Pergilah Ke Mana Hati Membawamu By Susanna Tamaro

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Tebal : 215 Halaman

Alih Bahasa : Antonius Sudiarja, SJ

Dan kelak, di saat begitu banyak jalan terbentang di hadapanmu

Dan kau tak tahu jalan mana yang harus kau ambil,

Janganlah memilihnya dengan asal saja,

Tetapi duduklah dan tunggulah sesaat.

Tariklah nafas dalam-dalam, dengan penuh kepercayaan,

Seperti saat kau bernafas di hari pertamamu di dunia ini.

Jangan biarkan apa pun mengalihkan perhatianmu,

Tunggulah dan tunggulah lebih lama lagi.

Berdiam dirilah, tetap hening, dan dengarkanlah hatimu.

Lalu ketika hati itu bicara, beranjaklah,

Dan pergilah kemana hati membawamu…

Membaca ulang buku ini adalah misi pribadi buat saya. Pertama, karena kesimpulan saya beberapa tahun terakhir ini, keputusan yang hanya diambil dengan menggunakan hati seringkali mengarahkan pada kekacauan. Hati dan nalar memang dua kutub yang harus diperlakukan secara seimbang. Jadi saya ingin menguji diri dengan membaca ulang.

Kedua, karena biasanya setelah membaca buku untuk keberapa kalinya selalu ada hal baru yang bisa diambil, terutama dari buku yang sarat makna seperti buku Pergilah Ke Mana Hati Membawamu ini. Dan memang, pada akhirnya saya menemukan sesuatu yang sebelumnya mungkin saya tidak perhatikan. Yaitu people have reasons to do what they do…

“Belum lama ini aku membaca peribahasa Indian yang mengatakan ‘Sebelum menghakimi orang, berjalanlah selama tiga bulan dengan menggunakan sepatunya’. Aku sangat menyukai peribahasa itu, sampai-sampai aku menyalinnya di notes dekat telepon agar aku tidak lupa. Dilihat dari luar, banyak kehidupan tampaknya keliru, irasional, gila. Bila kita memandang dari luar, begitu mudahnya orang menyalahpahami orang lain, hubungan-hubungan mereka. Hanya dengan melihatnya lebih dalam, hanya dengan berjalan tiga bulan dengan menggunakan sepatu mereka, kita dapat memahami motivasi, perasaan, serta apa yang menggerakan seseorang melakukan sesuatu dan bukan yang lainnya. Pemahaman ini lahir dari kerendahan hati, bukan dari kesombongan dan pengetahuan.

Pemahaman yang lahir dari kerendahan hati ini yang sedang saya cari, agar saya bisa berhenti menyombongkan diri sebagai korban, agar saya bisa belajar memahami, agar pada akhirnya saya bisa ikhlas menerima keadaan dan melanjutkan hidup. Again.. Setiap orang punya alasan untuk melakukan apa yang mereka lakukan. Dan saya tidak memiliki hak setitik pun untuk menghakimi karena kita tidak pernah tahu sepenuhnya seseorang.

Disisi lain saya juga berdoa agar suatu saat saya bisa dipahami. Oleh orang-orang yang selama ini misunderstood me bahwa saya juga memiliki alasan dan sejarah tersendiri untuk melakukan yang saya lakukan. Please don’t judge me.

Gosh.. This is more like a personal blog content than a book reviews. Buku ini bercerita tentang tiga generasi wanita. Nenek, anak perempuan dan cucu perempuan. Olga, Ilaria dan Martha dimana di dalam kehidupan mereka begitu banyak kesalahpahaman satu sama lain yang tidak terselesaikan. Sang anak perempuan meninggal karena kecelakaan mobil sehingga meninggalkan sang nenek untuk membesarkan cucu perempuannya.

Ketika cucu perempuannya beranjak remaja begitu banyak kesalahpahaman dan komunikasi yang tidak tersampaikan diantara mereka berdua sehingga sang cucu perempuan memutuskan untuk meninggalkan rumah. Beberapa saat kemudian sang nenek mengetahui bahwa umurnya tidak lama lagi dan alih-alih memberitahukan cucunya secara langsung, sang nenek memutuskan untuk menuliskan surat untuk cucu perempuannya.

Dalam suratnya itulah sang nenek menceritakan kisah hidupnya, kisah hidup anak perempuannya dengan harapan agar sedikit lebih dipahami. Dan ia tidak ingin meninggalkan cucu perempuannya dengan tanda tanya besar dan penyesalan sehingga melalui surat-surat tersebut pula ia meminta penerimaan dan keikhlasan dari cucunya.

Secara keseluruhan saya sangat menyukai buku ini. Ketika lebih muda karena pesannya tentang kata hati. Sekarang karena pesannya tentang penerimaan. Isi buku ini lebih bersifat filosofis dari drama. Mungkin akan banyak yang menemukan bahwa buku ini sedikit sulit untuk dibaca. Namun bagi saya buku ini adalah teman hidup. Pada suatu masa saya adalah Martha, pada suatu masa saya adalah Ilaria dan pada suatu masa saya adalah Olga.

Advertisements

12 thoughts on “Pergilah Ke Mana Hati Membawamu By Susanna Tamaro

    • annisaanggiana says:

      Memang menarik 🙂 hehe.. Mungkin tidak bagi semua orang ya tipe buku seperti ini menarik 🙂 tergantung preferensi genre.

  1. Nah, aku pernah baca buku ini :). Susanna Tamaro bukunya memang bagus-bagus. Kalau nggak salah ada sambungannya kan ya? Kadang pilihan kutipan atau buku tanpa disengaja mengarah ke apa yang sedang kita rasakan, mungkin hanya untuk sekadar mengenang atau menguatkan atau apapun itu lah,jadi nggak pp juga kalau ada sedikit curhatnya 🙂

    • annisaanggiana says:

      Iya buku ini ada sambungannya tapi aku juga belum baca.. Hehehe.. Kalo postingan review yang ini sih emang kebanyakan curhatnya wkwkwkwk 🙂

  2. Saya juga menyukai kisah ini, bermula membaca di harian KOMPAS sebagai cerita bersambung, akhirnya saya beli bukunya. Sungguh menginspirasi bahwa kehidupan itu kompleks, setiap hal pasti ada alasan dibelakangnya. Nice posting 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s