Wintergirls By Laurie Halse Anderson

Penerbit : Penguin Books

Tebal : 278 Halaman

“Dr. Parker and all my parents live in a papier mache world. They patch up problems with strips of newspaper and little glue. I live in the borderlands. The word ghost sounds like memory. The word therapy mean exorcism. My visions echo and multiply. I don’t know how to figure out what they mean. I can’t tell where they start or if they will end.

But I know this. If they shrink my head anymore, or float me away on an ocean of pills, I will never return.”

Saya ngga nyaranin buat orang-orang yang baru aja atau sedang menjalani terapi psikologis/ kejiwaan untuk membaca cerita di buku ini. The story is pretty depressive, so no! Please look for a happier story. Hehe.

Aiiissshh. Dalam beberapa bagian buku saya sampai merasa harus merasa berhenti baca karena merasa “kegelapan” cerita merambat keluar buku dan hinggap di diri saya. Ya, sejagoan itulah Laurie Halse Anderson berkisah di buku ini. The story will haunts you. And I say bravo to Laurie Halse Anderson for be able to conjure that kind of effect for the readers!

Tokoh utamanya adalah seorang anak remaja bernama Lia. Kedua orang tuanya sudah berpisah. Lia kini tinggal bersama Ayah, Ibu tiri dan adik tirinya Emma. Lia adalah seorang remaja pengidap anorexia nervosa.

Kelainan pola makan dimana seseorang paranoid atau sangat takut berat badannya bertambah sehingga dengan sengaja membuat dirinya lapar. Pengidap anorexia nervosa biasanya memiliki penilaian body image yang negatif terhadap dirinya sendiri sehingga tetap merasa berat badannya berlebih meskipun pada kenyataannya sudah masuk ke kategori extremely underweight.

Saya pernah nonton di BBC Knowledge tentang banyaknya remaja perempuan pengidap anorexia nervosa di Amerika. Jumlahnya cukup mencengangkan. Bahkan mereka memiliki website sendiri dimana mereka dapat saling menyemangati untuk mengurangi berat badan. And It’s more related to psychological than eating disorder.

Back to the story. Lia dulu memiliki seorang teman bernama Cassie yang juga seorang pengidap anorexia. Karena satu dan lain hal mereka berhenti berteman. Sampai di suatu malam Lia mendapati telepon selulernya berbunyi dengan nama Cassie di layar. Lia memutuskan untuk mengabaikan telepon Cassie dan tidur. Keesokan paginya Lia menerima kabar bahwa Cassie ditemukan meninggal di sebuah kamar motel.

Cassie malam itu puluhan kali mencoba menelepon Lia. Sebelum ia mati. Kenyataan itu mengguncang Lia. Semenjak hari itu hantu Cassie menguntitnya. Ada di ujung tempat tidurnya. Ada di kaca ketika Lia bercermin. Ada dimana-mana. Lia berpura2 pada keluarganya bahwa ia masih menjalani terapi anorexia nya, padahal setiap hari ia membuat dirinya lapar dan menargetkan penurunan berat badan.

Sampai batas mana Lia bertahan antara hantu Cassie dan kepura2annya. Fiuh. Kalo saya boleh tebak pasti reaksi orang ketika membaca cerita ini antara ngga suka banget karena terlalu depresif dan yang mengagumi gimana sang penulis bisa mendalami “pemikiran tidak logis” dari seorang pengidap anorexia. Saya termasuk ke dalam kategori yang kedua. Buku ini berhasil menghantui saya.

Kadang, untuk tiba ke titik balik dimana seseorang akhirnya mau sadar (dalam hal ini atas apapun, bukan hanya konteks cerita), orang tersebut harus berada di kondisi benar-benar tidak berdaya terlebih dahulu. Istilah saya, harus dibuat seperti ikan yang dilempar ke darat dulu, menggelepar-gelepar berusaha bertahan hidup. Hanya ada dua pilihan, hancur atau hidup. Di titik ekstrim itu kesadaran untuk orang-orang yang “ndableg” baru akan mengena sepenuhnya. Dan setelah itu baru akan mengakui bahwa mereka bermasalah dan memang butuh pertolongan.

Been there, done that, thanks God!

“There is no magic cure, no making it all go away forever. There are only small steps upward; an easier day, unexpected laugh, a mirror that doesn’t matter anymore. I am thawing.”

“I am learning how to be angry and sad and lonely and joyful and excited and afraid and happy. I am learning how to taste everything.”

Advertisements

6 thoughts on “Wintergirls By Laurie Halse Anderson

  1. Ya ampuuuun, serem bgt di gentayangi..
    Ini cerita horor!! *parno duluan*

    Oke, kayaknya buku keren kalo sampe para pembaca keserep dan ikutan depresif gitu

    • Hihihi… Itu sebenernya cuma ada di pikirannya aja and bukan hantu beneran ky… Iya sampe2 aku ikut parno makanan yang masuk mulut kalorinya berapa… Bikin stress ini buku.. Hehe..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s