Fahrenheit 451 By Ray Bradbury

20130530-172304.jpg

There’s nothing magical about books at all. The magic is only in what books say, how the stiched the patches into one garment of us.

I’ve been wondering for quite a long time.. What is it that so special about books that makes me can’t get enough of them? The more I read the more I want to read. Does that even make sense?

Saat pertanyaan yang serupa dilontarkan oleh seorang tokoh tidak signifikan dalam buku ini, “Apa yang membuat buku begitu spesial hingga seseorang rela membahayakan dirinya untuk benda itu?

Can you answer it?

Mungkin salah satu jawaban yang sebenarnya adalah dalam quote di atas. Bukan apa isi dari buku itu sendiri yang ajaib, tetapi efek yang disebabkan kepada pembacanya itu sendiri yang luar biasa. Dan satu buku dapat memberikan efek yang berbeda dan unik antara satu orang dengan orang lainnya.

Makanya, never undermine anyone because of what they’re read and what they perceived by their reading experience.

Hal itu akan memicu perdebatan yang tidak ada ujungnya karena pengalaman membaca dan persepsi yang disebabkan oleh pengalaman membaca tersebut tidak akan ada yang persis serupa antara setiap orang yang satu dengan yang lainnya.

Back to the story, jadi apa itu Fahrenheit 451? Itu adalah suhu dimana kertas/buku mulai terbakar. Kenapa hal itu signifikan? Karena di dunia ini tugas utama seorang pemadam kebakaran adalah membumi hanguskan buku-buku berikut rumah dimana buku-buku tersebut ditemukan.

Tokoh utama kita, Guy Montag adalah seorang pemadam kebakaran. Ia tadinya menikmati pekerjaannya, melihat api menjilat-jilat menghanguskan benda-benda terlarang itu adalah suatu pemandangan yang teramat indah menurutnya.

Sampai suatu saat sepulang kerja ia bertemu dengan seorang tetangga baru, remaja perempuan bernama Clarrise. Dalam dunia itu, Clarisse adalah anak yang “berbeda” karena ia suka berbicara, berfikir dan mempertanyakan banyak hal yang membuatnya di cap bermasalah.

Dalam suatu percakapan dengan Guy Montag, Clarrise memprotes kenapa dirinya di cap sebagai orang yang tidak dapat bersosialisasi. Bagi Clarrise bersosialisasi adalah kegiatan mengobrol seperti yang saat itu mereka lalukan, bukan semata-mata sekumpulan orang yang didudukan di dalam satu ruangan yang sama dan dibuat menyaksikan suatu rekaman video pelajaran dalam diam.

Percakapan sepulang kerja dengan Clarrise akhirnya menjadi rutinitas yang menyenangkan bagi Guy Montag. Bak rubah dan sang pangeran kecil dalam buku cerita The Little Prince. Clarrise akan menunggunya di ujung jalan dan mereka bercakap-cakap hingga masing-masing sampai di depan rumah mereka yang bersebelahan.

Setelah itu Guy pulang ke Mildred, istrinya. Istrinya dan tayangan-tayangan televisi kesayangan yang diibaratkan sebagai keluarga. Istrinya yang kadang Guy pun merasa asing melihatnya.

Hingga pada suatu saat Guy tidak pernah melihat Clarrise lagi. Seminggu berlalu, ia mendapat kabar bahwa Clarrise mengalami kecelakaan, gadis itu tertabrak oleh mobil yang ngebut dan keluarganya pindah segera setelah peristiwa tersebut.

Ide-ide Clarrise dan pernyataan2nya tentang dunia meninggalkan jejak dalam diri Guy. Sebuah perasaan langka di dunianya yang bernama kehilangan.

Pada suatu malam alarm pemadam kebakaran berbunyi nyaring di markas mereka. Guy dan timnya pergi untuk melaksanakan tugas. Dalam prosedur normal, sebuah rumah bersama buku2 yang ada di dalamnya hanya akan dibakar ketika semua penghuni sudah keluar.

Di malam itu Guy merasa terguncang karena menemukan penghuni rumah yang memilih mati terbakar bersama buku-bukunya. Apa yang membuat orang itu begitu mencintai buku-buku?

Guy kehilangan minat bekerja. Ia tidak sanggup kembali ke markas pemadam kebakaran.

Guy sebenarnya menyimpan rahasia, ia menyimpan suvenir dari pekerjaannya. Dan saat ia mulai bertanya-tanya apa keistimewaan dari suvenir2 yang ia kumpulkan yang tidak lain adalah buku2, disaat itulah sang pemburu berbalik menjadi seseorang yang diburu.

Sejujurnya endingnya agak nanggung buat saya. But for the sake of the love of reading! For the good that books brought to us! With pleasure I gave 5 stars for this book.

PS : Review ini juga ditulis dalam rangka posting bareng Blogger Buku Indonesia (BBI) bulan Mei untuk kategori Klasik Kontemporer πŸ™‚

Advertisements

13 thoughts on “Fahrenheit 451 By Ray Bradbury

    • Iya!! Aku bikinnya buru2 jadi agak teu pararuguh Mas.. Hehe.. Mau diterjemahin ya? Syukurlah.. Yang spesial dari buku ini tuh menjelaskan kenapa buku buat orang-orang tentu (para bookaholic seperti kita) adalah harta yang bernilai.. Hehe..

  1. astrid.lim says:

    awalnya pusing sama si mildred dan “keluarganya”, trus ada layar di dinding..naon ieu tehhh….tapi lama2 ke belakang makin suka sama ceritanya. dan iya, endingnya gantung ya nis πŸ™‚

    • Iya.. Emang kerasa penjelasan tentang dystopia nya kurang bulet.. Yang jelas cuma para penguasanya begitu takut sama buku, hehe.. Apalagi yang soal nyetir mesti ngebut2 supaya ga sempet lihat pemandangan trid! Super weird! Hehe..

    • Rumah2 yang punya buku lun.. Berikut buku2nya.. Jadi si Guy Montag ini setiap mau ngebakar rumah selalu ngantongin buku dari rumah yg mau dibakar sebagai kenang2an, tapi selama ini ga pernah dia baca.. Baru setelah kejadian timnya ngebakar rumah yang orangnya ga mau dievakuasi itu dia mulai penasaran akan “apa sih isi dari buku” .. Gitu kurang lebih.. πŸ™‚

  2. Buku ini bangus banget ya.. Aku paling suka bagian tengahnya, waktu Guy mulai bergumul tentang buku dan betapa membakar buku rasanya “salah”.

  3. salah satu wishlist buku yang pengennnnn banget diterjemahin, aku tahu buku ini waktu baca salah satu novel romance, dia menngunakan percakapan yang dia tiru di buku ini, yaitu menggunakan nama-nama buku, langsung deh pengennnn banget versi aslinya πŸ™‚

  4. Aq baru dapat buku ini di bargain sale Peri, eh tahu-tahu edisi terjemahannya rilis >,< ngak papa bisa buat perbandingan.
    Menurut sebagian besar yg sdh baca, kisahnya tdk luar biasa tapi kutipan-kutipannya sangat bagus ya mbak, jadi penasaran πŸ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s