Dear You By Moammar Emka

Penerbit : Gagas Media

Tebal : 392 Halaman

“Hidup itu bukan tentang menunggu badai berlalu, tapi tentang bagaimana belajar menari dalam hujan.”

Quotes yang paling saya sukai dari buku ini justru yang ngga ada kata-kata cintanya. Hehe. Coba berikan buku ini pada saya tahun lalu, mungkin hanya kuat baca 10 halaman terus mulai memecahkan gelas-gelas dan barang pecah belah lainnya.

Tapi di saat ini, after all I’ve been through. Rasanya urusan hati dan perasaan memang susah diatur. Variabel bebas hidup yang memang bisa datang dan pergi kapan saja.

Back to the book, duh.. gimana ya menggambarkan buku ini.. Bentuknya bukan kisah atau cerita, Intinya buku ini berisi  potongan kalimat/ paragraf yang menggambarkan siklus cinta.. Dari mulai jatuh cinta, rindu, patah hati, perpisahan sampe kenangan-kenangan akan kisah cinta..

Untuk manusia seperti saya yang anti gombalisme picisan, buku ini termasuk ke dalam kategori lulus sensor. Bahasanya poetic, ini sungguh nilai tambah karena susah menuliskan kata-kata poetic dalam Bahasa Indonesia, salah-salah kepeleset jadi gombal.

Tapi emang sih sebaiknya buku ini jangan dibaca sekali habis, sedikit-sedikit aja, apalagi kalo lagi ada “apa-apa” dengan perasaan, bisa-bisa jadi pusing kepala sendiri, hehe. Jadi penasaran apa yang menjadi inspirasi sang penulis sampe-sampe bisa mengeluarkan kata-kata tentang cinta segini banyaknya.

Saya belum pernah baca bukunya Moammar Emka soalnya. Ini pertama kalinya karena dulu2 keburu menilai kalo buku2 genre ini “not my cup of tea”. Berhubung  sedang melaksanakan perluasan genre jadi dicobalah, dan ternyata untuk buku ini cukup worthed kok.

Oiya, yang lagi patah hati sebaiknya menunggu tingkat emosional stabil dulu. Dari pada galau dan melamun mengawang-ngawang lagi karena kata-kata dalam buku ini. Hehe.

Berikut adalah beberapa paragraf yang saya suka :

“Tentangmu yang tak mampu kutepikan apalagi kulupakan. Tentangmu yang setia kujaga dan kusimpan rapi di sudut hati terdalam. Inilah kuasa pilihanku. Inilah yang tertulis dihatiku : aku mencintaimu.”

“Kadang cuma butuh satu helaan napas panjang buat menyudahi penat hari ini sambil membayangkan sepotong senyumanmu.”

“Aku ingin mencintaimu tanpa batas waktu. Tidak kini, dulu, apalagi nanti. Aku ingin mencintaimu saja untuk selamanya.”

“Rumah. Sejauh manapun aku melangkah dan berlari, kepadanya juga aku kembali. Karena disanalah hati begitu nyaman berdiam. Ada rindu yang terus bernyawa. Membawa inginku selalu kembali kepadanya.
Rumah itu kamu. Semesta nyaman yang menjalar dan teduh yang berjajar. Menguar rindu yang tak terbilang. Mengeja cinta – tanpa tanda tanya, berulang-ulang. Rumah itu hatimu.”

Advertisements

14 thoughts on “Dear You By Moammar Emka

  1. helvry says:

    yeaah…kadang antara keindahan kata-kata dengan gombal memang tipis bedanya, tergantung “sinyal” yang disebar dan yang menangkap.
    karena itu bener yang mbak annisa bilang kalau baca buku kayak gini, mending jangan sedang “siap menerima” bukannya yang sedang galautak karuan, ahaha…

    anyway mencipta kalimat poetic itu susah-susah gampang yah 😀

  2. Reblogged this on aku dan bintang and commented:
    Rumah. Sejauh manapun aku melangkah dan berlari, kepadanya juga aku kembali. Karena disanalah hati begitu nyaman berdiam. Ada rindu yang terus bernyawa. Membawa inginku selalu kembali kepadanya.
    Rumah itu kamu. Semesta nyaman yang menjalar dan teduh yang berjajar. Menguar rindu yang tak terbilang. Mengeja cinta – tanpa tanda tanya, berulang-ulang. Rumah itu hatimu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s