Cecilia dan Malaikat Ariel By Jostein Gaarder

Penerbit : Mizan

Tebal : 210 Halaman

Alih Bahasa : Andityas Prabantoro

Semua bintang suatu saat akan jatuh. Tapi, sebuah bintang hanyalah sepercik kecil bunga api dari mercusuar agung di langit sana.”

Buat saya, mungkin buku ini adalah salah satu buku Jostein Gaarder yang paling mudah dipahami. Masih kental dengan filosofi, namun gagasan yang diungkapkan sederhana dan menohok.

Dikisahkan seorang anak perempuan bernama Cecilia Skotbu yang berada dalam kondisi amat sakit menjelang hari natal. Seisi keluarga berusaha sekeras mungkin untuk membuat Cecilia senang. Mungkin karena telah berada dalam kondisi sakit yang lumayan lama, Cecilia adalah anak perempuan yang pada awalnya (menurut saya) sedikit bitter dan pemaksa.

Suatu saat tiba-tiba saja muncul suatu sosok yang mirip dengan anak laki-laki berambut panjang di kamar Cecilia. Sosok tersebut memperkenalkan dirinya sebagai Malaikat dengan nama Ariel.

Semenjak saat itu ketika tidak ada seorang pun di kamar Cecilia Malaikat Ariel selalu menemaninya. Mereka saling ingin mengetahui tentang dunia masing-masing. Cecilia ingin tahu bagaimana rasanya menjadi malaikat yang hidup abadi sepanjang masa. Malaikat Ariel ingin tahu bagaimana rasanya menjadi manusia yang terbuat dari darah dan daging.

Pembicaraan mereka seringkali lucu dan menyentil. Bagaimana ternyata para malaikat tidak bisa merasa, tidak bisa mencium bebauan dan tidak bisa merasa sakit. Bahkan malaikat tidak merasakan apa-apa ketika mencubit tangannya sendiri. Dan bagi para malaikat, otak manusia dengan kemampuan berpikir, mengingat dan bermimpi adalah ciptaan yang paling luar biasa misterius.

Bagaimana rasanya di dalam kepalamu saat kau sedang ingat sesuatu? Apa yang terjadi dengan semua atom dan molekul di dalam otakmu? Apa menurutmu, mereka mendadak berlompatan dan menempati posisi yang tepat sama seperti saat kau mengalami apa yang sedang kau pikirkan?”

Karena saat kalian, manusia, bermimpi, kalian menjadi aktor sekaligus penonton. Bukankah itu sangat misterius?

Atau pemikiran geram Cecilia ketika Malaikat Ariel bercerita bahwa melalui matanya yang hidup dalam keabadian, manusia hanya datang dan pergi begitu saja dengan singkat. Pernyataan itu sedikit membuat Cecilia kesal karena merasa bagaikan bola sabun yang dipermainkan oleh Tuhan. Dan terpananya Cecilia ketika Malaikat Ariel bercerita bahwa ketika ingin menyendiri Malaikat bermain-main di antara asteroid bahkan kadang turut menumpang di atas meteor yang konon rasanya seperti bermain Rollercoaster.

The simple truth is, manusia memang tidak akan bisa memahami sepenuhnya tentang kehidupan. Di waktu kunjungan kita yang terbatas ini kita hanya bisa mempelajari sepotong-sepotong kecil pengetahuan hidup. Just be grateful for what we’re able to learn, little pieces puzzle of this universe.

Kita melihat segala sesuatu dalam cermin, samar-samar. Kadang-kadang, pandangan kita bisa menembus kaca dan melihat sekilas apa yang ada di balik cermin. Jika kita menggosok cermin itu sebersih-bersihnya, kita akan bisa melihat lebih banyak lagi. Tapi kita tidak bisa lagi melihat diri kita sendiri.

Advertisements

12 thoughts on “Cecilia dan Malaikat Ariel By Jostein Gaarder

  1. Nyesel deh dulu nggak ngambil buku ini waktu masih di Makassar dulu. Lah sekarang udah nggak nemu di Manado. Pengen beli online, budget udah terbatas banget. XD

  2. aku punya buku nya aku nangis abis selesai baca buku ini”
    aku berharap aku bisa punya temen seperti MALIKAT ARIEL yang bersifat baik jujur dan apa adanya….”
    SO sweet……banget ada filemnya gak yah….????

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s