The Art Of Hearing Hearbeats By Jan Philipp Sendker

Penerbit : Other Press

Tebal : 325 Halaman

 “And so there must be in life something like a catastrophic turning point, when the world as we know ceases to exist. A moment that transform us into a different person from one heartbeat to the next.”

Kepuasan nemuin dan baca suatu buku yang kita ngga pernah tahu dan ternyata layak buat dapetin 5 bintang dan jadi buku favorit itu memang luar biasa. Sekali lagi secara ngga sengaja saya dipertemukan dengan satu buku keren yang jadi kesayangan saya : The Art of Hearing Hearbeats ini.

Julia nekat berangkat ke pedalaman Burma setelah menemukan salah satu surat ayahnya yang belum lama menghilang. Surat itu ditujukan kepada seorang wanita bernama Mi Mi. Setibanya di tempat tujuan tiba2 ia dihampiri oleh seorang lelaki tua yang mengklaim bahwa ia telah lama menunggu Julia untuk datang.

Prasangka bahwa lelaki tua itu kurang waras terpatahkan setelah ia berhasil menyebutkan dengan persis nama panjang Julia berikut tempat dan tanggal lahirnya. U Ba nama lelaki tua itu. Ia berjanji untuk menceritakan segala sesuatu tentang ayahnya. Ia telah menunggu lama untuk menceritakan kisah itu kepada Julia.

“How can anyone truthfully claim to love someone when they’re not prepared to share everything with that person, including their past?”

Sebelum berangkat ke Burma, Julia telah mengkonfrontasi Ibunya perihal surat itu. Ternyata selama ini Ibunya selalu mengetahui hati Ayah Julia bukan miliknya. Ia mencintai orang lain entah dimana. Ibunya tidak pernah berhasil mencari tahu. Ayahnya telah menjadi seseorang yang dekat dimata namun jauh dihati. Mereka hidup di tempat yang sama tapi di dua dimensi yang berbeda. Demi mendapatkan penjelasan mengapa Ayahnya setega itu berbuat demikian, Julia memutuskan untuk mendengarkan kisah U Ba.

Ketika keesokan harinya Julia bertemu kembali dengan U Ba, bergulirlah kisah yang indah namun getir dari seorang lelaki burma bernama Tin Win dan perempuan yang memiliki cacat fisik bernama Mi Mi.

Tin Win lahir dari pasangan orang tua yang sangat percaya pada astrologi. Ketika Tin Win lahir di “hari buruk” dimana seringkali kelahiran seseorang membawa bencana, Ibu dan Ayahnya secara tidak disadari menciptakan jarak yang tidak tertembus antara dirinya dan Tin Win. Ketika Tin Win sudah menginjak usia anak2, dua orang polisi datang ke rumahnya dengan membawa informasi bahwa Ayahnya telah mengalami kecelakaan.

Ibunya menerima berita tersebut dengan tenang, melaksanakan upacara pemakaman sebagaimana kewajiban seorang istri dan 36 jam kemudian mengepak sedikit barangnya dan pergi meninggalkan Tin Win begitu saja. Tin Win yang diperintahkan untuk menunggu memanjat sebuah pohon sehingga bisa melihat Ibunya berjalan menjauh dan dalam pikirannya, akan pula bisa melihat jika Ibunya pulang dari kejauhan. Pada kenyataannya Ibunya tidak pernah pulang. Tin Win menunggu berhari-hari.

Seorang tetangga mereka, wanita yang hidup sebatang kara bernama Su Kyi akhirnya memaksa Tin Win untuk turun.  Tin Win yang sudah tidak makan dan minum selama berhari-hari seolah sudah ada di pintu ajalnya. Dengan telaten Su Kyi merawat Tin Win, namun ia tidak bisa menyelamatkan Tin Win sepenuhnya. Tin Win telah kehilangan kemampuannya untuk melihat. Su Kyi bertekad untuk merawat Tin Win karena kesamaan nasib. Mereka dua orang yang telah dilukai hidup.

“She hoped that Tin Win would learn what she had learned over the years: that there are wounds time does not heal, though it can reduce them to a manageable size.”

Cerita U Ba bergerak dari waktu ke waktu, peristiwa ke peristiwa. Dengan setengah percaya Julia mendengarkan kisah seorang pemuda yang kemudian menjadi Ayahnya. Yang kemudian tidak dapat melupakan cinta sejatinya Mi Mi, walaupun sejak berpisah diumur belasan tahun tidak pernah berjumpa kembali. Pemuda yang konon dapat mendengar suara detak jantung setiap mahluk hidup yang ditemuinya.

Aaaaakkhh, cerita buku ini bagus banget!! Walaupun saya tidak sreg dengan beberapa pilihan hidup Tin Win, namun ceritanya tetep romantis dan meluluh lantakkan perasaan. Apa benar ada cinta sejati seperti ini? I wonder…

“Life is a gift full of riddles in which suffering and happiness are inextricably intertwined. Any attempt to have one without the other was simply bound to fail.”

Advertisements

2 thoughts on “The Art Of Hearing Hearbeats By Jan Philipp Sendker

  1. *sigh* Ini nih yang bikin stress baca blognya Teh Nisa. Selalu nambah satu lagi buku di wishlist.

    Btw suka sama kalimat : “there are wounds time does not heal, though it can reduce them to a manageable size.” —> Indeed! 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s