Ronggeng Dukuh Paruk By Ahmad Tohari

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Tebal : 404 Halaman

Hyaaaahh menyesal baru membaca salah satu novel fenomenal Indonesia ini sekarang. Dari jaman kuliah saya udah berkali-kali megang2 terbitan lama buku ini. Terus keingetan lagi waktu kemaren2 heboh tentang film sang penari. Baru “ngeh” kalo film itu diangkat dari novel Ronggeng Dukuh Paruk. Dan ternyata di toko2 buku terbitan lama udah ngga ada dan diganti dengan terbitan barunya dengan gambar cover para pemain filmnya. Ngga begitu suka dengan cover barunya ini. Agak2 missleading. Mengesankan roman menye2 padahal intinya sama sekali bukan tentang itu.

Positifnya adalah ternyata terbitan baru ini memasukkan kembali bagian2 yang di sensor di terbitan lama pada zaman orde baru dan merupakan penyatuan dari trilogi yang masing2 ditulis oleh Ahmad Tohari pada tahun 1982 (Ronggeng Dukuh Paruk), 1985 (Lintang Kemukus Dini Hari) dan 1986 (Jantera Bianglala).

Alkisah sebuah daerah terpencil di pulau Jawa yang bernama Dusun Dukuh Paruk. Dusun tersebut dapat dikatakan memiliki budaya dan nilai tersendiri yang terisolasi dari nilai-nilai yang berlaku pada umumnya. Konon, semua warga Dukuh Paruk berasal dari satu keturunan, yaitu dari sesepuh pendiri Dusun Dukuh Paruk yang bernama Ki Sacamenggala.

Membaca buku ini anda harus terlebih dahulu melepaskan diri dari prasangka dan kaca mata kuda nilai2, etika atau tata krama yang berlaku secara umum. Budaya adalah budaya. Pola pikir dan prilaku warga Dukuh Paruk adalah manifestasi dari budaya yang telah mengakar dan sudah diterima sebagai fitrah atau aturan hidup yang memang berlaku disana. Jangan dinilai benar atau salahnya.

Warga Dukuh Paruk memuja arwah Ki Sacamenggala dan senantiasa memohon petunjuk atas segala pertanda hidup dengan persembahan dan sesaji di makam sang leluhur tersebut. Satu-satunya hal yang cukup terkenal dari Dukuh Paruk adalah budaya Ronggeng nya. Untuk warga dukuh paruk, Ronggeng adalah perlambang kehidupan dan kebanggaan dari dusun tersebut.

Sudah lama Dukuh Paruk tidak memiliki seorang Ronggeng. Untuk menjadi seorang Ronggeng sejati, seorang perempuan Dukuh Paruk harus dirasuki/ditinggali oleh Indang Ronggeng (saya ngga menemukan padanan bahasanya) terlebih dahulu. Sampai suatu ketika salah seorang tokoh yang dituakan di Dukuh Paruk, Sancaya namanya, melihat cucu perempuannya Srintil, ketika itu berumur 11 tahun menari dan menyanyi. Seketika itu Sancaya yakin bahwa Srintil telah dihinggapi oleh Indang Ronggeng.

Kartareja, seorang tetua yang berpengalaman dalam hal membina seorang Ronggeng memastikan hal tersebut. Melalui suatu ritual upacara di makam Ki Sacamenggala dipastikan bahwa Srintil adalah generasi baru Ronggeng dari Dukuh Paruk. Srintil kemudian dititipkan kepada Kartareja dan istrinya untuk dibina menjadi seorang Ronggeng.

Srintil, cucu Sancaya adalah seorang anak yatim piatu. Ayah dan Ibu nya meninggal dalam suatu insiden keracunan tempe bongkrek ketika Srintil masih bayi. Selain orang tua Srintil, insiden tersebut juga menelan nyawa belasan orang dewasa dan juga anak-anak. Termasuk orang tua teman sebaya Srintil yang bernama Rasus.

Srintil dan Rasus adalah teman dekat. Semenjak Srintil menjadi Ronggeng Rasus mengalami sebuah perasaan aneh. Cemburu, karena Srintil sekarang adalah milik seluruh warga Dukuh Paruk. Para wanita selalu mengawal Srintil kemana-mana. Memandikannya, mencucikan bajunya, menyediakan makanan. Singkat kata Srintil adalah pujaan semua orang, baik pria maupun wanita.

Adalah suatu bagian dari kebudayaan pula bahwa seorang Ronggeng, sebagai perlambang wanita sempurna selain menari dan menyanyi juga dapat “menerima tamu” tentu dengan bayaran yang tidak sedikit. Pahamilah ini sebagai suatu bagian dari kebudayaan Dukuh Paruk, dimana para istri justru saling menyombongkan diri apabila suaminya berhasil meniduri Srintil.

Dukuh Paruk, seperti dikemukakan di atas adalah suatu daerah yang memiliki tata nilainya sendiri, dimana jika seorang suami menangkap basah istrinya di tempat tidur dengan laki-laki lain. Maka urusan dapat diselesaikan dengan mudah, sang suami tinggal balas meniduri istri laki-laki tersebut, selesai perkara.

Nilai-nilai itulah yang mengganggu Rasus, diawali dengan ketidakrelaannya tentang Srintil yang menjadi seorang Ronggeng. Akhirnya Rasus meninggalkan Dukuh Paruk ke daerah terdekat, Dawuan. Disana nasib membawanya menjadi kacung tentara. Sampai karena kerja kerasnya akhirnya Rasus berhasil masuk ketentaraan.

Pertemuan, perpisahan, pertemuan, perpisahan, pertemuan, perpisahan. Tahun demi tahun berlalu. Sangat terasa perubahan kepribadian Srintil yang semula begitu bangga dan menikmati kehidupan mewah ala Ronggeng mulai berkembang menjadi kepribadian yang bersahaja dan disegani. Srintil tidak lagi mau menerima tamu. Ia hanya menyanyi dan menari.

Karena keluguan orang-orang Dukuh Paruk, pada tahun 1965 an kelompok Ronggeng nya dimanfaatkan oleh pihak komunis sebagai alat propaganda. Setelah peristiwa G30S Dukuh Paruk pun tidak selamat dari nasib buruk. Srintil dan kelompok Ronggengnya ditahan. Dusun Dukuh Paruk dibakar. Setelah momen itu tatanan hidup mereka diguncang oleh perubahan zaman. Srintil mengalami masa tergelap dalam sejarah hidupnya.

Bertahankan Srintil? Bahagiakah ia pada akhirnya? Akankah Rasus pada akhirnya kembali ke dusun kelahirannya? Rasus yang membenci sekaligus mencintai Dukuh Paruk. Rasus dan Srintil, akankah akhirnya bertemu di sebuah titik? Aaaaaahhhh.. tergoda menceritakan spoiler.. Srintil yang malang dan Rasus yang sungguh hararese (kalo kata orang sunda mah).

Yang jelas saya memberi 5 bintang untuk novel ini. Sejarah, budaya, bumbu romantisme, pertanyaan tentang eksistensi, gender, perkembangan watak, bahasa, jalan cerita sampai endingnya disampaikan sebagai suatu keselarasan sempurna. Takdir, Nasib, Siklus Hidup. Tidak ada seorang manusia pun yang dapat menebak.

Kenapa saya bilang covernya missleading, karena inti cerita ini bukan sekedar romantisme. It was way much more than that. Lebih ke budaya dan perkembangan pola pikir serta kepribadian tokoh-tokohnya di tengah perubahan zaman. Kebeneran saya belon nonton filmnya. Mudah2an tidak kalah berkualitas dari bukunya. Denger2 sih filmnya juga bagus.

“Malam  telah sempurna gelap sebelum Nyai Sakarya dan Srintil mencapai Dukuh Paruk. Bulan tua baru akan muncul tengah malam sehingga cahaya bintang leluasa mendaulat langit. Kilatan cahaya bintang beralih memberi kesan hidup pada rentang langit. Tetapi bila kilatan cahaya itu berlangsung beberapa detik lamanya, dia menimbulkan rasa inferior; betapa kecilnya manusia di tengah keperkasaan alam. Di bawah lengkung langit yang megah Nyai Sakarya beserta cucunya merasa menjadi semut kecil yang merayap-rayap di permukaan bumi, tanpa kuasa dan tanpa arti sedikit pun.”

Advertisements

18 thoughts on “Ronggeng Dukuh Paruk By Ahmad Tohari

  1. hi annisa… aku dulu baca yg versi trilogi (udah lama bgt, pas jaman buku2 itu baru keluar), dan suka! ahmad tohari langsung jadi salah satu penulis indonesia favoritku. ya mmg kalau baca novel harus melepas ‘kaca mata kuda’ supaya apa yg mau disampaikan bisa terterima dulu apa adanya…

    dia gak ngeluarin buku baru ya? terakhir yg aku baca ‘orang-orang proyek’. kapan2 baca ulang buku ini kyknya menarik juga, udah lupa2 jg detilnya, apalagi tnyata ada bag2 yg dulu dihilangkan ya..

    setuju mengenai cover.

    • Aku baru kali ini baca bukunya Ahmad Tohari dan menyesal kenapa baru kali ini, hehe. Kemarin baru beli lagi yang judulnya Berkisar Merah, hehe, belum terlalu tau tuh karyanya yang terbaru.. Ada yang direkomendasikan nda? Hehe.. Tengkyu yaaa.. 🙂

      • bekisar merah aku suka, lbh suka drpd orang-orang proyek.
        ceritanya msih berkisar ttg org2 desa, yg bikin terenyuh (tp jauh dari cengeng)
        setahuku blm ada buku lagi. semua buku lama ya.. (bekisar merah yg skrg jg cetak ulang)

  2. Aku baca bukunya pas SMA, masih edisi 3 buku dan masih disensor. Makanya nggak terlalu ngerti pas Srintil tau2 dilepasin dari penjara pas di awal buku Jantera Bianglala. Penasaran sama bagian yang disensornya itu deh. Ini buku favoritku banget lho.. Sayang pas difilmin (yang versi dulu, bukan yang sekarang) kok ceritanya jadi ancur. Film yang baru aku nggak berani nonton, takut kecewa lagi. Hehe

    • Eh aku malah baru tau udah difilm in dua kali. Sayang banget kalo buku bagus adaptasi filmnya ngga kena. Kata orang2 sih film sang penari itu bagus mba! cuma aku juga ngga terlalu antusias ntn, cuma penasaran aja ntar kl dah keluar dvd nya.. 🙂

  3. Bagussss …karya2 beliau memang kental dengan sejarah lokal, tp disampaikan dengan begitu sastrawi. Aku baru baca Di Kaki Bukit Cibalak, nah kalo yang ronggeng ini, aku bacanya yang pdf (dan belum kelar-kelar juga) nce review

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s