The Sound and The Fury By William Faulkner

Penerbit : Modern Library College Editions

Tebal : 427 Halaman

“Because no battle is ever won he said. They are not even fought. The field only reveals to man his own folly and despair, and victory is an illusion of philosophers and fools.”

Hhhmm. Saya kira akan agak sulit menyelesaikan buku ini mengingat karya para pemenang nobel biasanya memang butuh untuk dipahami. Dan buku ini memang ternyata memang sangat butuh untuk dipahami, namun di sisi lain sulit untuk berhenti dibaca karena sepanjang cerita kita dibuat bertanya-tanya dan penasaran karena satu jawaban menimbulkan pertanyaan yang lain.

Dan sampai pada titik terakhir pun banyak pertanyaan yang tetap jadi misteri. Tragedi tanpa penjelasan. Kata orang buku ini adalah salah satu pembuktian betapa jeniusnya William Faulkner. Yang saya pahami adalah sebegitu dalamnya seorang William Faulkner memahami arti tragedi dan akibatnya. Dalam berbagai hal yang tidak dijelaskan oleh sang penulis itulah cerita ini tidak terasa sebagai “cerita”. Sebagaimana hidup, buku ini berlalu dibaca dengan meninggalkan banyak misteri. Kenapa seseorang melalukan yang dia lakukan, selamanya akan menjadi rahasianya sendiri.

Terentang antara tahun 1910-1930an, buku ini bercerita tentang keluarga Compson yang konon termasuk ke dalam salah satu keluarga Aristokrat di daerah Selatan Amerika.

Bagian pertama dinarasikan oleh Benjamin alias Benjy. Dalam dua halaman pertama kita akan bisa menangkap kalo ada sesuatu yang berbeda dari Benjy. Benjy terlahir dengan keterbelakangan mental dan narasi yang ia ceritakan adalah potongan-potongan percakapan dan adegan yang tidak memiliki waktu berurutan. Alur maju mundur dengan liarnya. Narasi pun seringkali beralih dari potongan yang penting ke potongan yang tidak signifikan (karena perhatian Benjy teralihkan) sehingga membuat saya gemes dan ingin memaksa Benjy kembali menceritakan potongan yang penting itu.

Benjy sangat menyayangi kakak perempuannya Caddy. Ibu mereka adalah seorang yang menjadikan sakit yang ia derita sebagai alasan untuk memaksa semua orang memahami betapa ia adalah seorang korban dari segala yang terjadi, bahkan dari anak2nya. Yes, their mother was a drama queen. Caddy hamil, menikah dan meninggalkan Benjy. Salah satu anggota keluarganya melakukan sesuatu yang ekstrim pada Benjy sehingga Benjy benci melihat dirinya sendiri di kaca.

Terus terang ini bagian paling berat dan membingungkan dari buku ini karena sungguh maha sulit mengikuti narasi Benjy. Dan masuk ke bagian kedua antrian pertanyaan sudah mengular mencari jawaban.

Bagian kedua diceritakan oleh Quentin, anak laki2 keluarga Compson yang telah menjalani tahun pertamanya di Harvard. Narasi oleh Quentin terasa jauh lebih melegakan karena deskripsinya cukup jelas dan menjawab beberapa keingintahuan yang ditimbulkan oleh cerita Benjy.

Quentin juga sangat menyayangi saudara perempuannya Caddy. Mereka berdua sama2 tidak terlalu menyukai adik lelaki mereka Jason. Lalu kita mengetahui bahwa rasa sayang Quentin berkembang menjadi tidak sehat alias obsesi. Ditambah dengan kenyataan bahwa Caddy yang beranjak remaja ternyata memilki banyak pacar dan tidur dengan banyak orang. Hingga di suatu waktu Caddy hamil oleh seorang pria dan bertungan dengan pria yang lain, Quentin sampai ke titik gilanya sendiri. Orangtuanya lalu menjual sebagian tanah harta mereka untuk mengirim Quentin sekolah ke Harvard.

Setelah satu tahun berjalan ia kembali ke kampung halamannya. Di saat itu Caddy telah diceraikan oleh suaminya karena kenyataan bahwa anak yang dilahirkan Caddy bukan anaknya terbongkar. Entah karena angin apa Caddy menamai anak perempuannya Quentin juga, meninggalkan bayi itu di rumah Ibunya dan pergi menghilang entah kemana. Di akhir narasi kita mendapatkan kesan bahwa Quentin akan bunuh diri yang nantinya akan dikonfirmasi oleh narasi ketiga yang diceritakan Jason.

Terus terang Jason adalah tokoh yang menurut saya paling menyebalkan di buku ini. Jason (karena alasan yang menurut saya ga masuk akal) sangat membenci keponakan perempuannya Quentin dan (menurut saya) seluruh anggota keluarganya. Jason yang megalomania, rakus dan kasar pada akhirnya harus menerima kalo ia kalah pintar dari Quentin sang keponakan perempuan. Sebagai pembalasan, segera setelah Ibunya meninggal dunia ia memasukkan Benjy ke rumah sakit jiwa, menyingkirkan semua pelayannya dan menjual seluruh aset tanah dan rumah milik keluarga mereka.

Bagian keempat menceritakan tentang Dilsey, pelayan kulit hitam keluarga Compson. Dilsey yang menyaksikan betapa kegilaan demi kegilaan berjangkit di keluarga yang ia sayangi, akhirnya di suatu titik menangisi ketidakpahamannya pada kenyataan. Kenyataan bahwa ia menyaksikan dari awal sampai akhir orang2 yang seumur hidup ia rawat dan sayangi terjerat dalam tragedi yang mereka buat sendiri. Bagaimana semua itu bisa terjadi? Dilsey menangis sedih.

Sedangkan pusat dari tragedi ini, the beautiful Candance alias Caddy tidak pernah menceritakan versinya. Tidak pernah menguraikan pembelaannya. Sampai halaman terakhir Caddy tetap bagaikan mitos yang memiliki banyak versi. Misterius.

Over all ini salah satu buku paling suram yang pernah saya baca. Getir, ironis, haunting dan seperti kehidupan, meninggalkan kita dengan banyak misteri yang tidak terungkap.

“Tomorrow and tomorrow and tomorrow,
Creeps in this petty pace from day to day
To the last syllable of recorded time,
And all our yesterdays have lighted fools
The way to dusty death. Out, out, brief candle!
Life’s but a walking shadow, a poor player
That struts and frets his hour upon the stage
And then is heard no more: it is a tale
Told by an idiot, full of sound and fury,
Signifying nothing.

(Macbeth-William Shakespare)

PS : Diposting dalam rangka baca bareng Blogger Buku Indonesia Oktober 2012

Advertisements

37 thoughts on “The Sound and The Fury By William Faulkner

  1. Erie SF says:

    bukan blogwalker dan gak punya blog juga seh sebenerna. tp kebetulan lagi “punya waktu” aja buat “jalan2” heuheuheu
    *masih ngacak2*

    ESF

  2. astridfelicialim says:

    jadi si benjy tuh siapa cha? quentin si ponakan sama benjy hubungannya apa? *mancing spoiler* abis kadung penasaran baca reviewmu haha

  3. Sama dengan Bzee, jadi tertarik juga sama buku ini. menarik tapi agak2 khawatir sih aslinya. Belum pernah baca Faulkner. Blogger yg aku follow ada yg udah baca As I Lay Dying, mau bandingin dulu ah, lebih berat yg mana, hehehe… Thanks reviewnya, Nisa! 🙂

  4. Berarti memang benar ya rata2 novel karya pemenang Nobel memang susah dipahami. Apa karena penulisnya terlampau cerdas ataukah saya yg memang bukan genrenya? dan, satu lagi banyak yg menerima Nobel itu dari kawasan AMerika Selatan ya kalo sekitar thn 1980-an. kalo sekarang, sudah mulai bergeser ke Asia dan Afrika. kapan Indonesia dapat ya?

  5. Sinta Nisfuanna says:

    seperti kalau aku baca buku ini bakalan gregetan. meski aku suka ending menggantung, tapi klo kebanyakan yang ga terjawab, kesel juga ma penulisnya 😀

  6. asdewi says:

    satu yang mengagumkan dari teh nisa adalah : kok bisaaaa bikin review yang sederhana dan menarik dari buku yang complicated dan berat?
    Kan jadi bikin mupeeeenngggg

    • Hoooi Bu Dokter masi bangun aja.. Tipe begini emang agak bikin males ngereview euy. Tapi lebih keren Dewi dong yg berhasil mbuat review berbagai buku ngaco jadi menarik banget dan kontroversial, hehe.. I love your review, pengen bisa nulis seseru ituh, hihihi 😉

      • asdewi says:

        hahaha…dikau sendiri masih bangun tadi malem ya, teh. Bukan karena nungguin ayid kan? 😦
        Ah buku yg kureview sih emang banyak unsur ngaconya. Jadi gitu deh. Aku malah pengen bs nulis review yg singkat tp padat dan bermutu

      • Kebiasaan wi bangun jam segitu.. Jangan.. Reviewmu termasuk yang aku tunggu2 krn pasti bikin ketawa2, hehe.. Btw aku hari ini tumbang, barusan dr dokter kena radang usus.

  7. Widihhhhh reviewnya kereeen aku jd paham inti cerita buku yang kayaknya berat ini. Emang harusnya sekali2 nyempetin baca beginian ya mba, hihi.. Aku penasaran banget sama tipe cewek2 macam Caddy nih!! Gemesin kayaknya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s