13 Reasons Why By Jay Asher

20130522-114648.jpgPenerbit : Matahati

Alih Bahasa : Mery Riansyah
Tebal : 275 Halaman

You don’t know what goes on in anyone’s life but your own. And when you mess with one part of a person’s life, you’re not messing with just that part. Unfortunately, you can’t be that precise and selective. When you mess with one part of a person’s life, you’re messing with their entire life. Everything.. affects everything..

Udah lama banget rasanya saya beli buku ini. Ntah kenapa baru kesamber dari rak buku minggu kemaren. Agak berat buat saya baca karena temanya yang agak kelam. Tapi kelar juga, walaupun dengan perasaan geram karena tidak ada yang mengulurkan tangan untuk Hannah Baker.

Ya, dari awal cerita, kita sudah diberi gambaran jelas jika tokoh utama kita, Hannah Baker, telah meninggal. Pada suatu hari Hannah memutuskan lelah hidup dan menelan satu botol pil agar bisa tertidur sampai alam yang lain.

Lalu bagaimana caranya kita mengenal Hannah? Jangan salah, Hannah meninggalkan warisan agar setiap orang yang terkait pada bola salju yang memojokkannya tahu bahwa mereka telah mengacaukan hidup Hannah.

Warisan itu berupa 7 kaset rekaman yang dinarasikan sendiri oleh Hannah Baker. Didedikasikan untuk 13 orang yang berperan hingga Hannah mengambil keputusan yang akhirnya dia ambil.

Kaset-kaset itu dikirim Hannah ke orang pertama di hari terakhir dalam hidupnya. Dalam instruksi Hannah, orang pertama harus mengirimkan kaset-kaset itu ke orang berikutnya yang disebut dalam cerita Hannah setelah namanya sendiri. Jika seseorang gagal meneruskan, maka Hannah memiliki rencana cadangan untuk memastikan pesan berantainya diteruskan sampai orang terakhir.

Pada suatu hari Clay Jensen menerima paket seukuran kotak sepatu itu di depan pintu rumahnya. Clay mengenal Hannah, tentu saja. Clay telah lama tertarik pada Hannah, namun Clay tidak pernah punya keberanian. Hingga pada akhirnya pada suatu pesta Clay berani menyapa Hannah. Hanya saja sesuatu terjadi, dan semenjak itu Hannah menghindari Clay.

Bisakah anda membayangkan mendengar suara seseorang yang telah meninggal dunia di dalam kaset rekaman? Bukan hanya seseorang, tapi anda mengenalnya, memperhatikannya dari jauh, menyukainya. Dan di rekaman itu anda mendengar rangkaian kisah bagaimana seseorang itu telah diperlakukan semena-mena, dihakimi dan reputasinya sedikit demi sedikit dirusak oleh orang-orang yang menganggap bahwa hal itu adalah biasa saja untuk dilakukan. Hanya bahan bercandaan biasa.

Clay muntah mendengarnya.

Bahkan saya pun marah mendengarnya. Keseluruhan isi cerita ini adalah gambaran memuakkan tentang bagaimana dengan mudahnya manusia menghakimi manusia lainnya, dengan mudahnya menyebarkan rumor dan kebohongan tentang manusia lain untuk melindungi reputasinya sendiri tanpa memikirkan apa akibat dari kata-kata yang telah dikeluarkan.

I hate those kind of people ’cause I’ve been there. Those sick selfish people who didn’t use neither their brain nor their heart before saying something about other people.

Sadly, Hannah tidak mendapatkan pertolongan yang saya dapatkan. Tidak ada yang mengulurkan tangan untuknya. Dalam posisi seperti Hannah, menemukan satu saja orang yang percaya apa yang kita katakan dapat membuat kita berdiri lebih tegak. I have more than one hand that reach me in the time I need it badly, whereas she had none. Poor Hannah.. Poor lonely Hannah..

Pada beberapa titik cerita saya merasa Hannah memang tidak cukup berusaha meminta tolong. Padahal ternyata ada orang-orang yang memperhatikan Hannah dengan tulus, andai saja Hannah lebih membuka dirinya.

Hhhhhh.. Cerita ini memang kelam untuk dibaca, namun penting agar kita lebih memiliki kesadaran untuk menggunakan perasaan dalam berinteraksi dengan orang lain. Berlatihlah untuk menempatkan diri di posisi orang lain. Jangan memperlakukan orang lain dengan cara dimana kita sendiri tidak ingin diperlakukan seperti itu.

Have a heart, be grateful, and live with it every second of your day.

4 dari 5 bintang dari saya untuk buku ini. Pesannya yang realistis sangat saya rekomendasikan untuk dibaca. And very well translated by teteh Mery Riansyah. πŸ˜€

Advertisements

20 thoughts on “13 Reasons Why By Jay Asher

  1. Reblogged this on astralarasati and commented:
    Many people suffered from other’s wrong judgement. I’ve been there, too. But, I think all of us have a special power, a special gift (taylor-made one)which can be used only by ourselves. Just like Mariah Carey’s song : “Hero”. And one important thing is our faith to Allah. We’ll never be alone..:)

    • Yups.. That much I’ve realized too.. Never be scared of what others think ’cause 4JJ with us all the time and He knows the truth.. That’s all that matters.. πŸ™‚

  2. aku sukaaaaaaaa banget buku ini, buku ini mengajarkan pada kita kalau berhai-hati berbicara dengan orang lain, mungkin kita mengganggap apa yang kita utarakan adalah sebuah candaan tapi belum tentu sama dengan tanggapan orang lain

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s