Negeri Para Bedebah By Tere Liye

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Tebal : 433 Halaman

“Di negeri para bedebah, kisah fiksi kalah seru dibandingkan dengan kisah nyata. Di negeri para bedebah, musang berbulu domba berkeliaran di halaman rumah. Tetapi setidaknya, Kawan, di negeri para bedebah, petarung sejati tidak akan pernah berhianat.”

Buku Tere Liye kali ini sama sekali ngga ada haru biru dan cinta-cintaannya. Kali ini salah satu pengarang Indonesia favorit saya menyajikan cerita dengan genre action drama (setidaknya begitu dalam bayangan di kepala saya). Jadi yang lagi kepengen dibikin nangis tahan nafas dulu sebentar dan nantikan buku2 berikutnya.

Tokoh utama dalam buku ini bernama Thomas. Seorang konsultan keuangan profesional yang sukses hingga di taraf internasional. Adegan dibuka dengan wawancara di atas kelas eksekutif sebuah pesawat ketika Thomas akan kembali menuju Jakarta dari sebuah konferensi. Wawancara untuk sebuah majalah ternama itu dilakukan oleh seorang wartawan muda bernama Julia.

Thomas yang merasa heran kenapa majalah tersebut mengirimkan seorang wartawan mentah untuk mewawancarai dirinya akhirnya memutuskan untuk sedikit mengospek Julia tentang sistem ekonomi global. Sang perempuan muda yang akhirnya ngeh kalo dirinya sedang dijadikan bulan-bulanan akhirnya meninggalkan acara wawancara tersebut dengan keki.

Baik Thomas maupun Julia sama sekali tidak mengira bahwa keduanya akan segera terlibat dalam suatu konspirasi besar.

Setibanya di Jakarta Thomas segera mendatangi klub rahasianya yang hanya kalangan sangat-sangat terbatas saja yang diperkenankan menjadi anggotanya. Apa kegiatan mereka? Kegiatan mereka adalah bertarung. Ya bertarung. Secara berkala mereka bertemu, ketika mendapat jadwal bertarung maka mereka akan menjadi pihak yang ditonton. Jika tidak maka mereka akan menjadi penonton saja. Sesama anggota klub tidak tahu dengan pasti siapa sebenarnya anggota lainnya (pekerjaan, jabatan) di luar kegiatan klub.

Ketika beristirahat di sebuah hotel Thomas dikejutkan oleh seorang tamu yang datang di tengah malam. Ia adalah Ram, orang kepercayaan keluarganya. Dunia luar mengira Thomas adalah benar-benar seorang yatim piatu yang hidup sebatang kara di dunia. Sebenarnya Thomas masih mempunyai keluarga. Dan keluarganya bukan keluarga sembarangan. Pamannya adalah Liem sang pemilik Bank Semesta.

Thomas memutuskan ikatan dengan keluarganya semenjak suatu insiden merenggut ayah dan ibunya dalam suatu kerusuhan massal. Ayah dan Ibunya meninggal dalam rumah keluarga yang dilempari, dihancurkan dan dibakar oleh massa.

Ram mengabarkan bahwa rumah om nya sudah dikepung oleh polisi. Tantenya terbaring sakit dan tidak bisa bangkit dari tempat tidur. Om nya ingin bertemu dengan Thomas sebelum masuk penjara. Karena miss management yang terlambat ditangani Bank Semesta akan dibekukan, dan Om nya akan dijebloskan ke penjara.

Ram mengabarkan bahwa tidak satupun kenalan tingkat tinggi Om nya yang dapat menyelamatkan keadaan. Terlalu banyak kepentingan (dan bahkan mungkin konspirasi) sehingga kali ini terpelesetlah ke dalam jurang sebuah usaha yang telah dirintis semenjak Opa Thomas mengungsi ke Indonesia dengan menumpang sebuah kapal kayu.

Thomas terenyuh melihat kondisi tantenya. Melalui pembicaraan dengan Om nya otak (jenius) Thomas segera merangkaikan fakta-fakta yang ada. Thomas mencium adanya konspirasi busuk. Dengan skenario yang super nekat Thomas akan melalukan upaya terakhir untuk menyelamatkan keluarganya. Bank Semesta tidak boleh dibekukan. Thomas pun melarikan Om Liem.

Cerita selanjutnya diwarnai dengan pengejaran Thomas dan Om Liem oleh berbagai pihak, skenario gila Thomas untuk menyelamatkan keadaan, dan terbongkarnya sebuah konspirasi busuk yang telah disusun semenjak kejadian gelap di masa lalunya merenggut orang tua Thomas.

Walaupun saya sudah bisa menebak siapakah sang musang dalam cerita, keasikan membaca tidak berkurang karena ntah bagaimana di saat2 terakhir Thomas selalu bisa berkelit dan memanipulasi keadaan. Selain dari itu yang saya suka dari buku ini adalah citarasa sarkasmenya dalam memandang bagaimana dunia saat ini (termasuk sistem ekonominya) bekerja.

“Kita amat tahu, untuk orang-orang seperti kita, inilah teror sebenarnya. Rasa cemas akan masa depan.”

“Kalian tahu bagaimana cara terbaik menanamkan sebuah ide di kepala orang lain? Lakukan dengan cara berkelas.”

“Tidak ada skenario Russian Roullete dalam kehidupan nyata. Kita selalu saja punya kesempatan untuk memanipulasi situasi, bertaruh dengan sedikit keunggulan.”

The Day Of The Jackal By Frederick Forsyth

Penerbit : Serambi

Tebal : 607 Halaman

Alih Bahasa : Ranina B. Kunto

Buku ini bener-bener mengandung movie material yang sangat kental. Setelah selesai baca bukunya jadi kepikiran kalo nonton filmnya pasti asik. Buku ini terbagi ke dalam tiga bagian yaitu Anatomi Sebuah Perencanaan, Anatomi Perburuan Manusia dan Anatomi Pembunuhan.

Bagian satu, anatomi sebuah perencanaan dibuka dengan upaya pembunuhan terhadap Presiden Perancis Charles de Gaulle yang dipimpin oleh Jean Marie Bastien Thirty. Upaya pembunuhan tersebut gagal karena Bastien Thirty melewatkan suatu detail penting dan akhirnya harus menghadapi hukuman mati. Bastien Thirty adalah anggota dari OAS (Organisation L’Armēe Secretē), sebuah organisasi rahasia di Perancis yang menentang kebijakan Presiden Charles de Gaulle.

Karena upaya yang gagal tersebut salah satu petinggi OAS, Marc Rodin  memutuskan untuk secara rahasia menyewa pembunuh bayaran profesional untuk sekali lagi melaksanakan upaya pembunuhan terhadap de Gaulle.

Marc Rodin dan kedua rekannya akhirnya bertemu sang pembunuh bayaran dan membuat kesepakatan untuk memanggil sang pembunuh bayaran dengan nama sandi The Jackal.  Lalu sisa bagian pertama menggambarkan dengan sangat detil perencanaan dan persiapan The Jackal dalam melaksanakan tugas tersebut. Terus terang saya terkagum-kagum dengan betapa detilnya Forsyth menggambarkan senjata dan metode yang akan digunakan dalam pembunuhan. Hampir seperti manual “How To Assassinate An Important Person”, hehe. Detil-detil tersebut tampaknya akan lebih asik jika divisualisasikan dalam film.

Cerita mulai menarik bagi saya ketika pengawal Marc Rodin, Victor Kowalski berhasil ditangkap dan diinterogasi secara kejam oleh organisasi intelegen Perancis. Akhirnya rencana Rodin dan kedua rekannya diketahui, namun yang mereka ketahui hanya sebatas Rodin Cs telah menyewa seorang pembunuh bayaran profesional dengan sandi The Jackal untuk membunuh de Gaulle. Mengenai siapa The Jackal dan bagaimana ia akan melaksanakan pembunuhan tersebut organisasi intelegen Perancis sama sekali tidak mengetahui apa-apa.

Presiden Charles de Gaulle, setelah diinformasikan mengenai rencana pembunuhan tersebut  menolak untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk pengamanannya sendiri. Perburuan terhadap The Jackal harus dilaksanakan secara rahasia.  Sang Presiden tidak mau terlihat sembunyi karena takut terhadap sang pembunuh bayaran.

Maka tugas perburuan rahasia yang sulit terhadap The Jackal ini dimulai. Untuk memimpin penyelidikan ditunjuk Wakil Komisaris Polisi Claude Lebel, detektif terbaik di Perancis.

Lalu buku bergerak ke bagian kedua, anatomi perburuan manusia. Dari bagian kedua sampai halaman terakhir buku ini sangat mengasyikan karena menceritakan Upaya Lebel untuk melaksanakan Mission Impossible mencari The Jackal. Di bagian lain juga diceritakan tentang upaya tangan dingin The Jackal dalam  menyelesaikan misinya.

Dengan bantuan polisi-polisi dari beberapa negara besar, Lebel akhirnya memperoleh gambaran tentang siapa yang ia cari. The Jackal melalui informannya juga mengetahui sampai dimana kemajuan Lebel, bahwa identitas dirinya telah bocor dan sedang dilaksanakan pengejaran. Namun sang Jackal ini tetap bisa melaksanakan misinya dengan kepala dingin dan siasat yang luar biasa.

Di awal buku Forysth sudah menginformasikan bahwa pada akhirnya Presiden Charles de Gaulle meninggal secara alami. Jadi pembaca juga dari awal sudah mengetahui pada upaya The Jackal pada akhirnya akan gagal. Namun informasi tersebut tidak mengurangi keasyikan kita untuk mengikuti adegan kejar-kejaran antara Lebel dan Jackal. Lebel, seorang detektif cerdas dan intuitif versus The Jackal, sang pembunuh misterius yang bertangan dingin. I like them both ;p

Ternyata organisasi OAS memang benar ada dan upaya pembunuhan Bastien Thirty terhadap Presiden Charles de Gaulle pun merupakan kisah nyata. Sisa ceritanya adalah rekaan sang pengarang. Konon, buku ini diisukan menginspirasi beberapa pembunuhan terhadap tokoh penting ;p

Membaca buku ini, adegan demi adegan tergambarkan bagai menonton action movie di dalam kepala sendiri. Hehe. Untuk para pembaca buku ini walaupun 100 atau 200 halaman pertama sulit untuk dilalui, teruslah berjuang karena setelah selesai membaca anda akan merasa seolah-olah mendapatkan dua pengalaman sekaligus. Membaca buku dan menonton film sekaligus. Oleh karena itu buku ini saya rekomendasikan untuk dibaca!! Action Thriller yang sangat seru.