatan cahaya itu berlangsung beberapa detik lamanya, dia menimbulkan rasa inferior; betapa kecilnya manusia di tengah keperkasaan alam. Di bawah lengkung langit yang megah Nyai Sakarya beserta cucunya merasa menjadi semut kecil yang merayap-rayap di permukaan bumi, tanpa kuasa dan tanpa arti sedikit pun.”