Les Misérables By Victor Hugo

33175“But it is an error to suppose that we can ever exhaust Fate or reach the end of everything? What is the riddle of these countless scattered destinies, whither are they bound, why are they as they are? He who knows the answer to this knows all things. He is alone. His name is God.”

Akhirnya.. Selesai juga baca buku ini..

Jangan salah, bukan karena saya kurang suka atau males baca buku maha tebal model begini, tapi karena memang sejatinya Les Misérables ini butuh dicerna pelan2. Di suatu waktu saya memaksakan marathon baca, hasilnya adalah overload pemikiran yang sayang kalo tidak diendapkan satu persatu.

Buku ini penuh dengan pemaparan nilai2 yang menohok sampai2 selesai baca buku membuat saya geleng2 kepala sendiri. Kondisi sosial politik, sejarah, agama dan nilai2 kemanusiaan secara umum, sarat ditawarkan kepada pembaca di setiap halamannya.

Bahkan pemikiran dan analisa sosial yang dituliskan oleh Victor Hugo saya rasa masih relevan sampai detik ini. Apalagi di Indonesia negeri tercinta kita. Ada banyak kemiripan antara kondisi tempat Jean Valjean ditempa dan kondisi Indonesia saat ini, khususnya di Ibukota Jakarta. Gap social yang begitu lebar antara orang2 yang hartanya berlimpah dengan  orang2 yang masih tidak tau hari ini harus makan apa begitu kentara terlihat.

Di belakang apartemen2 mewah dan mall2 terdapat bedeng2 kecil yang bisa ditinggali hingga lima jiwa. Banyak orang yang sanggup membeli mobil atau rumah yang berharga milyaran rupiah dan banyak juga yang hingga akhir hayatnya berpasrah mengontrak. Dimana karena perkara uang 100 ribu nyawa bisa melayang. Ah.. Dunia tempat kita tinggali ini semakin menakutkan memang.

Berawal dari kebaikan dan kemurnian hati seorang Bishop Myriel yang memperlakukan orang lain bukan berdasarkan cap yang diberikan masyarakat kepada seseorang, tetapi lebih kepada keyakinan bahwa setiap manusia pada dasarnya memiliki banyak kebaikan. Perlakuannya kepada seorang napi dalam perlarian mampu mengetuk hari nurani yang masih tersisa dan menyababkan napi tersebut bertekad untuk hanya berada di jalan kebaikan selama sisa hidup. Jean Valjean namanya.

Jean Valjean sesungguhnya melakukan kejahatan pencurian kecil karena terdorong oleh kondisi ekonomi dan ia harus menghadapi terror pengejaran dari inspektur Javert, seorang polisi yang tidak akan pernah melepaskan satu buronan pun dari tangannya. Tidak peduli apakan orang tersebut menjadi terdakwa karena betul2 salah atau tidak. Tidak peduli apakah orang tersebut telah kembali ke jalan yang benar dan sebagai penebusan atas kejahatan kecilnya, telah berubah menjadi seseorang yang sukses dan berbuat banyak untuk masyarakat, baginya seorang penjahat tetaplah seorang penjahat.

Dunia bagi inspektur Javert adalah hitam putih, dimana sekali seseorang masuk ke dunia hitam. Maka tidak ada jalan baginya untuk kembali. Dan Jean Valjean adalah salah satu dari sekian banyak Les Misérables, orang-orang yang selalu ditempa penderitaan dan ketidakadilan hampir seumur hidupnya.

“And there comes a point, moreover, where the unfortunate and the infamous are grouped together, merged in a single, fateful word. They are Les Misérables – the outcasts, the underdogs.”

Lalu adapula Fantine yang melambangkan kenaifan. Naif bahwa kekasihnya akan bertanggung jawab. Naif bahwa keluarga Thenadier akan merawat anaknya Cossette dengan baik sementara ia mencari nafkah dengan menjual jiwanya. Sedangkan keluarga Thenadier datang dari dunia yang sama sekali berbeda. Dunia yang penuh dengan tipu daya, pengambilan keuntungan dan kejahatan2 lain yang dalam pandangan keluarga itu, sudah hampir seperti jalan hidup yang diambil.

And when all is lost, the future still remains..

Harapan adalah sesuatu yang penting untuk dimiliki. Bahwa hidup ini seperti roda yang berputar, dan harapan harus selalu ada untuk membimbing kita ke bagian atas roda. Bagi saya Cossette dan Marius melambangkan harapan. Harapan dari kesemerawutan dan kegelapan yang melatar belakangi kehidupan keduanya, kebaikan pada akhirnya akan selalu ada.

Tapi buku ini bukan sekedar tokoh2nya. Buku ini adalah pemikiran luar biasa yang digambarkan melalui benang merah jalan hidup tokoh2nya. Victor Hugo adalah tokoh utamanya, dan untuk kali ini, saya menaruh penghargaan tertinggi untuk sang pengarang yang mewariskan nilai2 untuk dianut sepanjang masa.

“It is ourselves we have to dear. Prejudice is the real robber, and vice the real murderer. Why should we be troubled by a threat to our person or our pocket? What we have to beware if is the threat to our souls.”

Advertisements

11 thoughts on “Les Misérables By Victor Hugo

  1. One of my favorite book nih mba..suka banget sama semua yang ada dlm buku ini. Seperti katamu mba

    “Buku ini penuh dengan pemaparan nilai2 yang menohok sampai2 selesai baca buku membuat saya geleng2 kepala sendiri. Kondisi sosial politik, sejarah, agama dan nilai2 kemanusiaan secara umum, sarat ditawarkan kepada pembaca di setiap halamannya”

    baca buku ini tuh bikin aku jg terheran-heran sama dunia yang digambarkan sama Victor Hugo..btw gimana responmu sama endingnya mba?

    • Mewek2 waktu Jan Valjean meninggal, hihi.
      Dan aku nangkepnya walau kondisi yang diceritain Victor Hugo suram, beliau juga menggambarkan harapan yang masih ada melalui Marius dan Cossette.
      Ini salah satu dari sedikit happy ending yang aku suka.
      Biasanya aku lebih suka sama bitter or realistis ending. Hehe.
      Luar biasa Victor Hugo memang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s