The Fault In Our Star By John Green

Penerbit : Dutton Books

Tebal : 313 Halaman

“I can’t talk about our love story, so I will talk about math. I am not a mathematician, but I know this: There are infinite numbers between 0 and 1. There’s 0.1 and 0.12 and 0.112 and an infinite collection of others. Of course, there is a bigger infinite set of numbers between 0 and 2, or between 0 and a million. Some infinities are bigger than other infinities. A writer we used to like thaught us that.

There are days, many of them, when I resent the size of my unbounded set. I want more numbers than I’m likely to get, and God, I want more numbers for Augustus Waters than he got. But, Gus, my love, I cannot tell you how thankful I am for our little infinity. I wouldn’t trade it for the world. You gave me a forever within the numbered days, and I’m grateful.”

Saya menutup buku ini dengan perasaan sesak yang ngga bisa dijelaskan. Mengawang2 sebentar,membaca halaman terakhir sekali lagi, lalu menangis terisak2. Ah.. Hidup ini kadang memang terlalu menyakitkan.

Hazel Grace adalah seorang remaja perempuan berumur 17 tahun yang telah cukup lama menderita kanker paru2. Dokternya menyarankan Hazel untuk mengikuti support group untuk anak2 remaja penderita kanker untuk mengurangi depresi (yang menurut dokternya) diderita Hazel.

Tidak butuh waktu lama bagi Hazel untuk menyimpulkan bahwa support group ini tidak memberikan dampak positif. Malah cenderung membuat mood nya semakin buruk karena aroma kematian tercium dimana-mana. Sampai suatu waktu ia bertemu dengan orang baru di support group tersebut. Seorang anak laki2 (yang cukup keren) yang terus menatapnya semenjak Hazel menginjakkan kaki di ruangan.

Namanya ternyata Augustus Waters, mantan penderita osteosarcoma yang telah pulih. Ia bergabung dengan support group atas permintaan sahabatnya Isaac, seorang anak penderita kanker mata. Melalui beberapa pembicaraan kita dapat membaca kalo Augustus dan Hazel are meant for each other. Mereka berdua sama2 memiliki pemikiran tidak biasa alias out of the box tentang kehidupan. Jika memang soulmate itu nyata, maka Augustus dan Hazel adalah manusia beruntung yang saling dipertemukan.

Namun demikian, Hazel ngotot untuk menjaga jarak. Augustus ternyata memiliki seorang mantan pacar yang meninggal karena kanker otak. Hazel tidak sampai hati membuatnya melalui semua itu lagi. Ia ingin meminimalisir dampak yang ditimbulkan jika esok lusa ia harus meninggalkan hidup.

“Much of my life had been devoted to trying not to cry in front of people who loved me, so I knew what Augustus was doing. You clench your teeth. You look up. You tell yourself if they see you cry, it will hurt them, and you will be nothing but A Sadness in their lives, and you must not become a mere sadness, so you will not cry, and you say all of this to yourself while looking up at the ceiling and then you swallow even though your throat does not want to close and you look at the person who loves you and smile.”

Hazel adalah seorang maniak baca yang memiliki obsesi kepada sebuah buku yang berjudul An Imperial Affliction karya seorang pengarang bernama Peter Van Houten. Obsesi itu muncul karena ending buku yang sangat menggantung, diakhiri oleh kalimat yang tidak terselesaikan tanpa keterangan apa yang terjadi pada tokoh2 dalam buku itu selanjutnya. Dan Peter Van Houten tidak pernah menulis sequelnya. Hazel sudah berkali2 menulis surat pada sang pengarang tanpa satupun jawaban.

Hazel dan Augustus saling lebih mengenal dengan bertukar buku fav mereka. Hazel pun bercerita pada Augustus tentang obsesinya. Augustus akhirnya berhasil menemukan alamat dimana Peter Van Houten tinggal. Ternyata Peter tinggal di Amsterdaam dan Augustus berhasil berkorespondensi dengan asisten Peter via email.

Hazel girang luar biasa berhasil menemukan cara untuk menemukan jawabannya. Ternyata Peter adalah seorang pria yang cukup keras kepala yang tidak mau menceritakan apa yang terjadi selanjutnya pada tokoh2 dalam An Imperial Affliction. Alih2 Peter malah mengundang Hazel untuk datang ke rumahnya di Amsterdaam, Peter berujar bahwa ia hanya akan menceritakan kelanjutannya melalui pertemuan langsung.

Apparently anak2 penderita kanker disana diberikan kesempatan untuk dikabulkan satu permintaannya, apapun itu (oleh pemerintah? oleh departemen kesehatan?). Hazel telah menggunakan permintaannya untuk pergi ke Disney World. Tapi Augustus belum, dan ia memutuskan bahwa ia akan menghadiahkan keinginannya untuk Hazel. Mereka akan pergi ke Amsterdaam untuk bertemu langsung dengan Peter.

Kisah selanjutnya harus dibaca sendiri. Sepertinya saya masih cukup terhipnotis dengan efek post reading buku ini dan belum bisa banyak mengeluarkan komentar pribadi selain buku ini BAGUS BANGET BANGET!! Highly recomended untuk dibaca. Genre contemporary young adult romance yang indah dalam sedih dan meninggalkan kesan yang susah dihapus.

For my own reason, this book has earned it place in my best book of all times shelf. Lima bintang dari saya untuk buku ini.

And by the way Augustus Waters manage to beat Peeta from hunger games in my number one “prince of my dreams” book character ^_^

‘“That’s the thing about pain,” Augustus said, and then glanced back at me.”It demands to be felt.”’

‘”Sometimes people don’t understand the promises they’re making when they make them,” I said. Isaac shot me a look. “Right, of course. But you keep the promise anyway. That’s what love is. Love is keeping the promise anyway.”

 

Advertisements

28 thoughts on “The Fault In Our Star By John Green

  1. @alvina13 says:

    ini kayaknya udah mau diterjemahin deh sama sebuah penerbit.. duh kapan hari ngeliat ini buku muncul di beranda FB. Tapi lupa penerbit mana. Q atau M kayaknya.. sekitar itu deh.. aahh, ceritanya kereen, aku jg mau bacaaa

  2. Duuh ini nih buku yang dulu pas aku liat di toko buku nggak aku beli tapi trus baca review orang2 katanya bagus dan aku jadi penasaran. Tapi pas aku cari lagi bukunya udah ga ada dimana-mana… Huweeehhh…Menyebalkan!!!

  3. Wah wah wah, review Nisa membiusku! Pasti dibeli deh buku ini, awalnya mau pinjam Ndari tapiii koleksi aja deh 🙂

    Nice review Nisa, sukses meracuni banyak orang hahaha :p

    • Wakakakakak… Maap yah wishlistnya jadi nambah.. Tapi beneran bagus kok.. Aku juga jadi kesengsem sama bukunya John Green & terobsesi hunting yang lainnya.. Hehe.. 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s