The Palace Of Illusion By Chitra Banerjee Divakaruni

Reviewed on : February 1st 2010

Beginilah rasanya kalo membaca buku yang (menurut saya) menghanyutkan.. Begitu membuka halaman demi halaman apa yang terjadi di sekitar mengabur dan seperti terseret ke dalam dunia lain.. Padahal saya pertama kali buka halaman buku ini di atas bis damri menuju Bandung. Hehe.

Untuk yang tidak terlalu familiar dengan kisah Mahabharata, buku ini merupakan suatu adaptasi yang baik untuk memulai karena ceritanya mengalir dengan baik dan tidak se-jelimet kalo baca kitab aslinya.

Terdapat banyak sekali tokoh dalam epic Mahabharata ini, dan sang pengarang memilih untuk bercerita dari sudut pandang seorang perempuan yaitu Dropadi/Drupadi/Panchali. Akibatnya pernyataan, pemikiran dan perasaan yang sampai melalui buku ini “perempuan banget” tapi sama sekali tidak cengeng. Tentang perempuan yang terseret dalam “skenario sang waktu”, bukannya kita semua seperti itu ya.. Walau tidak semaha dasyat kisah Drupadi.

Jadi inget di salah satu postingan dimana saya pernah nulis betapa kita ini hanya setitik debu di padang pasir yang dinamakan nasib dan takdir. Yah yah yah, jadi menyimpang kan ceritanya.

Drupadi adalah seorang perempuan yang unik di zamannya, bukan hanya karena dia terlahir dari api dan diramalkan akan merubah jalannya sejarah tetapi memang karena keingintahuannya, tindakannya dan temperamennya yang cepat panas sehingga membuat dia “stand out” dan berbeda dari perempuan-perempuan lainnya.

Menjelang dewasa ayah drupadi sang puteri kerajaan Panchala mengadakan sayembara untuk para raja. Sang pemenang boleh memboyong sang puteri sebagai istri. Sebenarnya ini adalah suatu taktik untuk mendapatkan sekutu (ah ya banyak pelajaran politik dalam cerita ini).

Drupadi hampir saja diperistri oleh seorang anak kusir kereta yang sekarang menjadi raja Angga yang bernama Karna, namun demi meredam konflik yang nyaris melibatkan kakaknya. Drupadi melontarkan pertanyaan yang membuat Karna mundur, merasa sakit hati dan menaruh dendam pada Drupadi (Ah ya, banyak sekali dendam diumbar dalam cerita ini).

Akhirnya yang menjadi pemenang adalah Arjuna, salah satu dari kelima bersaudara Pandawa. Karena sesuatu pernyataan Sang Bunda Pandawa bersaudara yang tidak bisa ditarik lagi maka Drupadi pun terpaksa harus menjadi istri dari kelima Pandawa bersaudara itu.

Diboyonglah Drupadi ke istana Hastanipura. Karena tidak betah di istana yang dipenuhi dengan para Kurawa yang terdiri dari 100 bersaudara dengan saudara tertuanya Durdoyana (para Pandawa dan Kurawa bersepupu tapi bersaing dalam memperebutkan tahta) akhirnya para Pandawa diberi jatah suatu lahan yang gersang dimana mereka diperkenankan memerintah. Disanalah mereka membangun The Palace Of Illusions yang akhirnya menjadi negeri yang makmur.

Dalam suatu perjamuan Yudhistira, kakak tertua para Pandawa yang paling jujur dan lurus digoda (saya tidak bisa menahan diri untuk memikirkan cerita Nabi Adam yang digoda setan) untuk bermain dadu dengan Durdoyana dan (dengan bodohnya) mempertaruhkan seluruh kerajaannya, saudara-saudaranya bahkan Drupadi. Kejadian itu berakhir dengan dipermalukannya Drupadi di depan umum. Saat itu Drupadi mengucapkan sumpah bahwa dia tidak akan tenang sampai bisa mencuci rambut dengan darah para Kurawa (Ah ya cerita ini penuh dengan sumpah serapah yang selalu terjadi).

Setelah peristiwa pengasingan dan penyamaran terjadilah perang akbar antara para Pandawa dan Kurawa. Tertumpaslah para Kurawa. Namun ntah kenapa saya merasa tidak ada yang menang dalam hal ini karena pada akhirnya para Pandawa yang telah memegang kekuasaan pun dihantui rasa bersalah dan merekapun kehilangan banyak hal. Termasuk Drupadi.

Major Moral of the story menurut saya : dendam tidak akan membawa kita kemanapun_tidak juga ke perasaan damai ketika dendam itu sudah dibalaskan, tahanlah apa yang ingin diucapkan jika sedang marah karena kemungkinan besar kita akan menyesalinya.

Advertisements

3 thoughts on “The Palace Of Illusion By Chitra Banerjee Divakaruni

      • wah belum nyobain tuh mbak cuma pernah lihat beberapa toko buku online sih tapi udah sold out juga..beberapa hari yang lalu saya sempet mesen ke gramednya langsung tapi nggak ada juga..padahal serial mahabhaarat lagi digandrungi masyarakat Indonesia ya mbak..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s