Cerita Cinta Enrico By Ayu Utami

13454650Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia

Tebal : 244 Halaman

“Selanjutnya hidup bagaikan judi…”

Lebih dari 10 tahun lalu saya mencoba membaca buku Saman karya Ayu Utami. Saya waktu itu baru akan memasuki umur 20 tahunan langsung menyimpulkan bahwa Saman is not my cup of tea. Ketika itu saya versi “remaja-dewasa” merasa sudah tau pasti siapa diri saya, apa yang saya mau dalam hidup, mau kemana langkah kaki saya arahkan.

Lalu kehidupan yang sebenarnya datang. Dan semakin bertambah umur, semakin saya tahu bahwa tidak ada yang pasti di dunia ini. Hidup selalu mendorong manusia untuk selalu berubah. Di suatu titik saya sempat bingung dengan  perubahan diri sendiri dan merasa tidak mengenal orang yang saya lihat dalam kaca. Namun pada akhirnya saya mengerti bahwa memang kita tidak akan pernah tahu. Tidak ada satu hal pun yang pasti dalam hidup.

Saya belajar untuk menenggang. Saya belajar untuk menempatkan diri di banyak sisi sebelum mengambil kesimpulan.

Ini berlaku juga dalam pilihan buku yang ingin saya baca. Saya memutuskan untuk mencoba kembali membaca buku2 yang dulu saya labeli “bukan untuk saya” untuk belajar menemukan keindahan perubahan cara pandang yang dibawa oleh waktu.

Dan kehidupan menjawab maksud saya. Ayu Utami mengeluarkan karya barunya Cerita Cinta Enrico. Saya yang tadinya berfikir untuk memulai dari Saman tiba-tiba merubah pikiran untuk berjalan mundur dari masa kini ke masa lalu. Saya akan memulai dari Cerita Cinta Enrico dan merunut ke karya2 Ayu Utami sebelumnya.

Walaupun orang-orang bilang ini adalah buku yang termasuk ringan untuk karya Ayu Utami, buat saya buku ini adalah kejutan yang menyenangkan. Kenapa?

Pertama karena gaya berceritanya yang unik. Enrico si tokoh utama bercerita tentang bab-bab kehidupannya dengan menggunakan peristiwa2 bersejarah Indonesia sebagai acuan waktu. Gaya ini pernah saya lihat dalam salah satu buku Salman Rushdie dan merupakan sesuatu menyenangkan untuk melihat versi lain gaya ini di Cerita Cinta Enrico.

Kedua karena buku Cerita Cinta Enrico ini merupakan penyeimbang. Penyeimbang dari kisah perjalanan anak Indonesia lainnya yang telah banyak beredar. Kebanyakan kisah perjalan tersebut mengajarkan kemuliaan dalam meraih mimpi, pengorbanan, kecintaan pada keluarga, determinasi, dan sifat2 baik lainnya sehingga sang tokoh berhasil meraih mimpi yang dicita-citakan.

Enrico berkelana ke Bandung dari Sumatra karena ingin bebas. Bebas dari suasana tertekan yang diradiasikan Ibunya. Bebas untuk memilih siapa dirinya. Buat saya keberanian untuk jujur menginginkan kebebasan itulah yang menyeimbangkan. Tidak semua dari kita diberkahi dengan jenis cinta keluarga yang membentuk kita menjadi manusia dengan sifat2 terbaik. Sebagian besar dari kita ingin terbebas dari kungkungan, terlepas dari kenyataan kita mencintai keluarga kita. Itu adalah kenyataan.

Ketiga, kisah Enrico meng-amin-ni, cerita pengalaman saya di awal2 paragraf bahwa manusia akan selalu berubah. Dan jika pada saat ini kita merasa masih belum menemukan diri kita, itu adalah sesuatu yang wajar karena fitrah manusia untuk selalu merubah dirinya. Kalo diibaratkan puzzle, seumur hidup kita akan selalu mengisi kepingan puzzle yang kosong itu, dan keping terakhir akan kita lengkapi di saat hembusan nafas terakhir. Jadi percayalah bahwa tidak ada pilihan yang salah dan jangan pernah merasa terlambat untuk sesuatu. Jalan hidup kita masih bisa berubah selama kita masih bernyawa.

Empat dari lima bintang dari saya untuk buku ini. Selebihnya tentang sinopsis cerita bisa teman2 lihat di goodreads karena apa yang saya tulis di atas lebih banyak muatan curhatnya daripada reviewnya. Hehehe.

Oh iya. Ini posting pertama para Blogger Buku Indonesia untuk tahun 2013. Untuk bulan Januari para anggota BBI memposting review buku hadiah dari event Secret Santa di bulan Desember 2012. Di postingan ini setiap orang harus mencantumkan tebakan siapa Secret Santanya.

Dan Secret Santa saya (hampir 100% yakin) adalah tak lain dan tak bukan Mia Prasetya sang dokter gigi cantik dari bali. Hehehe. Darimana saya tahu? 1. Resinya mencantumkan kode agen pengiriman denpasar; 2. Riddlenya pernah saya baca di buku The Hobbit and BBI’ers bali yang mereview buku itu not so long ago adalah Mia. Hihihihi. Iya kan Mia? ;p

“Orang yang tidak pernah merasa tertekan tak kan bisa menginginkan kebebasan.”

“Aku selalu merasa bahwa perempuan sering jauh lebih tangguh daripada laki-laki. Dan mereka memikirkan kehidupan, bukan kegagahan. Kami, para lelaki, sering melakukan sesuatu demi kegagahan. Tapi kaum perempuan berbuat demi kehidupan. Lelaki sering berbuat untuk egonya sendiri, sedang perempuan berbuat untuk orang lain.”

“Aku kini mahasiswa. Tapi perguruan tinggi telah menjadi peternakan yang membesarkan ayam-ayam leghorn dan broiler saja. Yaitu ayam-ayam palsu, yang tak punya kemauan, tak punya kenakalan, tak punya rasa ingin mencari yang sebenarnya. Ayam-ayam yang diproduksi untuk daging dan telurnya saja. Ayam-ayam yang tak punya karakter, tak punya keunikan individu. Ayam-ayam yang hanya mengangguk-angguk, mematuk2 apapun yang diberikan kepada mereka, sampai kelak Kiamat memotong leher mereka.”

Advertisements

22 thoughts on “Cerita Cinta Enrico By Ayu Utami

  1. *acunhtangan*

    Ini yaaa, cari kadonya Annisa susah bener, mau beliin yang 100 years kakek-kakek, pas udah ambil cek GR lah kok sudah ganti rak jadi currently reading? ;p

    Akhirnya nemu yang ini, untungnya berkenan 😉

  2. astrid.lim says:

    ahhhh udah ketebak nih akhirnya =D btw aku jadi pengen baca ulang ayu utami nih nis, sama kaya kamu, akupun dulu ngerasa buku2nya not my cup of tea =D

  3. -Enrico berkelana ke Bandung dari Sumatra karena ingin bebas. Bebas dari suasana tertekan yang diradiasikan Ibunya.-

    jd mikir apa sy juga meradiasikan hal serupa sama anak2 sy (mdh2an engga) 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s