Frankenstein By Mary Shelley

Penerbit : Penguin Popular Classics

Tebal : 215 Halaman

“When falsehood can look so like the truth, who can assure themselves of certain happiness?”

Saya merinding baca kata pengantar dari pengarang di edisi buku yang ini. Bayangkan, Mary Shelley menuliskan kata pengantar tersebut tahun 1831. Sekarang 180 tahun kemudian kita masih bisa baca pesan langsung dari sang pengarang ke pembacanya. Amazing bagaimana suatu karya tulis dapat bertahan di tengah gempuran waktu. Ngga seperti manusianya yang akan kembali ke tanah, karya tulis seperti ini akan terus bertahan dari generasi ke generasi. Perasaan merinding yang sering muncul setiap kali saya baca buku klasik.

By the way. Salah kaprah kalo digambarkan di media bahwa Frankenstein itu monster. Frankenstein itu nama manusia pinter keblinger hingga nekat β€œPlaying God’ menciptakan mahluk tambal sulam dan memberinya kehidupan (ntah bagaimana caranya). Victor Frankenstein menamai mahluk ciptaannya itu sebagai daemon (setan/iblis/jin)nya.

Kisah ini dibuka oleh surat2 dari Captain Robert Walton kepada saudara perempuannya. Dalam suatu ekspedisi ke Kutub Utara Captain Robert Walton berhasil menyelamatkan seorang pria yang nyaris mati beku. Pria tersebut adalah Victor Frankenstein. Dan melalui narasinya Frankenstein menceritakan sebab musabab ia berkelana hingga ke Kutub Utara.

Frankenstein terlahir di keluarga yang bahagia dan sangat berada di Geneva, Swiss. Ia tumbuh besar dengan rasa cinta kepada ilmu pengetahuan dan sedikit terobsesi pada ilmu pengetahuan kuno tentang bagaimana caranya manusia bisa menciptakan kehidupan.

Ketika beranjak dewasa Frankenstein menuntut ilmu di kota London, Inggris. Disana keingintahuannya tentang pengetahuan kuno tersebut terpuaskan sampai di suatu titik ia merasa bahwa dengan hanya membaca saja tidak akan cukup. Ia harus melalukan percobaan.

Maka kegiatan gila itu pun di mulai. Frankenstein mengumpulkan organ2 tubuh dari mayat2 dan menambal sulamnya menjadi mahluk (yang ia pikir) cukup mirip manusia. Pada akhirnya ia berhasilkan menghidupkan mahluk tersebut (dengan tidak diperinci bagaimana caranya, pintar memang Jeng Mary Shelley ini).

Ketika akhirnya mahluk itu bangkit. Frankenstein tercekam oleh ketakutannya sendiri dan lari meninggalkan mahluk tersebut di tempat tinggalnya. Ketika ia kembali, mahluk itu telah hilang dari tempat tinggalnya. Frankenstein pun menenangkan dirinya dengan berpura-pura bahwa peristiwa tersebut tidak pernah terjadi (timpuk Frankenstein pake pompa). Namun akhirnya ia jatuh sakit berkepanjangan. Di saat itu sahabat masa kecilnya Henry datang dan menemani Frankenstein menuju ke kesembuhan.

Setelah sembuh dari sakit Frankenstein menerima kabar duka bahwa adik lelakinya William telah meninggal karena dibunuh. Ia dan Henry lalu kembali ke Geneva. Frankenstein memendam kecurigaan dalam dirinya. Kecurigaan itu semakin menjadi ketika ia melihat luka cekikan hitam di leher adiknya dan dibulatkan ketika pada suatu hari ia melihat daemon nya. Mahluk yang ia ciptakan telah membunuh adiknya.

Dihantui oleh rasa bersalah Victor Frankenstein menjadi murung dan penyendiri. Ketika ia sedang melamun di suatu puncak perbukitan, mahluk itu mendatanginya. Reaksi pertama Frankenstein adalah histeris dan berusaha menyerang mahluk tersebut. Menyadari bahwa mahluk yang ia ciptakan memiliki kekuatan dan kecepatan melebihi manusia biasa, maka ia pun berhenti melawan.

Ternyata sang daemon menuntut sesuatu dari penciptanya. Namun sebelum menyebutkan tuntutannya, ia pun berkisah dari saat dirinya hidup hingga ia bisa sampai di Geneva.

Pada awal kehidupannya sang daemon adalah mahluk yang sangat mengagumi kehidupan. Cahaya matahari, kicauan burung, wanginya udara pagi dan keajaiban alam lainnya. Ia pergi dari tempat tinggal Frankesntein dan kemudian berkelana ke alam bebas. Pertemuannya dengan manusia selalu menimbulkan ketakutan dan histeria dari manusia yang ia temui dan penyerangan terhadap dirinya. Padahal di saat itu sang daemon tidak memiliki niat jahat sekalipun.

Saat kabur ke wilayah hutan ia menemukan sebuah pondok kecil yang dihuni oleh tiga orang manusia, seorang kakek yang buta dan sepasang cucu laki2 dan perempuan yang senantiasa merawatnya. Ia mengamati keluarga kecil itu dari jauh selama berbulan2. Dari keluarga itulah ia belajar mendefinisikan perasaan. Kasih sayang, kebaikan, kesedihan, kemarahan.

Ia mencoba membantu keluarga tersebut secara diam2 dengan mencarikan persediaan kayu bakar untuk mereka. Perlahan sang daemon mencoba mengartikulasikan bahasanya, dan melalui suatu proses akhirnya dia secara otodidak belajar untuk membaca. Suatu hari salah seorang diantara keluarga kecil tersebut meninggalkan tiga buah buku di luar. Sang daemon merasa itu ditujukan untuknya dan melalui buku2 tersebut ia belajar tentang peradaban manusia.

Singkat kata, ia jatuh hati pada keluarga kecil tersebut dan ingin berteman dengan mereka. Ya, mahluk itu hanya mendambakan memiliki teman. Rencana telah ia susun baik2 tentang bagaimana caranya ia memperkenalkan diri kepada keluarga tersebut. Ia telah melihat bayangannya sendiri di air ketika bulan purnama dan membenci penciptanya karena telah membuat ia begitu mengerikan dan buruk rupa.

Apa boleh dikata, rencana yang telah ia susun baik2 pun berantakan. Keluarga tersebut berbalik histeris dan menyerangnya. Sang daemon merasa marah dan terluka. Terkikis habislah kepercayaannya pada kebaikan manusia. Baginya, manusia hanya mahluk yang penuh dengan prasangka karena menilainya hanya dari penampilannya saja. Ia pun murka kepada Frankenstein. Dari jubah yang ia ambil dari tempat tinggal Frankenstein ia memperoleh jurnal penciptaannya. Ia ingat betapa Frankenstein memandangnya dengan mata jijik bercampur takut ketika ia pertama kali hidup. Ia pun berniat untuk mencari Frankenstein dan menuntut keadilan.

Keadilan yang ia tuntut adalah agar Frankenstein menciptakan mahluk lain untuk menjadi temannya. Jika Frankenstein bersedia maka ia tidak akan menampakkan dirinya di depan manusia lagi. Jika tidak ia akan membunuh keluarga Frankenstein satu demi satu dan tidak akan berhenti menyebabkan penderitaan di hidup Frankenstein.

Lalu apakah sang maha pintar akan mengabulkan permintaannya? Haha tebaklah.. Yang jelas menurut saya di buku ini monsternya bukan sang daemon. Melainkan Victor Frankenstein yang ingin bermain sebagai Tuhan. Setelah menyadari apa yang diperbuatnya ia malah lari kesana kemari dan menye2. Ah, saya benci sekali pada tokoh ini.

Sentilan yang baik juga untuk para manusia modern di zaman ini yang ekstrim mendewakan science. Kita ini cuma manusia. Kesempurnaan hanya milik Tuhan. Jika kita mengira bisa menciptakan sesuatu yang sempurna, then we are making a big mistake.

Advertisements

19 thoughts on “Frankenstein By Mary Shelley

  1. ini salah satu buku paling serem yang pernah kubaca =D bacanya pas masih smp,tp masih kebayang2 sampe sekarang…dan jijik pas ngebayangin si Frankenstein ngais2 kuburan huhuhuhu…jagoan emang jeng mary ini =D

  2. bzee says:

    iya, agak sebel juga sm Victor.. kadang aku mikir klo dia bs ‘menerima’ makhluk ciptaannya itu mgkn takdirnya ga sesuram ini.. tapi lha ceritanya udah begitu dari sononya, hehe

  3. itu gimana bisa ya daemonnya hidup?? *masih penasaran*
    btw dalam pikiranku, daemon ini kaya troll gitu, monster yang bodoh. hahaha ternyata pinter juga ya dia bisa belajar membaca secara otodidak. Tapi lucu sih baca komennya mba Anis “Setelah menyadari apa yang diperbuatnya ia malah lari kesana kemari dan menye2”. wakakakk

  4. buku favoritku! aku baca mgkn sktr SMP dulu, nemu buku ini di perpus sekolah, edisi bhs indonesia tapi versi lengkap. langsung merasa tergugah! mmg beda bgt dari byk film franskenstein yg ada, yg mnrtku gak menyampaikan pesan yg sama. buku ini mnrtku justru gak serem (bukannya aku gak penakut lho), tapi karena yg terasa di aku justru pesannya yg filosofis bgt (bukan ttg horror-nya). menyentuh. at the end aku malah sangat kasian sama si makhluk ciptaan itu. a very human tale indeed. pengen baca lagi..

  5. Kalau masalah review ‘bernyawa’ memang tulisan Nisa ini jadi favoritku, jadi gimanaa gitu baca review ini πŸ™‚

    Belum baca Dracula ya Nis? Kapan-kapan baca bareng yuk. *kaya sudah punya bukunya aja* :p

    • Aaaaahhh aku jadi malu, mia bisa aja.. Ayo baca bareng dracula, perasaan aku udah punya deh! *sampe lupa* hihi.. Btw liat dr tweetnya mia lg kesengsem sama Augustus Waters ya πŸ™‚

  6. Mau coba cari buku aslinya deh yang Dracula, habisnya terbitan Gramed serem kaya alkitab tapi hitam gelap :p

    Iyaaa, baru baca sedikit-sedikit, diresapi pelan-pelan Nis, curiga endingnya menyedihkan niiih..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s