The Book Thief By Markus Zusak

Terakhir kali saya baca buku yang dinarasikan sama malaikat maut itu bukunya Neil Gaiman sama Tery Prachett yang judulnya Good Omens. Kalo ngga salah buku itu saya kasih lima bintang. Begitu pula dengan The Book Thief ini, yang cerita adalah sang malaikat maut dan lima bintang juga saya anugerahkan dengan senang hati untuk buku ini.

Buku dibuka dengan kalimat perkenalan dari sang malaikat maut :

“HERE IS A SMALL FACT

You are going to die.”

Hehe. Selanjutnya kita dibawa ke kisah singkat tentang pekerjaan sang malaikat maut yang mana ternyata menurutnya bukan pekerjaan yang menyenangkan (even death complains about his job! Haha).

“A SMALL PIECE OF TRUTH
I do not carry a sickle or scythe.
I only wear a hooded black robe when it’s cold.
And I don’t have those skull-like facial features you seem to enjoy pinning on me from a distance. You want to know what I truly look like? I’ll help you out. Find yourself a mirror while I continue.”

Haha. Death feel missunderstood, how cute is that. Salah satu hal tidak menyenangkan menurut sang malaikat maut dalam pekerjaannya adalah justru melihat para survivors. Survivors yang seringkali hidup dalam kondisi menyedihkan.

Namun dalam beberapa kejadian luar biasa, sang malaikat maut dapat bertemu dengan survivors yang sama lebih dari satu kali, yang kemudian menggiring kita ke cerita inti yang ingin diuraikan sang malaikat maut. The Book Thief alias sang pencuri buku, begitu sang malaikat maut menjulukinya. Ia berselisih jalan dengan sang pencuri buku sebanyak tiga kali dalam tugasnya. Dan melalui tiga pertemuan yang membekas itu, sang malaikat maut menyimak kehidupan Liesel Meminger, anak perempuan itu, sang pencuri buku.

“It was a year for the ages, like 79, like 1346, to name just a few. Forget the scythe, Goddamn it, I needed a broom or a mop. And I needed a vacation. ”

Pertemuan pertamanya dengan Liesel adalah pada tahun 1939. Saat itu sang malaikat maut sedang bertugas mengambil jiwa adik laki2 Liesel. Dan setelah pertemuan pertama itu pula Liesel mencuri buku pertamanya. Tidak istimewa memang buku itu, judulnya The Graves Digger Handbook. Ia mengambil buku itu di dekat makam adiknya.

Liesel lalu dititipkan oleh Ibu kandungnya ke sepasang orangtua angkat. Hans dan Rosa Hubermann yang tinggal di Himmel Street, Molching (kota fiktif), German. Rosa adalah seorang perempuan keras yang hobby mengkritik dan membicarakan kejelekan orang2 yang menggunakan jasanya untuk mencuci baju. Rosa memperlakukan Liesel dengan cukup baik, namun penuh dengan kedisiplinan. Lain halnya dengan Hans. Hans adalah figur kebapakan yang selalu menemani Liesel ketika terbangun karena mimpi buruk (adegan dimana ia menyaksikan adik laki2nya mati di gerbong kereta).

Liesel menjadi sangat dekat dengan Hans. Ketika Hans menemukan bahwa Liesel membawa sebuah buku, ia pun mengajari Liesel membaca. Lebih tepatnya, Hans lah yang membuka pintu menuju dunia yang dicintai Liesel. Buku, kisah, kata-kata.

Sekolah tidak dilaluinya dengan mudah karena Liesel termasuk anak yang telat belajar. Beruntungnya ia menemukan seorang teman, sahabat dan nantinya (mungkin) lebih dari dua definisi itu. Rudy, nama sang anak lelaki itu. Mereka banyak menghabiskan waktu bersama sepulang sekolah karena Liesel, walaupun seorang anak perempuan, sangat gemar bergabung bermain bola dengan para anak lelaki di Himmel Street.

Cerita mulai berkembang bersamaan dengan meluasnya jaring-jaring kekuasaan Hitler di Jerman. Singkat kata, Liesel telah jatuh cinta dengan kisah dalam buku2. Baik yang diberikan oleh Hans, maupun yang ia dapatkan sendiri (dengan mencuri). Sebuah pertemuan mengenalkan Liesel pada seorang wanita kaya yang depresif yang menggunakan jasa Ibunya, Rosa untuk mencuci baju. Ilsa Hermann yang secara tidak sengaja mengetahui affair Liesel dengan buku. Ilsa ternyata memiliki sebuah perpustakaan besar di rumahnya, dan ia mengizinkan Liesel untuk menjadikan perpustakaan itu taman bermainnya.

Cerita mulai seru ketika Hans dan Rosa memutuskan untuk membantu seorang pemuda yahudi bernama Max. Hans berhutang nyawa pada ayah Max di perang dunia pertama. Dan yang mengejutkan buat Liesel. Rosa yang keras hati dan galak ternyata mendukung Hans 100%. Jadilah ditengah genosida Hitler terhadap Yahudi, keluarga kecil itu berhasil menyelamatkan seorang pemuda dengan menyembunyikannya di basement mereka.

Banyak adegan menyentuh hati yang membuat kita lebih mengenal karakter2 dalam cerita ini dengan cukup dalam. Yang mengejutkan buat Liesel (dan juga saya) adalah Rosa. Rosa yang ternyata menyimpan kebaikan hati malaikat di belakang topeng galaknya.

“What shocked Liesel most was the change in her mama. Whether it was the calculated way in which she divided the food, or the considerable muzzling of her notorious mouth, or even the gentler expression on her cardboard face, one thing was becoming clear.

AN ATTRIBUTE OF ROSA HUBERMANN

She was a good woman for a crisis.”

Di tengah carut marut situasi Jerman pada saat itu. Buku adalah senjata rahasia Liesel. Benteng pribadinya yang tidak seorang pun bisa menyentuhnya. Bahkan ketika latihan keadaan darurat bom mulai dilaksanakan secara teratur dan penduduk Himmel Street harus berlari ke ruang perlindungan bawah tanah ketika alarm berbunyi, Liesel membantu para tetangganya dengan membacakan buku ketika mereka menunggu alarm tanda aman berbunyi.

Di titik ini cerita ini tampak familiar buat saya. Book does bring a comforting feeling. And just like Liesel, my personal fortress is also build by books. It’s my way of resistance against all the last year chaotic events. Tidak perduli sebagaimanapun kacaunya hidup saya tahun lalu, atau bahkan dari bertahun2 yang lalu sekalipun, satu hal yang tidak pernah berhenti saya lakukan adalah membaca buku.

Lalu bagaimana kisah Liesel, Hans, Rosa, Rudy dan Max di tengah-tengah kiamat kecil yang didalangi oleh sesosok manusia bernama Hitler. Ah, bahkan malaikat maut pun tersentuh karenanya. Even death has a heart, sang malaikat maut berucap. Cerita semacam ini (dan juga seperti Schindler’s List) yang selalu membawa harapan buat saya, karena saya tidak pernah mengerti bagaimana suatu bangsa bisa terhipnotis ke dalam dogma tidak masuk akal yang dijadikan pembenaran untuk membunuh ratusan ribu nyawa. Bahkan di masa itu sang malaikat maut merasa muak dengan pekerjaannya.

There will always people with conscience.. Even in the middle of a completely senseless events, they will always be there.. There might be only a few, but they always bring hope to humanity..

5 bintang dari saya buat buku ini. Untuk keberanian ceritanya. Untuk pesannya tentang buku sebagai priceless treasure. Untuk harapan di tengah2 kekacauan. Untuk air mata di akhir buku yang diperuntukkan untuk seorang anak perempuan tegar bernama Liesel Meminger yang bahkan malaikat maut pun terenyuh oleh kisahnya.

“It amazes me what humans can do, even when streams are flowing down their faces and they stagger on, coughing and searching, and finding.”

“I saw him hip-deep in some icy water, chasing a book, and I saw a boy lying in bed, imagining how a kiss would taste from his glorious next-door neighbor. He does something to me, that boy. Every time. It’s his only detriment. He steps on my heart. He makes me cry.”

“Yes, I have seen a great many things in this world. I attend the greatest disasters and work for the greatest villains.

But then there are other moments. There’s a multitude of stories (a mere handful, as I have previously suggested) that I allow to distract me as I work, just as the colors do. I pick them up in the unluckiest, unlikeliest places and I make sure to remember them as I go about my work. The Book Thief is one such story.”

Advertisements

24 thoughts on “The Book Thief By Markus Zusak

  1. Halo~ Tau blog ini dari GRI, hehe 😀

    Baca quote pertama *benerin kacamata*
    Baca quote kedua *cari cermin*
    Baca quote ketiga….. langsung scroll ke bawah ga mau nemu spoiler apapun haha.. Mesti masuk to read ini tampaknya~ Makasi reviewnya (meski belum baca semua) plus salam kenal!

  2. aku suka buku ini… walo tone-nya cukup depresif. dulu bgt pernah aku review jg di blogku. sudut pandangnya unik ya, dr tokoh si Death ini. pesannya pun humanis bgt.

  3. @alvina13 says:

    aku malah merinding baca review ini.. bukan takut.., tapi jadi penasaran sama sudut pandang Si ‘Death’ ini..
    kapan kapan beli bukunya ah.. 😀

  4. Buku yang amat sangat bagus, perfect. 5 bintang sempurna dari saya. Saking bagusnya ga bisa review *penyakit* dan sampai sekarang buku ini yang masuk daftar reread di list saya. Semuanya keren, bahkan peran sampingan pun juga memorable. 🙂

  5. erdeaka says:

    temenku juga baca buku ini. kok banyak yg baca gini ya?? hmm… jadi penasaran, settingnya di Jerman pula, huaaa… ngiler!!!

  6. suci lestari says:

    aku udah liat filmnya. wuiihh.. keren banget pokoknya. buku ini udah ada terjemahannya belum ya? aku cari di gramed pekanbaru gak ada lho… btw, salam kenal mba.. 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s