If I Stay By Gayle Foreman

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Alih Bahasa : Poppy D. Chusfani

Tebal : 195 Halaman

“Sometimes you make choices in life and sometimes choices make you.”

Awal tahun ini inget banget temen2 di komunitas Blogger Buku Indonesia banyak yang menominasikan tokoh Adam di buku ini sebagai ‘My Number 1 Book Boyfriend’. Saya timbunlah buku ini beserta sequelnya Where She Went selama berbulan2 dan baru dibaca kemarin2. Hehe.

Huuumm. Sepertinya saya akan lebih dapet feelnya kalo baca yang versi aslinya. Atau memang waktu baca lagi kurang sensitif aja kali ya jadi buku ini ngga bikin saya terharu biru seperti yang banyak dialamin temen2 yang sudah baca duluan.

Dalam buku ini tokoh utamanya adalah seorang remaja perempuan yang bernama Mia Hall. Mia adalah seorang pemain Cello yang cukup berbakat. Mia terlahir di keluarga yang mencintai musik, namun saja Ayah dan Ibunya lebih ke aliran musik band dan berbeda dengan Mia yang menyukai musik klasik. Mia juga memiliki seorang adik laki2. Secara sekilas kehidupan Mia lengkap, ia punya keluarga kecil yang bahagia dengan kehidupan mereka. Ia punya kegiatan yang sangat dicintainya yaitu bermain Cello. Dan Mia punya Adam.

Adam, kekasihnya yang termasuk ke dalam kategori ‘cowo keren’ di sekolahnya. Adam yang gitaris sebuah band yang karirnya mulai beranjak naik. Adam yang memiliki banyak penggemar wanita.

Mia yang selalu merasa berbeda dari anggota keluarganya yang lain ini seringkali heran mengapa Adam tertarik kepadanya. Namun dengan mulusnya Adam masuk ke dalam kehidupan Mia, termasuk juga ke dalam kehidupan anggota keluarganya. Adam sudah nyaris seperti anak ketiga dalam keluarganya. Bahkan Adam lebih nyambung dengan Ayah dan adik lelakinya dibandingkan dengan Mia sendiri.

Di suatu hari yang bersalju di daerah Oregon. Sekolah2 memutuskan untuk meliburkan murid2 mereka. Ayah Mia yang seorang guru juga diliburkan. Akhirnya keluarga itu memutuskan untuk pergi bersama mengunjungi kakek dan nenek Mia.

Hal terakhir yang diingat Mia adalah Cello Sonata No.3 Beethoven. Setelah itu tiba2 Mia berada di luar mobil. Mobil yang mereka kendarai hancur berantakan. Mia dapat melihat jasad Ayah dan Ibunya yang tidak utuh lagi. Mia juga melihat ada sosok yang terlempar ke parit, Mia mengira itu Teddy adik laki2nya. Setelah dihampiri ternyata ia melihat tubuh fisik dirinya sendiri terbaring di parit. Darah merembes dari bajunya.

Selanjutnya Mia menyaksikan regu penolong dan ambulans mulai berdatangan. Ia juga melihat tubuhnya diangkut ke dalam helikopter untuk diterbangkan ke rumah sakit terdekat. Ia menyaksikan upaya para tenaga medis untuk menyelamatkan nyawanya. Bahkan kemudian setibanya di rumah sakit Mia menyaksikan sendiri operasi yang dilakukan untuk menjaga dirinya tetap hidup. Mia melihat tubuhnya yang carut marut penuh dengan luka. Ia nyaris tidak mengenali dirinya sendiri.

Lalu para penjenguk mulai berdatangan. Kakeknya, neneknya, sahabatnya Kim, dan Adam. Melalui pembicaraan para tenaga medis Mia mengetahui bahwa adiknya Teddy telah meninggal dunia di rumah sakit yang lain. Dalam satu hari Mia kehilangan seluruh anggotanya. Dalam satu kedipan mata ia tertinggal sendirian. Mia tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya hidup tanpa anggota keluarganya.

“I realize now that dying is easy. Living is hard.”

“I’m not sure this is a world I belong in anymore. I’m not sure that I want to wake up.”

Mia menyaksikan neneknya, kakeknya dan Adam berbicara pada tubuhnya yang terbaring dipenuhi dengan selang2 yang berfungsi menjaga dirinya tetap hidup. Ia menyaksikan kakeknya berbicara bahwa ia merelakan Mia pergi jika memang sakit yang Mia pikul tidak tertahankan. Ia juga melihat Adam memohon agar dirinya tetap hidup apapun resikonya. Ia melihat Kim sahabatnya menangis tersedu2. Namun Mia merasa takut. Sanggupkah ia hidup dengan menahan semua kesedihan akan kehilangan seluruh anggota keluarganya.

Mia merasa letih dan menyerah. Ia menunggu kemana nasib akan membawanya.

Ending buku ini begitu membuat penasaran hingga saya menyarankan untuk tidak jauh2 menaruh buku sequelnya yang berjudul Where She Went. Di buku pertama ini, cerita diambil dari sudut pandang Mia, karakter Adam belum terlalu terlihat dengan jelas hingga saya belum bisa memutuskan pendapat saya terhadap Adam. Dan setelah membaca buku keduanya baru saya mengenal siapakah Adam ini.

Mia adalah tipe remaja perempuan yang tidak mencolok namun mudah untuk disukai karena kesederhanaannya. Mia adalah remaja perempuan luar biasa yang merasa dirinya biasa-biasa saja. Dan itulah yang membuatnya menjadi menarik.

Over all buku pertama ini terasa seperti introduction alias kata pengantar untuk buku keduanya yang ternyata menurut saya lebih mempunyai jiwa. Tapiiii ntar aja saya ceritanya di review buku yang kedua yaa. Kali ini saya kurang sependapat dengan groupiesnya Adam di komunitas Blogger Buku Indonesia. Semoga nanti saya ngga ditimpukin rame2 oleh para penggemarnya Adam waktu menayangkan review buku Where She Went besok2. Hehehe.

““It’s okay,’ he tells me. ‘If you want to go. Everyone wants you to stay. I want you to stay more than I’ve ever wanted anything in my life.’ His voice cracks with emotion. He stops, clears his throat, takes a breath, and continues. ‘But that’s what I want and I could see why it might not be what you want. So I just wanted to tell you that I understand if you go. It’s okay if you have to leave us. It’s okay if you want to stop fighting.'”

“If you stay, I’ll do whatever you want. I’ll quit the band, go with you to New York. But if you need me to go away, I’ll do that, too. I was talking to Liz and she said maybe coming back to your old life would be too painful, that maybe it’d be easier for you to erase us. And that would suck, but I’d do it. I can lose you like that if I don’t lose you today. I’ll let you go. If you stay.”

Advertisements

18 thoughts on “If I Stay By Gayle Foreman

  1. Di sini pesona Adam emang blom terasa mbak. Aku pun lempeng aja bacanya. Nggak ada emosi sama sekali. hehehe. Bahkan emosi Mia sekalipun rasanya datar aja.
    Aku cuman suka cerita-cerita Mia tentang keluarganya. Lain tidak. hehehe

    Tapi beda banget pas baca Where She Went. Coba baca deh. Jadi bisa ngerti kenapa tahun lalu Adam bikin meleleh. haha.

  2. Wow, akhirnya baca juga mba. Hehe

    Buku ini dalem dan lumayan menguras emosi. Dan jauuuuh lebih menarik dibanding buku keduanya. *masalah selera*

    • Iya.. Curiga pengaruh terjemahan ky.. Ato akunya aja yg lagi ngga konsen, hehe.. Ato terlalu berfokus pada pertanyaan ‘kenapa bnyk yg ngefans sama adam’ jd ngga terlalu dirasain ceritanya.. Hehehe.. Tp aku ngerti sih intinya lebih baik bertahan hidup dan menghadapi semua kesulitan ato memilih jalan yg lebih mudah yaitu mati.. Hehehe..

    • Hihihi.. Makasi ya.. Met baca vin.. Aku pgn cepet2 bikin review buku 2 nya tp belon ada waktu aja.. Soalnya anehnya lebih dapet feel betapa sedihnya Mia justru di buku yang kedua 🙂 pdhl kan Adam yg narasiin ceritanya, hehe..

  3. Sebenarnya saya juga ingin membaca buku ini. Lebih karena ingin disuguhi oleh kisah yang mengharu-biru 😆 Tapi kok… saya akan baca buku ini kalau ada yang berbaik hati meminjamkan :mrgreen:

  4. berkali-kali baca review if i stay and where she went, pengen banget baca buku ini. Kadar mewek sejauh apa nih mbak? Btw, aku belum baca bukunya, tapi baca review keduanya koq jadi ingat film august rush yah…itu ortunya juga pemusik. Pemain cello sama anak band, premis pertemuan dan pisahnya rada-rada mirip 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s