Evidence of Things Unseen By Marianne Wiggins

Penerbit : Simon & Schuster

Tebal : 383 Halaman

“I know that every atom of life in all this universe is bound up together. I know that pebble cannot be thrown into the ocean without distrubing every drop of water in the sea. I know that every life is inextricably mixed and woven with every other life. I know that every influence, conscious and unconscious, acts and reacts on every living organism, and that no one can fix the blame.

I know that all life is a series of infinite chances, which sometimes result one way and sometimes another. I have not the infinite wisdom that can fathom it, neither has any other human brain. But I do know that in back of it is a power that made it, that power alone can tell, and if there is no power, then it is an infinite chance which man cannot solve.”

Terakhir kali saya baca buku yang saya randomly beli tanpa tau apa2 tentang buku itu dan ternyata pada akhirnya saya kasih lima bintang itu The Thirteen Tale. Udah lama juga yah? Tapi setiap “menemukan” buku lima bintang secara ngga sengaja itu rasanya puas banget.

Buku ini judulnya eye catching, waktu beli saya kira ada unsur2 misterinya gitu. Ternyata setelah dibaca meleset banget dugaan saya. ¼ bagian pertama buku, saya masih menyesuaikan dengan bahasanya Marianne Wiggins yang puitis banget. Dibaca pelan2 dan seksama baru mudeng. Lama-lama untungnya bahasanya me-ringan atau ntah ceritanya tambah rame karena muncul tokoh Opal.

Eh dari awal ya. Mulanya buku ini bercerita tentang Ray Foster alias Fos, seorang pemuda yang sangat menaruh minat pada science. Khususnya cahaya2 yang secara natural terdapat di alam. Phosphorenscence, kunang-kunang, bintang jatuh, hati ikan yang dapat menjadi tinta yang menyala dalam gelap, cahaya dari unsur radioaktif, x-ray, you name it. Fos sangat tertarik pada hal tersebut.

Selamat dari perang dunia pertama, Fos diajak teman seperjuangannya Flash untuk membuat sebuah studio foto. Fos menyambut baik ide itu karena dekat dengan minatnya pada cahaya alami. Dalam waktu-waktu tertentu Fos selalu bepergian untuk melihat peristiwa bintang jatuh. Dalam suatu kesempatan, nasib membawanya untuk terdampar di rumah seorang  glassblower (ini kurang lebih artinya pengrajin kaca kali ya, orang yang bikin hiasan kayak vas atau yang cth lainnya dari bahan kaca).

Dari bayangan terbalik yang ia lihat di kaca leleh yang sedang ditiup Fos pertama kali melihat Opal. Tidak seperti Flash yang bermental Don Juan. Fos ini bisa dibilang sangat polos dan sama sekali kurang berminat mencari pasangan. Namun di saat itu ada sesuatu dalam diri Opal yang membuatnya tertarik. Fos pun mengajak Opal ikut serta dalam acara berburu bintang jatuhnya. Di malam yang romantis itu Fos yakin bahwa ia dan Opal meant to be each other. Fos melamar Opal. Opal yang merasakan hal yang sama pun nekat menerima. Tanpa persiapan heboh2 mereka pun menikah dengan restu ayahnya Opal, sang glassblower. Fos lalu membawa serta Opal pulang ke Knoxville tempat ia hidup dari studio fotonya dan Flash.

Opal boleh dibilang adalah nyawa dari cerita ini (menurut saya loh). Tipe perempuan yang ngga ribet, secara alami cerdas dan memang sepertinya diciptakan untuk memahami Fos yang kadang2 keterlaluan polosnya. Untuk beberapa waktu, mereka bertiga, Fos, Opal dan Flash menghabiskan berbagai pengalaman yang cukup menyenangkan bersama.

“The sight of Fos and Opal coming down the street together absolutely tickled him. The idea of two such strangely unremarkable yet lovable people could have found and met each other reaffirmed his waning faith in anything remotely optimistic about mankind and seemed to be a more convincing proof than all the gospel shit flown from the pulpits of Knox County that life could, in fact, distribute happy endings.”

Suatu keputusan yang diambil sepihak oleh Flash atas hidupnya sendiri membawa akibat kepada kehidupan Fos dan Opal. Mereka berdua harus tercerabut dari zona amannya dan terpaksa hidup di desa dengan bertani. Fos merasa hidup telah berbuat licik padanya. Kenyataan bahwa ia tidak mengira Flash akan melakukan yang ia lakukan membuat Fos merasa tertipu oleh sahabatnya tersebut.

“It makes you wonder. How much you can know about a thing, a person. If you can know anything at all. Maybe no one’s who we think they are. No one. Makes you doubt yourself, wonder if you even know yourself orif you’ve been lyin, too, along with everybody else.”

Kehidupan keras di pedesaan tidak cocok untuk Fos yang bermental scientist. Semua menjadi salah. Sebagai akibatnya antara Fos dan Opal tercipta jarak yang ditandai dengan hening. Ditambah dengan Opal yang merasa kecewa kepada dirinya sendiri yang tidak kunjung mengandung.

Roda nasib bergerak, ketika mereka mendengar berita bahwa Ayah Opal meninggal dunia, mereka pun segera kembali ke kampung halaman Opal. Disana mereka bertemu dengan keluarga pengelana yang memiliki banyak anak, sang istri tampak akan melahirkan. Mereka beristirahat sejenak di rumah Ayah Opal yang telah kosong. Pasangan itu pun mengizinkannya dan memutuskan menginap di hotel.

Ketika kembali ke rumah itu mereka menemukan seorang bayi baru lahir yang memang dengan sengaja ditinggalkan disana. Fos dan Opal saling berpandangan, bayi itu adalah hadiah yang dibawakan nasib untuk mereka. Lightfoot mereka memanggilnya.

Lalu sebuah proyek rahasia dari pemerintah membutuhkan keahlian Fos dalam bidang fotografi. Ia pun masuk ke dalam proyek itu, membawa serta Opal dan LightFoot ke sebuah perumahan khusus untuk para pekerja proyek. Dari sana cerita bergulir ke arah yang membuat kita bertanya-tanya apakah memang benar kita sebagai manusia tidak punya kendali sama sekali akan kemana hidup akan membawa kita. Apa yang penting dan apa yang tidak penting dalam hidup. Dan apa memang benar cinta sejati itu ada.

Pada akhirnya saya menyukai bahasa Marianne Wiggins. Terbukti dari quotes2 di bawah yang ngga bisa ngga saya masukin dalam review ini. Hehe. Lima bintang untuk kisah cinta Fos dan Opal yang amat sangat bikin ngiri.

 “Wherever love comes from, whatever is its genesis, it isn’t like a quantity of gold or diamonds, even water in the earth-a fixed quantity, Fos thought. You can’t use up love, deplete it at its source. Love exists beyond fixed limits. Beyond what you can see or count.”

“You build a tower then you also build the chance it will fall. To think of life as a foolproof is a fallacy of fools, he thought. Things happen, he believed, and there’s nothing you can do to keep them from occurring.”

“I think what you can’t see is always what you should be frightened of.”

“Because way back before you were even born there was this girl you see. And I fell in love with her. It was something that I wanted-love-not because it was expected of me, but because I found it out my self-that happiness of wanting to be with that other person.”

“The future is the one thing you can count on not abandoning you, kid, he’d said. The future will always finds you. Stand still, and it will find you. The way the land just has run to sea.”

Advertisements

4 thoughts on “Evidence of Things Unseen By Marianne Wiggins

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s