Life is but A Dream By Brian James

Penerbit : Feiwel and Friends

Tebal : 239 Halaman

Rasanya saya pernah denger ungkapan kalo satu orang normal ada di antara sekumpulan orang kurang waras. Maka dimata mayoritas (orang kurang waras), satu orang itulah yang akan terlihat ganjil. To be frank I do feel a little bit crazy sometimes. Being who I am does make me feel a little bit out of place at some point. Makanya jatuh hati banget waktu liat sinopsis buku ini di goodreads plus taglinenya :

“I am not crazy. At least.. I don’t think I am, anyway.”

Sabrina, seorang anak perempuan berusia 15 tahun didiagnosa menderita schizophrenia dan dititipkan ke suatu pusat rehabilitasi jiwa oleh orangtuanya. Semenjak kecil Sabrina selalu melihat dunia yang berbeda dari dunia yang dilihat orang kebanyakan. Dimata Sabrina awan memiliki warna warni yang indah, angin memiliki suara dan tekstur serta bergerak bagai ombak menembus tubuhnya, bebatuan tertentu memancarkan cahaya dan Sabrina gemar mengoleksinya.

Sabrina seringkali menuangkan dunia yang dilihatnya lewat gambar. Ketika ia kecil kedua orang tuanya menganggap Sabrina adalah anak yang penuh dengan imajinasi dan mendukungnya. Namun seiring bertambahnya usia Sabrina, kedua orang tuanya mulai merasa tidak sabar dan memberitahunya untuk bersikap lebih dewasa dan berhenti terlalu banyak berhayal.

Di pusat rehabilitasi jiwa para dokter memberikan Sabrina obat2an dan juga berbagai macam terapi. Suatu ketika Sabrina menemukan seseorang yang ia kira selama ini hanya hidup dalam mimpinya, seorang remaja laki2 yang memancarkan sinar terang putih dari seluruh tubuhnya.

Alec, nama remaja laki2 itu, baru saja bergabung di pusat rehabilitasi jiwa. Beberapa kesempatan berbicara membuat Sabrina merasa nyaman karena Alec mempercayai apa yang ia lihat di dunianya. Bukan sekedar pura2 percaya seperti orang2 kebanyakan, ia dapat merasa Alec betul2 mempercayainya. Alec pun merasa tertarik dengan sudut pandang Sabrina. Alec yang muak dengan dunia yang menganggap semua orang harus bertindak wajar dan selaras menurut satu tata nilai tertentu, menemukan bahwa Sabrina unik.

Alec membuat Sabrina mempercayai bahwa tidak ada yang salah dengan dirinya. Dunia luar lah yang salah menetapkan standar “normal” dan mencoba membuat semua manusia menjadi robot yang seragam. Orang yang memiliki sedikit perbedaan akan dianggap sakit dan harus disembuhkan. Alec membuat Sabrina merasa istimewa.

“Having something to look forward to, no matter how insignificant, is still something.”

Diam-diam Sabrina menjadi takut bahwa obat2an yang diberikan oleh para dokter akan membuatnya menjadi sama seperti orang lain. Dalam hatinya Sabrina tidak mau “keistimewaannya” hilang. Dan dia pun berhenti mengkonsumsi obat2an yang diharuskan oleh dokternya. Lalu apakah Alec ternyata benar? Apakah kita yang dicap sebagai orang2 normal sebenarnya hanya sekelompok robot yang manut pada “standar hidup wajar” yang ditetapkan. Sekolah, kuliah, lulus, bekerja, menikah, punya anak, punya anak lagi, menikahkan anak, punya cucu, meninggal. Jika tidak mengikuti sequence itu seseorang dianggap menjalani sesuatu yang tidak normal. Apa hanya sebatas itukah hidup kita sebagai manusia?

Membaca buku ini membuat saya merasa dibawa turut melayang-layang di dunianya Sabrina. Di mata saya, dunia Sabrina indah. Namun sayangnya manusia ini terkadang suka merasa angkuh dan lebih jika melihat seseorang yang berbeda, lalu menganggap wajar jika memperlakukan seseorang yang berbeda dengan tidak baik. Di titik itu manusia menjadi jahat dan kehilangan “kemanusiaannya”, tidak ada bedanya dengan hewan. Yang kuat dialah yang menang. Oleh karena itu Sabrina dengan dunianya memang rentan untuk menjadi korban.

Menutup buku ini saya jadi bertanya-tanya. Apakah kita memang harus mengikuti apa yang orang lain harapkan dari kita? Hhhhmmmmm…

“I don’t care. I like the world in my dreams. It’s a happier place than here.”

Advertisements

22 thoughts on “Life is but A Dream By Brian James

  1. @alvina13 says:

    huhu.. iya, kadang orang yang spesial itu selalu dikatakan berbeda (dalam maksud lebih buruk).. padahal kan setiap orang istimewa… >_<

    • Hehehe.. Terlalu “termakan” sama standar umum yang ditetapkan mayoritas.. Suka cape ngga sih vin kalo ditanyain kapan nikah, kapan punya anak, kapan anaknya dikasi adek? ehehe.. 🙂

  2. hmm…..apakah Sabrina penderita synesthesia, mbak?
    kalo iya, menarik nih bukunya. Aku punya temen yg synesthesia-nya lumayan berat dan buat orang yg gak tahu, kesannya emang dia aneh.

    Btw…iyaaaa…..hidup sesuai dengan “standar” orang-orang tuh capek euy. pertanyaan kapan nikah, kapan ini, kapan itu tuh nyebelin. *mendadak curcol*

    • Di ceritanya sih diagnosis nya schizophrenia.. Kalo synesthesia itu kaya apa tuh Bu Dokter?

      Hihihihihi.. Capek ya kalo ditanyain orang, seperti ngga ada abis2nya.. Kadang jadi menyebalkan social pressure itu! 🙂

    • Iya.. Kadang jadinya melakukan sesuatu tanpa pikir panjang.. Hanya gara2 social pressure aja..

      Buku ini cukup menyentil sih. Si Alec di cerita ini kan lahir di keluarga sangat berada, cuma dia ngerasa orang tuanya punya anak (dia maksudnya) cuma gara2 seharusnya begitu aja karena kedua ortunya sibuk berat dan ngga perhatian sama sekali.. Kerja, sukses, nikah, punya anak.. Hhhhh..

  3. kelompok mayoritas biasa mengangap diri yang benar, dan orang yang berbeda biasa dianggap aneh 😦
    Banyak membaca buku begini bisa jadi bahan introspeksi 🙂

    • Waduh.. Kalo biografi john nash mah emang kayaknya berat atuh mas.. Buku ini ringan2 aja kok.. Psikologi ala young adults lah.. Malah cenderung digambarinnya artistik gitu dunia schizophrenic nya 🙂

  4. asdewi says:

    Synesthesia tuh orang yang punya kemampuan melihat warna/emosi dalam sebuah benda/hal, mbak. Misalnya dia lihat angka 1 itu merah, 2 itu biru. Ato hari senin itu warnanya abu2, hari selasa itu warna kuning. Ada juga yg mikir : kain katun itu aura nya sedih, lampu lalu lintas itu auranya sepi, dll deh.

    Aku mikir Sabrina itu synesthesia karena dibilang buat dia awan tuh berwarna, aangin bertekstur dan batu ada cahayanya. Bahkan orang aja punya “warna”. Sounds so much like synesthesia.

    Kalo mau baca penjelasan simpelnya Synesthesia, ada disini nih : http://manampiring17.wordpress.com/2011/05/01/dunia-ajaib-synesthesia/
    Baca komen paling bawah deh. Ada penderita Synesthesia yg komen juga

    • Menarik nih.. Kalo liat dari penjelasanmu sepertinya emang mirip gejalanya.. Eh aku setengah taun terakhir ini lg banyak baca & belajar ttg ilmu neuro-psychology loh.. Menarik bgt ilmunya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s