The Hours By Michael Cunningham

Penerbit : Jalasutra

Tebal : 222 Halaman

Alih Bahasa : Saphira Tanka Zoelfikar

“Dear Leonard. To look life in the face. Always to look life in the face and to know it for what it is. At last to know it. To love it for what it is, and then, to put it away. Leonard. Always the years between us. Always the years. Always the love. Always the hours.”

Tidak bisa menyingkirkan pemikiran kalo saya akan lebih bisa memahami novel ini jika saya membaca dalam bahasa aslinya dan bukan terjemahan. Karena sepertinya cerita ini lebih menitikberatkan pada keindahan bahasa dalam mencapai tujuan yang ingin disampaikan.

Dan saya bisa membayangkan betapa sulitnya mempertahankan efek ritme kata demi kata, frasa dan pemenggalan-pemenggalan kalimat dalam proses penerjemahan ke bahasa Indonesia. Sulit mencari padanannya sepertinya. Hehe.

Hasilnya saya jadi kurang paham apa sebenarnya yang dikejar dari cerita ini. Yang bisa saya tangkap adalah rasa kegelisahan yang sangat kentara dari ketiga tokoh utamanya.

Ya, ada tiga tokoh utama dalam cerita ini. Yang pertama adalah Virginia Wolf yang hidup di tahun 1920 an, sang pengarang buku Mrs. Dalloway dan To The Lighthouse yang akhir hidupnya cukup dramatis. Chapter yang diceritakan dalam kehidupan Virginia Wolf adalah ketika beliau sedang dalam proses penulisan buku Mrs. Dalloway. Virginia Wolf adalah seorang wanita yang memiliki sejenis kelainan jiwa (fakta) sehingga selalu dirundung kegelisahan dan aneka ria paranoia lainnya. Dalam cerita ini kita diajak untuk menyelam ke pemikiran-pemikiran “tidak biasa” dari seorang Virginia Wolf.

Yang kedua adalah Laura Brown. Seorang Ibu rumah tangga di tahun 1940 an yang gemar membaca dan sedang mengandung anak keduanya. Diceritakan bahwa di pagi hari itu Laura sedang membaca buku Mrs. Dalloway, hari itu adalah hari ulang tahun suaminya. Laura berencana untuk membuat kue ulang tahun buat suaminya. Namun ketika ternyata kue yang ia buat tidak sebagus kue dalam bayangannya, Laura tiba-tiba diserang rasa putus asa. Cerita tentang Laura ini buat saya sangat menggambarkan perasaan seperti tikus yang terjebak dalam kotak.

Yang ketiga adalah tentang Clarissa Vaughan (2001) yang sedang merencanakan pesta penghargaan untuk mantan kekasihnya Richard yang juga penderita AIDS.  Belasan tahun yang lalu mereka pernah nyaris menjadi sepasang kekasih. Richard selalu memanggil Clarissa dengan panggilan Mrs. Dalloway seperti Clarissa Dalloway, tokoh dalam buku karangan Virginia Wolf.  Sambil mempersiapkan pesta untuk Richard, ingatan Clarissa berkelana, mencoba menapaki langkah demi langkah hidupnya, dan merenungi di titik mana ia benar-benar merasakan bahagia.

“Semua itu terkesan seperti awal kebahagiaan, dan Clarissa terkadang masih tercengang, bahkan hingga kini tiga puluh tahun kemudian, setiap menyadari bahwa saat itu memang kebahagiaan. Bahwa seluruh pengalaman itu terletak pada ciuman dan jalan-jalan, pengharapan akan makan malam dan sebuah buku. Kini ia tahu, itulah momen tersebut, saat itu juga. Tidak ada momen lain.”

Saya belum pernah membaca buku Mrs. Dalloway nya Virginia Wolf. Mungkin jika sudah saya akan lebih memahami peranan buku itu dalam cerita ini. Hmm.. Sayangnya saya kurang bisa menikmati bahasa terjemahannya.. Jadi penasaran pengen baca bhs inggrisnya *lirik timbunan buku, jitak diri sendiri* hehehe..

Advertisements

2 thoughts on “The Hours By Michael Cunningham

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s